
Matanya berbinar saat mobil merah menyala yang ia tumpangi bersama suaminya itu berhenti tepat didepan sebuah rumah besar dan megah bercat biru muda. Ia merasa tak sabar ingin segera turun dari mobil dan berlari memasuki rumah yang baginya cukup lama tak ia kunjungi itu.
Reyhan dengan segera turun terlebih dulu saat melihat ketidaksabaran istrinya yang terpancar dari raut wajahnya yang tak lagi sendu. “Ayo, Sayang! Aku tahu kamu sudah tak sabar ingin segera bertemu Bunda.”
“Bertemu Ayah juga,” ucapnya dengan senyum lebar dan menggandeng lengan suaminya.
“Kamu bisa bertemu dengan Ayah jika ia Ayah belum berangkat ke kantor. Jika sudah, kamu harus menunggu hingga malam tiba.”
“Benar juga, ya, Kak. Ayah ‘kan sama seperti kakak dan Papa. Sama-sama gila kerja,” cibirnya.
“Demi menafkahi istri, Sayang,” bisik Reyhan di telinga istrinya.
Ia terkekeh mendengar ucapan suaminya.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya dengan sedikit meninggikan suara beberapa oktaf saat kakinya menapaki lantai didepan pintu utama.
“Kenapa tidak ada yang menyahut ?”
“Assalamu’alaikum,” ulangnya.
Pintu utama yang besar itu terbuka. Menampakkan seorang perempuan paruh baya masih dengan mengenakan daster seperti biasanya.
“Wa’alaikumussalam. Eh, Non Nadhira. Mari Non masuk dulu.”
“Ayah dan Bunda dimana, Bi ? Rumah kenapa sepi ?”
“Tuan Yudha subuh tadi sudah berangkat ke luar daerah, Non. Nyonya ada didapur. Tadi sedang membantu Bibi memasak.”
“Abang sudah berangkat ke kantor, Bi ?”
“Sepertinya belum, Non. Bibi belum melihat Tuan Bara turun.”
Ia hanya menganggukkan kepala.
Di ruang tamu ia mendaratkan tubuhnya dengan kasar diatas sofa empuk. Menarik tangan suaminya dengan paksa hingga tubuh Reyhan terjatuh dengan kasar pula di sampingnya. Ia bergelayut manja dilengan Reyhan.
“Kak, aku mau menemui Bunda dulu didapur. Kakak tunggu disini dulu, ya.”
“Aku ikut, Al.”
“Jangan. Nanti aku akan membantu Bunda dan Bibi juga disana.”
“Kamu lupa, ya, Al ?”
Ia mengernyitkan dahi.
“Aku tidak ingin jauh-jauh darimu. Jadi, kemana pun kamu pergi. Aku harus ikut.”
“Suamiku sudah mulai manja sekarang.” Ia memeluk suaminya dan mencium kedua pipi Reyhan secara bergantian.
Ia menggandeng tangan Reyhan dan berjalan menuju dapur untuk menemui Bunda. Dengan senyum lebar ia berlari. Memeluk tubuh Bunda dari belakang.
“Astaga, adik. Kamu membuat Bunda kaget.”
“Maaf, Bunda. Adik rindu Bunda.”
“Assalamu’alaikum, Bun,” ucap Reyhan dan meraih tangan kanan Bunda serta menciumnya.
“Wa’alaikumussalam. Tumben sekali datang pagi-pagi seperti ini. Kamu tidak ke kantor, Reyhan ?”
__ADS_1
“Tidak, Bun. Reyhan takut ke kantor.”
“Lho kenapa ?”
“Takut kena marah istri kecil yang manja.”
Bunda menatap Nadhira bingung.
“Adik tidak pernah marah-marah, Bunda. Kak Reyhan saja yang tidak bisa di kasih tahu.”
“Sekarang anak Bunda sudah bisa marah-marah, ya, Sayang ?” Bunda mengelus puncak kepala anak gadisnya yang tertutupi jilbab besar itu.
“Iya, Bunda. Reyhan saja takut dan tidak bisa berkutik sama sekali jika Aleea sudah marah-marah.”
“Aleea ?” ulang Bunda menyebut nama Nadhira dengan bingung.
Reyhan tertawa kecil. “Reyhan biasa memanggilnya Aleea, Bun.”
“Oh.” Bunda hanya ber-oh ria mendengar jawaban menantunya itu.
Bunda mengajak anak dan menantunya itu meninggalkan dapur. Kemudian, berjalan menuju ruang keluarga yang mewah.
“Abang dimana, Bunda ?” Ia mengedarkan pandangan ke lantai dua rumahnya. Dimana kamarnya dulu dan kamar Bara berada.
“Di kamar. Selepas lari pagi Abang kembali ke kamar dan belum turun lagi sampai sekarang. Tak biasanya juga seperti ini.”
“Adik ke atas sebentar melihat Abang, ya, Bun.”
“Izinnya kenapa pada Bunda, Dik ? Sama suamimu dong.”
Ia tersenyum malu. “Sayang, tunggu sebentar, ya. Aku ke kamar Abang dulu.”
“Aku ikut, Al.”
Ia mengetuk pintu kamar Bara perlahan. Namun, tak ia dapati jawaban sama sekali dari sang pemilik kamar.
“Abang!" panggilnya dengan suara keras.
“Abang didalam tidak ?”
Hening.
“Jangan-jangan Abang tidak didalam kamar, Sayang,” ucap Reyhan.
“Tapi, Bunda bilang Abang belum turun dari tadi.”
“Abang, adik masuk, ya.”
Tanpa menunggu jawaban, ia embuka pintu kamar Bara yang tak terkunci. “Tidak dikunci pintunya. Biasanya dikunci dari dalam,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia mempertajam penglihatannya karena kamar Bara yang nampak temaram. Ia mencari saklar lampu dan menyalakannya. Ditemukan gundukan selimut diatas kasur dan berukuran raksasa itu.
Dengan senyum jail ia mendekati tempat tidur Bara. Ia duduk dipinggir ranjang dan mulai mengganggu kakaknya.
“Abang ?” Ia mengguncang dengan kuat tubuh besar yang tertutupi selimut itu.
Rupanya usahanya sia-sia saja. Bara bahkan tak bergeming sama sekali.
Ia mengulangi hal yang sama hingga berulang kali. Ia merasa kesal sendiri karena tak mendapat respond apapun dari Bara.
__ADS_1
“Sayang, jangan diganggu terus Bang Bara. Mungkin dia terlalu lelah. Biarkan saja dia istirahat dulu.”
“Tapi, ini sudah siang, Kak. Lagipula tidak biasanya Abang tidur sampai jam segini. Biasanya pagi-pagi sudah berangkat ke kantor atau tidak berkunjung ke restorannya.”
Ia membuka selimut tebal yang membungkus sekujur tubuh Bara dengan paksa. Dilihat keringat dingin bercucuran membasahi tubuh kakaknya.
“Abang ?” panggilnya dengan rasa khawatir yang entah datang darimana. Panggilannya belum juga ditanggapi oleh Bara. Ia menempelkan tangannya di kening Bara dan dirasakan tubuh kakaknya terasa panas.
“Kak, Abang sakit. Badannya panas sekali,” ucapnya memberitahu suaminya dengan panik.
Reyhan dengan cepat duduk di dekat tempat tidur Bara dan mengecek suhu tubuh kakak ipar sekaligus sahabatnya itu dengan tangannya langsung. “Bara!” Reyhan menepuk pelan pipi Bara. “Bara, bangun!” Berulang kali ia berusaha membangun Bara hingga akhirnya Bara dengan lemah membuka matanya.
“Abang ?”
Ia melihat Bara memijat pelipisnya perlahan. “Abang pusing, Dik.”
“Badan Abang panas sekali. Abang harus ke Rumah Sakit.”
“Tidak perlu. Nanti juga mereda dengan sendirinya.”
“Atau adik kompres saja, ya. “
Bara mengangguk. Ia menarik kembali selimut hingga menutupi badannya sampai ke dada.
“Sebentar adik ambilkan air hangat untuk mengompres Abang. Kak, temani Abang sebentar, ya.”
Reyhan menatap wajah kakak iparnya yang pucat pasi dan masih bersimbah keringat dingin di sekujur tubuhnya. Ia melihat Bara sudah mulai memejamkan mata perlahan.
Tak lama Reyhan dengan samar-samar mendengar Bara melafalkan sebuah nama.
“Prisil.”
Reyhan memoertajam pendengarannya. Ia benar-benar menangkap suara Bara menyebut nama seseorang bernama Prisil berulang kali.
“Al, aku mendengar Abang menyebut nama Prisil,” ucap Reyhan setelah melihat istrinya muncul dari balik pintu dengan sebuah baskom dan handuk untuk mengompres Bara. Di belakang Nadhira ia juga melihat Bunda berjalan dengan tergesa-gesa dengan raut wajah panik.
“Prisil ?” ulangnya.
Reyhan mengangguk dan menatap kembali Bara yang masih terlelap.
“Abang ? Bangun!” Bunda berusaha membangunkan Bara yang masih menyebutkan nama Prisil itu.
Sedangkan Nadhira duduk di bawah tempat tidur Reyhan setelah menempelkan handuk kecil di kening kakaknya. Ia juga bisa mendengar suara Bara yang kecil tengah menyebut nama Prisil.
“Bangun, Bang.” Bunda berusaha membangunkan Bara hingga Bara dengan terpaksa membuka matanya.
“Abang harus dibawa ke Rumah Sakit. Demam Abang terlalu tinggi.”
“Tidak, Bun. Abang baik-baik saja. Ini hanya demam biasa. Bunda jangan khawatir.”
Bunda hanya menggelengkan kepala. Ia memang tidak bisa memaksa anak lelakinya itu. Karena, tentu saja akan berakhir sia-sia.
“Baiklah. Abang istirahat saja.”
“Iya, Bun. Tapi, jangan pergi. Temani Abang disini. Adik juga,” ucap Bara dan tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Bunda dan terlelap.
Nadhira merasa terharu menatap Bara. Ia duduk didekat kepala kakaknya seraya membelai lembut rambut Bara yang masih berantakan.
Reyhan hanya tersenyum kecil melihat perlakuan istrinya yang begitu perhatian pada Bara.
__ADS_1