
"Reyhan!" teriak Nadhira murka. Tatapannya tajam. Bak tatapan Si Raja Hutan yang siap menerkam mangsanya.
"Ada apa, Al ? Kenapa berteriak seperti itu sih ?" tanya Reyhan dengan ekspresi biasa saja.
Tangannya ia lipat didepan dada. Sedangkan netranya ia gunakan untuk menunjuk pakaian kerja Reyhan yang berserakan diatas tempat tidur.
Reyhan melempar tatap ke arah yang sama. Dan cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Kakak bukan anak kecil lagi, ya. Pulang kerja lepas pakaian dan menaruhnya sembarangan seperti itu. Sejak kapan kebiasaan buruk seperti itu kakak pelihara? Hmmm?"
"Iya, Sayang. Aku minta maaf. Lagipula, baru kali ini aku seperti itu, 'kan?"
"Terserah kau saja, Reyhan Akbar Oktara." Nadhira melangkahkan kakinya menuju tempat tidur yang begitu berantakan akibat ulah Reyhan. Dengan mulut yang berkomat-kamit seperti dukun ia membersihkannya.
"Aku sudah membuatkan teh hangat untukmu diatas meja. Tapi, kakak bersihkan diri dulu."
"Baiklah, Nyonya Oktara."
Nadhira menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa Reyhan begitu bertingkah aneh. Kekanakkan dan selalu membuatnya kesal.
Setelah merapikan kamar dan tempat tidur. Nadhira duduk didepan meja riasnya. Menatap pantulan bayangannya dengan tubuh yang kian hari semakin gemuk. Perut yang sudah mulai tampak membuatnya tak bisa untuk tidak tersenyum.
Tangannya dengan lembut mengelus perut buncitnya. "Sehat-sehat dalam kandungan Mama sampai hari itu tiba, ya, Nak," ucapnya mengajak bayi yang tengah di kandungnya berbicara.
"Dan jangan merepotkan Mama," lanjut Reyhan seraya memeluknya dari belakang.
"Tumben sekali mandinya cepat. Biasanya memakan waktu berjam-jam," sindir Nadhira pada Reyhan.
"Aku hanya ingin cepat-cepat memeluk istri cantikku dan berbicang dengan anakku."
Nadhira dengan lembut mengelus pipi Reyhan. Ia melepas tangan Reyhan yang melingkar memeluknya. Membalik badan dan menatap suaminya lekat.
"Aku juga sudah sangat merindukan suami tampanku ini. Seharian di tinggal kerja membuatku harus memaksamu untuk menemaniku hingga aku terlelap."
"Iya, Sayang. Aku akan menemanimu."
Reyhan menuntun tubuh Nadhira menuju tempat tidur. Membaringkannya disana. Kemudian, Reyhan sendiri hanya duduk manis di pinggiran tempat tidur.
"Kamu tidurlah di pangkuanku, Al."
Tanpa menunggu lama. Nadhira dengan cepat meletakkan kepalanya diatas pangkuan Reyhan. Tatapannya berhasil menembus netra hitam pekat lelaki dua puluh enam tahun di hadapannya itu. Bibirnya melengkung membentuk bulan sabit.
"Kenapa tersenyum seperti itu? Jangan bilang kamu menginginkan sesuatu lagi dariku," ucap Reyhan dengan tatapan selidik.
Nadhira tiba-tiba tertawa lebar. "Kamu begitu hebat, Tuan Oktara. Selalu bisa membaca gerak tubuhku."
Reyhan mencubit hidung minimalis milik Nadhira. "Oh tentu. Aku 'kan suami yang selalu memahami maksud dan tujuan istrinya," balas Reyhan bangga.
Ia terkekeh mendengar ucapan suaminya itu.
__ADS_1
"Ke bawah, yuk, Al!"
"Ke bawah ? Untuk apa ?"
"Ke dapur. Aku akan membuatkan sesuatu untukmu."
"Wah... Benarkah?" tanya Nadhira dengan senyum sumringah. Ia dengan segera mengubah posisinya menjadi duduk bersila menghadap Reyhan.
"Istriku ingin di masakkan makanan apa?"
"Aku ingin nasi goreng."
Mata Reyhan membulat sempurna. "Hah? Nasi Goreng? Bukankah tadi kamu sudah makan malam, Sayang?"
"Ini bukan keinginanku, Kak. Ini keinginan anakmu. Bagaimana?"
Reyhan menghela napas panjang. "Baiklah," pasrahnya.
"Reyhan!" Tiba-tiba suara Papa menyita perhatian keduanya. Diambang pintu Papa berdiri dengan gagah.
"Maaf. Papa lupa mengetuk pintu terlebih dulu. Kalian tidak sedang membuatkan cucu untuk Papa, 'kan?" goda Papa.
"Cucu Papa sudah jadi. Bagaimana ceritanya Reyhan membuatkan cucu lagi?"
Nadhira hanya tertawa mendengar percakapan dua lelaki itu.
"Hanya ditengok saja, Kak?" Papa memainkan alisnya.
Gelak tawa Papa mengudara. "Baiklah. Papa hanya ingin meminta tolong. Bantu Papa menyelesaikan pekerjaan untuk perusahaan cabang."
"Iya, Pa. Tapi, menantu kesayangan Papa ini lagi ngidam nasi goreng buatan Reyhan."
"Oh begitu?"
"Nanti Reyhan akan menyusul Papa ke ruang kerja setelah membuatkan Aleeana nasi goreng."
Papa mengangguk dan menutup pintu kamar kedua pasangan suami istri itu.
"Biar aku buat nasi goreng sendiri saja, Kak. Kakak segeralah susul Papa ke ruang kerjanya."
Reyhan menggeleng. "Tidak, Sayang. Aku akan membuatkanmu dulu. Barulah ku menyusul Papa. Lagipula, aku sudah memberitahu Papa sebelumnya."
"Baiklah. Ayo turun!"
...***...
"Bagaimana nasi goreng buatanku? Enak, tidak?"
"Tentu saja enak. 'Kan dibuatnya dengan cinta," ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari nasi goreng buatan Reyhan yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Kamu, ya. Selalu saja memujiku dengan kalimat-kalimat yang membuatku serasa ingin terbang dalam sekejap."
Nadhira tertawa dengan mulut yang dipenuhi makanan. "Kakak tidak mau mencicipi masakan sendiri?"
"Tidak! Aku membuatnya untukmu dan anak kita," jawab Reyhan tersenyum.
"Tetapi, jika kamu berkenan berbagi denganku. Kenapa tidak?" lanjutnya diiringi gelak tawa.
"Tentu saja aku mau berbagi denganmu. Tapi, ingatlah! Bukankah di dunia tidak ada yang gratis, Tuan Oktara?" ucapnya dengan senyum jail.
"Lalu?"
"Ada syarat yang harus kakak penuhi dulu."
"Apa?" tanya Reyhan dengan tatapan curiga.
Nadhira mendekatkan wajahnya di telinga Reyhan dan berbisik. "Kakak harus mencium kedua pipiku secara bergantian. Setelah itu, aku akan menyuapi nasi goreng ini untukmu."
Reyhan tersenyum girang. "Dengan senang hati, Sayangku. Jika syaratnya seperti itu. Tentu saja aku akan melakukannya meskipun berulang kali."
Tatapannya tajam ke arah Reyhan. "Aku tidak ingin kakak menang banyak."
Gelak tawa Reyhan sungguh tak terkontrol. Tawanya mengudara dan mengisi ruang makan. "Jadi, bagaimana? Kapan aku akan melakukan syarat yang kamu sebutkan tadi?" tanya Reyhan tak sabar.
"Sekarang."
Tidak menunggu waktu lama. Reyhan langsung mendaratkan bibirnya yang tak pernah menyentuh barang bernama rokok itu pada kedua pipi Nadhira. "Apakah kamu masih mau lagi, Sayang?" tanya Reyhan menggoda.
"Cukup. Sekarang buka mulutmu dan aku akan menyuapimu."
Nadhira dengan teliti menyuapi suaminya nasi goreng yang ia idamkan. "Setelah ini lekaslah menyusul Papa. Agar pekerjaannya segera terselesaikan. Dan kakak akan tidur lebih awal."
"Iya, Sayang. Terimakasih sudah memperhatikan lelaki yang jauh dari kata sempurna ini."
"Sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri, bukan? Jadi, kakak tidak perlu mengucapkan terimakasih seperti itu padaku."
Reyhan memeluk Nadhira dengan erat dan mencium puncak kepalanya. "Bersyukur bisa menjadi suamimu, Al."
Nadhira tersenyum.
"Baiklah. Aku akan menemui Papa dulu di ruang kerjanya. Setelah kamu menghabiskan makananmu. Kembali saja ke kamar. Jangan menungguku disini."
Ia mengangguk dan menatap punggung Reyhan yang kian menjauh.
"Al!" panggil Reyhan dari arah tangga.
"Aku sudah membuatkan susu untukmu. Jangan luapa diminum," lanjut Reyhan dengan suara setengah berteriak.
"Iya. Kakak tenang saja. Aku tidak akan lupa," balasnya dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Reyhan membalas senyuman istrinya itu dengan senyum yang tak kalah manisnya. Kemudian, melanjutkan langkah meniti tangga satu per satu menuju ruang kerja Papa.
Sedangkan, Nadhira kembali lagi melanjutkan aktivitasnya menghabiskan nasingoreng spesial buatan Reyhan.