Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 71


__ADS_3

"Apa sebenarnya isi kotak itu ? Sehingga, Kak Reyhan nampak begitu takut aku membukanya ?"


Pertanyaan itu berulang kali menari-nari mesra diotaknya. Ia semakin penasaran dengan sikap tak biasa yang ditunjukkan Reyhan saat ia memegang kotak kuning keemasan tersebut. Pikiran-pikiran negatif ikut bergelayut manja bersama pertanyaan yang tak jua menemukan jawaban.


Tangan kirinya yang sedang memegang bawang putih ikut tergores oleh pisau yang berada ditangan lainnya. Darah segar mengucur hebat. Namun, rasa sakit tak ia rasakan sama sekali.


"Astaghfirullah, Nadhira. Lihatlah tanganmu. Kenapa bisa terluka seperti ini ?"


Ucapan Mama yang begitu panik belum jua mampu membangunkannya dari alam khayal yang ditapakinya. Jauh disana ia masih melafal pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang jawabannya tak kunjung ia temui.


Mama menggeleng dan menepuk pelan pundaknya. "Nadhira!"


Ia terperanjat dari jerat lamunan yang mengikat erat dan kuat. "Astaghfirullah," ucapnya sembari mengelus dadanya.


"Mama mengagetkanku."


"Maaf, Nak. Tapi, lihatlah tanganmu berdarah seperti itu."


Ia melihat tangannya dengan darah yang masih mengucur bebas. Terheran sebab ia tak tahu bagaimana bisa tangannya berdarah seperti itu.


"Kenapa tanganmu sampai berdarah, Ra ?"


"Nadhira pun juga tak tahu, Ma. Bahkan, Nadhira tak merasakan sakit apapun."


"Lepaskan pisau itu. Biar Mama bersihkan luka ditanganmu."


"Usahlah, Ma. Biar Nadhira sendiri saja."


"Benarkah ?"


"Iya, Ma. Tapi, maaf. Nadhira tidak bisa membantu Mama jadinya."


"Tak mengapa. Bersihkan saja dulu lukamu. Biar tidak infeksi nantinya."


Ia berlalu meninggalkan Mama. Masih dengan segenap pertanyaan yang sama. Jua tak kunjung hengkang dari otaknya.


Matanya menatap luka dengan darah segar yang mengalir. Rasa sakit yang belum juga terasa membuatnya heran. Merah darah yang dulunya mampu membuat ia bergidik ngeri dan bahkan bergetar. Kini tak lagi sama. Ia meresapi dengan dalam darah merah menyala dijemarinya.


"Awww." Ia mengaduh kesakitan. Memegang dahinya yang telah tertubruk benda keras.


"Aleea ? Kalau jalan jangan sambil melamun, Sayang," jelas Reyhan padanya.


"Oh iya. Maaf, Kak. Aku tidak melamun. Hanya saja aku terpaku karena luka ditanganku ini."


Reyhan meraih tangannya yang berlumur darah. "Kenapa bisa terluka seperti ini ? Apa yang sudah kamu kerjakan, Al ? Astaga!" Reyhan nampak panik melihat tangan yang sudah berwarna merah menyala itu.


"Ayo ikut aku! Biar ku bersihkan lukamu dan ku obati nanti dikamar."


Ia mengikuti langkah Reyhan menuju kamar tanpa berkata apapun.


"Aleea ?"


"Iya," jawabnya malas.


"Habis mengerjakan apa sehingga tanganmu terluka ?"


"Aku hanya membantu Mama mengupas bawang putih. Itu saja."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana bisa jadi seperti ini ? Hmmm ?" Reyhan dengan teliti membersihkan luka yang ada ditangan kiri istrinya. Jua memberikan obat dengan telaten pada luka gores ditangan Nadhira.


"Aku saja tidak tahu kenapa tanganku bisa terluka seperti ini," jawabnya dengan polos.


"Maksud kamu apa, Al ?" tanya Reyhan bingung dan menatapnya aneh.


"Entahlah. Intinya aku tidak tahu. Mama yang memberitahuku bahwa tanganku berdarah."


Reyhan menggeleng. "Astaga, Aleea. Jika seperti itu, jelas saja kamu mengerjakan sesuatu sambil melamun."


"Tidak, Kak. Aku tidak melamun."


"Sudah. Sudah. Lain kali jika bekerja kamu harus fokus pada pekerjaanmu. Bukan memikirkan hal lain."


Ia mengangguk. Sesekali meringis saat Reyhan memegang lukanya.


"Sakit, ya, Sayang ?"


"Sekarang sudah terasa sakit," jawabnya.


Ia memijat pelipisnya pelan. "Aku pusing, Kak."


"Istirahat, Sayang. Aku akan menemanimu disini."


Ia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Menutupi setengah badannya dengan selimut. Ia menyibak jilbab yang menutupi kepalanya dan melemparnya sembarang.


"Sayang, jangan begitu. Kamu bisa meminta tolong padaku untuk meletakkan hijabmu."


Tanpa berkata apapun ia bangkit dan meraih jilbab itu kembali. Membawanya ke dalam kamar mandi dan menumpuknya bersama pakaian kotor lainnya.


Reyhan terheran melihat sikapnya kali ini. Tak biasanya ia seperti ini. Tidak fokus bekerja dan menyebabkan tangannya terluka. Dengan wajah masam dan sikap dingin yang ia tunjukkan tak seperti biasanya.


"Kamu kenapa, Al ?"


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya pusing dan ingin istirahat. Itu saja. Jadi, kumohon jangan menggangguku."


Reyhan menggelengkan kepalanya. "Baiklah. Istirahat saja. Jika kamu bangun dan ingin menemuiku. Temui saja aku di ruang kerjaku."


Reyhan membelai rambutnya pelan dan menciumnya. Kemudian, beranjak meninggalkankannya yang entah sedang terjebak dalam perasaan seperti apa.


Ia memejamkan matanya perlahan. Melepas dan menghempas segala pemikiran yang mengganggunya.


_____


Di ruangan dengan nuansa klasik dan warna abu tua itu Reyhan menghempaskan tubuhnya yang masih belum normal pada sofa di ujung ruangan. Membuka kotak kuning keemasan yang ditemukan Nadhira sudah penuh debu dan nampak usang.


Ia membersihkan debu-debu yang sudah memeluk kotak itu dengan tangannya. Membukanya dan tersenyum bahagia.


Sebuah potret masa silam di sebuah bangunan menjulang tinggi bersama seorang perempuan dengan tawa lepasnya. Ia menggandeng tangan perempuan itu dengan hangat. Menatapnya dengan tatapan penuh sayang.


"Elmeera. Elmeera. Gadis periang yang tak kenal kata menyerah," ucapnya dengan bangga dan senyum mengembang.


"Aku rindu menggandeng tangan itu. Mengelus rambut panjangmu yang selalu enggan kau ikat, Meer. Yang selalu kau biarkan tergerai, tertiup angin kencang dan akan menutupi mata indahmu."


Iya. Potret tersebut berisi fotonya bersama Elmeera ketika mereka dalam masa kuliah dulu di luar negeri. Potret kenangan yang disimpan dan hanya dibuka sekali waktu saat ia merindukan perempuan yang ia anggap adik perempuannya itu.


"Tanpa ada rasa bernama cinta. Aku rindu menjadi tempat berkeluh kesahmu. Rindu menjadi kakakmu. Bahkan, aku lebih merindukan manjamu daripada hal lainnya, Nona Anggaraksa."

__ADS_1


Matanya berkaca-kaca. Ia teringat masa-masa indah bersama sahabatnya itu. Masa-masa sulit yang mereka lewati bersama. Jua masa-masa dimana mereka menapak kaki di tempat-tempat indah bersama. Dan juga bersama Bagas.


"Aku sangat menyesali hal itu, Meer. Perasaan yang kau miliki dan utarakan padaku nyatanya membuat semuanya menjadi tak biasa. Risih aku dibuatnya, Meer."


Ia menghembuskan napas kasar. "Perhatianku sebagai sahabat dan kakakmu rupanya kau anggap lebih. Kau bawa hingga ke dalam hatimu. Dan menjadikannya ladang menimba rasa yang membuatmu banyak berharap padaku. Padahal, jelas saja sudah ku katakan sejak awal bahwa kita adalah sahabat dan saudara."


Tatapannya terpaku pada selembar foto di tangannya. Ia tersenyum miris.


"Elmeera Anggaraksa. Adik perempuanku selain Raina. Tak bisakah kau kembali menjadi Elmeera kala itu ? Sebelum rasa mengungkungmu dan menjadikanmu manusia berbeda dari biasanya. Aku rindu memanjamu sebagaimana aku memanjakan Raina."


Setetes buliran bening itu jatuh sempurna tepat pada lembar foto yang ditangannya. Kenangan-kenangan masa lalu bersama Elmeera berputar indah di memori otaknya. Kebaikan demi kebaikan yang diberikan Elmeera dan Shalu membuatnya ingin kembali pada masa itu.


"Meer, apa kabar Mbak Shalu ? Aku jua merindukannya. Perhatian dan caranya memperlakukanku saat aku jatuh sakit. Aku berhutang budi padanya. Waktu Mbak Shalu yang seharusnya ia gunakan bekerja tersita begitu saja untuk mengurusi tubuh ringkihku."


Senyumnya timbul bersama isak yang mulai terdengar. "Ia bahkan berjuang keras untuk membuatku sembuh saat nyawa rasanya sudah enggan menetap pada ragaku."


Ia memeluk lembaran foto dengan sangat erat. Rindu pada Elmeera membuatnya ingin segera meraih temu. Jua dengan Shalu. Kakak kandung Elmeera.


Rindu pada kedua gadis itu membuatnya lupa bahwa sekarang ia sudah memeluk hati lain yang harus dijaganya. Nadhira terhempas begitu saja dari pikirnya.


"Aku harus ke rumah Elmeera. Bertemu dengannya dan Mbak Shalu."


Ia meletakkan kembali foto itu pada kotak kuning keemasan. Menutupnya rapat-rapat dan menyimpannya rapi di tempan biasa. Sudut ruang pribadinya.


Dengan langkah lebar ia bergegas. Membuka pintu ruangan dengan keras.


Dan...


Ia terlonjak saat ia dapati seorang gadis dengan gamis panjang hitam pekat yang dipadukan jilbab pashmina warna biru muda tengah berdiri di depan pintu. Ia temukan pula dipipi gadis itu sudah jelas tercetak jejak air mata yang mengalir namun berusaha dihapusnya.


"Aleea ?" panggilnya dengan raut wajah kagetnya.


"Aku hanya ingin meminta izin pada kakak untuk pergi ke kampus. Aku akan mengurus tugas akhirku," ucap Nadhira dengan senyum manis dibalik tangis yang ia tahan.


"Sejak kapan kamu disini ?"


"Sedari tadi. Tapi, aku merasa tidak enak memasuki ruang pribadi kakak setelah mendengar kalimat-kalimat yang kakak lontarkan. Jadi, aku lebih memilih untuk menunggu saja didepan pintu sampai kakak keluar. Aku takut mengganggu."


"Jadi, kamu mendengar semua ucapanku, Al ?"


"Iya. Tapi, anggap saja aku tidak pernah mendengar apapun, Kak. Dan aku juga akan menganggap begitu. Tidak pernah mendengar apapun dari bibirmu."


"Aleea, jangan salah paham dulu."


"Sepertinya aku sudah terlambat. Bisakah kakak izinkan aku pergi sekarang ?"


"Tapi, Al..."


Dengan cepat Nadhira memotong ucapannya. "Jika memang kakak tidak mengizinkan aku untuk pergi. Biar aku kembali saja ke kamar dan mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan nantinya. Bagaimana ?"


"Bukan aku tak mengizinkanmu, Al. Tapi, aku tak bisa membiarkanmu pergi dengan tangis seperti ini."


"Baiklah. Aku tidak akan pergi. Dan sekarang aku akan kembali ke kamar. Jika kakak ingin pergi bertemu Elmeera. Pergilah. Obati rindu pada adikmu dan Mbak Shalumu itu."


Nadhira berjalan meninggalkannya tanpa pamit.


"Al!" panggilnya. Namun, langkah gadis itu tak jua berhenti hingga tubuh kecilnya menghilang dibalik pintu kamar.

__ADS_1


Ia terjerembab pada lubang sesal yang teramat dalam. Bagaimana bisa ia tak memikirkan istrinya itu.


"Maafkan aku, Al," bisiknya lirih.


__ADS_2