
"Lho, Kakak mau kemana pagi-pagi sudah rapi seperti itu?" tanya Nadhira bingung melihat suaminya yang sibuk bersiap-siap dengan setelan kemeja hitamnya.
"Aku mau ke kantor, Al. Mau bantu Farhan menyelesaikan pekerjaan yang cukup menumpuk."
"Tidak bisa begitu dong, Kak. Kesehatan Kakak masih belum stabil. Lagipula, Kakak sudah menyerahkan semuanya ke Farhan," protes Nadhira.
Reyhan berjalan mendekat ke arah Nadhira yang masih berbaring diatas tempat tidur. "Sayang, nanti kamu juga akan paham kenapa aku sampai melakukan ini. Dan kamu tenang saja. Aku akan menjaga kesehatanku."
"Tapi,..."
Reyhan menempelkan jari telunjuknya pada bibir ranum istrinya. "Sssttt! Percaya saja padaku, Al. Aku berjanji untuk tetap baik-baik saja."
"Aku takut terjadi hal buruk denganmu. Sungguh." Nadhira meraih tangan Reyhan dan menggenggamnya erat. Seolah itu adalah cara meyakinkan suaminya bahwa ia benar-benar khawatir.
"Everything will be okay, Sayang." Reyhan menempelkan bibirnya pada kening Nadhira. Mengecupnya dengan lembut.
Nadhira membuang napasnya kasar. Ia hanya bisa berpasrah dan mengiyakan keinginan Reyhan. Sebab, melarang pun ia sudah tak bisa. Ia tahu bahwa suaminya susah untuk dilarang.
"Baiklah. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu dibawah." Nadhira bangkit dari pembaringan. Kemudian, beranjak ke kamar mandi hanya untuk mencuci wajahnya.
"Sekarang kamu tidak akan sendiri lagi mengerjakan pekerjaan kantor, Dik. Kakak akan membantumu. Sehingga, Papa tidak bisa lagi menyalahkan apalagi sampai memukulmu." Reyhan berbicara pada dirinya sendiri. Tatapannya beralih pada Nadhira yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah. Ia melihat Nadhira meringis.
"Kamu kenapa, Al?" tanya Reyhan khawatir.
"Punggungku terasa pegal-pegal. Seperti biasa."
"Kalau begitu kamu istirahat saja. Biar aku sarapan di jalan."
Nadhira berjalan mendekati Reyhan. Kemudian, duduk di samping suaminya.
"Tidak apa-apa nanti aku buatkan sarapan. Ayo turun."
Reyhan menggeleng. "Tidak, Sayang. Kamu harus istirahat. Kasihan tubuhmu sudah lelah mengurusiku."
Nadhira menggenggam tangan suaminya. "Jangan berbicara seperti itu. Karena, sudah berkali-kali ku katakan pada kakak. Itu sudah menjadi tugasku."
"Terima kasih, Sayang."
__ADS_1
"Sudah. Jangan ada drama-drama sedih pagi-pagi. Mending Kakak bantu pijit punggungku sebentar. Bagaimana?"
"Dengan senang hati, Tuan Putri."
...***...
"Farhan tunggu!"
Langkah Farhan terhenti mendengar suara berat Reyhan. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Reyhan tengah berjalan ke arahnya dengan setelan baju kerja. Ia mengernyitkan dahi.
"Jangan bilang Kakak mau ke kantor," tebak Farhan.
"Kakak ikut denganmu. Kakak sedang tidak ingin menyetir sendiri," ucap Reyhan dengan senyum lebar. Padahal, bukan itu alasannya. Akan tetapi, kondisinya yang masih belum stabil.
"Kenapa sih Kakak harus sekeras kepala ini?" ucap Farhan frustasi. Tatapannya beralih pada Nadhira yang juga tengah berjalan mendekat dengan dua kotak bekal ditangannya. "Kak Nadhira kenapa biarin Kakak pergi ke kantor?"
"Memangnya Kak Nadhira bisa apa jika kakakmu itu sudah ngotot begitu, Dik?"
Farhan menatap tajam Reyhan.
"Percuma saja, Farhan. Tatapanmu seperti itu tidak akan bisa menyurutkan keinginannya itu," ucap Nadhira seraya menyerahkan satu kotak bekal pada Farhan. "Jangan lupa dimakan. Kak Nadhira lelah melihat kalian berdua sakit terus."
Bukannya takut. Bahkan, Reyhan tertawa keras melihat ekspresi istrinya. "Kamu lucu kalau lagi marah seperti itu." Reyhan mencubit pipi istrinya.
"Kakak, sakit. Jangan cubit pipiku." Nadhira menurunkan tangan Reyhan dari pipinya.
Tangan Reyhan beralih dari pipi menuju perut buncit Nadhira. Ia mengelus perut itu dan sedikit membungkuk. "Nak, Papa kerja dulu, ya. Jaga Mama dirumah. Jangan di repotin terus kayak Papa. Kasihan Mama. Jadi anak baik, ya, Sayang." Setelah mengucapkan kalimat itu. Reyhan mencium perut buncit istrinya.
"Masih pagi sudah bikin Farhan ngiler saja kalian berdua."
Ucapan Farhan berhasil menyadarkan Reyhan bahwa sekarang ia sedang tak hanya berdua dengan Nadhira. Tetapi, ada Farhan yang masih menunggunya. "Astaga! Maaf. Kakak lupa."
"Mau lanjut mengadu keromantisan dulu atau bagaimana? Jika mau berlanjut, biar Farhan tunggu di mobil saja."
"Kamu iri, ya, Dik?" tanya Nadhira menggoda adik iparnya. Entah kenapa semenjak Farhan sembuh dari sakitnya kemarin. Nadhira semakin menunjukkan perhatiannya pada adik dari suaminya itu. Bahkan, panggilannya pun sudah mulai berubah.
"Tidak begitu, Kak. Farhan hanya tidak ingin mengganggu saja. Sungguh."
__ADS_1
Gelak tawa Reyhan dan Nadhira mengudara secara bersamaan.
"Farhan juga tidak ingin terlambat ke kantor. Farhan tidak mau membuat Papa marah lagi." Kalimat itu mengalun begitu saja dari bibir Farhan tanpa ia sadari. Ia tertunduk.
Reyhan yang melihat perubahan raut wajah adiknya lantas mendekat. "Ayo berangkat sekarang."
Farhan mengangguk.
"Sayang, aku berangkat dulu. Ingat janganmelakukan aktivitas berat."
Nadhira mengangguk dan menggamit tangan suaminya. Kemudian, menciumnya dengan hormat. Tak lupa juga keningnya yang berhasil menjadi sasaran ciuman Reyhan setiap kali lelaki itu berangkat kerja.
......***......
"Kakak yakin sudah sehat makanya pergi ke kantor? Farhan takut Kakak anfal lagi." Farhan membuka suara untuk memecah keheningan didalam mobil. Tentu dengan raut wajah khawatirnya.
"Seperti yang kamu lihat. Tetapi, Kakak yakin masih kuat jika hanya sekedar pergi ke kantor."
"Nanti jika Kakak lelah dan butuh istirahat. Katakan saja pada Farhan. Biar Farhan antar pulang."
"Iya. Kamu tenang saja. Tidak perlu sekhawatir itu," ucap Reyhan dengan tatapan yang fokus pada ponselnya.
"Farhan hanya takut..."
Belum sempat Farhan melanjutkan kalimatnya. Reyhan lebih dulu memotong dengan berkata, "takut disalahkan Papa dan kemudian kamu di pukul? Begitu?"
"Kak..."
"Kakak tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Bagaimanapun caranya. Meskipun dengan Kakak mempertaruhkan nyawa sekalipun."
"Kakak bicara apa sih?"
"Sudah cukup perlakuan kasar Papa padamu, Dik. Papa sudah tidak tahan. Didepan Kakak saja Papa begitu brutal memukulmu. Apalagi saat kamu sendiri. Ah... Kakak tidak bisa membayangkan hal itu."
"Sudahlah, Kak. Papa juga memukul Farhan bukan tanpa alasan 'kan?"
Reyhan menatap tajam Farhan. "Atas alasan apapun. Tidak sepantasnya Papa melakukan hal itu padamu."
__ADS_1
Farhan menepikan mobil dan berhenti tepat di sebuah toko yang didepannya berdiri sebuah plang dengan tulisan APOTEK disana. Sebelum Reyhan melempar pertanyaan padanya. Ia lebih dulu menjelaskan. "Sebentar Farhan hanya ingin membeli salep untuk bekas luka di tubuh Farhan yang Kakak lihat kemarin."
Reyhan sedikit lega mendengar ucapan Farhan. Ia menatap tubuh Farhan yang kian menjauh dari kaca jendela mobil. Entah kenapa Reyhan merasa ada yang aneh dengan adik lelakinya itu. Akhir-akhir ini ia selalu melihat wajah Farhan tampak pucat. Lebih sering pulang tetapi mengurung diri di kamar.