
Sepulang keluarga. Reyhan mengajak Nadhira untuk kembali ke kamar hotel. Namun, ajakannya langsung ditolak begitu saja oleh Nadhira.
“Kenapa, Dik ?”
“Jalan-jalan dulu. Boleh ?” Tanya Nadhira dengan ragu-ragu.
“Boleh dong, Sayang. Kamu mau jalan-jalan kemana ?”
“Dekat-dekat sini aja, Kak. Biar pulangnya kita nggak kemalaman nanti.”
“Baiklah. Ayo ikut aku. Tidak jauh dari sini ada pantai. Kita bisa menikmati matahari tenggelam.” Reyhan menggenggam erat tangan Nadhira. Menariknya pelan lalu membawa Nadhira pergi meninggalkan hotel menuju pantai yang dimaksudkan tadi.
“Benarkah ?” Tanya Nadhira sumringah.
“He’em.”
“Pasti bagus banget ya, Kak ?”
“Sangat.”
“Ahhh.. aku jadi nggak sabaran deh. Ingin cepat-cepat sampai disana.” Kata Nadhira tidak sabar.
“Kok nggak sabaran banget sih.” Reyhan mengacak rambut istrinya yang terlapisi jilbab itu gemas.
“Ihhh.. kakak kok sama aja kayak Abang. Sukanya main acak-acak jilbab aku.”
“Ini sekarang udah jadi hobby baru ku, ya. Selain acak-acakin rambut Raina, aku bisa acak-acakin rambut kamu juga. Hahaha.”
“Ehh... ketawanya di kontrol dong. Malu diliatin orang-orang.” Nadhira menutup mulut Reyhan dengan sebelah tangannya.
“Iya iya. Maaf.”
Reyhan memberhentikan sebuah taksi dan memasukinya bersama Nadhira.
Hanya butuh sepuluh menit untuk Nadhira dan Reyhan sampai ditempat tujuan. Sebuah pantai yang asri dengan pengunjung yang cukup ramai. Pantai yang bersih berhias pasir putih membentang sejauh mata memandang.
“Maa syaa Allah. Bagus banget ya, Kak.” Puji Nadhira dengan pesona pantai yang memanjakan indera penglihatannya itu.
“Ayo!” Ajak Reyhan.
Nadhira hanya mengikuti langkah Reyhan. Tangannya tak berhenti terpaut dengan tangan suaminya.
Perlahan Nadhira dan Reyhan menjejakkan kaki dihamparan pasir putih.
Beberapa langkah Nadhira mendahului langkah suaminya dan berjalan menuju dermaga. Berdiri menghadap lautan lepas. Merentangkan kedua tangannya. Mendongakkan kepala dan memejamkan mata. Nadhira begitu menikmati semilir angin pantai yang berhembus meniupi wajahnya.
Nadhira membuka matanya secara perlahan. Memandang sang surya yang sudah bersiap-siap untuk pulang ke peraduaannya.
“Gimana ? Kamu suka, Sayang ?”
Reyhan memeluk Nadhira dari belakang. Menumpukan dagunya dibahu Nadhira.
“Bukan suka lagi. Tapi, sangat-sangat suka.”
Nadhira menikmati satu fenomena alam yang selalu ia agung-agungkan itu. Bersamaan dengan itu, Nadhira juga menikmati pelukan suaminya.
Nadhira memegang tangan Reyhan yang diletakkan tepat diperutnya. Mengelus penuh kelembutan.
“Terimakasih.” Ucap Nadhira dengan pelan.
“Untuk apa berterimakasih ?”
“Untuk semuanya. Terimakasih sudah kembali. Terimakasih untuk tidak mengingkari janji. Terimakasih sudah menjatuhkan pilihan untuk menjadikanaku sebagai istri. Dan, terimakasih telah membawaku ke tempat seindah ini.”
Reyhan memutar tubuh Nadhira menghadapnya. Memegang bahunya dengan lembut.
“Terimakasih juga atas ketersediaanmu menerima lelaki yang jauh dari kata sempurna ini menjadi pendampingmu.”
“Usahlah menjadi sempurna. Karena aku tau, didunia ini tiada satupun yang sempurna. Tapi, jadilah suami yang bertanggung jawab. Yang mampu mempertanggung jawabkan urusan dunia dan akhirat kita nantinya.”
__ADS_1
“Tentu, Sayang. Aku tidak berani berjanji untuk tidak menyakitmu barang sedikit pun. Tapi, aku akan selalu berusaha untuk tidak menyakiti atau membuat kecewa kamu. Mau kah kamu membantuku menjadi suami yang baik untukmu ?”
Nadhira tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Reyhan mengecup puncak kepala Nadhira dan memeluknya.
“Dulu, setiap senja adalah milikmu. Tapi, tidak dengan senja kali ini dan senja-senja berikutnya. Karena, senja-senja itu akan menjadi milik kita. Dan akan kita nikmati bersama-sama.”
Reyhan berbisik di telinga istrinya. Tanpa sadar kalimat yang ia lontarkan sudah mampu membuat pipi Nadhira mencipta rona merah.
Reyhan melepas pelukannya. Membawa tubuh mungil Nadhira agar menghadap matahari yang kian menggelinding hendak kembali ke singgasananya.
Nadhira menyandarkan kepala didada bidang Reyhan. Menikmati tempat ternyamannya yang baru.
Sesekali Reyhan mencium puncak kepala istrinya yang masih tertutupi jilbab besarnya. Membelai lembut pundak Nadhira.
“Dik ?”
“Heemmm,” balas Nadhira tanpa menoleh.
“Ini adalah senja pertama yang kita saksikan bersama sebagai sepasang suami istri. Dan tempat ini juga tempat pertama.”
“Lantas kenapa ?”
“Tapi, ini tidak akan menjadi senja terakhir yang kita nikmati bersama. Bukan juga menjadi tempat terakhir. Karena, setelah ini aku akan menunjukkan tempat-tempat yang tak kalah indahnya untuk kita menyaksikan sekaligus mengantarkan matahari pulang.”
“Benarkah ?” Nadhira mengangkat kepalanya agar pandangannya bisa menjangkau melihat wajah suaminya.
“Iya. Tentu saja.”
Nadhira tersenyum ke arah Reyhan. Lalu kembali fokus pada langit dengan semburat warna jingga.
Untuk kali pertama. Nadhira dan Reyhan menikmati senja dalam ikatan halal.
___
Sesampai di hotel.
“Aku bersih-bersih dulu sebentar ya, Dik. Setelah itu kita shalat maghrib berjamaah disini.”
Nadhira menjawab hanya dengan anggukan kepala sebelum Reyham berlalu ke kamar mandi.
Seraya menunggu Reyhan membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Nadhira menyiapkan baju koko, sarung serta peci yang akan digunakan Reyhan untuk melaksanakan shalat. Tak lupa Nadhira menggelar sajadah menghadap kiblat.
Mendengar pintu kamar mandi terbuka. Nadhira berdiri dari ranjang yang baru saja ia duduki.
“Pakaian shalatnya sudah aku siapkan.” Ucap Nadhira saat melihat suaminya muncul dari kamar mandi dengan rambut basah yang masih ia usahakan keringkan dengan handuk ditangan.
“Terimakasih, Dik,” Reyhan berjalan menuju pinggir ranjang dimana Nadhira menempatkan pakaian shalatnya.
“Ya udah. Aku ambil air wudhu, Kak.”
Nadhira berlalu menuju kamar mandi dan Reyhan bergegas mengenakan pakaian shalat yang sudah disiapkan oleh Nadhira.
Dan tak lama Nadhira pun keluar dari kamar mandi.
Reyhan memulai shalat maghrib berjamaah pertamanya bersama Nadhira dengan kalimat takbir. Melantunkan kalam-kalam Ilahi dengan khidmat dan merdu. Menambah kekhusyukan diantara keduanya dalam melaksanakan kewajiban pada Sang Khalik.
Dengan salam Reyhan mengakhiri shalatnya. Dilanjutkan dengan memanjatkan do’a-do’a yang di aamiinkan oleh Nadhira yang duduk dibelakangnya.
“Alfatihah," ucap Reyhan mengakhiri do’anya.
Reyhan membalikkan badan ke belakang. Melihat hal itu Nadhira mendekati Reyhan.
Reyhan menyodorkan tangannya yang langsung diterima oleh Nadhira dan menciumnya. Reyhan hanya tersenyum melihat perlakuan Nadhira padanya.
Inilah moment terindah yang dialami Reyhan selama menjadi imam shalat. Sejauh ini, ia merasakan hal yang biasa-biasa saja mengimami shalat keluaraga tau teman-temannya. Namun, kali ini ia merasakan sesuatu yang tak biasa. Ada kebahagiaan tersendiri yang Reyhan rasakan.
Tak jauh beda dengan suaminya. Nadhira pun merasakan hal yang sama. Sama-sama merasakan kebahagiaan yang tak biasa.
__ADS_1
“Dik ?”
“Iya, Kak ?”
“Mulai sekarang aku yang akan selalu mengimami setiap shalatmu. Apakah kamu bersedia ?” tanya Reyhan lembut sambil mengelus puncak kepala Nadhira.
“Saat kakak menjabat tangan ayah dan melafalkan ijab qabul. Maka saat itu pula aku sudah siap menjadi makmummu. Berdiri satu shaf dibelakangmu dan mengaamiinkan do’a-do’amu.”
“Bantu aku menjadi tauladan yang baik untuk kamu dan anak-anak kita kelak, ya ?”
“Tentu saja akan aku lakukan. Dan bantu aku juga agar mampu menjadi makmum yang baik untuk kakak.”
“Iya, Sayang.” Reyhan mencium puncak kepala istrinya.
“Kita ngaji yuk, Kak! Sambil memanfaatkan waktu sebelum waktu shalat Isya tiba.”
Reyhan mengiyakan ajakan Nadhira dengan sekali anggukan kepala.
“Sebentar aku ambil mushaf dulu.” Kata Nadhira seraya berdiri dan pergi mengambil mushaf yang ia bawa dari rumah.
Nadhira kembali duduk disamping Reyhan dengan sebuah Al-Qur’an berukuran setelapak tangan orang dewasa digenggamannya.
Bersama Reyhan, Nadhira melantunkan ayat-ayat Allah secara bersamaan dan serempak. Lantunan ayat demi ayat dari Surat Ar-Rahman menggema mengisi kamar hotel yang mereka tempati.
“Shadaqallahul ‘adzim.” Ucap Reyhan dan Nadhira bersamaan setelah mendengar adzan berkumandang.
“Udah adzan, Sayang.”
“Iya, Kak.”
“Kita shalat Isya dulu ya.”
Seperti saat shalat maghrib. Nadhira dan Reyhan melaksanakan shalat Isya berjamaah dengan khusyuk.
Selepas melaksanakan shalat. Baik Nadhira maupun Reyhan sesegera mengganti pakaian shalatnya dengan pakaian santai.
“Dik ?”
“Iya, Kak ?”
Nadhira menoleh sebentar ke arah Reyhan sebentar sebelum ia melanjutkan aktifitasnya merapikan sajadah dan pakaian shalat yang baru saja ia gunakan bersama suaminya.
“Mau makan malam apa sekarang ?”
“Terserah kakak deh. Aku ngikut saja.”
“Kita makan malam diluar ya, Dik ?”
“Boleh.”
“Sekarang kamu ganti baju sana. Biar aku tungguin.”
Setelah meletakkan pakaian shalat yang ia rapikan tadi. Nadhira bergegas mengganti pakaiannya menggunakan gamis berwarna merah muda yang dipadukan dengan jilbab instan berwarna abu tua. Tak lupa Nadhira memolesi wajahnya dengan sedikit make up dan lips glos pada bibir mungilnya.
“Jangan dandan terlalu tebal, Dik. Aku nggak mau, ya, kecantikanmu dilihat oleh orang lain.”
Nadhira memutar balik badannya menghadap Reyhan yang duduk menunggunya dipinggiran ranjang.
“Cukuplah kecantikan yang kamu miliki hanya untuk aku yang menikmati.” Sambung Reyhan dengan senyum dibibirnya.
Reyhan berjalan mendekati istrinya yang masih setia dengan posisinya duduk dikursi samping tempat tidur.
“Ayo!” Reyhan meraih tangan Nadhira.
“Tapi ini, Kak ?” Tanya Nadhira dengan menunjuk wajahnya sendiri.
“Tidak apa-apa. Aku hanya mengingatkan saja. Supaya kedepannya kalo dandan yang biasa-biasa saja. Ini make upnya juga sangat simple.”
Reyhan merangkul tubuh kecil Nadhira. Membawanya berjalan keluar dari kamar menuju tempat untuk mereka makan malam.
__ADS_1
___To Be Continued___