Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 20


__ADS_3

Acara sudah benar-benar selesai pukul 12.30.


Nadhira dan Reyhan memasuki kamar yang sama. Kamar yang akan mereka gunakan sementara untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa letih sebelum mereka kembali ke rumah. Kamar yang akan digunakan bermalam sementara menginao di hotel.


Setelah berganti pakaian membersihkan diri. Reyhan pergi menunaikan shalat zuhur disebuah masjid yang jaraknya tidak jauh dari hotel bersama beberapa keluarga yang laki-laki. Sementara Nadhira dan perempuan-perempuan lainnya melaksanakan shalat dikamar masing-masing.


Seusai melaksanakan salah satu kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu shalat. Nadhira merapikan mukenah dan sajadah yang ia gunakan tadi. Lalu duduk bersila dan menopang wajahnya dengan kedua tangan. Menelisik setiap jengkal kamar yang sudah di sulap sedemikian rupa. Dengan nuansa merah muda dipadukan hijau toska itu di dekorasi dengan bunga mawar sekian banyaknya. Di setiap sudur ruang di pajang sebuah pas bunga besar yang diisi dengan bunga mawar merah segar.


Seraya menunggu kepulangan suaminya dari melaksanakan shalat zuhur di masjid. Nadhira memainkan ponselnya untuk memanfaatkan waktu sehingga ia tak merasa bosan. Nadhira senyum-senyum sendiri melihat pesan berisi ucapan atas pernikahannya yang dikirimkan oleh teman-temannya. Beberapa keluarga yang juga tak dapat menghadiri acara pernikahannya.


Pintu kamar terketuk lalu terbuka. Nadhira menoleh ke arah pintu dan mendapati suaminya yang masih mengenakan baju koko lengkap dengan sarung dan peci hitamnya. Reyhan menghampiri Nadhira dan duduk disampingnya.


“Al, udah makan ?” tanya Reyhan lembut sambil mengelus rambut Nadhira yang masih tertutup hijab instannya.


“Udah. Tapi cuma makan roti aja tadi pagi. Kakak udah ma... eh tunggu dulu.” Jawab Nadhira seraya meletakkan ponsel sembarangan.


“Kenapa, Al ?” Reyhan menautkan alisnya melihat ekspresi Nadhira yang tiba-tiba khawatir.


“Kakak kok pucat ? Apa kakak sakit ?” tanya Nadhira begitu cemas.


“Nggak kok. Aku nggak sakit. Mungkin kecapekan dan semalaman juga aku susah tidur. Gerogi dan kepikiran terus dengan pernikahan kita.”


“Benarkah ?” tanya Nadhira setengah percaya


“Iya, Sayang, " jawab Reyhan dengan suara lembut.


Nadhira tersipu dan pipinya mulai merona mendengar kata sayang yang diucapkan lelaki yang baru beberapa jam lalu sah menjadi suaminya.


“Kok pipinya merah ?” Reyhan mencoba menggoda Nadhira.


“Nggak. Nggak apa-apa. Kakak udah makan ?” tanya Nadhira mengalihkan pembicaraan.


“Aku tadi udah makan sama Papa, Ayah, Abang dan Farhan sepulang shalat dari masjid. Kamu makan dulu, ya, Sayang? Biar aku pesankan makanannya.”


“Hmmm... nggak usah, Kak.” Ucap Nadhirra dengan malu-malu pada suaminya.


“Dari pagi kamu belum makan loh ini, Al. Cuma makan roti doang. Aku nggak mau ya kalau kamu sampai sakit nantinya. Makan ya, Sayang ?” Reyhan berbicara selembut mungkin membujuk istrinya.


“Tapi aku nggak laper kok. Sungguh.”


“Mau nunggu laper sampai kapan hmmm ?” Reyhan menyentil kening Nadhira sampai Nadhira meringis dan memegang keningnya.


“Aww.. sakit tau, Kak.” Nadhira mengaduh dan memanyunkan bibirnya.


“Iya. Iya. Aku minta maaf deh. Jangan cemberut gitu dong. Nanti cantiknya hilang.”

__ADS_1


Obrolan Nadhira dan Reyhan terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara pintu terketuk.


“Dek!” Panggil Bunda sedikit berteriak.


“Bunda, Kak. Aku bukain pintu dulu, ya.”


Reyhan hanya mengangguk. Nadhira berjalan menuju pintu lalu membukakan pintu untuk Sang Bunda.


“Iya, Bunda.”


“Ini makan dulu, Dek. Dari pagi adek belum makan, kan ?” Bunda memberikan nampan yang berisi dua porsi makanan beserta minumannya pada Nadhira.


“Terimakasih ya, Bunda. Nggak masuk dulu apa, Bun ?”


“Nggak deh. Takut ganggu pengantin baru.” Bisik Bunda ditelinga Nadhira.


“Apaan sih, Bunda. Nggak apa-apa kok. Kak Reyhan juga baru pulang gavis shalat dari masjid. "


“Nggak deh, Sayang. Ya udah adek makan dulu sana sama suami. Bunda pergi, ya.”


“Iya, Bun. Terimakasih banyak. "


Selepas kepergian Bunda. Nadhira kembali menutup pintu dan berjalan menghampiri suaminya.


Nadhira menemukan Reyhan sudah terlelap dengan memeluk guling. Nyenyak sekali.


“Kalo nggak dibangunin kan makanannya nanti mubazir. Aku mana kuat makan sebanyak ini. Tapi kalo dibangunin juga kasian. Kayaknya Kak Reyhan capek banget.”


Nadhira menatap nampan yang berisi makanan yang masih ia pegang dan bergantian dengan menatap suaminya yang tertidur pulas.


Terasa jelas dalam hati Nadhira rasa tak tega jika harus membangunkan lelaki yang tertidur dengan wajah yang masih nampak pucat itu. Nadhira meletakkan nampan diatas nakas. Dan...


“Kak, bangun.” Nadhira memutuskan untuk membangunkan Reyhan dengan sedikit menepuk bahunya pelan. Pelan sekali.


“Ada apa, Al ?” tanya Reyhan dengan suara serak khas bangun tidur.


“Mmmm kita makan yuk, Kak. Tadi Bunda udah bawain makan buat kita. Kalo aku makan sendiri ya nggak akan habis makanan ini.” Ucap Nadhira malu-malu.


“Aku kan tadi udah makan. Kamu aja yang makan, ya.”


Nadhira melirik dengan sendu nampan yang ia letakkan diatas nakas samping tempat tidur. Reyhan yang melihat perubahan dari wajah istrinya itu merubah posisi menjadi duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.


“Ya udah ayo kita makan.”


“Beneran ?” Tanya Nadhira dengan raut wajah ceria dan mata berbinar.

__ADS_1


“Iya, Sayang.”


Nadhira dengan cepat mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya lalu memberikan pada suaminya.


“Terimakasih.” Ucap Reyhan tersenyum dan dengan senang hati menerima makanan yang diberikan Nadhira padanya.


Nadhira duduk menghadap Reyhan dengan sepiring menu yang sama ditangannya.


“Berdo’a dulu baru makan, Dik. Supaya apa yang kita makan berkah. "


Nadhira mengangguk. Lalu keduanya melafalkan do’a dalam hati.


Mereka makan dalam keheningan. Hanya hingar-bingar dari luar yang mengisi acara makan siang pertama Nadhira dan Reyhan setelah menyandang status menjadi pasangan suami istri.


Sesekali Reyhan mencuri-curi pandang istrinya yang tengah makan dengan khidmat.


“Dik ?”


Nadhira mengangkat wajah dan menatap suaminya yang tengah tersenyum padanya.


“Makannya jangan kayak anak kecil gini dong, Sayang.” Ucap Reyhan seraya membersihkan sebutir nasi yang menempel dibibir Nadhira dengan tangannya.


Nadhira terkesiap dengan perlakuan Reyhan padanya.


“Kak ?”


“Hmmm.” Jawab Reyhan tanpa menoleh Nadhira.


“Kan kakak tinggal bilang aja. Aku bisa bersihin sendiri.”


“Tapi, yang mau bersihin kan aku sendiri. Bukan disuruh sama kamu.”


“Terimakasih.” Ucap Nadhira dengan wajah tertunduk.


“Habiskan makannya, Sayang. Setelah ini kamu istirahat. Aku yakin kamu sudah pasti sangat lelah."


Nadhira hanya mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan suaminya. Melahap nasi dipiringnya hingga tandas.


“Udah makannya, Dik ?”


“Iya, Kak. Sini piringnya biar aku bereskan dulu.”


“Minumnya dulu, Sayang.”


“Oh iya aku lupa. Nih.”

__ADS_1


Nadhira menyodorkan segelas air putih pada suaminya. Lalu membereskan piring-piring yang mereka gunakan untuk makan tadi.


___TBC___


__ADS_2