
Nadhira menatap masakan yang sudah berada ditangannya. Kakinya melangkah dengan senyum mengembang menuju kamarnya dan Reyhan di lantai dua.
“Semoga Kak Reyhan menyukai masakanku kali ini,” harapnya ketika kakinya sudah sampai dan berhenti didepan pintu kamar.
Tangan kanannyayang bebas dari apapun segera membuka pintu dengan pasti. Matanya menangkap suaminya sedang asyik berkutat dengan benda segi empat besar di tempat tidur.
“Sedang sakit seperti itu. Masih bisa-bisanya kamu memikirkan pekerjaan, Kak,” ungkapnya dalam hati.
Ia meletakkan makanan yang dibawa di atas nakas samping tempat tidur dan duduk di samping Reyhan yang belum menyadari kedatangannya.
“Kak ?” panggilnya sembari memegang lengan Reyhan.
Reyhan terlonjak kaget. “Astaghfirullah, Al. Kamu mengagetkanku saja.”
“Bagaimana bisa ? Aku hanya memanggil kakak dengan suara pelan.”
“Tapi, memanggil dan menyentuhku tiba-tiba seperti tadi membuatku kaget, Al.”
“Memangnya kakak tidak tahu aku disini ?”
“Kamu datang saja aku tidak tahu, Al.” Reyhan kembali pada laptopnya yang masih menyala. Menampilkan sederetan huruf, angka dan gambar lainnya yang tak di mengerti Nadhira.
“Huh!” Nadhira membuang napas. “Sekarang kakak makan dulu. Aku sudah memasak untuk kakak. Setelah itu minum obat.”
Reyhan takmenimpali sama sekali.
“Kak, makan dulu.” Nadhira mengguncang lengan suaminya pelan.
“Iya,” jawab Reyhan singkat. Namun, tangan dan tatapannya masih berfokus pada benda dihadapannya itu.
“Kak ?”
“Iya, Al. Sebentar lagi.”
Ia mendengus kesal.
Satu menit.
Dua menit.
Hingga menit kelima. Reyhan belum juga beralih dari kesibukannya berjibaku dengan pekerjaan kantor.
“Kakak ?” panggilnya lembut.
“Hmmm.”
“Makan dulu. Nanti dilanjutkan lagi. Kakak harus minum obat.”
Reyhan tak menjawab.
“Kak ?” Nadhira menggapai tangan Reyhan.
“Aku sedang bekerja, Al. Tolong jangan dulu menggangguku!” bentak Reyhan dengan suara keras.
Mulut Nadhira terkatup rapat. Tangannya bergetar. Air matanya menggenang. Kemudian, ia bangkit dan menjauh perlahan dari Reyhan.
Reyhan yang baru menyadari sikapnya seketika menghentikan gerakan tangannya di atas laptop. Karena kondisinya yang masih lemah, ia berjalan pelan ke arah Nadhira yang sudah mencapai pintu.
“Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu.” Reyhan meraih tubuh kecil Nadhira.
“Lanjutkan saja pekerjaanmu, Kak. Aku tidak ingin mengganggu,” ucapnya dengan isak pelan.
Ia melepaskan tangan Reyhan dari tubuhnya. Berjalan kembali menuju tempat tidur.
“Aku sudah menyediakan makanan untuk kakak diatas meja. Juga sudah ku siapkan obat kakak
disana. Jangan lupa diminum.”
__ADS_1
Ia menarik selimut tebal itu dan menutup seluruh tubuhnya. Melampiaskan tangisnya didalam selimut tersebut.
“Apa kamu tak merasa lelah menangis terus menerus, Nadhira ?” tanyanya pada diri sendiri.
Isaknya semakin keras. Ia merasakan dadanya tertindih beban yang sangat berat. Hingga untuk mengatur sistem pernapasannya pun harus disertai pejaman mata. Sesak.
Berulang kali ia mengatur napasnya agar terbebas dari sesak. Nihil. Usahanya nampak begitu sia-sia dan tak berguna sama sekali. Iya. Asma kembali menyerangnya.
Reyhan menatap gundukan selimut itu dengan sesal yang teramat sangat. Bagaimana bisa ia membentak istrinya hanya karena memintanya untuk makan dan meminum obatnya. Ia mendekat dan duduk disamping Nadhira.
“Al ?”
Nadhira tak menjawab. Ia sibuk dengan sesak yang menghampiri.
“Sayang ?” Reyhan hanya mendengar isakan dan sesekali suara napas yang tak beraturan.
“Aleea ?” panggil Reyhan lagi. Kali ini dengan rasa khawatir yang menjadi-jadi. Seketika ia teringat saat ia menemukan Nadhira di taman dan jatuh sakit.
Tanpa menunggu lama, Reyhan membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya. Dan menemukan Nadhira sedang berjuang keras mengatur napasnya. Keringat dingin sudah membanjiri sekujur tubuhnya.
“Sayang, kamu kenapa ?” tanya Reyhan panik.
Ia sama sekali tak menjawab pertanyaan Reyhan. Tangannya menunjuk ke arah laci meja disamping
tempat tidur.
Reyhan menatap ke arah telunjuk Nadhira. Ia dengan segala sisa tenaganya berjalan menuju kesana. Membuka laci meja dan menemukan inhaler yang biasa digunakan Nadhira saat asmanya menyerang.
“Ini, Sayang.”
Nadhira dengan cepat meraih benda tersebut dari tangan suaminya. Menggunakannya dengan sempurna hingga ia merasa sedikit sesak yang menghampirinya mereda.
“Bagaimana, Al ? Sudah merasa membaik ?”
Ia mengangguk.
Ia masih berusaha mengatur napasnya pelan. Kemudian, duduk menghadap Reyhan. Ia menggenggam tangan Reyhan dengan lembut. “Kak, makan siang dulu, ya. Aku sudah membuat makanan kesukaan kakak seperti yang Mama beritahu padaku,” ia berucap begitu lembut pada suaminya. Padahal, baru saja ia menangis ketakutan mendengar bentakan dari Reyhan. Tapi, karena begitu ia menyayangi dan tak ingin terjadi apa-apa pada Reyhan. Ia membuang jauh rasa takutnya.
“Sebentar aku ambilkan dulu.”
“Tidak perlu, Sayang. Aku akan mengambil sendiri makanannya.”
“Izinkan aku belajar dari hal kecil untuk menjadi perempuan yang layak dikatakan istri.”
Reyhan tersenyum dan membiarkan Nadhira mengambilkan makanan untuknya.
“Makanlah. Agar kakak segera membaik.”
Ia menatap Reyhan yang sedang makan dengan begitu lahapnya.
“Lain kali kamu buatkan saja aku bekal untuk ke kantor, Al. Supaya aku tak lagi makan diluar.”
“Hah ? Memangnya kakak yakin masakanku enak ?”
“Enak. Tapi, tak seenak masakan Mama. Kamu ‘kan masih belajar, Sayang. Aku yakin. Seiring berjalannya waktu, kamu akan lebih jago dari Mama dalam memasak.”
“Baiklah. Mulai besok aku akan membuatkan bekal untuk kakak.”
“Ba...”
Ia memotong ucapan Reyhan dengan cepat. “Tidak! Bukan besok. Tapi, nanti jika kondisi kakak benar-benar dalam keadaan baik. Barulah boleh ke kantor. Untuk besok kakak belum aku izinkan pergi bekerja.”
“Tapi, Sayang. Aku ‘kan banyak kerjaan.”
“Maaf, Tuan Reyhan Akbar Oktara. Nyonya Nadhira Aleeana Pramudya tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun.”
“Sekarang kamu sudah berani melarang suamimu, ya ?”
__ADS_1
“Demi kebaikan dan kesehatan. Istri boleh melarang suami.”
“Baiklah. Aku akan mengikuti Boss kecilku ini.” Reyhan mengacak-acak jilbab Nadhira hingga berantakan.
“Huh! Kenapa kakak senang sekali membuat berantakan jilbabku ?” Ia mengerucutkan bibirnya sebal.
“Apakah kamu sudah lupa, Sayang ?”
Ia menatap Reyhan bingung.
“Bukankah sejak hari pertama menikah, mengacak-acak rambut atau jilbabku adalah hobbyku ?”
“Kakak sama saja seperti Abang.”
Reyhan tertawa.
“Tapi, namamu sekarang bukan lagi Nadhira Aleeana Pramudya.”
“Lalu ?”
“Nadhira Aleeana Oktara. Karena, sejak aku menjabat tangan Ayah dan mengikrarkan ijab qabul. Kamu adalah Nyonya Oktaraku.”
Nadhira tersipu. Ia tak mampu berkata-kata.
“Terimakasih sudah menerimaku dengan segala kekurangan yang bahkan sempat aku sembunyikan.”
“Seperti apapun kakak. Kakak adalah suamiku. Dan sudah menjadi kewajibanku untuk melengkapi segala kekurangan yang kakak miliki.”
“Kamu bahkan sampai sebijak itu dalam berpikir. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku yang pernah berpikir yang tak seharusnya padamu.”
“Kak, masalah apapun yang sedang kakak hadapi. Terbukalah padaku. Jangan pernah sembunyikan apapun dariku.”
“Iya, Sayang.”
“Sekarang habiskan makanannya dan minum obat.”
“Aku sudah baik-baik saja, Al. Untuk apa meminum obat.”
“Tidak! Kakak sedang tidak baik-baik saja.”
“Al, percayalah.”
“Kata Mama obat itu harus kakak konsumsi setiap hari.”
“Tapi, Al...”
“Kak, dengarkan aku. Jangan seperti anak kecil. Kakak sangat membutuhkan obat itu. Aku tidak mau jika tidak meminumnya. Kemudian, kakak anfal lagi. tolong jangan buat aku sekhawatir dan setakut tadi, ya.”
Reyhan melunak. Ia mengambil dua butir obat yang sudah disiapkan Nadhira untuknya.
“Al ?”
“Iya, Sayang ?”
“Apakah kamu yakin bahwa laki-laki penyakitan sepertiku ini akan mampu menjagamu ?” tanya Reyhan lirih.
Nadhira mengambil piring dari tangan Reyhan. Meletakkan kembali diatas meja samping tempat tidur. Ia kemudian memeluk tubuh suaminya dengan erat.
“Jangan lagi berkata seperti itu. Kakak kuat. Aku percaya itu. Kita akan melangkah bersama, ya, Sayang.” Ia mengusap lembut punggung Reyhan. Tanpa bisa ditahan air matanya luruh begitu deras.
“Aku sudah mempercayakan hidupku pada kakak. Karena, aku yakin kakak mampu. Aku selalu bersamamu.”
Reyhan membalas pelukan Nadhira dengan erat. “Jangan menangis lagi. Aku sesak melihatmu seperti
itu.”
Reyhan melepas pelukannya dan menghapus jejak air mata yang mengaliri pipi Nadhira.
__ADS_1
“Terimakasih sudah menguatkanku, Sayang. Aku mencintaimu.”