
Reyhan mengetuk pintu perlahan. "Al? Buka pintunya, Sayang."
Hening. Tak ada jawaban.
"Al? Ayo buka pintunya."
Masih sama. Hanya hening.
"Al? Aku tidak kuat berdiri terlalu lama. Tolong, ya, Sayang. Buka pintunya."
Reyhan masih menunggu didepan pintu dengan kaki yang sudah bergetar. Menahan bobot tubuhnya yang semakin kurus.
"Kamu tidak kasihan padaku, Al?" tanya Reyhan lirih. Dan ia terjatuh karena sudah benar-benar tak kuat berdiri.
Reyhan masih tak menyerah. Ia terus mengetuk pintu kamar seraya memanggil istrinya.
"Al?"
Telinga Reyhan menangkah suara derap kaki semakin mendekat. Dan pintu berdecit. Terbuka dengan pelan.
"Sayang," panggil Reyhan dengan kepala yang ia dongakkan. Senyumnya mengembang.
Nadhira terkaget. "Astaga! Kakak kenapa duduk didepan pintu seperti ini ? Bangunlah!"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin duduk saja," ucap Reyhan berdusta seraya berusaha berdiri.
Ia menatap suaminya dengan tatapan penuh selidik. "Jangan-jangan tadi kakak terjatuh. Bukan sengaja duduk disini. Iya, 'kan ?" tanyanya penuh rasa curiga.
Dengan cepat Reyhan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak! Aku tidak terjatuh. Aku memang sengaja duduk disini. Menunggumu membukakan pintu untukku."
"Terserah kau saja, Tuan Oktara," pasrahnya dengan mengibaskan tangan ke udara. "Mari ku bantu ke tempat tidur."
Tiba-tiba Reyhan tertawa kecil.
"Kenapa tertawa ? 'Kan tidak ada yang lucu sama sekali. Dasar aneh."
"Aku seperti manusia tua renta saja dibantu berjalan seperti ini, Al."
Tatapan bingungnya terlempar pada manusia di sampingnya. "Maksud kakak apa ?"
"Harusnya aku yang mengurusimu saat hamil muda seperti ini. Tapi, justru sebaliknya. Aku hanya bisa merepotkanmu saja."
Ia membuang napas dengan keras. "Huh! Kalimat macam apa yang tadi ku dengar," kesalnya dan beranjak dari pinggiran tempat tidur.
Langkahnya terhenti tatkala tangan Reyhan menariknya pelan. "Hei! Mau kemana ?"
"Menyelesaikan tugas-tugas yang sempat ku lupakan. Agar aku dengan segera menyusul Farhan. Aku iri padanya," ucapnya jujur.
"Ambillah laptop, buku dan segala keperluan yang kamu butuhkan. Selesaikan tugasmu disini. Seraya menemaniku."
"Kau begitu manja, Reyhan Akbar Oktara," cicitnya dan beranjak menuju meja yang selalu ia gunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang berkaitan dengan tulisan.
__ADS_1
"Manja pada istri sendiri itu tidak salah, Al. Lagipula, jarang sekali kita bisa menikmati waktu berdua. Aku yang kerja di kantor. Jikapun libur. Latisha yang selalu mengganggu kita. Iya, 'kan?" jelas Reyhan mencari pembenaran.
"Iya, Tuan," balasnya tanpa ingin mendebat lagi suaminya.
Ia meletakkan laptopnya di samping Reyhan. Kemudian, mendaratkan tubuhnya disana. "Sayang," panggilnya manja. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Reyhan.
Reyhan menyipitkan matanya. "Aku tahu. Pasti ada yang kamu inginkan dariku. Iya, 'kan?"
Ia tersenyum lebar. Menampilkan gigi gingsul yang menambah aura kecantikannya.
"Istri cantikku mau apa ? Katakanlah!" Reyhan membelai lembut rambut panjang nan hitam milik istrinya.
"Bantu aku mengerjakan tugasku, ya."
"Tentu saja."
Senyumnya semakin melebar. Ia mencium kedua pipi Reyhan bergantian.
Laptop dan buku-buku yang ia letakkan sembarang diatas tempat tidur di ambilnya. Membuka dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
Reyhan memutar tubuh Nadhira hingga membelakanginya.
"Kenapa ? Jangan menggangguku," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Aku tidak mengganggumu. Aku hanya ingin memeluk istri cantikku."
Sebentar saja ia menoleh ke belakang. Melempar senyum manisnya pada Reyhan. "Tentu saja. Aku juga menyukai pelukan suamiku," ucapnya dengan nada menggoda.
Deru napas teratur milik Reyhan begitu jelas terasa. "Ingat! Kakak boleh memelukku. Tetapi, tidak boleh menggangguku."
"Iya, Sayang. Aku paham maksudmu."
Tangan kecilnya dengan gesit menari-nari diatas benda berbentuk segiempat itu. Dengan layar yang menampilkan sederetan huruf dan beberapa tabel.
"Apa yang aku bisa lakukan untuk membantumu, Al?"
"Jangan lakukan apapun. Cukup dengan memelukku seperti ini saja sudah sangat membantuku. Semangatku seperti api yang tengah berkobar," ucapnya dengan bangga.
Reyhan terkekeh di buatnya. "Jangan memaksakan diri. Kamu juga harus ingat, bahwa kamu harus menjaga kesehatan dan kandunganmu."
Ia mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.
Dering ponsel yang ia letakkan di sampingnya mengalihkan fokusnya. Ia menatap layar ponselnya dan melihat nama kontak yang terpampang jelas disana. Tatapannya berbinar tatkala nama yang ia tangkap adalah nama seseorang yang begitu ia rindukan.
"Bunda," ucapnya bersamaan dengan Reyhan.
Nadhira menscroll layar ponselnya dan menerima panggilan Bunda.
"Assalamu'alaikum, anak gadis Bunda."
Senyumnya merekah. "Wa'alaikumussalam, Bunda."
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Nak ? Kenapa tidak pernah berkunjung ke rumah. Apakah kamu tidak merindukan Bunda ?"
"Tentu saja adik begitu merindukan Bunda. Bahkan, pagi tadi adik dan Kak Reyhan sudah punya rencana akan kesana. Tetapi..." Nadhira menggantung kalimatnya. Ia menatap Reyhan dengan tatapan penuh tanya.
"Tetapi, apa, Sayang ? Kamu baik-baik saja, 'kan ?"
"Tetapi, Nadhira pingsan, Bunda," ucap Reyhan jujur dan mendapat tatapan tajam Nadhira.
"Hah ? bagaimana bisa, Reyhan?"
"Bunda. Bunda jangan panik dulu, ya. Adik baik-baik saja. Sungguh," ucapnya meyakinkan Bunda.
"Tetapi, Reyhan bilang kamu pingsan, Dik."
"Iya, Bunda. Adik memang pingsan. Tetapi, kata dokter adik hanya terlalu banyak pikiran. Dan adik juga sedang mengandung cucu Ayah dan Bunda."
"Alhamdulillah."
Terdengar jelas kepanikan yang tadinya tercipta berubah seketika menjadi kebahagiaan yang tiada tara. Nadhira pun tak kuasa untuk tidak tersenyum mendengar ucapan syukur dari Bundanya.
"Biarlah Bunda yang akan mengunjungimu kesana. Ingat! Kamu harus menjaga betul kandunganmu."
"Iya, Bunda. Bunda tenang saja. 'Kan ada suami adik yang selalu setia menjaga. Bahkan, Kak Reyhan mulai bermalas-malasan pergi ke kantor. Alasannya untuk menjaga adik semata."
Terdengar lagi Bunda tertawa. "Suami harus begitu, Nak. Siap dan siaga menjaga istrinya."
"Tentu, Bunda. Reyhan akan selalu menjaga nak gadis Bunda yang manja ini," ucap Reyhan dengan menuangkan candaan di setiap kata yang ia lontarkan.
"Iya, Nak. Bunda tutup dulu sambungan teleponnya, ya. Bunda mau bantu Bi Lastri dulu di dapur."
"Iya, Bunda."
Sambungan telepon terputus. Nadhira kembali menatap Reyhan dengan tatapannya yang tajam.
"Kenapa lagi, Al ?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Reyhan. Nadhira malah melempar pertanyaan balik pada suaminya. "Kenapa kakak cerita pada Bunda bahwa aku pingsan ?" Tangannya terlipat didepan dada.
"Aku 'kan berkata yang sejujurnya, Al. Tidak mungkin aku akan membohongi Bunda."
"Terserah kakak saja. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku."
Reyhan terkekeh melihat Nadhira yang sudah mulai berada pada suasana hati yang buruk. Kebiasaan yang sering dilakukan jika sudah kalah berdebat. Atau saat keinginannya tak dipenuhi oleh Reyhan.
"Jangan cemberut seperti itu. Nanti cantiknya hilang."
"Terserah!"
Reyhan tak kuasa menahan kegemasannya pada Nadhira. Ia menarik tubuh istrinya hingga terbaring. Menelisik setiap inci wajah Nadhira yang putih mulus. Mendaratkan ciuman pada keningnya. Dan...
Entah apa yang terjadi setelahnya.
__ADS_1