Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 139


__ADS_3

"Al!"


Kepala gadis itu terangkat. Sayup-sayup ia mendengar suara lemah Reyhan memanggilnya dari ruang sebelah, ruang makan. Nadhira menyeka air mata yang masih mengalir deras.


"Kak Reyhan memanggil Nadhira, ya, Ma?" tanya gadis itu memastikan.


Mama mengangguk. "Susul Reyhan ke ruang makan. Nanti Mama dan Papa juga akan menyusul kalian."


"Iya, Ma." Gadis itu bangkit dan melangkahkan kakinya perlahan.


"Ra!" panggil Mama.


Langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang. "Kenapa, Ma?"


"Hapus air matamu. Jangan sampai Reyhan melihatnya. Mama yakin Reyhan tidak suka melihatmu menangis."


Gadis itu tersenyum manis dan mengangguk. Melakukan titah Mama untuk menghapus sisa-sisa air mata. Kemudian, melangkah kembali dan hilang di balik tembok yang menjadi pembatas ruang keluarga dengan ruang makan.


Orang yang tersisa di ruang makan hanya Papa dan Mama. Disanalah Mama menumpahkan kesedihannya. Didepan anak-anak dan juga menantunya. Wanita paruh baya itu selalu terlihat tegar. Padahal, jauh didalam lubuk hatinya. Ia bahkan lebih hancur melihat anak sulungnya dengan kondisi seperti sekarang.


Wanita itu menangis tersedu dalam pelukan suaminya. Satu-satunya tempat ternyaman yang bisa ia andalkan untuk berkeluh kesah. Mengadu segala perasaannya. "Pa, kenapa tidak kita bawa saja Reyhan berobat ke luar negeri? Mama tidak kuat melihat kondisinya."


"Iya, Ma. Tapi, Mama tenang dulu. Nanti Papa akan membujuk Reyhan."


...***...


"Duduk disini, Al," ucap lelaki berwajah pucat pasi itu dengan tangan yang menepuk pelan sofa ruang tamu.


Nadhira. Sebentar gadis itu bergeming. Ia tatapi dengan lekat mata sayu dengan lekukan yang tampak jelas itu. Wajah pucat dan bibir yang tengah melempar senyum padanya.


"Ada apa, Sayang? Kemarilah!" ucap Reyhan lagi. Kali ini ia melambai-lambaikan tangannya.


Kepala Nadhira menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang menikmati gerakan anak kita didalam sini," dustanya seraya menunjuk perut yang membuncit.


"Aku juga ingin merasakannya, Al."


Gadis itu melangkah menuju sofa yang di duduki suaminya. "Permisi, Farhan," ucapnya tatkala ia melewati adik iparnya yang juga tengah duduk pada sofa di sebelah Reyhan.


Farhan hanya menganggukkan kepala. Ditatapnya gadis itu dengan iba. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan kakak iparnya itu. "Kak, Farhan ke kamar dulu, ya," ucap Farhan. Ia tidak kuat menatap tubuh yang lemah di sebelahnya.


"Nanti dulu. Ada yang ingin kakak bicarakan. Ini penting, Dik."


"Oh, baiklah, Kak," jawab Farhan pasrah. Kemudian, ia tertunduk memainkan ponselnya seraya menunggu kedatangan Papa dan Mama.

__ADS_1


Reyhan. Lelaki itu merangkul tubuh Nadhira. Berulang kali ia mencium kening istrinya. Juga tangannya yang tak berhenti memegangi perut yang semakin membesar itu.


Perlahan Reyhan turun dari sofa.


"Jangan!"


"Tidak apa-apa," balasnya dengan senyum manis. Ia duduk dibawah sofa. Berhadapan dengan perut Nadhira. Ia mencium perut buncit itu penuh sayang.


"Hai! Apa kabar anak Papa?" sapanya dengan lembut. Ia menghela napas panjang. Berusaha menormalkan napasnya yang mulai tak beraturan.


"Papa harap kamu baik-baik saja, ya, Nak. Terimakasih sudah menjadi kuat dan selalu menemani Mama yang sering Papa repotkan. Cepat lahir, malaikat kecilku. Biar ada yang membantu Papa menjaga Mama." Kalimat itu mengalir begitu saja dari bibir Reyhan. Tak terasa ia bahkan sudah terisak sendiri. Hatinya hancur mengingat kondisinya yang begitu memperihatinkan ditengah istrinya yang sedang hamil tua. Harusnya, ia menjadi suami yang siaga. Bukan malah merepotkan.


Dipeluknya lagi tubuh kecil Nadhira. Menumpahkan tangisnya disana.


"Lihatlah, Nak. Papamu begitu cengeng," ucap Nadhira mencairkan suasana. Ia bahkan sedang berusaha keras untuk tidak menangis.


"Maafkan aku, Al. Maafkan aku. Aku sudah banyak merepotkanmu."


"Tak mengapa. Itu sudah menjadi tugasku sebagai istri. Sekarang duduklah diatas. Itu Papa dan Mama sudah datang."


Dengan segera Reyhan mengusap air matanya dan kembali duduk di sofa.


Ia kembali membuka suara. "Karena, semuanya sudah berkumpul disini. Ada yang ingin Reyhan sampaikan pada Papa, Mama dan kamu juga Farhan," ucapnya seraya menoleh ke arah Farhan yang masih tertunduk.


Nadhira menggenggam erat tangan suaminya. Memberikan kekuatan sekaligus berusaha menenangkan lelaki di sampingnya itu.


"Minta maaf untuk apa, Kak?" tanya Papa berusaha kuat.


"Maafkan Reyhan belum bisa menjadi anak yang membanggakan dan belum berhasil. Maaf belum mampu membahagiakan Papa dan Mama. Dan maaf," ucapannya terjeda. Isakan itu terdengar pilu. Membuat ngilu ulu hati yang mendengarnya.


"Maaf sudah banyak merepotkan dan menyusahkan kalian semua karena kondisi Reyhan. Maafkan Reyhan, Pa, Ma." Terdengar ribuan penyesalan dalam setiap kalimat lelaki itu.


Tiada satu pun yang angkat bicara. Kecuali, Mama dan Nadhira yang sudah ikut tersedu.


"Pa, Reyhan akan menyerahkan tanggung jawab Reyhan di perusahaan pada Farhan. Boleh, ya, Pa?"


Papa dan Farhan tentu saja saling melempar tatapan bingung.


"Reyhan ingin menghabiskan sisa-sisa umur Reyhan dirumah saja. Berkumpul dengan kalian semua. Lagipula, tidak ada lagi yang bisa Papa harapkan dari Reyhan."


Papa tersenyum ke arah putra sulungnya itu. "Jangan bicara seperti itu, banyak hal yang kamu lakukan selama ini. Papa yakin kamu bisa melewati ini semua. Dan kamu tidak sendiri, Nak. Ada kami semua bersamamu."


Papa mengembuskan napas berat. "Jika kamu ingin menyerahkan posisi pada Farhan dengan alasan kesehatanmu. Tentu Papa akan sangat mendukung. Papa ingin kamu fokus untuk kesehatan. Dan Papa juga yakin adikmu pasti bisa menggantikan posisimu dengan baik."

__ADS_1


"Tapi, Farhan belum bisa melakukan apapun, Pa, Kak," keluh Farhan.


"Nanti kakak yang akan mendampingimu. Tenang saja. Kakak sudah benar-benar menyerah. Kakak sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Farhan. Hanya kamu yang bisa kakak harapkan untuk membantu Papa."


Isakan pilu lelaki itu kembali terdengar. "Maafkan Reyhan, Pa, Ma. Maafkan Reyhan," ucapnya penuh rasa bersalah.


Seisi ruangan sudah tak mampu lagi membendung air mata mereka. Semuanya ikut terisak.


Tak terkecuali gadis yang setia menggenggam erat tangan Reyhan itu. Isaknya tertahan. Dadanya sesak. Paru-parunya seakan tak mampu memompa udara dengan baik.


"Kamu tidak salah, Reyhan! Untuk apa meminta maaf? Hah?" Emosi Mama benar-benar terguncang mendengar ucapan anak sulungnya itu.


"Ma, jangan marahi Reyhan, Ma. Mama tidak kasihan pada anak Mama yang penyakitan ini?" tanya Reyhan iba.


Suara berat Reyhan dengan kalimatnya itu membuat Nadhira semakin terisak. Dadanya semakin sesak. Gadis itu mengatur napasnya perlahan ditengah isaknya. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Reyhan.


Merasa ada yang berbeda dengan istrinya. Reyhan mengalihkan tatapannya dengan mata yang masih basah.


"Al," panggilnya lirih.


Gadis itu bergeming. Ia masih berusaha mengatur napasnya pelan.


"Al, kamu kenapa?" Reyhan khawatir bukan main.


"Kenapa, Reyhan?" tanya Papa dan Mama hampir bersamaan.


Hendak menjawab. Gadis di sampingnya lebih dulu tumbang, tak sadarkan diri dengan kepala yang terjatuh tepat pada dada bidangnya. Reyhan ketakutan. "Sayang, bangun, Sayang."


"Ma, Pa. Tolong istriku," tangis lelaki itu pecah.


Papa, Mama, dan Farhan mendekat.


"Mama, tolong Aleea, Ma."


Tanpa berpikir panjang. Papa mengangkat tubuh menantunya itu. "Kita ke Rumah Sakit. Farhan bawa mobil, Nak," ucap Papa dan membawa Nadhira keluar.


Mama berusaha menenangkan Reyhan. "Tenang, Nak. Nadhira pasti baik-baik saja."


"Lihatlah, Ma. Reyhan tidak bisa diandalkan lagi. Bahkan, saat istri Reyhan terkapar tak berdaya seperti itu. Reyhan tak bisa melakukan apapun." ucapnya tertawa sumbang.


"Ma, Aleea baik-baik saja 'kan, Ma?"


Mama hanya mengangguk dan menatap iba anaknya. Ia membawa kepala Reyhan ke dalam dekapan hangatnya.

__ADS_1


"Reyhan benar-benar tidak berguna, Ma," lirihnya.


__ADS_2