
Reyhan menatap tubuh Farhan yang sudah terbaring diatas tempat tidur. Dengan wajah pucat dan mata terpejam. Ia yakin Farhan tidak hanya sedang sakit biasa.
"Aku tidak yakin bahwa Farhan hanya sakit biasa saja, Sayang."
Nadhira masih erat menggenggam tangan suaminya. Satu tangan lainnya sibuk mengelus pundak Reyhan. Memberikan sedikit ketenangan. "Iya. Setelah ini Kakak coba bicara sama Farhan dan bujuk dia untuk periksakan kondisinya ke Rumah Sakit."
"Iya, Sayang. Aku takut terjadi hal serius dengan kesehatannya."
"Aku paham. Tapi, Kakak juga tetap harus menjaga kondisi kakak, ya. Biar bagaimanapun kondisi Kakak masih sangat lemah," nasihat gadis itu dengan lembut.
Nadhira melirik jam tangannya. Kemudian, tersenyum tipis dan memegang dagu Reyhan yang sudah mulai terasa kasar. Bulu-bulu halus sudah mulai tumbuh disana.
Kepala Reyhan terangkat dan menatap Nadhira dengan tatapan sendu. Raut wajah khawatir dan pancaran ketakutan jelas tampak pada wajah lelaki itu
"E**verything will be okay, Sayang." Nadhira memenangkan suaminya.
Nadhira mendongakkan kepala dan melihat ke arah jam dinding. Memberi isyarat agar Reyhan juga mengikutinya.
Benar saja. Lelaki itu dengan lugu mengikuti arah pandang istrinnya.
"It's time for medicine, right?"
Reyhan mengangguk pelan. "Tapi, aku mau minum obat disini saja, Al. Boleh, ya? Aku takut meninggalkan Farhan sendiri. Aku mau menemaninya sampai Mama datang."
Nadhira yang begitu paham bagaimana khawatirnya Reyhan pada Farhan. Ia hanya mengangguk menyetujui. "Tunggulah sebentar. Biar ku ambilkan obat untukmu." Nadhira mengecup sekilas puncak kepala Reyhan.
Sepeninggal Nadhira. Reyhan kembali menatap wajah pucat itu. Hatinya teriris.
"Dik, lekas sembuh, ya." Reyhan meraih tangan Farhan yang terasa dingin. Menggenggamnya erat dan menyalurkan kehangatan pada tubuh yang tengah terbaring lemah itu.
Reyhan merasakan tangannya di genggam erat oleh Farhan. Ditatapnya kembali wajah Farhan. Ia dengan jelas dapat melihat kening adiknya mengkerut. Pertanda Farhan tengah merasakan sakit yang luar biasa.
"Sebenarnya apa yang tengah terjadi denganmu, Dik?" bisik Reyhan pada dirinya sendiri.
"Sakit, Pa. Sakit,"
Rintihan Farhan dalam lelapnya tertangkap jelas oleh telinga Reyhan. Ia mengguncang tubuh Farhan yang sudah bersimbah peluh. "Dik, bangun."
Nadhira yang baru saja kembali dengan nampan ditangannya berlari kecil mendekat. Namun, aksinya tercekat saat suara parau Reyhan terdengar.
__ADS_1
"Jangan berlari! Ingat kandunganmu."
Nadhira kembali berjalan biasa namun lebih cepat. Ia memindahkan nampan dari tangannya ke atas meja disamping tempat tidur Farhan.
"Farhan kenapa, Kak?" tanya Nadhira dengan tangan lembutnya mendarat pada pundak Reyhan.
"Sepertinya Farhan mimpi buruk lagi, Sayang. Aku mendengarnya merintih," jawab Reyhan dengan suara serak. Ia terbatuk seraya memegangi dada kirinya yang terasa nyeri.
"Minum obat dulu, ya," ucap Nadhira berusaha tenang. Padahal jauh didalam hati. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya.
Reyhan mengangguk pasrah. Ia menerima dua butiran kecil yang sangat tidak asing baginya itu.
"Terima kasih, Al."
"Farhan kenapa lagi, Kak?" tanya Mama yang baru saja datang dengan tangis yang sudah pecah.
Reyhan perlahan menyingkir dan memberikan tempat untuk Mama duduk di samping Farhan. Hati Reyhan semakin teriris melihat punggung Mama yang bergetar hebat. Pun tangis yang terdengar memilukan.
"Nak, bangun, Sayang. Mama disini," lirih Mama seraya mengelus lembut puncak kepala Farhan.
"Sa...kit," rintih Farhan lagi dalam pejamnya.
"Berhenti, Pa. Jangan pukul Farhan lagi."
Rintihan Farhan kali ini membuat Mama tak berkutik. Ia mendongakkan kepala dan menatap tajam Papa yang sejak tadi berdiri tanpa berbuat apa-apa.
"Apa sudah Papa lakukan pada Farhan?"
Papa masih bergeming.
"Jawab Mama, Pa!" teriak Mama.
Reyhan dan Nadhira yang melihat Mama dengan amarah yang mengungkung segera menenangkan. "Ma, ini bukan waktu yang tepat. Kita fokus saja pada Farhan," ucap Reyhan.
"Pa, boleh Reyhan minta tolong untuk membantu Reyhan ke kamar? Dada Reyhan benar-benar terasa sesak dan sakit."
Tentu saja hal itu membuat seisi kamar Farhan panik bukan main. Dan tidak butuh waktu lama untuk Papa menyetujui permintaan anak sulungnya.
"Kak."
__ADS_1
Reyhan mengangkat sebelah tangannya ke udara. Memberi isyarat agar Nadhira tidak beranjak dari tempatnya. "Kamu temani saja Mama disini. Tunggu sampai Farhan bangun."
Nadhira hanya pasrah mendengar ucapan suaminya. Ia menatap punggung Reyhan semakin menjauh dengan di tuntun Papa.
...***...
"Separah apa perlakuan Papa pada Farhan?" Reyhan memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa menit lamanya.
Apapun pembahasan tentang Farhan. Papa tak pernah mau membuka suara. Lelaki paruh baya itu lebih memilih membuang muka.
"Apa dimata Papa Farhan tidak pantas untuk di kasihani? Papa lupa bahwa Farhan juga darah daging Papa? Sama seperti Reyhan dan Latisha." Reyhan mengepalkan kedua tangannya. Selain untuk meredam rasa sakit yang kian menjalar. Itu juga satu cara yang ia gunakan untuk melampiaskan amarahnya.
"Farhan tidak bisa seperti kamu."
Ucapan Papa menarik perhatian Reyhan yang terlempar ke arah jendela kamar. "Maksud Papa apa?"
"Farhan tidak akan bisa membuat Papa bangga padanya. Berbeda denganmu."
"Tetapi, Farhanlah satu-satunya yang bisa Papa andalkan nantinya jika Reyhan sudah pergi."
Papa menatap tajam Reyhan.
"Berikan Farhan waktu untuk menunjukkan kemampuannya. Papa hanya butuh waktu untuk memberikan kepercayaan lebih padanya."
Reyhan menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Sekali lagi Reyhan katakan pada Papa. Reyhan ini sakit, Pa. Papa tidak bisa mengharapkan banyak hal lagi dari Reyhan. Bahkan, untuk sembuh kembali itu kemungkinannya sangat kecil. Tolong, Pa. Dengarkan Reyhan kali ini." Reyhan benar-benar mengemis pada Papa. Hingga tanpa sadar air matanya luruh. Ia tampak menyedihkan.
"Jika Papa tidak sanggup memenuhi permintaan Reyhan. Baiklah. Reyhan tidak akan memaksa Papa lagi. Tapi, izinkan Reyhan pergi bersama Aleea. Tentu saja akan membawa Farhan juga. Biarkan Farhan hidup dengan tenang bersama kami. Reyhan yakin, Aleea masih sanggup mengurusiku dan adikku."
Kalimat terakhir Reyhan membuat Papa kembali menatap anak sulungnya itu.
"Sudahlah, Pa. Reyhan tidak ingin berbicara banyak. Semoga Papa bisa memikirkan dengan baik setiap ucapan Reyhan."
Reyhan menggamit tangan Papa dan menciumnya sopan. "Maaf jika Reyhan selama ini banyak menyusahkan Papa dan Mama. Tapi, sebentar lagi hal itu tidak akan terjadi lagi. Dan Reyhan hanya minta agar Papa menjaga Aleea dan cucu Papa nanti."
"Jangan bicara seperti itu. Semua akan baik-baik saja, Reyhan."
Lelaki itu hanya tersenyum tipis ke arah Papanya. "Reyhan harap juga begitu. Setidaknya, sampai cucu Papa lahir dan melihat papanya yang ringkih ini." Reyhan tertawa getir.
Tak tahan mendengar ucapan Reyhan. Papa memilih untuk segera keluar dari kamar anaknya. "Istirahatlah. Papa keluar dulu."
__ADS_1
Reyhan menatap nanar tubuh Papa. Kemudian, tangisnya pecah begitu saja.