
Reyhan dengan segala pikirannya yang bercabang-cabang melajukan mobilnya keluar area perusahaan. Membelah jalanan kota yang belum juga lengang. Ia memacu mobil kesayangannya dengan kecepatan tinggi ke arah rumah Bunda. Sesuai yang ia dengar dari bibir istrinya itu.
Ditengah perjalanan ia mencoba menghubungi Nadhira. Memastikan bahwa istrinya itu sudah tiba dengan selamat dirumah Bunda. Namun, nihil. Tak ada jawaban dari Nadhira.
Lagi dan lagi Reyhan mencobanya. Tetap sama. Tiada jawaban. Bahkan, setelahnya nomor Nadhira tidak bisa terhubung sama sekali.
Ia semakin kalang kabut. Perasaannya semakin tak menentu. Ia pastikan Nadhira benar-benar kecewa dan terluka.
"Kamu dimana, Al?" tanya Reyhan pada dirimya sendiri. Ia semakin memacu kecepatan mobilnya. Menyalip beberapa kendaraan yang berada didepannya dengan liar. Lupa bahwa keselamatan harus diutamakan.
Dering ponsel yang ia letakkan di bangku kemudi terdengar nyaring dan berhasil mengalihkan pandangannya dari jalanan kota, memaksanya untuk kembali melaju dengan pelan. Ia mendengus kesal saat dilihatnya nama penelpon yang terpampang jelas dilayar benda hitam berbentuk segiempat itu. Dengan segala kekesalan yang tercipta ia melempar ponselnya dengan kasar. Tak peduli jika ponselnya hancur dan tak berfungsi lagi.
Mobil merah menyala itu kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Berharap sang pengemudi segera tiba di rumah yang dituju. Menemukan seseorang yang membuatnya kalang kabut dan panik dengan perasaan tak menentu itu.
Beberapa meter didepan Reyhan melihat orang-orang berkumpul di jalanan. Ia pastikan bahwa disana telah terjadi kecelakaan. Perasaannya semakin tak karuan. Kekhawatiran dan ketakutan menyergapnya tiba-tiba tanpa ampun. Tangannya bergetar memegang stang mobil. Otaknya berputar dengan pikiran yang tak seharusnya.
Ia menggeleng cepat. "Tidak! Tidak mungkin itu Aleeana."
Mobil yang ia kendarai segera menepi ke pinggir jalan. Ia turun dengan cepat untuk memastikan bahwa pikiran tentang Aleeana tidak benar.
"Mas, disana sedang terjadi kecelakaan, ya?" tanya Reyhan pada seseorang lelaki yang baru saja melewatinya.
"Iya, Mas. Kasihan sekali gadis itu."
Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ketakutan semakin menjadi-jadi. "Gadis?"
"Iya, Mas. Korban tabrak larinya seorang gadis berjilbab. Dia cantik."
Tanpa mendengarkan lagi cerita lelaki itu. Reyhan berlari dan menerobos sekumpulan orang yang masih berdiri disana. Memastikan siapa gadis berjilbab yang lelaki tadi maksudkan.
"Astagfirullah," ucapnya beristigfar melihat kondisi gadis tersebut yang begitu mengenaskan. Namun, di sisi lain ia bersyukur bahwa gadis itu bukanlah istrinya. Jantungnya berdebar tak menentu. Ketakutan yang tadinya memuncak kini hilang tak bersisa.
Ia kembali menembus sekumpulan orang-orang itu menuju mobilnya. Ada perasaan lega di hatinya. Tapi, jantungnya ia rasakan mulai tak baik-baik saja.
"Tidak. Aku tidak boleh sakit kali ini. Karena, aku haris mencari istriku segera."
Reyhan tak mengindahkan rasa sakit yang mulai terasa. Ia memacu mobilnya ke rumah Bunda, berharap ia temukan Nadhira baik-baik saja disana.
Tak butuh waktu lama untuk tiba di rumah besar dan megah milik mertuanya itu. Reyhan membunyikan klakson mobil untuk memberi isyarat pada sang penjaga agar membukakan gerbang besar nan tinggi.
Gerbang terbuka dengan lebar. Disana berdiri seorang lelaki yang tak lagi muda tengah tersenyum dan sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk rasa hormat padanya. "Terimakasih banyak, Pak Abdul."
__ADS_1
"Iya, Tuan."
Reyhan memarkirkan mobilnya didepan rumah megah berwarna biru itu. Segera turun dan mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Bunda?" Reyhan segera mencium tangan Bunda dengan hormat. Setetes peluhnya jatuh di tangan keriput Bunda.
"Kamu kenapa, Nak? Kenapa pucat seperti ini? Sampai-sampai berkeringat dingin juga. Kamu baik-baik saja 'kan, Nak?" Bunda melempar tanya bertubi-tubi.
"Reyhan baik-baik saja. Nadhira didalam 'kan, Bunda?"
Kening Bunda mengkerut. Menambah keriput-keriput yang sudah tercetak jelas di wajahnya. "Nadhira? Dia tidak pernah kesini. Menghubungi Bunda pun tidak."
Deg. Kali ini jantungnya seperti benar-benar tak mampu berdetak lagi. Pikiran kembali melayang. Perasaannya bercampur aduk.
"Memangnya Nadhira tidak izin padamu akan pergi kemana?"
Reyhan masih bergeming. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Lelaki itu masih juga bergeming.
"Jangan bilang kamu dan Nadhira sedang ada masalah besar," tebak Bunda dengan tatapan selidik.
Merasa kesal karena tak di respons Reyhan. Bunda dengan keras memanggilnya. "Reyhan!"
Ia tersadar. "Oh, iya, Bunda. Kenapa?"
"Kamu dan Nadhira sedang ada masalah?"
"Tidak, Bunda. Kami baik-baik saja."
"Lalu, bagaimana bisa kamu tidak tahu tepatnya istrimu berada?"
Reyhan berusaha berpikir dan mencari jawaban yang tepat untuk Bunda. Ia tak ingin masalahnya dengan Nadhira diketahui oleh orang tuanya.
"Tidak, Bunda. Reyhan permisi dulu. Barangkali Nadhira kembali ke rumah." Dengan cepat Reyhan mengamit lagi tangan Bunda dan menciumnya. Ia segera memasuki mobil dan meninggalkan rumah besar itu.
Di perjalanan ia mengedarkan pandangannya. Berharap bisa menemukan sesosok gadis yang tengah mengandung anaknya itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Al. Sebenarnya kamu dimana?" gerutu Reyhan.
Sementara itu, ponsel yang tadinya ia lempar keras masih saja berdering dengan nyaringnya. Dering yang begitu memekakkan telinga dan menambah emosi Reyhan hingga memuncak ke ubun-ubun.
"Sial!" umpatnya seraya memukul stang mobil dengan keras. Ia meraih ponselnya dengan sebelah tangan dan menscroll ke atas sebuah ikon telepon berwarna hijau pada layar.
"Ada apalagi, Rianti?"
"Maaf, Pak. Tapi, klien dari perusahaan Arta Corindo memaksa untuk bertemu Bapak. Padahal, saya sudah katakan bahwa hari ini Bapak tidak bisa diganggu. Pihak dari sana juga mengancam untuk membatalkan kerjasama."
"Baiklah. Katakan padanya, saya akan membatalkan kerjasama dengan Arta Corindo."
"Tapi, Pak..."
"Saya sedang ada urusan yang tidak bisa ditunda. Jadi, jika ada klien melakukan hal yang sama. Kamu iyakan saja tanpa menelpon saya."
Reyhan memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Kemudian, kembali fokus mencari Nadhira. Tatapannya kembali beredar. Menatap pinggiran jalan dengan harapan bisa menemukan istrinya.
"Mama?" cicitnya dan memutuskan menghubungi Mama.
Tersambung. Senyumnya mengembang. Ada harap-harap cemas yang tercipta.
"Ma, Aleeana sudah di rumah, belum?" tanya Reyhan tanpa basa-basi.
"Lho, bukannya Nadhira pergi ke kantormu, Kak?"
"Iya, Ma. Tapi..." Kalimat Reyhan tergantung. Berat rasanya menceritakan masalahnya pada Mama.
"Tidak, Ma. Tidak apa-apa."
"Kamu sedang ada masalah?"
"Tidak. Baiklah, Ma. Reyhan tutup teleponnya, ya."
Lagi-lagi, tanpa menunggu tanggapan si lawan bicara Reyhan memutuskan sambungan telepon. Otaknya berputar keras memikirkan Nadhira. Hendak kemana ia mencari istrinya itu.
Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi mengingat istrinya itu fisiknya lemah. Terlebih kini Nadhira tengah hamil. Gadis itu lebih cepat lelah dan mengeluh sesak napas.
Sekali lagi ia mencoba menghubungi Nadhira melalui telepon. Namun, masih tetap sama. Tidak dapat tersambung.
"Akh!" Reyhan berteriak frustrasi.
__ADS_1