
Decit suara pintu terdengar terbuka. Menampilkan seorang gadis dengan rambut panjang tergerai dan perut membuncit. Di pipinya masih jelas tercetak sisa-sisa jejak air mata yang tumpah tanpa ampun. Wajahnya tertunduk menatap lelaki yang tengah duduk bersandar pada pembatas tangga dengan wajah tertunduk pula, peluh yang bersimbah membasahi sebagian kaos yang membungkus tubuhnya.
"Kak," panggil gadis itu lirih.
Lelaki yang dipanggilnya tak bergerak. Nadhira takut. Ia sontak duduk di hadapan Reyhan.
"Kakak," panggil gadis itu lagi. Ia meletakkan punggung tangannya pada kening Reyhan. Seketika tangannya basah oleh peluh yang mengucuri tubuh suaminya itu.
Reyhan masih bergeming. Lelaki itu sudah tertidur dengan posisi duduk bersandar.
"Kak, tidurlah di kamar. Jangan disini. Tidak baik untuk kesehatan kakak," ucap gadis itu seraya mengguncang tubuh Reyhan hingga tubuh itu perlahan bergerak.
Masih dengan tatapan samar Reyhan menatap gadis yang duduk di hadapannya itu. "Al, kamu baik-baik saja?" tanya Reyhan dengan rasa khawatir yang terdengar jelas dari nada suaranya.
Nadhira menatap Reyhan bingung. "Memangnya kau kenapa, Kak? Aku tentu baik-baik saja."
"Syukurlah. Aku takut terjadi apa-apa denganmu. Juga pada kandunganmu."
"Harusnya aku yang bertanya padamu, Kak. Apakah kakak baik-baik saja?"
Reyhan tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Sayang."
"Jika kakak mengantuk. Ayo tidur dikamar. Jangan disini."
"Bagaimana bisa aku masuk ke kamar sedangkan kamu mengunci pintu dari dalam, Sayang?"
Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. "Maaf," cicitnya kemudian.
Reyhan membelai rambut yang tergerai itu penuh sayang. "Jangan ngambek lagi, ya, Al. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika kamu seperti itu lagi."
"Iya. Maafkan aku. Tetapi, sekarang ayo bangunlah. Kita istirahat didalam."
Nadhira dengan segera berdiri. Berbeda dengan Reyhan. Lelaki itu dengan penuh susah payah dan usaha mati-matian untuk bisa berditi tegak. Tangannya berpegangan dengan kuat pada pembatas tangga.
"Aku bantu, ya, Kak," ucap Nadhira menawarkan diri.
Reyhan menggeleng. " Tidak perlu, Al. Aku bisa sendiri."
"Tapi,..."
"Percayalah, Al," ucap Reyhan meyakinkan.
Dengan sangat terpaksa Nadhira membiarkan Reyhan berusaha sendiri. "Baiklah," pasrah gadis itu. Ia menatap suaminya kasihan. Sesekali ikut meringis hingga tubuh Reyhan benar-benar berdiri tegak dan sempurna.
"Huh!" Reyhan menghela napas panjang. "Masuklah lebih dulu, Al. Aku akan menyusulmu segera," titah Reyhan pada istrinya.
__ADS_1
"Lho, kenapa? Kakak mau kemana lagi?" tanya Nadhira dengan sejuta kebingungannya.
Lelaki bertubuh tinggi itu hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari gadis polos di hadapannya itu. "Tidak pergi kemana-mana, Sayangku. Tetapi, aku 'kan jalan pelan sekali dengan kondisi seperti ini. Sebab itulah, aku memintamu lebih dulu."
Entah kenapa hati gadis itu terasa ngilu mendengar ucapan suaminya. Tanpa menunggu apapun ia menghambur memeluk Reyhan dengan erat. Bersyukur saja Reyhan masih bisa menyeimbangkan diri hingga tak terjatuh.
"Kakak kuat. Aku yakin," bisiknya dengan isakan kuat dan tubuh bergetar hebat.
"Lho, Sayang. Kenapa menangis?" Reyhan mengusap lembut pundak Nadhira. Berusaha menenangkan istri kecilnya itu.
Kepala gadis itu menggeleng kuat. Pelukannya semakin erat. Hingga berhasil membuat suaminya susah bernapas.
Namun, hal itu tentu saja tak akan membuat Reyhan meminta istrinya untuk melonggarkan pelukannya. Sebab, disana ia temukan kenyamanan seperti apa yang dirasakan Nadhira.
"Sudah, ya, Sayang. Jangan menangis lagi. Kasihan si kecil nanti ikut bersedih melihat Mamanya menangis seperti itu," bujuk Reyhan.
Mendengar Reyhan mengucap kata si kecil membuat ia menghentikan tangisnya dalam sekejap. Ia melonggarkan pelukannya. Namun, tak sepenuhnya terlepas. Ia masih ingin menikmati setiap detik kenyamanan dari tubuh Reyhan yang masih bersimbah peluh.
"Si kecil bahkan lebih sedih lagi melihat papanya psimis," sindirnya.
"Al," panggil Reyhan lirih.
"Hmmm."
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Sekarang ayo ke kamar. Kita istirahat. Ini sudah larut. Tidak baik untukmu begadang terus menerus."
Reyhan melepas pelukan Nadhira dari tubuhnya. Ia memegang erat pundak istrinya itu. "Jangan bersedih lagi, ya, Sayang. Nanti cantiknya hilang," goda Reyhan dan menghapus sisa air mata yang masih bisa lolos dari kelopak mata Nadhira yang indah.
Dengan pelan sekali Reyhan melangkah. Tentu saja dengan berpegangan pada gadis bertubuh kecil di sampingnya.
"Hati-hati," ucap Nadhira. Gadis itu kembali meringis melihat suaminya yang kini semakin tak baik-baik saja.
Nadhira sedikit tersentak tatkala gerakan di perutnya begitu kuat dan jelas terasa. "Astaga!" ucapnya seraya mengelus dadanya pelan.
Reyhan sontak saja menoleh ke arah istrinya. "Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Reyhan khawatir.
Gadis itu tersenyum manis. "Anakmu mengagetkanku, Kak. Tapi, aku menyukai setiap pergerakannya."
"Astaga, Al. Ku pikir kenapa, Sayang. Akunjuga ikut kaget kamu buat."
Nadhira membantu Reyhan duduk dan bersandar diatas tempat tidur. Kaki suaminya ia selonjorkan hingga Reyhan merasa nyaman dengan posisinya.
"Kakak ganti baju dulu, ya. Kaos yang kakak kenakan sudah basah dengan keringat. Padahal, setahuku kakak tidak melakukan aktivitas berat. Iya, 'kan?"
__ADS_1
Reyhan mengangguk. Ia tak berani menceritakan betapa tadi ia berusaha dengan sekuat tenaga menahan sakit di dadanya. Hingga lelaki itu tertidur tanpa sadar dengan posisi duduk di depan pintu kamar.
"Atau kakak sakit?" Gadis itu kembali meletakkan punggung tangannya pada kening Reyhan yang masih basah.
Dengan cepat tangan Reyhan menarik tangan Nadhira. Kemudian, mengecupnya dengan mesra. "Sudahlah, Al. Aku tidak apa-apa," ucap Reyhan dengan senyum mengembang.
Nadhira menatap Reyhan dengan intens. Tetapi, tatapannya tampak sayu, tatapannya begitu menyedihkan.
"Jangan menatapku seperti itu, Al. Aku tahu aku begitu menyedihkan sekarang," kata Reyhan dengan nada datar. Sama seperti Nadhira, lelaki dua puluh enam tahun itu akhir-akhir ini lebih emosional dari biasanya.
"Kamu tidur saja lebih dulu. Aku akan mengganti pakaian." Reyhan berusaha bangkit dari tempat tidur. Tentu saja dengan usaha yang kuat.
Nadhira menarik tangan Reyhan dengan pelan. "Kak, sudahlah. Biar aku yang ambilkan bajumu. Kakak diam saja di tempat tidur."
"Aku bisa melakukannya sendiri, Al. Tolong percayalah padaku."
Gadis itu menggeram dalam hati. Amarah kembali tersulut. "Siapa yang tidak mempercayaimu? Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa denganmu!" bentaknya keras.
"Sungguh, aku tidak apa-apa, Al. Aku baik-baik saja. Aku kuat," balas Reyhan dengan senyum yang dipaksakan seraya melepas pegangan Nadhira di tangannya.
Dengan rasa terpaksa Nadhira membiarkan suami keras kepalanya itu. Ia menatap Reyhan berjalan dengan langkah tertatih. Entah kali ke berapa sudah gadis itu merasakan ngilu dalam hatinya. Sesak ia melihat kondisi suaminya.
Tak kuasa melihat Reyhan. Gadis itu berlari kecil dan memeluk tubuh suaminya dari belakang. Erat sekali seraya membisikkan kalimat pada Reyhan. "Jangan memaksakan diri. Jika aku bisa, kenapa harus melakukannya sendiri? Aku istrimu dan aku akan melakukan apapun yang tidak kakak bisa lakukan. Tolong izinkan aku."
Reyhan terdiam. Bungkam tak mengucap sepetah kata pun.
"Aku tidak pernah mengasihanimu. Aku tahu kakak kuat, kakak mampu. Namun, dalam kondisi seperti ini. Biarkan aku mengabdikan diri sebagaimana seorang istri yang sesungguhnya," ucap Nadhira dengan suara bergetar.
"Aku begitu takut terjadi sesuatu padamu."
"Bahkan, aku lebih takut jika sesuatu terjadi padamu dan kandunganmu hanya karena mengurusi manusia penyakitan ini, Al."
Reyhan merasakan gelengan kuat pada punggungnya.
"Tidak. Aku dan anak kita pasti baik-baik saja. Jangan khawatir. Anak kita pun kuat. Jadi, ku pastikan ia senang membantuku untuk mengurusi Papanya." Tepat saat kalimatnya terhenti. Terasa jelas gerakan manusia kecil didalam rahimnya itu. Tak urung membuat Nadhira tersenyum lebar disela derai yang semakin deras.
Reyhan dengan segera berbalik. Kemudian, duduk perlahan. Ia menempelkan telinganya di perut Nadhira. "Kenapa, Nak? Mama cengeng, ya, Sayang," ucapnya berbicara dengan manusia yang kehadirannya sangat dinanti-nantikan itu.
Nadhira hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Ia mengelus lembut rambut Reyhan.
"Katakan pada Mama, bahwa Papa adalah lelaki kuat yang akan menjaga kalian. Dan katakan pada Mama, jangan cengeng. Malu sama adik, ya, Sayang."
Reyhan mendongakkan kepalanya menatap manik hitam itu. "Jangan nangis lagi. Malu sama si kecil, Al," ucap Reyhan menggoda Nadhira. Ia bangkit kemudian memeluk istrinya erat.
"Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir."
__ADS_1