
Langkahnya gontai. Tatapannya kosong. Segaris senyum yang selalu terpancar kini hanya sebatas garis datar dibibir mungilnya. Kristalan air mata mengalir dari kelopak mata indahnya.
"Kamu tidak apa-apa ?" tanya seseorang yang telah menabraknya hingga terjatuh dan terduduk dilantai koridor Rumah Sakit.
Ia hanya menggeleng dan tak merasakan apapun. Bahkan ia belum tersadar tertabrak seseorang. Otaknya menyisir liar potongan-potongan kalimat yang diucapkan Dokter Dharma padanya.
"Nadhira ?" panggil seseorang lainnya.
Dengan pelan ia mengangkat kepalanya dan menemukan Faris tengah berdiri dihadapannya. Ia menatap Faris tanpa ekspresi.
"Kamu kenapa ?"
"Maaf, Mas. Saya tidak sengaja menabrak Mbak ini."
"Oh iya, Mas. Tak mengapa. Saya rasa teman saya juga baik-baik saja."
"Jika begitu, saya permisi dulu."
"Nadhira ? Kamu sakit ?"
Ia hanya menggeleng dan bangkit dari duduknya. Berjalan tanpa mempedulikan Faris yang masih berjongkok ditempatnya.
"Nadhira tunggu!" teriakan Faris sama sekali tak menyita perhatiannya. Langkahnya yang gontai dan tatapan kosong kedepan berjalan ke arah ruangan dimana Reyhan dirawat.
Ia menepis tangan Faris yang menariknya dari belakang. "Jangan menyentuhku!" bentaknya dan berhasil menarik perhatian pengunjung Rumah Sakit.
"Maaf. Tapi, aku hanya ingin tahu apa sedang terjadi denganmu ?"
Setelah otaknya kembali mencerna dengan baik keadaan sekitarnya. Ia beristigfar dan mengusap wajahnya. "Maafkan aku, Kak Faris," ucapnya seraya menundukkan kepala.
"Tak mengapa, Ra. Jika boleh aku tahu, ada apa denganmu hingga kamu seperti ini ?"
"Tidak ada apa-apa, Kak. Aku hanya terlalu banyak pikiran."
"Lantas apa yang membawamu datang ke Rumah Sakit ini ?"
Sejenak ia membungkam. Otaknya memutar kembali memorial diruangan Dokter Dharma. Kalimat-kalimat yang ia tangkap seakan menjadi lagu dan terdengar nyaring ditelinganya.
"Kenapa kamu diam, Nadhira ?"
"Suamiku sedang sakit, Kak Faris. Dan maaf. Aku harus kembali ke ruangannya. Karena, aku sudah meninggalkannya lama."
"Oh baiklah. Semoga suamimu lekas sembuh."
Ia kemudian berlalu dengan cepat. Memperbesar langkah agar segera sampai di ruangan suaminya.
"Kakak butuh apa ?" tanyanya saat ia memasuki ruangan dan menemukan Reyhan tengah berusaha menggapai sesuatu diatas meja.
"Aku ingin mengambil ponselku, Al. Bisakah kamu mengambilnya untukku ?"
Tanpa menjawab apapun ia mengambil ponsel milik Reyhan dan menyerahkan pada sang empunya.
"Farhan dimana ?" tanyanya seraya mencari keberadaan adik iparnya itu.
"Aku memintanya pulang untuk mengambil laptop dan berkas-berkas kantor. Aku harus menyelesaikannya dengan segera. Kasihan Papa jika harus menyelesaikan semua pekerjaanku."
__ADS_1
"Maaf, Kak. Tapi, aku tak mengizinkanmu melakukan apapun selain istirahat."
"Jangan egois, Al. Pekerjaan-pekerjaan itu harus segera aku selesaikan. Jika tidak, bisa jadi akan banyak kerugian yang dialami perusahaan."
"Lantas bagaimana dengan kesehatanmu, Kak ?"
Reyhan tak menjawab.
"Jika dengan aku berlaku demikian. Kemudian, kakak mengatakanku egois. Baiklah. Biarlah aku menjadi manusia teregois yang pernah kakak kenal selama ini."
Ia tertawa miris. "Lagipula aku seperti ini demi kepentingan dan kesehatan suamiku."
"Aleea, tolong mengertilah."
"Bagaimana aku bisa mengertikanmu jika kamu sendiri tak mengerti apa yang seharusnya kamu lakukan demi dirimu sendiri, Reyhan ? Hah!" Amarahnya memuncak. Wajahnya yang terbiasa ceria dan teduh berubah merah padam.
Melihatnya seperti itu membuat Reyhan tak berkutik. Ia tak pernah menemukan istrinya semarah itu.
"Dan siapapun yang berani membiarkanmu bekerja disini. Silahkan berurusan dulu denganku. Termasuk Papa dan Mama," ucanya tegas dengan raut wajah penuh amarahnya.
"Kak, Farhan hanya membawa ini untuk kakak," ucap Farhan setelah memasuki ruangan dan belum menyadari keberadaan kakak iparnya.
"Letakkan semua yang kamu bawa itu disofa, Farhan!" Ia memerintahkan Farhan dengan tegas dan tatapan elangnya. Farhan hanya mampu mengikuti titahnya tanpa mampu berkata apapun.
"Kak, Farhan harus ke kampus. Setelah itu akan mengantarkan Papa ke airport," ucap Farhan tertunduk karena takut melihat sisi lain dari kakak iparnya itu.
"Papa mau pergi kemana, Dik ?" tanya Reyhan penasaran.
"Menyelesaikan pekerjaan diluar daerah. Begitu yang Farhan dari Mama."
"Farhan pergi dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawabnya bersamaan dengan Reyhan.
Setelah Farhan berlalu dari ruangan. Tiada pun diantara keduanya yang membuka suara. Ia hanya bungkam dengan melempar tatap keluar jendela. Sedang Reyhan terdiam menatap langit-langit ruang putih bersih itu.
"Bunda! Adik sangat membutuhkan Bunda saat ini. Adik ingin mencurahkan keluh kesah adik," pekiknya dalam hati.
"Kondisi Pak Reyhan sudah memburuk. Jika tidak melakukan operasi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada beliau kedepannya." Suara Dokter Dharma terus menggema di telinganya. Menelisik seperti nyanyian-nyanyian suci para camar.
"Ahhhh!" Ia berteriak tanpa ampun dan kencang. Melepas sesak pada dadanya yang seperti tengah tertindih beban berat.
"Aleea ?" panggil Reyhan lirih namun masih terdengar seuta kekhawatiran dalam dirinya.
Ia tak peduli pada panggilan itu. Ia menumpahkan tangisnya tanpa malu. Melampiaskan segala beban pikiran yang sudah tak mampu dihempaskan.
Reyhan bangkit dari tidurnya dan hendak beranjak mendekatinya.
"Diam saja ditempat tidurmu, Kak. Kondisimu masih sangat lemah," ucapnya terbata-bata bersama isak tangis yang memilukan. Dadanya semakin sesak. Napasnya benar-benar tak beraturan. Ia berlari mencari sesuatu didalam tasnya. Mengeluarkan segala isi tasnya. Namun, ia tak menemukan apa yang tengah dicarinya.
"Kamu cari ini ?" Reyhan memperlihatkan benda kecil yang sangat dibutuhkan istrinya itu.
Tanpa berpikir ia mendekati tempat tidur suaminya dan meraih benda tersebut. Menggunakan dengan cepat hingga ia merasa sedikit lega dan tak lagi merasakan sesak di dadanya.
Reyhan menariknya ke dalam pelukan. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."
__ADS_1
"Usahlah lagi meminta maaf padaku. Minta maaflah pada dirimu sendiri."
"Sayang ?"
Ia tak bergeming.
"Jangan menangis lagi. Kumohon. Jangan menyiksaku dengan tangisan itu."
"Jika kakak tak ingin lagi melihat tangisku. Maka ikutilah keinginanku."
"Apa yang kamu inginkan dariku, Sayang ? Katakanlah!"
"Aku hanya menginginkan kesembuhanmu, Kak. Itu saja. Jadi, ku mohon pada kakak. Ikutilah saran Dokter Dharma untuk melakukan operasi."
Reyhan terdiam. Ia mulai enggan menanggapi istrinya itu. Karena, siapapun yang membahas operasi selalu tak dihiraukannya.
"Bagaiman ? Kakak mau 'kan ?" tanyanya dengan harapan Reyhan akan mengabulkan permintaannya.
"Jangan meminta sesuatu yang sudah kamu tahu bahwa aku tak bisa melakukannya, Al."
"Kenapa ?"
"Karena, aku baik-baik saja dan tak butuh operasi, Al. Aku hanya membutuhkan obat untuk meredakan sakit. Itu saja."
"Obat yang tak pernah kakak konsumsi secara rutin. Begitu ?" Ia tertawa miris.
"Al, tolong jangan seperti Papa dan Mama. Apalagi Dokter Dharma. Jangan memaksaku, Al. Aku mohon."
"Sampai kapan kakak sanggup menahan rasa sakit yang tak pernah kenal waktu dan tempat menyerang kakak tanpa belas kasihan sedikitpun ?"
"Aku kuat, Sayang. Sungguh. Aku benar-benar kuat. Percaya padaku, ya, Sayang."
Ia memeluk tubuh suaminya dan membisikkan kalimat demi kalimat. "Sayang, aku saja tak kuat melihatmu kesakitan seperti itu. Bagaimana denganmu ? Pasti sangat menyakitkan, bukan ?"
Sesekali ia mengelus rambut berantakan Reyhan. "Kakak mau bekerja seperti biasa lagi dan membantu Papa, bukan ?"
Reyhan mengangguk.
"Jika kakak seperti ini terus menerus. Bagaimana kakak bisa melakukan itu dengan baik ?"
Reyhan belum juga menanggapi apapun ucapan istrinya.
"Sayang ?" panggilnya mesra.
"Kumohon dengarkan aku kali ini, ya. Ini demi kebaikan kita semua, Sayang."
"Baiklah. Tapi, aku hanya akan menunggu dua minggu saja. Jika tidak bisa. Maaf, Al. Aku tidak bisa melakukan itu. Dan berhenti memaksaku."
"Iya, Sayang."
"Ingatlah, Al. Aku melakukan ini demi kamu. Jadi, kumohon jangan pernah pergi dariku."
Ia mengangguk. Mendaratkan ciuman dikening suaminya.
"Lekas sembuh, Reyhanku," bisiknya di telinga Reyhan.
__ADS_1