
“Kak, aku mau makan disana.” Seru Nadhira sambil menunjuk sebuah warnung makan dipinggir jalan.
“Kamu yakin ?” Tanya Reyhan ragu dengan keinginan istrinya itu.
“Iya, Kak.”
“Pak, berhenti disana saja, ya.” Ucap Reyhan pada sopir taksi yang mengantarkan mereka seraya menunjuk warung makan yang dimaksudkan Nadhira.
Taksi yang mereka gunakan berhenti tepat didepan warung makan sederhana dengan pengunjung yang sangat ramai.
Reyhan keluar terlebih dulu kemudian membukakan pintu untuk Nadhira. Reyhan menyerahkan selembar uang ratusan ribu pada sopir taksi yang umurnya kira-kira lima puluh tahunan itu.
“Kembaliannya diambil saja, Pak,” kata Reyhan ketika melihat Si Sopir merogoh sakunya untuk mengambil uang kembalian untuk Reyhan.
“Terimakasih banyak, Mas, Mbak. Semoga Allah membalas kebaikan kalian berdua dengan yang lebih baik.”
“Aamiin!” Reyhan dan Nadhira mengaamiinkan do’a Pak Sopir berbarengan.
Reyhan mengamit tangan Nadhira dengan erat. Seolah takut istrinya itu akan pergi jauh darinya.
“Kamu mau makan apa ?” tanya Reyhan sambil terus mengedarkan pandangan mencari kursi kosong.
“Duduk disana yuk, Dik!” Reyhan menunjuk kursi yang baru saja ditinggalkan oleh pembeli lain yang nampaknya sudah selesai makan. Letaknya berada dipojok warung itu.
Reyhan menarik kursi untuk mempersilahkan Nadhira duduk. Setelahnya, barulah ia duduk dikursi yang berhadapan dengan istrinya.
“Tadi aku tanya kamu mau makan apa belum dijawab.”
“Mau jawab juga kan kakak yang ngomongnya nggak pakai jeda.”
“Hee iya ya. Ya udah kamu mau makan, Sayang ?” Ucapnya dan membelai lembut punggung tangan Nadhira.
“Mmmmm..” Nadhira mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari telunjuk. Mencoba berpikir hendak memesan apa untuk makan malamnya.
Reyhan menopang dagu dengan tangan. Memperhatikan ekspresi gadis bergamis merah muda yang duduk dihadapannya itu.
“Kenapa kok lihatin aku gitu banget ?”
“Emang nggak boleh apa aku lihat-lihat istriku sendiri ?”
“Aku mau makan itu, Kak!” Seru Nadhira tiba-tiba tanpa mempedulikan pertanyaan Reyhan.
Nadhira menunjuk makanan yang dibawa oleh seorang lelaki dengan umur yang sepertinya sudah terbilang tua. Dilihat dari wajahnya yang dihiasi keriput dan rambutnya yang mulai memutih.
Reyhan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Nadhira.
“Oh itu namanya Gado-gado, Dik. Kamu mau makan itu ?”
“Iya. Aku mau makan Gado-gado. Kelihatannya enak sekali.”
“Ya udah aku pesankan itu dulu, ya.”
“Siap, Pak Bos!” kata Nadhira seraya menampilkan deretan giginya yang tertata begitu rapi.
Reyhan begitu gemas melihat tingkah istrinya itu.
“Kok lucu sekali sih istri kakak ini. Hemmm.” Reyhan berkata lalu mengacak jilbab Nadhira.
“Kakak jangan diacakin gini dong jilbab aku. Nanti berantakan.”
Nadhira mengerucutkan bibirnya sebal dengan kelakuan Reyhan yang disebut sebagai hobby barunya itu.
“Eh nggak boleh cemberut gitu dong, Dik.”
“Abis kakak sih sukanya acak-acakin jilbab aku gini.” Kata Nadhira seraya merapikan jilbabnya yang terlihat sedikit berantakan akibat perbuatan suaminya.
“Kan sudah jadi hobby baruku. Hee.”
__ADS_1
“Ohh. Hobby baru kakak juga sepertinya nunda-nunda makan aku, ya ?” Sindir Nadhira pada Reyhan.
Reyhan menautkan kedua alisnya menjadi satu. Menampilkan ekspresi tak mengerti.
“Sabar ya, Cacing. Kayaknya kita harus nunggu lebih lama lagi sampai bos besar sadar kalau kita butuh asupan sekarang.”
Nadhira mengelus-elus perutnya sambil berbicara pada cacing-cacing yang sudah mulai berteriak meminta jatah makan malamnya.
Reyhan menepuk jidatnya setelah mengerti arah pembicaraan Nadhira tadi.
“Maaf, Dik. Aku sampai lupa gini pesankan makanan. Abis kamu tuh ngegemesin banget tau nggak sih.”
“Masih mau ditunda lagi nih ceritanya ?”
“Iya iya. Sekarang aku pesankan. Kamu tunggu dulu disini. Jangan kemana-mana.”
Reyhan bergegas menuju tempat pemesanan makanan. Nadhira merasa lucu melihat tingkah laki-laki yang kini menjadi suaminya itu.
Nadhira tersenyum menatap punggung Reyhan yang berdiri disamping Bapak-bapak pemilik warung. Kemudian menunjuk ke arah dimana ia duduk. Sepertinya Reyhan tengah memberitahukan posisi kemana makanan akan diantarkan.
“Tunggu sebentar ya, Dik. Bilang sama cacing-cacingnya, makanannya akan segera datang. Jadi lebih sabar sedikit saja.” canda Reyhan setelah kembali ke tempat duduknya.
Nadhira hanya tertawa kecil menanggapi gurauan suaminya.
Seorang bapak paruh baya yang Nadhira lihat berdiri didekat gerobak bersama suaminya tadi datang mengantarkan makanan beserta minuman yang sudah dipesan oleh Reyhan. Menaruhnya dengan teliti diatas meja.
“Selamat menikmati makanannya, Mas, Mbak.”
“Terimakasih, Pak.” Ucap Reyhan. sedangkan Nadhira hanya melempar senyum khas miliknya pada Bapak tersebut.
“Adiknya ya, Mas ? Cantik sekali.” Kata Bapak pemilik warung yang diketahui namanya dari sebuah papan yang ditempelkan pada dinding warung. Pak Ahyar namanya.
“Bukan, Pak. Ini istri saya. Iya, Pak. Dia memang cantik.”
Reyhan menggenggam tangan Nadhira yang berada diatas meja. Nadhira tersenyum tipis mendengar ucapan suaminya.
“Bapak bisa saja.” Balas Nadhira malu-malu.
“Sudah lama nikahnya ?”
“Baru tadi pagi sahnya, Pak.” Jawab Reyhan.
“Walaahh.. pengantin baru ternyata. Lagi anget-angetnya ya, Mas.”
“Iya, Pak. Hee.”
“Semoga lekas diberikan titipan berupa anak yang shaleh dan shalehah sama Gusti Allah ya, Mas, Mbak.”
“Aamiin. Terimakasih, Bapak.”
“Silahkan disantap makanannya. Saya mau lanjut kerja dulu. Selamat menikmati, Mas, Mbak. Permisi.”
Pak Ahyar berlalu dari hadapan Nadhira dan Reyhan.
“Tuh kan kamu lihat sendiri. Bapak-bapak aja muji kecantikan kamu. Apalagi yang lebih muda.” Reyhan memasang muka cemberut.
“Bapaknya lucu kok, Kak.”
“Oh.. jadi kamu seneng dipuji sama Bapak yang barusan ?”
“Loh, yang bilang aku seneng juga siapa sih ? Aku kan Cuma bilang bapak itu lucu.”
“Lucu apanya coba ?”
“Tadi dikira aku ini adiknya kakak. Padahal aku kan istri kakak. Ini kakak yang kelihatan tua atau aku yang kekecilan, ya ?”
“Nah nah. Sekarang malah kamu bilangin aku tua.”
__ADS_1
“Hahaha.” Tawa Nadhira lepas seketika.
“Eits... ketawanya jangan gitu dong, Dik. Nanti dilihatin orang-orang.”
“Iya deh iya maaf.”
“Ayok sekarang makan dulu. Kasian tuh cacingnya pada demo semua.”
Reyhan dan Nadhira makan dalam diam. Tak satupun diantara mereka yang membuka suara. Kebiasaan yang selalu keluarga mereka tanamkan sejak dulu.
Reyhan lebih dulu menghabiskan makanannya. Ia menatap istrinya yang sedang fokus pada makanannya dengan seksama.
“Kakak jangan lihatin aku gitu dong.”
“Kalau makan jangan sambil ngomong, Dik. Nggak baik.”
Nadhira terdiam. Ia kembali fokus menghabiskan makanannya hingga tandas.
“Mau nambah ?” tanya Reyhan.
“Nggak, Kak. Aku udah kenyang. Cacing-cacingnya udah pada tenang nih.” Nadhira menunjuk perutnya.
Reyhan memberikan segelas jus jeruk pada Nadhira. Namun, Nadhira hanya menatap gelas yang masih berada di genggaman Reyhan.
“Kenapa, Dik ?”
“Mmm.. nggak apa-apa, Kak.” Nadhira mengambil gelas berisi jus jeruk yang diberikan Reyhan dengan ragu-ragu.
“Bagaimana ini ? Aku kan alergi sama jeruk. Alerginya akut lagi. Kalo aku minum jus ini, bisa-bisa aku bakal muntah-muntah berkepanjangan. Aduuhh.” Bisik Nadhira dalam hati.
“Dik ?”
Reyhan membuyarkan lamunan Nadhira.
“Mau dilihatin terus jusnya ? Diminum dong, Dik.”
“Ii..iiya, Kak.”
Nadhira meminum jus tersebut hingga habis tak bersisa. Ia merasa tidak enak pada Reyhan jika harus menolak untuk meminum jus yang dipesan suaminya itu.
“Habis ini kamu mau kemana lagi ?”
“Kita langsung balik aja, Kak. Aku rasanya masih capek. Butuh istirahat.”
“Kamu beneran mau langsung istirahat ?”
“Iya. Emang mau ngapain lagi ?”
“Malam pertamanya ditunda nih ?” Reyhan mengerlingkan matanya menggoda Nadhira.
“Ihhh kakak apaan sih.”
“Hahaha. Ya udah kita balik sekarang.”
Reyhan dan Nadhira berjalan meninggalkan meja yang mereka tempati untuk makan.
“Tunggu kakak bayar dulu, ya.”
Reyhan membayar makanan dan minuman yang ia pesan tadi.
“Terimakasih ya, Mas. Jangan bosan untuk makan disini lagi sama istrinya.” Ucap Pak Ahyar.
“In Sya Allah, Pak. Kalo ada waktu kami mampir kesini lagi.”
Reyhan dan Nadhira pergi meninggalkan warung Pak Ahyar menuju hotel dengan sebuah taksi.
___To Be Continued___
__ADS_1