Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 94


__ADS_3

Ia memutar knop pintu dengan sebelah tangan yang terbebas dari nampan berisi air putih juga piring kecil dengan butiran putih didalamnya. Senyumnya mengembang saat mendapati Reyhan tengah fokus berkutat dengan laptop di hadapannya didalam ruang bernuansa abu tua itu. Ruang pribadi Reyhan.


"Hei!" sapa Reyhan saat melihat kedatangannya.


"Sudah waktunya minum obat, Sayang," ucapnya seraya meletakkan nampan diatas meja kerja suaminya.


"Terimakasih sudah mengingatkanku."


Ia memberikan air putih serta butiran kecil yang dibawanya pada Reyhan.


"Sudah," ucap Reyhan dengan tersenyum.


Matanya menelusup ke segala penjuru ruangan. Seperti tengah mencari sesuatu.


Reyhan yang melihat tingkah istrinya lantas tertawa kecil dan hampir tak terdengar. "Sedang mencari apa ? Kotak yang kamu temukan kala itu ? Sudah ku buang ke tempat sampah, Sayang."


Ia tersenyum malu-malu. Lalu, memutari meja kerja Reyhan dan berdiri tepat di belakang suaminya. Melingkarkan tangannya pada leher Reyhan.


"Sayang ?". panggilnya manja.


"Kenapa ? Pasti ada maunya," tebak Reyhan.


Ia menatap wajah Reyhan yang mendongak ke arahnya dengan malu-malu.


Reyhan memutar kursi yang ia duduki dan menghadap istrinya. "Mau apa ? Katakan saja, Sayang!"


"Memangnya kakak akan memenuhi keinginanku ?"


"Tentu saja. Semampuku."


"Baiklah. Sekarang selesaikan semua pekerjaanmu. Aku akan menunggu."


"Aku bisa menyelesaikannya setelah memenuhi keinginan istri cantikku ini," ucap Reyhan dan menarik tubuh Nadhira. Mendekapnya dan menciumi berulang kali perut yang masih nampak rata.


"Jika begitu, sekarang ikutlah denganku ke bawah."


Reyhan segera berdiri dan merangkul tubuh kecil di hadapannya itu. "Aku akan mengikuti kemana saja langkah kakimu membawaku."


Ia terkekeh dan melangkah keluar dari ruangan abu tua itu.


Satu per satu tangga di tapakinya bersama Reyhan. Sesekali ia tertawa lepas mendengar lelucon yang dilontarkan Reyhan padanya.


"Tidak ke kantor, Kak ?" tanya Farhan yang tiba-tiba muncuk dari ruang tamu.


"Tanyakan saja pada kakak iparmu, Farhan," balas Reyhan seraya melirik perempuan yang tengah menggandeng tangannya itu.


"Oh... Jadi karena Kak Nadhira tak mengizinkan. Oleh sebab itu, kakak tidak ke kantor hari ini ?"


"Memangnya siapa lagi yang bisa melarang kakak dan harus kakak patuhi selain dia ?"


"Wah... Good job, Kak Nadhira."


Ia tertawa mendengar ucapan Farhan. "Rupanya sekarang aku sudah punya teman satu komplotan. Bagaimana, Farhan ?"


"Tentu saja, kakak ipar. Semoga kita bisa menjadi tim yang solid."


Ia kembali tertawa. Jua diikuti oleh Farhan.


"Oh, Tuhan. Apakah ini satu karma untukku telah mentertawai kakak iparku kemarin ?" ucap Reyhan seraya menatap ke langit-langit ruangan.


"Makanya jangan terlalu sering membuat kesal orang yang lebih tua."


"Harusnya kalimat itu kamu ucapkan untuk dirimu sendiri, Al. Astaga."

__ADS_1


"Baiklah. Aku tak akan berkomentar apapun lagi."


"Dan kamu Farhan. Secepatnya kamu akan kakak rekomendasikan untuk masuk di perusahaan. Membantu kakak."


"Tapi, Kak..."


"Maaf. Kakak tidak menerima penolakan apapun."


Reyhan menarik tanga kecilnya dengan pelan meninggalkan Farhan yang berdumel kesal. Entah kata demi kata macam apa yang dilafalkan dengan lancar adik iparnya itu.


"Kamu mau apa, Al ?"


"Aku ingin minum coklat panas buatan kakak. Boleh, ya ?"


"Hah ? Aku tidak bisa membuat coklat panas, Al. Lagipula, setahuku kamu bisa membuatnya sendiri."


"Aku ingin buatan kakak," rengeknya.


"Tapi, aku benar-benar tidak bisa membuatnya, Sayang."


"Ini keinginan anak kita, Sayang. Bagaimana ?"


Reyhan menghela napas. "Baiklah. Demi kalian aku akan berusaha membuatnya."


Ia tersenyum girang dan mencium pipi suaminya singkat. "Terimakasih, Papa."


_____


Makan malam tengah berlangsung dengan khidmat. Tiada pembicaraan apapun yang tercipta. Seperti biasa.


Ia menutup mulut dan hidungnya secara bersamaan saat aroma makanan yang terhidang di meja makan menyeruak ke indera penciumannya. Perutnya ikut bergejolak saat sepiring nasi putih di hidangkan untuknya oleh Reyhan.


"Makanlah!"


"Tidak. Semua makanan ini aromanya sama sekali tidak enak. Dan nasi ini membuat perutku mual."


"Han! Itu sudah biasa dialami perempuan hamil, Nak. Jadi, kamu harus paham kondisi istrimu," ucap Papa lembut pada anak sulungnya itu.


Reyhan diam sejenak.


"Kamu mau makan apa sekarang, Al ?"


"Aku tidak mau makan. Aku ingin ke kamar," ucapnya dan melenggang pergi begitu saja.


Reyhan mengacak rambutnya frustasi. "Salah ucapan sedikit saja sudah merajuk seperti itu. Salah tingkah sedikit marah-marah tanpa ampun. Astaga," dumel Reyhan selepas Nadhira meninggalkan ruang makan.


"Sudah Papa katakan. Itu sudah biasa untuk perempuan hamil. Kamu harus paham dan sabar menghadapinya."


"Sekarang kamu susul saja istrimu ke kamar," saran Mama pada Reyhan.


Reyhan berlari mengejarnya yang sudah sampai dikamar. Membaringkan tubuh dan menutup seluruhnya dengan selimut tebal.


"Sayang," panggil Reyhan dengan lembut.


"Makan dulu, ya. Kasihan anak kita jika kamu tak memberinya asupan malam ini. Kamu mau anak kita kelaparan didalam perutmu ?" lanjut Reyhan membujuknya.


Ia menatap Reyhan. "Aku mau makan. Tapi, harus kakak yang menyuapiku. Bagaimana ?"


"Iya, Sayang. Kamu mau makan apa ? Katakan padaku."


Ia mengetukkan jari telunjuknya di kening. Berusaha berpikir hendak memakan apa.


"Aku mau makan roti bakar."

__ADS_1


"Baiklah. Tunggu aku akan keluar membelikanmu."


"Tidak. Aku ingin roti bakar buatan kita."


Reyhan hanya mengangguk pasrah.


"Bangunlah! Kita turun dan membuatnya dibawah."


Ia bangkit dengan cepat. "Tapi, boleh peluk dulu, tidak ?"


"Boleh, Sayang."


Sontak ia memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Kakak nampak kurus. Apakah aku benar atau hanya perasaanku saja, Kak ?"


"Perasaanmu saja, Al," balas Reyhan berbohong. Padahal, apa yang dikatakan istrinya memang benar adanya. Makin hari tubuh atletisnya semakin kurus di gerogoti penyakitnya.


"Semoga saja."


Ia bergelayut manja oada lengan Reyhan. "Sayang ?" Tatapannya teduh ke arah suaminya.


"Iya, Sayang. Kenapa ?"


"Tetap sehat, ya. Supaya ada yang menemaniku menjaga anak kita."


"Tentu, Sayang. Aku akan selalu sehat dan baik-baik saja. Kamu dan anak kita adalah semangatku. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali pergi dariku."


"Jangan pernah takut. Aku akan selalu menemanimu dalam baik buruknya keadaan. Aku akan selalu berada di sampingmu."


"Terimakasih, ya, Sayang. Aku bersyukur diberikan istri sepertimu."


"Aku yang begitu sangat bersyukur menjadi istrimu."


Sesampai di dapur. Ia mencari roti yang akan ia sulap menjadi makanan yang sekarang ia inginkan. Bersama Reyhan ia menyiapkan segala alat dan bahan yang digunakan.


Diiringi canda dan tawa ia membuat roti bakar. Tak peduli rasanya seperti apa. Yang ia tahu adalah bagaimana ia berusaha bersama untuk memenuhi keinginannya yang tak biasa setelah hamil muda.


"Semenjak aku hamil. Aku selalu menginginkan sesuatu yang kadang aneh, Kak. Aku heran," cicitnya tiba-tiba.


"Aku jua merasakan hal sama terjadi padamu, Al. Tapi, setelah ku ceritakan pada Mama. Ternyata itu hal biasa terjadi pada perempuan hamil sepertimu, Sayang."


"Apa kakak tidak lelah melihatku seperti itu ?"


"Kadang-kadang," balas Reyhan dengan senyum lebar.


"Kakaaaak!" teriaknya dengan kencang dan melempar sendok yang digenggamnya ke arah Reyhan.


"Ada apa ?" tanya Mama yang datang dengan panik. "Apa yang terjadi pada Nadhira, Reyhan ?"


"Oh maaf, Ma. Tidak ada sesuatu serius yang terjadi," jawab Reyhan.


"Kenapa Nadhira berteriak seperti tadi?"


"Dia hanya kesal pa Reyhan. Lihat saja! Bahkan sendok yang digenggamnya pun dilempar ke Reyhan."


"Astaga! Kalian ini membuat Mama panik saja."


"Maaf, Ma," ucapnya penuh sesal.


"Iya sudah. Lanjutkan saja apa yang ingin lakukan. Mama ke kamar dulu." Mama menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan pasangan muda itu.


"Lihatlah, Al! Karena, ulahmu itu Mama jadi panik."

__ADS_1


"Jangan menyalahkanku. Kakak yang sudah membuatku kesal."


"Baiklah. Aku mengalah saja. Aku tidak ingin mendebat tentang apapun denganmu."


__ADS_2