Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 138


__ADS_3

Makan malam terlaksana dengan khidmat. Tiada satupun kata yang terdengar selain suara denting sendok yang beradu dengan piring.


Nadhira. Masih dengan tatapan sayunya mencuri-curi pandang ke arah Reyhan yang duduk tepat disamping kanannya. Dilihatnya lelaki itu tak berselera melahap makanan yang sudah tersaji di meja makan. Tangan lelaki itu hanya mengaduk-aduk isi piringnya.


"Mau makanan yang lain?" tanya Nadhira memecah keheningan. Tangannya mendarat lembut pada punggung tangan Reyhan. Semua tatapan seisi ruang makan pun tak ayal terlempar pada gadis dengan hijab instan abu-abu itu.


Reyhan menggeleng pelan. "Ini saja cukup," balasnya dengan senyum tipis.


"Kalau begitu, makanannya dimakan. Jangan diaduk-aduk seperti itu," nasihatnya.


Sekali lagi. Reyhan hanya menyunggingkan senyum tipis. Kemudian, memaksakan makanan-makanan itu masuk ke mulutnya.


Sesendok.


Dua sendok.


Dan Reyhan meletakkan kembali sendok dan garpu diatas piring yang masih di penuhi nasi beserta lauk pauknya. Ia mengambil gelas yang berisi air putih di hadapannya dan meneguknya hingga tandas. Setelah itu, ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Mengatur napasnya yang terasa sedikit sesak.


"Kak."


"Aku baik-baik saja," balas Reyhan sebelum Nadhira melanjutkan kalimatnya. "Lanjutkan saja makanmu, Al. Berikan asupan yang banyak untuk Si Kecil, ya, Sayang," lanjut Reyhan dengan tatapan sendu.


"Kamu juga makan yang banyak, Kak," tegur Mama.


"Reyhan kenyang, Ma. Silahkan lanjutkan makan malamnya. Tidak baik berbicara ketika makan." Kalimat yang terlontar begitu saja dari bibir Reyhan berhasil membungkam bibir seisi ruangan. Sedangkan, ia sendiri hanya menatap nanar langit-langit dengan tatapannya yang sayu.


Meski tatapnya meraba langit-langit. Tetapi tangannya setia mengelus lembut pundak Nadhira. "Makan yang banyak, Sayangku," ucapnya mesra.


Setelah kepulangannya bertemu Dokter Dharma dan mendengar penuturan lelaki paruh baya itu. Sikap Reyhan seketika. Ia semakin memanjakan istrinya, berbicara dengan sangat lembut. Tatkala ia merasa kesal dengan sikap Nadhira, bukan lagi ia menunjukkan kemarahannya. Akan tetapi, Reyhan selalu memeluk istrinya erat seraya berkata, "jangan seperti itu lagi, Sayang. Aku tidak menyukainya."


"Reyhan."


Panggilan Mama dengan segala kelembutannya membuat Reyhan mengalihkan pandangan. Seutas senyum simpul nan tipis terbingkai cantik dibibir.


"Kenapa tidak habiskan makanmu, Nak?" tanya Mama penuh perhatian.


Ia tertawa kecil. "Reyhan sudah kenyang, Ma."


Berbeda dengan sang istri. Gadis itu hanya menunduk diam dan menyantap makanan yang ada di hadapannya dengan perasaan yang tidak baik. Bahkan, makanan yang sebelumnya terasa enak kini berubah rasa. Hambar.

__ADS_1


"Selepas ini ada yang ingin Reyhan bicarakan pada semuanya. Reyhan tunggu di ruang keluarga, ya," ucapnya dan berdiri dari kursi dimana ia mendaratkan tubuhnya tadi.


Sebelum melanjutkan langkah gontainya. Reyhan menatap sang istri yang masih tertunduk pada makanan di piring. Ia elus lembut kepala yang tertutup hijab itu. "Ingat! Makan yang banyak, Sayang."


"Mau kemana?" tanya Nadhira dengan mendongakkan kepalanya.


"Ke ruang keluarga. Kamu lanjutkan saja dulu makannya."


"Nanti saja. Aku temani kesana."


Reyhan menggeleng cepat. "Habiskan dulu makan malammu. Nanti kamu susul aku ke ruang keluarga bersama yang lainnya."


"Tapi,..."


"Jangan membantahku, Sayang."


Gadis itu hanya diam.


Langkah Reyhan kembali mengayun pelan. Pelan sekali. Semua tatap netra yang mengarah padanya menatap sendu.


Satu di antara mereka yang masih duduk di meja makan bahkan meringis sendiri. Dadanya sesak. Farhan. Lelaki yang seumuran dengan Nadhira itu tak kuasa melihat tubuh yang dulunya kekar kini tak berdaya. Ia berdiri dan berlari menyusul Reyhan yang baru berjalan beberapa langkah dari meja makan. Tangannya memegang lengan Reyhan untuk ikut menopang berat tubuh sang kakak.


"Kakak bisa sendiri, Farhan. Trust me," ucap Reyhan meyakinkan.


Reyhan mengangguk pasrah. Ia kembali mengayunkan langkahnya. Sesekali ia membuang napas dengan keras.


Kaki lelaki itu tampak bergetar. Tangan kirinya sontak memegangi tembok kokoh rumah megah yang ditempati. Tekadnya masih kuat untuk terus melangkahkan kaki menuju ruang keluar. Menunggu anggota keluarga lainnya yang masih menyantap makan malam.


Nadhira. Gadis itu hanya duduk diam seraya memandangi suaminya. Ia menggigit bibirnya. Menelan salivanya dengan susah payah.


"Ra."


Panggilan Mama tak membuatnya mengalihkan perhatian. Entah didengar dan sengaja tak menoleh atau memang suara Mama tidak sampai tertangkap di gendang telinganya. Gadis itu mencengkram sandaran kursi di ruang makan yang ia duduki.


Refleks sebelah tangan lainnya memegangi perut yang kian hari kian membesar itu. Dalam hati gadis itu berbisik pada sang buah hati. "Kamu adalah penguat Mama, Nak. Dan bantu Mama menguatkan Papa juga, ya, Sayang."


"Kak?" Panggil gadis kecil nan lucu itu seraya menepuk pelan paha kakak iparnya.


Nadhira sedikit tersentak. Ia menatap gadis kecil yang sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


"Are you good?" tanya Latisha dengan wajah lucunya.


"Of course, Little Girl," jawab Nadhira dengan senyum mengembang yang membingkai cantik bibir ranumnya. Ditarik pelan tubuh gembul itu. Ditangkupnya wajah Latisha dengan kedua tangan dan menembus netra gadis kecil itu dengan tatapannya.


"Menangnya kenapa? Kenapa Tisha bertanya seperti itu pada kakak? Hmmm?"


Latisha menjinjitkan kaki kecilnya. Membisikkan kata demi kata di telinga sang kakak ipar. "Latisha dengar Mama bilang kalau kakak sedang melamun. Benarkah?"


Nadhira tersenyum. Menoleh ke arah Mama sebentar.


"Tidak. Kakak sedang tidak melamun."


Gadis kecil bertubuh gembul itu menganggukkan kepala. "Hmmm. Baiklah. Kata Bu Guru tidak boleh melamun. Nanti diganggu makhluk ghaib," cicitnya dengan polos.


Kalimat yang lolos dari bibir Latisha tak urung mengundang gelak tawa Mama dan Papa. Sedangkan, Nadhira hanya tertawa kecil.


"Dik, kemarilah! Habiskan dulu makanan adik."


Latisha hanya mengikuti titah Mama.


"Ra, yang kuat, ya, Nak. Papa dan Mama selalu bersamamu," ucap Papa penuh perhatian.


Lelaki yang terbilang sudah memasuki usia senja itu mendekat ke arah menantunya. Menepuk pelan pundak Nadhira. "Percayalah, Nak. Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya."


Gadis itu tak kuasa untuk tak meneteskan butiran-butiran kecil dari kelopak matanya. "Terimakasih sudah menguatkan Nadhira, Pa. InsyaAllah Nadhira kuat."


Papa menatap kasihan anak menantunya itu. Disaat Nadhira tengah hamil tua. Bersamaan dengan itu pula ia harus menerima kenyataan tentang kondisi suaminya yang semakin memburuk.


Papa melihat Nadhira mencoba kuat dan tegar. Seringkali pula Papa menangkap basah gadis itu tengah menangisi keadaan sang suami. Tetapi, selala dijawabnya dengan kalimat yang meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Papa bangga dan salut melihat ketegaran anak menantunya itu.


"Bolehkah Nadhira meminta tolong pada Papa dan Mama?" tanya Nadhira dengan menatap bergantian mertuanya.


Dua sejoli yang tak lagi muda itu mengangguk bersamaan.


"Tolong bantu Nadhira menjaga Kak Reyhan, ya, Pa, Ma," ucapnya kemudian terisak kuat.


Mama yang hatinya tersentuh seketika bangkit dan mendekati Nadhira. Memeluknya erat. "Iya, Sayang. Tentu saja. Dan sudah, ya, Nak. Jangan menangis. Nanti si kecil ikut bersedih melihat mamanya seperti ini."


Gadis itu hanya mengangguk dalam dekapan Mama. Ia menumpahkan segala kesedihannya pada pundak wanita paruh baya itu. "Nadhira kuat, ya, Ma. Nadhira kuat," ucapnya dengan isak yang begitu kuat, yang berhasil membuat tubuhnya bergetar hebat.

__ADS_1


"Iya, Nak. Kamu pasti kuat. Cucu Mama juga kuat," imbuh Mama.


"Al!"


__ADS_2