Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 60


__ADS_3

Dengan binar wajah yang cerah dan senyum yang mengembang menghiasi bibir mungil yang sudah ia polesi lipstik itu ia memandang rantang ukuran sedang ditangannya. Ia membayangkan bagaimana suaminya begitu lahap memakan makanan yang akan ia bawakan sekarang. Ia merapikan pakaian dan hijab yang menutupi mahkotanya. Dan dengan pasti ia melangkah menuju ruang tamu. Menemui Mama yang sedang menemani adik ipar perempuannya bermain. Latisha.


"Ma, Nadhira izin pergi sebentar. Mau mengantarkan makan siang untuk Kak Reyhan ke kantor."


"Iya, Nak. Kamu ke kantor bersama siapa ?"


"Nadhira bisa naik taksi saja, Ma."


"Jangan!" cegat Mama cepat. "Biar Mama minta tolong Pak Amin untuk mengantarmu."


"Tapi, Nadhira sudah terbiasa pergi menggunakan taksi, Ma."


"Biarpun begitu, Ra. Jika diantar sopir akan lebih aman dan Mama juga lebih tenang membiarkanmu pergi."


"Baiklah, Ma." Ia berpasrah pada titah mertuanya. Kaena, ia juga tahu bahwa Mama adlah seseorang yang susah dibantah dan ditolak keinginannya. Jika pun menerima bantahan harus melalui perdebatan hebat terlebih dulu.


"Sebentar Mama panggilkan Pak Amin di belakang. Kamu temanilah Latisha disini."


Ia mengangguk paham dan mendekati adik iparnya itu.


"Sedang main apa adiknya kakak ?"


"Tisha sedang bermain boneka, Kak."


"Kakak temani Tisha, ya."


"Boleh. Dengan senang hati, Kak."


Sembari menunggu kedatangan Mama, ia memilih menemani adik iparnya bermain. Dengan senang ia menikmati waktu yang cukup singkat itu.


"Pak Amin sudah menunggumu didepan," seru Mama.


"Oh baik, Ma. Nadhira berangkat. Assalamu'alaikum." Ia meraih tangan Mama dan menciumnya dengan hormat. Kemudian berlalu dari ruang tamu menuju tempat Pak Amin menunggunya.


_____


"Terimakasih banyak telah mengantarkan Nadhira, Pak," ucapnya seraya menundukkan kepala pada Pak Amin.


"Sama-sama, Non. Dan ini juga sudah menjadi tugas saya."


"Saya masuk dulu, ya, Pak."


"Iya, Non. Apa saya perlu menunggu Non Nadhira ?"


"Tidak perlu, Pak. Bapak pulang saja."


"Baik, Non."


Setelah Pak Amin berlalu dari hadapannya. Ia melenggang pula masuk ke dalam gedung besar nan menjulang tinggi itu. Ia berjalan menuju sebuah lift yang akan ia gunakan ke lantai dimana ruangan suaminya berada.


Pintu lift terbuka. Menampakkan seorang lelaki yang pernah bertemu sebelumnya. Namun, ia sama sekali tak mengingat nama lelaki itu.


"Hei! Kenapa hanya sendirian saja ?"


"Iya. Suami saya sedang kerja. Dan saya akan menemuinya sekarang."

__ADS_1


"Apakah Anda sudah lupa dengan saya, Nona ?"


"Maaf. Saya lupa nama Anda, Tuan."


"Panggil saja Bagas. Sebelumnya Reyhan sudah memperkenalkan saya dengan Anda."


"Saya ingat, Tuan."


"Apakah Anda sedang terburu-buru, Nyonya Oktara ?"


"Tidak. Tapi, saya ingin segera ke ruangan suami saya, Tuan. Karena, sepertinya sebentar lagi waktunya istirahat dan makan siang."


"Oh.. Baiklah. Saya permisi."


Ia mengangguk dan segera memasuki lift. Menekan tombol angka yang sesuai dengan lantai tempat ruangan suaminya.


Tak butuh waktu lama untuk sampai dilantai teratas gedung perusahaan tempat Reyhan bekerja. Ia berjalan keluar lift dan menemukan beberapa karyawan yang menatapnya entah tatapan seperti apa. Hingga akhirnya ia sampai didepan meja resepsionis yang disana duduk perempuan cantik dengan pakaian sopan meski tak mengenakan hijab seperti dirinya.


"Maaf. Apakah ibu dengan Bu Aleeana ? Istri Pak Reyhan ?" tanya perempuan dimeja resepsionis itu dengan sopan dan mendekati Nadhira.


"Iya. Saya istri Pak Reyhan. Apakah Pak Reyhan ada di ruanganya sekarang, Mbak ?"


"Panggil saya dengan nama saja, Bu. Rianti."


"Oh iya, Rianti. Kamu juga jangan memanggil saya dengan sebutan ibu. Panggil saja dengan nama saya. Nadhira. Tapi, suami saya memanggil saya dengan nama Aleeana. Jadi, terserah kamu mau memanggilku dengan yang mana saja." Ia berbicara begitu akrab dengan perempuan bernama Rianti itu.


"Ah... Saya merasa tidak sopan jika hanya memanggil nama saja. Lebih baik saya panggil Mbak saja."


"Baiklah. Terserah kamu saja, Rianti."


"Iya, Rianti."


"Jika Mbak membutuhkan sesuatu langsung saja minta pada saya, Mbak. Atau Mbak Aleeana mau jalan-jalan di sekitar kantor ? Biar saya temani."


Ia tersenyum. "Tidak perlu, Rianti. Saya akan menunggu Pak Reyhan di ruangannya saja. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu."


"Baik, Mbak. Mari saya antar."


"Tidak perlu repot-repot demgan saya, Rianti. Saya bisa sendiri."


Rianti hanya mengangguk patuh dengan istri bosnya itu.


Masih dengan senyum yang mengembang dan tangan yang memegang erat rantang berisi makan siang untuk suami. Ia menapakkan kaki selangkah demi selangkah menuju ruangan Reyhan yang tak jauh dari meja resepsionis. Ia membuka pintu ruangan dan mengedarkan pandangannya.


Ia meletakkan rantang yang dibawanya diatas meja dekat sofa. Kemudian, mengitari ruangan Reyhan dan berhenti didepan meja kerja suaminya. Menatap dengan wajah ceria potret zaman dulu bersama Reyhan. Potret tersebut jua diletakkan berdampingan dengan foto pernikahannya.


Seraya menunggu Reyhan menyelesaikan pertemuannya. Ia membersihkan dan merapikan ruangan suaminya yang nampak berantakan itu.


Seusai membersihkan ruangan. Ia mendaratkan tubuhnya di sofa. Mengistirahatkan tubuh yang terasa sedikit pegal dan meregangkan otot-ototnya.


"Hai, Sayang!"


Ia mengalihkan pandangannya menuju pintu yang terbuka dan memunculkan tubuh kekar suaminya. Ia menemukan segurat pancaran kelelahan di wajah suaminya yang dibaluti senyum simpul.


"Assalamualaikum, Sayang," ucapnya seraya mendekati Reyhan. Ia meraih tangan Reyhan dan menciumnya.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam, Istriku," balas Reyhan dan mencium kening Nadhira.


"Aku menepati janjiku pagi tadi padamu, Kak." Ia menggandeng tangan suaminya dan menuntunnya ke sofa.


"Aku membuat makanan kesukaan kakak," ucapnya seraya membuka rantang yang dibawanya dengan apik.


"Benarkah ?"


"Iya, Sayang. Mama yang sudah mengajari memasak makanan kesukaan kakak. Semoga kakak suka."


"Apapun masakanmu pasti aku suka."


"Mulai merayuku ?" ucapnya dengan alis terangkat sebelah.


Reyhan hanya terkekeh membalas pertanyaan istrinya.


"Makanlah dulu. Aku tahu kakak sudah lapar."


"Iya, Sayang. Aku sudah lapar sejak mengingat bahwa kamu akan membawakanku makan siang."


"Kak, cukup, ya."


"Iya, Sayang. Iya. Kamu juga harus ikut makan bersamaku."


"Kakak saja dulu yang makan. Aku bisa makan dirumah."


"Tidak! Jika kamu tidak mau makan denganku. Aku juga tidak mau makan," ancam Reyhan.


"Ok! Aku akan makan juga."


Reyhan tersenyum penuh kemenangan. Ia menatap jemari lentik istrinya sedang menyiapkan makanan untuknya. "Kita makan sepiring berdua, Al."


Ia hanya membalas ucapan suaminya dengan anggukan.


Dengan rasa yang tak bisa dilisankan. Kedua insan berstatus pengantin baru itu menikmati suasana makan siang dengan khidmat dan senang hati. Keduanya begitu lahap menyantap makanan yang dibawa Nadhira dari rumah hingga tak bersisa.


"Masakanmu enak, Sayang. Jika seperti ini, akan ku pastikan aku lebih betah dirumah daripada di kantor. Kalaupun dikantor, aku pasti akan merindukan rumah."


"Kakak jangan berlebihan seperti itu. Mama yang sudah membantuku memasak semua masakan ini."


"Iya, Al. Pelan-pelan saja belajar memasak pada Mama."


Ia mengangguk.


"Sayang, aku akan mengantarmu pulang setelah ini. Karena, aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tak mengapa 'kan, Sayang ?"


"Tentu saja. Dengan syarat jangan sampai kelelahan."


"Siap, Tuan Putri."


"Dan jangan pulang malam-malam," lanjutnya.


"Iya, Sayangku," jawab Reyhan gemas dan mencubit pipi istrinya.


Entah kenapa kali ini Nadhira tak marah ketika pipinya dicubit. Bahkan, ia tertawa begitu lepas dihadapan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2