
Saat matanya terbuka. Ia lihat suaminya tengah duduk dan melempar senyum manis padanya. Dengan setelan jas hitam. Reyhan tampak sudan rapi.
"Selamat pagi, istriku," sapa Reyhan masih dengan suara yang terdengar lemah.
"Pagi-pagi sudah serapi ini. Kakak mau kemana ?"
"Kamu lupa, Sayang ? Aku 'kan seorang CEO. Jelas aku akan pergi ke kantor."
Ia bangkit. "Kakak masih belum sembuh total. Kenapa tidak istirahat saja di rumah ?"
Reyhan membelai lembut rambutnya yang belum tersisir. "Sayang? Jika menunggu hingga aku sembuh total. Aku tidak akan pernah bisa pergi ke kantor atau kemanapun juga. Karena, sembuh total sangatlah tidak mungkin," ucapnya psimis.
Tatapannya sayu dan sendu. "Tapi, aku percaya bahwa kakak akan sembuh. Aku yakin," balasnya dengan menggenggam tangan Reyhan.
"Ini masih terlalu pagi. Jangan bersedih seperti itu, Al. Aku tidak menyukainya."
Reyhan menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Menabrakkan manik hitam dengan netra indahnya. "Percayalah! Aku akan selalu baik-baik saja untukmu. Untuk anak kita," lanjut Reyhan dengan sebelah tangan yang sudah dipindahkan ke atas perutnya.
Ia tersenyum meski tatapannya masih tampak sendu. Ulu hatinya terasa ngilu melihat wajah dengan rahang tegas itu kini terlihat sayu, kurus dan lemah.
"Aku ingin ke rumah Bunda. Aku ingin memberitahukan berita bahagia tentang kehamilanku ini padanya."
"Iya, Sayang. Aku akan mengantarmu ke rumah Bunda."
Ia menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak mengizinkan kakak menyetir mobil sendiri."
Reyhan tergelak. "Yang bilang aku menyetir sendiri juga siapa, Sayang ? Memangnya suamimu yang penyakitan ini bisa ? Tentu saja tidak. Berdiri saja masih harus dibantu."
"Jangan berkata seperti itu lagi, Kak. Aku tidak suka."
"Iya. Sekarang kamu mandi. Aku akan menunggumu dan kita berangkat bersama."
"Siap, Papa," jawabnya dengan riang.
......***......
"Sudah selesai mandi, Sayang ?" tanya Reyhan dengan napas yang tidak teratur. Persis seperti orang yang tengah kelelahan selepas berlari dalam jarak panjang.
"Baru saja selesai," jawabnya. Ia beranjak dari pintu kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil ditangan. Mendekati Reyhan yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur dan berusaha menormalkan napasnya.
"Aku sudah buatkan sarapan untukmu." Reyhan melirik nampan yang sudah berisi semangkuk sereal, potongan buah dan susu ibu hamil diatas meja.
"Lho ? Ini kakak yang buat sendiri untukku ?"
__ADS_1
Reyhan mengangguk menimpali pertanyaannya. "Untuk kamu dan anak kita. Karena, kalian berdua butuh asupan makanan yang bergizi."
"Tak hanya kami yang butuh itu. Tapi, kakak juga. Dan sekarang kita sarapan bersama, ya."
Ia duduk disamping Reyhan. "Lho kakak kenapa ?"
"Memangnya aku kenapa, Al ?" tanya Reyhan bingung.
"Kenapa napasnya tidak teratur seperti itu ?"
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya kecapekan turun naik tangga. Pertanyaanmu itu seperti tidak paham keadaanku saja, Al," jawab Reyhan dengan tawa miris.
Tanpa permisi ia menarik tubuh Reyhan. Memeluknya erat. Menikmati aroma tubuh yang kemarin sempat tak ia sukai itu. Pada lekuk leher Reyhan ia tenggelamkan wajahnya yang masih menyisakan tetesan air dari rambutnya yang basah.
"Jangan pernah berkata psimis di hadapanku. Aku sungguh tak menyukainya," bisiknya dengan nada manja tepat di telinga Reyhan. Deru napasnya yang teratur sangat terasa menyentuh kulit suaminya.
"Aku sudah bermetamorfosa menjadi lelaki tak berguna tersebab penyakit ini."
"Stttt!" Ia meletakkan jari telunjuknya pada bibir Reyhan yang merah dan tak pernah tersentuh rokok.
"Kau tetaplah lelaki terhebat untukku. Lelaki yang dengan tegas dan tanpa ragu memintaku pada orang tuaku. Dan sekarang menjadi lelaki yang bertanggungjawab atas hidupku. Aku bangga padamu," ucapnya tulus dan mendaratkan kecupan pada kening suaminya.
"Sekarang kita sarapan dulu, ya. Si adik di perutku sudah memberontak meminta jatah paginya," lanjutnya dengan menyematkan kalimat candaan. Mencairkan atmosfer kamar yang sudah berubah.
"Biar aku yang akan menyuapimu, Sayang. Izinkan aku menjadi suami yang berguna meskipun dengan hal sesederhana ini."
Sedikit demi sedikit makanan yang Reyhan suapi ia lahap. "Sekarang giliran kakak. Setelah ini minum obat, ya."
Reyhan membuang napas dengan keras. Terlihat pancaran keengganan dari wajah Reyhan. "Nanti siang saja aku minum obat, Al."
"Kakak harus minum obat tepat waktu!" tegasnya.
"Tapi, Al..."
"Tidak, Kak! Tidak!" Kali ini bentakannya semakin membuat Reyhan bingung.
Tangisnya pecah. "Aku tak ingin kakak sakit lagi. Aku tidak sanggup. Tolong pahamlah," teriaknya bersama derai air mata yang semakin deras.
"Sayang sudah. Jangan menangis seperti itu."
"Kumohon jangan seperti ini. Jika kakak sakit, siapa yang akan menjagaku ? Siapa yang akan membantuku menemani anak kita ? Siapa ?"
Merasa tak kuat. Ia tumbang begitu saja. Semua menggelap. Ia tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sayang! Kamu kenapa ? Sayang!" Reyhan panik bukan main melihatnya yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Mama!" teriak Reyhan. Sedangkan, tangannya terus mengguncang tubuh istrinya yang sudah lemah tak berdaya.
"Mama! Tolong Reyhan, Ma."
"Ada apa, Reyhan ?" tanya Mama dengan berjalan tergesa-gesa.
"Aleea pingsan, Ma."
"Kenapa bisa seperti ini, Nak ? Astaga! Apa yang dilakukan Nadhira tadi ?"
"Ma, hubungi Dokter dulu untuk melihat kondisi Aleea. Reyhan takut, Ma. Reyhan takut terjadi apa-apa padanya dan juga kandungannya."
"Tunggulah disini. Kamu tenang, ya, Nak. Jangan panik," nasihat Mama pada Reyhan. Meskipun jelas Mama juga sangat khawatir pada menantunya.
"Bangun, Sayang. Bangun." Tanpa sadar air mata Reyhan menetes begitu saja. Perasaannya yang menganggap dirinya tak berguna kian menyergapnya tanpa ampun.
"Aku benar-benar tak berguna menjadi suami," sesalnya.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi sehingga Nadhira pingsan seperti ini, Rey ?"
Reyhan menatap Mama dengan sendu. "Maafkan Reyhan, Ma. Ini semua gara-gara Reyhan. Reyhan tidak becus menjadi seorang suami," ucapnya dengan penuh rasa bersalah.
"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Nak."
"Ma, Reyhan lelah."
"Apa maksudmu, Rey ?"
"Reyhan dengan penyakit ini. Kenapa Reyhan tidak mati saja daripada hidup menjadi orang yang tak berguna. Menjadi orang yang selalu menyusahkan orang-orang yang Reyhan sayangi."
"Astagfirullah. Kenapa kamu seperti ini, Rey ? Sadar, Nak. Sadar."
Reyhan terisak dengan memeluk tubuh Nadhira yang masih belum sadarkan diri. "Maafkan aku, Al. Aku selalu menyakitimu. Selalu membuatmu merasa sedih."
Reyhan menghela napas. Berusaha menormalkan dadanya yang terasa tertekan. "Maafkan aku belum mampu menjadi suami yang baik untukmu, Sayang."
Mama tak kuasa melihat adegan yang dilakoni anak sulungnya itu. "Rey ?"
Tatapan Reyhan beralih pada Mama. "Maafkan Reyhan belum bisa membahagiakan Mama dan Papa. Bahkan, Reyhan lebih banyak menyusahkan kalian."
"Tidak, Rey. Tidak. Kamu tidak pernah menyusahkan Mama dan Papa. Kamu selalu membuat Mama bangga, Nak."
__ADS_1
Mama membelai lembut puncak kepala anak sulungnya. "Sudah, ya, Nak. Jangan berpikir seperti itu lagi. Sekarang fokus pada Nadhira dan kesehatanmu juga. Mama dan Papa akan berusaha mencari pendonor untukmu."
"Ma, terimakasih."