
“Sayang ?”
Reyhan menenggelamkan wajahnya di tengkuk Nadhira. Memeluk istrinya erat dari belakang dan menghirup dalam-dalam aroma Lavender yang menyeruak memasuki inderanya. Aroma yang menjadi ciri khas istri kecilnya itu.
“Hmmm,” jawab Nadhira tanpa merubah posisi sedikit pun posisi duduknya yang membelakangi Reyhan.
“Terimakasih.”
Nadhira tersenyum. Meski sejatinya ia tahu bahwa Reyhan tak akan bisa melihat senyumnya sama sekali.
“Terimakasih sudah menerima lelaki tak sempurna ini sebagai imammu, menjadi pendamping hidupmu.”
“Terimakasih juga telah memilih gadis manja ini sebagai makmum yang akan selalu mengaamiini setiap do’a yang kakak panjatkan. Yang akan selalu berdiri satu shaf di belakang kakak saat menjalankan kewajiban lima waktu. Dan yang akan selalu berada di samping kakak dalam keadaan apapun.”
“Sayang ?”
“Hmmm.”
“Sayang ?”
“Iya.”
“Sayang ?”
“Iya, suamiku ? Kenapa ?” jawab Nadhira lalu ia elus dengan lembut rambut Reyhan.
Wajahnya terangkat. Dan pelukannya semakin ia eratkan.
“Sini lihat kakak, Sayang,” Reyhan memutar tubuh Nadhira hingga menghadapnya.
“Sayang, tau tidak ? Hari-hari yang aku lalui setelah berada di negara orang, terasa hambar dan banyak kekurangan. Tidak dari materi. Namun, seperti separuh jiwaku masih tertinggal di Indonesia. Itu semua karena seorang gadis kecil yang berpengaruh besar di kehidupanku. Kamu tahu tidak siapa gadis kecil itu ?”
“Raina, ‘kan ?”
“Salah.”
“Lalu ?”
“Dia adalah gadis manja, gadis penyuka senja dan sekarang sedang duduk di hadapan kakak. Nadhira Aleeana Prayudha, namanya.”
“Iya. Gadis yang sangat beruntung menjadi pasangan hidup dari Tuan Reyhan Akbar Oktara,” balas Nadhira setelah dibuat tersipu oleh suaminya.
“Aku yang jauh lebih beruntung menjadi suami gadis secantik kamu, Sayang.” Reyhan mnyentil hidung Nadhira dengan telunjuknya.
Nadhira berpindah duduk disamping Reyhan. Menyandarkan kepala dipundak sang suami.
Dengan sangat lembut Reyhan membelai puncak kepala Nadhira yang masih dilapisi hijab instannya.
Nadhira memejamkan matanya. Menikmati setiap belaian dari tangan lain selain bundanya.
“Kak ?”
“Iya, Sayang. Kenapa ?”
“Bolehkah ku tanyakan sesuatu pada kakak ?”
“Tentu saja boleh.”
Nadhira mengangkat kepalanya. Menatap lekat-lekat bekas luka yang nampak jelas di sudut bibir suaminya.
“Kenapa bisa ada luka seperti ini ?” ucapnya dan menyentuh luka di sudut bibir Reyhan dengan pelan.
Reyhan meringis. Namun, tak menjawab.
“Kak, bukankah kakak sudah berjanji untuk menceritakan semuanya padaku ?”
“Iya, Sayang. Pasti akan ku ceritakan semuanya tanpa tersisa satupun. Tapi, sebelum itu. Bolehkah aku meminta sesuatu ?”
“Apa ?”
“Izinkan aku memanggilmu dengan sebutan “Aleea” lagi, ya ? Seperti awal-awal kita bertemu dulu. Sungguh. Aku merindukan panggilan itu, Sayang.”
__ADS_1
Nadhira tersenyum manis. Manis sekali. Senyum yang selalu membuat Reyhan candu.
“Boleh. Aku juga sudah sangat merindukan panggilan itu.”
“Baiklah, Aleeanaku.”
“Sekarang ceritakan!” ucap Nadhira berpura-pura marah.
“Luka ini...”
Segala rentetan cerita yang menciptakan luka lebam dibibirnya begitu mulus meluncur dari bibir Reyhan tanpa sedikitpun tertinggal.
“Jadi, begitulah ceritanya. Apa lagi yang ingin kamu ketahui dariku ?”
Nadhira hanya menggeleng.
“Yakin ?”
Nadhira mengangguk.
“Kak ?”
“Iya, Sayang.”
“Tiadakah yang ingin kakak ketahui tentang aku ?”
“Seiring berjalannya waktu. Cepat atau lambat, aku pasti akan tahu siapa dan bagaimana istriku yang sesungguhnya. Jadi, aku tidak akan memaksa untuk lebih tahu lebih dulu. Dan bagaimana pun kamu, kamu adalah yang terbaik yang telah Tuhan dititipkan untukku. Aku mencintaimu, Nadhira Aleeana Prayudha."
Reyhan mengelus pundak istrinya.
"Aku juga mencintaimu, Reyhan Akbar Oktaraku."
Reyhan memeluk istrinya erat. Seperti enggan untuk melepas lagi pelukannya.
“Kamu mau bantu Mama masak dibawah ?”
Nadhira terdiam. Bukan karena tidak ingin. Hanya saja ia memang tidak memiliki bakat dalam hal memasak. Karena, memasak adalah hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.
Nadhira tertunduk lesu. “Aku tidak bisa masak, Kak.”
“Astaga, Sayang.” Reyhan menarik tubuh mungil Nadhira dan memeluknya. “Tak mengapa, Sayang. Nanti belajar masak sama Mama, ya. Jangan sedih.”
Nadhira mengangguk pelan.
“Kamu tahu tidak ? Mama itu pintar dalam hal memasak. Masakannya selalu membuat ku rindu rumah. Terlebih saat aku berada diluar negeri atau sedang berpergian sama Papa ke luar daerah.”
“Tidah hanya itu. Mama adalah tempat terbaik untuk pulang. Ketika lelah mulai menyerang. Mama adalah rumah yang tepat dan nyaman yang akan aku kunjungi.”
Nadhira mendengar dengan seksama kalimat-kalimat yang keluar bibir suaminya. Kalimat-kalimat yang ia dengar seperti dongeng yang sering dibacakan Bunda untuknya. Membuatnya tenang dan enggan untuk melewatkannya.
“Tapi, sekarang aku sudah memiliki rumah lain untuk pulang. Melepas lelah dan mencari ketenangan.”
Dengan cepat Nadhira mendongak menatap wajah tegas suaminya.
“Tempat itu adalah kamu, Sayang.”
Nadhira tersenyum. Pipinya memerah bak kepiting rebus.
“Kak ?” Nadhira menatap suaminya lekat-lekat.
“Iya, Sayang.”
“Lukanya aku kompres saja, ya. Biar tidak semakin membengkak.”
“Tidak perlu. Ini sudah tidak apa-apa kok.”
“Benarkah ?”
Reyhan mengangguk. Ia menggenggam erat tangan Nadhira dan menciumnya berulang kali.
“Kak ?”
__ADS_1
Reyhan menatap gadisnya seksama.
“Are you good ?”
Sebelah alisnya terangkat. “Tentu, Sayang.”
“Tapi, Raina bilang kakak sering sakit. Benarkah ?”
“Itu ‘kan karena aku memang banyak kerjaan dan kurang istirahat.”
“Mulai sekarang, kakak harus terbuka sama aku, ya.”
“Itu sudah pasti, Aleeanaku.”
Nadhira tersipu.
“Bantu aku menjadi imam yang baik, ya, Sayang.”
Nadhira tersenyum.
“Kita turun, ya. Temui Mama dan Papa. Sekalian makan siang bareng. Setelah itu kamu minum obat dan istirahat.”
Reyhan mengamit tangan Nadhira. Menuntunnya turun menuju ruang makan. Menemui kedua orang tuanya.
“Siang, Pa, Ma,” sapa Reyhan.
“Duduk, Nak!” ucap Papa.
Nadhira nampak begitu menikmati makan siang bersama suami dan mertuanya. Ia merasa tak asing. Seperti ia tengah berada di antara keluarga kandungnya.
“Sayang, makan yang banyak, ya,” bisik Reyhan.
Nadhira menggeleng. Ia masih merasa sedikit mual akibat alergi yang dialaminya.
“Kenapa ? Kamu harus minum obat ‘kan, Sayang.”
Nadhira masih saja menggeleng. Kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Nadhira kenapa ?” tanya Mama panik.
“Kenapa, Sayang ?”
Nadhira terdiam. Menunduk dan mulai terisak.
Mama dan Papa yang melihat anak menantunya itu dengan cepat menghampiri.
“Kenapa, Nak ?” tanya Papa.
“Sayang, lihat aku!” Reyhan memegang dagu istrinya. Menatap lekat mata yang masih meneteskan air mata itu.
“Cerita, ya, Sayang.”
“Aku... masih... merasa mual. Aku tidak bisa makan,” ucapnya terbata di sela isakannya.
“Astaga, Sayang.” Reyhan memeluk tubuh mungil Nadhira yang masih bergetar.
“Tapi, kamu harus makan. Tidak apa-apa meskipun sedikit.”
“Iya, Nak. Makan dulu, ya,” tutur Mama penuh perhatian.
“Atau makan dikamar saja tak mengapa. Iya ‘kan, Ma ?” ungkap Papa.
“Iya. Nanti makan siangnya diantarkan Bibi.”
"Makan siang dikamar saja, ya, Sayang."
Reyhan menuntun istrinya berdiri. Merangkulnya dan berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamarnya di lantai atas.
“Kak, kamu juga jangan sampai lupa minum...”
Ucapan Mama terhenti ketika ia dapati tatapan tajam Reyhan.
__ADS_1
“Baiklah,” pasrahnya.