Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 45


__ADS_3

Gadis dengan jilbab abu tua itu menyapu setiap jengkal ruangan CEO dengan tatapannya setelah ditinggal sejam lebih oleh suaminya. Ia memperhatikan dengan seksama setiap benda yang ada di ruangan tersebut. Hingga tatapannya berhenti pada sebuah bingkai kecil disudut meja kerja Reyhan.


Ia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati bingkai tersebut. Menatap dengan lekat foto yang terpasang pada bingkai kecil itu. Ia tersenyum geli melihatnya.


“Ya Tuhan, Kak Reyhan. Bahkan, fotoku zaman dulu saja masih kau simpan dan kau pajang di sudut meja kerjamu,” cicit Nadhira pada diri sendiri.


Ia meletakkan kembali bingkai yang berisikan fotonya saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dulu. Foto dengan senyum lebar yang membingkai wajah polosnya kala itu.


Dengan lembut Nadhira mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran milik Reyhan. Ia menatap secara bergantian deretan bingkai yang ditata rapi di sudut meja kerja suaminya itu. Ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan saat netranya menangkap sebuah potret foto pernikahannya dengan Reyhan. Dengan gaun putih bersih yang membalut tubuhnya. Dan dengan senyum kebahagiaan yang terpancar diantara keduanya.


“Semoga setiap jejak yang kita tapaki selalu dalam lingkar ridha Allah dan diberkahi, ya, Kak,” ucapnya seolah Reyhan tengah berada di hadapannya.


Nadhira mencoba merapikan meja kerja suaminya. Menumpuk menjadi satu kertas-kertas yang masih berserakan.


Ia mendengar suara decit pintu ruangan yang terbuka. “Kakak sudah sele...?”Kalimatnya menggantung setelah yang ia dapati memasuki ruangan bukanlah suaminya. Melainkan seorang perempuan dengan tubuh jenjang nan seksi. Berbalut pakaian ketat dan rambut hitam bergelombang tak terikat. Serta wajah cantik dengan polesan make up tebalnya.


“Oh... maaf mengganggu pekerjaanmu. Aku pikir Reyhan sedang berada di ruangannya. Oleh sebab itu aku langsung masuk,” ucap perempuan itu santai dan duduk di sofa tanpa permisi.


“Mbak mencari Kak Reyhan ?” tanya Nadhira dengan sopan dan senyum mengembang di bibirnya.


“Iya. Lama sudah tak bersua dengannya. Dan itu menyebabkan aku merindukannya.”


Nadhira terdiam. Hatinya bergemuruh mendengar ucapan perempuan itu. Ia jua merasa bingung dengan sikap perempuan yang sama sekali tak ia kenali. Ia melihat tidak ada rasa canggung pada perempuan itu saat memasuki ruangan suaminya.


“Sepertinya dia memang sudah terbiasa berada disini,” pikirnya.


“Ambilkan minuman untukku, ya. Aku sudah mulai haus,” perintah perempuan yang belum Nadhira ketahui namanya itu.


“Hah ?” Nadhira sedikit merasa kaget mendengar perintah yang dilontarkan perempuan tersebut padanya.


“Kamu tidak mendengarku ? Aku baru saja memintamu untuk mengambilkan minuman.”


“Tapi, Mbak. Saya buk...”


Belum sempat Nadhira melanjutkan kalimatnya, perempuan dengan rambut bergelombang itu lebih dulu memotong ucapan Nadhira. “Kamu mau aku adukan pada Reyhan karena tak mengindahkan perintahku ?”


Nadhira membungkam. Ia tak tahu harus berkata apa untuk menjawab lagi ucapan perempuan tak dikenal itu selain dengan mengikuti titahnya. “Baiklah. Mbak mau saya buatkan minuman apa ?”


“Buatkan saja segelas jus jeruk untukku,” ucapnya tanpa menatap ke arah Nadhira. Ia hanya berfokus pada ponsel di genggamannya.


“Tapi, saya akan menyelesaikan pekerjaan saya terlebih dulu. Membereskan meja kerja Kak Reyhan yang sedikit berantakan. Setelahnya, saya akan pergi membuatkan minuman untuk Mbak.”


“Aku mau sekarang!” bentak perempuan itu dengan tatapan penuh amarah pada Nadhira.


Nadhira yang pasalnya tak terbiasa mendengar bentakan terlonjak kaget. Tangannya bergetar. Air matanya menggenang di kelopak mata karena ketakutan.


“Apa lagi yang kau tunggu ?”


Dengan langkah tertatih Nadhira melangkah ke arah pintu. Saat kaki membawanya melewati perempuan angkuh itu, saat itu pula air mata runtuh dari pertahanannya. Ia melangkah bersama air mata dan rasa takut yang menggerogoti dirinya.


“Jangan menangis, Nadhira. Jangan,” cicitnya dalam hati untuk menguatkan diri.


Ia berjalan dengan wajah tertunduk. Hingga tanpa sadar ia menabrak pas bungan di dekat pintu yang menyebabkan suara bising. Hal itu berhasil membuat perempuan itu menatapnya murka.


“Hei! Kalau berjalan lihatlah ke depan. Supaya kamu tak menabrak benda di hadapamu. Dasar karyawan tidak becus!” ucapnya dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


Nadhira hanya menunduk dengan tangis yang tak mampu dibendung mendengar bentakan demi bentakan dari perempuan asing itu. Telinganya terasa panas.


“Dasar karyawan cengeng! Dibentak sedikit saja sudah menangis seperti anak kecil.”


Tak tahan mendengar bentakan yang tak seharusnya. Nadhira bergegas melangkakah kakinya kembali. Baru dua langkah ia sudah menabrak sesuatu lagi. Oh... bukan benda. Tapi, seseorang.


“Ku bilang juga apa. Kamu menabrak orang lagi ‘kan sekarang,” teriaknya lagi.


Nadhira memberanikan diri mengangkat wajahnya. Berniat meminta maaf pada orang yang ditabraknya. Namun, yang ia temukan adalah wajah tegas suaminya.


“Sayang ?”panggil Reyhan. Ia kaget melihat istrinya sudah berlinang air mata.


“Hei! Kenapa kamu diam saja disitu ? Cepat ambilkan minuman sesuai yang dengan aku perintahkan tadi padamu,” perintah perempuan itu dengan angkuh di hadapan Reyhan.


Reyhan meraih tubuh Nadhira dan memeluknya erat. Ia merasakan tubuh kecil Nadhira bergetar kuat.


“Tasya!” bentak Reyhan dengan amarah yang sudah memuncak.


Iya. Perempuan seksi dengan rambut bergelombang itu adalah Tasya. Perempuan yang sempat dijodohkan dengan Reyhan oleh ayah Tasya. Namun, perjodohan tersebut di tolak mentah-mentah oleh Reyhan. Penolakan yang dilakukan Reyhan tak membuat Tasya gentar dan mundur untuk mengejar Reyhan.


“Lama tak bertemu, ya, Rey,”ucapnya dengan suara manja seraya mendekati Reyhan.


“Kenapa kamu memeluk karyawan tak becus itu ?” lanjut Tasya.


“Berani-beraninya kamu membentak istriku seperti itu! Kamu pikir kamu siapa ? Hah ?” teriak Reyhan.


Deg.


Jantung Tasya berhenti berdetak. Buminya berhenti berotasi. Langkahnya seketika ikut berhenti saat telinganya menangkap ucapan Reyhan.


“Iya. Dia istriku!” tegas Reyhan.


“Ha ha ha,” Tasya tertawa sumbang. “Jangan bercanda seperti itu, Rey. Lagipula, kau pikir aku akan secepat itu mempercayai ucapanmu ? Kamu berbicara seperti itu agar aku tak lagi menemui. Iya ‘kan ?”


“Oh... Sepertinya kamu bukti, ya, Tasya,” ucap Reyhan tersenyum sinis.


Reyhan berjalan dengan merangkul tubuh istrinya yang masih bergetar. Ia meraih sebuah bingkai kecil diatas meja yang berisi foto pernikahannya dengan Nadhira.


“Kamu bisa lihat ini, bukan ? Perhatikan sebaik mungkin. Siapa yang berada di foto ini ?”


Kali ini Tasya benar-benar bungkam. Ia tak tahu harus berkata apa-apa lagi. Otaknya bahkan lupa bagaimana caranya mengeja aksara.


“Bagaimana, Nona Zaveer ? Apakah Anda sudah percaya ?” Reyhan tersenyum mengejek.


“Atau Anda masih butuh bukti yang lain ?”


Tasya masih berdiam.


“Sekarang minta maaf pada istriku karena kamu telah memperlakukannya tidak layak!”


Tasya masih jua tak beregeming. Ia berdiri mematung. Entah apa yang sedang bergelayut dalam pikirannya.


“Cepat minta maaf, Tasya!” teriak Reyhan benar-benar penuh amarah.


Tasya menggeleng kuat. Ia sama sekali tak berniat meminta maaf pada Nadhira. Ia lebih memilih meraih tasnya dan melenggang pergi meninggalkan Reyhan dengan segala emosinya.

__ADS_1


“Tasya!” teriak Reyhan dengan sekencang-kencangnya. Emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun. Wajahnya memerah.


“Kak, sudahlah.” Nadhira berusaha menenangkan.


Namun, Reyhan masih belum terlepas dari emosinya. “Tasya!” tangannya mengepal hingga buku-buku jemarinya memutih.


“Sshh,” desisnya seraya menunduk memegangi dadanya.


“Kenapa, Sayang ?” tanya Nadhira dengan memposisikan diri sama dengan suaminya.


“Akhh.” Reyhan semakin mencengkram dadanya kuat.


“Kak! Kakak kenapa ? Cerita padaku,” Nadhira semakin terlihat panik.


“Ayo aku bantu duduk,” Nadhira membantu Reyhan menuju sofa.


“Al, dadaku sakit sekali. Akh...”Reyhan mengaduh kesakitan.


Nadhira menggigit bibr bawahnya melihat Reyhan yang nampak sangat kesakitan. Ia membawa tubuh kekar Reyhan yang sudah dibasahi peluh ke dalam pelukannya.


“Sayang, kenapa ?”tanya Nadhira lirih dengan air mata yang semakin deras.


Reyhan tak menjawab. Ia hanya merintih kesakitan. “Al, dadaku sakit.”


“Apakah kakak punya obat disini ?”


Reyhan menyahuti dengan anggukan.


“Dimana ? Dimana kakak meletakkan obatnya ?”


“Di.. laci.. me.. ja,” jawab Reyhan terbata-bata.


“Tunggu sebentar. Biar ku ambilkan dulu.”Nadhira menyandarkan tubuh suaminya pada sandaran sofa.


Nadhira dengan cepat mencari obat yag diletakkan di dalam laci. Ia membawanya dengan air putih.


“Kak ?”Sebentar Nadhira menatap botol kecil berisi obat-obatan itu.


Tangan Reyhan dengan cepat meraihnya dari tangan Nadhira. Mengambil dua butir dan meminumnya. Tanpa kata Nadhira memberikan segelas air putih yang sedang dibawanya pada Reyhan.


“Telepon Mama. Minta sopir untuk ke kantor menjemput kita. Sepertinya aku tidak kuat untuk menyetir mobil sendiri.”


Nadhira hanya mengikuti titah suaminya tanpa banyak kata. Otaknya masih berusaha mencerna dengan baik obat apa yang sudah di konsumsi suaminya itu.


“Al, tetap disampingku. Temani aku dengan segala kekuranganku. Jangan tinggalkan aku, Al. Aku mohon,” pinta Reyhan memelas di tengah rasa sakit yang mendera.


“Apa maksud kakak berbicara seperti itu ? Aku istrimu, Kak. Tentu saja aku tidak akan meninggalkan kakak dalam keadaan apapun.”


“Dadaku sakit, Al,”ucapnya lirih diiringi air mata yang luruh lantah dari kelopak matanya. Reyhan benar-benar nampak menyedihkan.


Nadhira dengan lembut mengusap air mata suaminya. “Sabar, ya, Sayang. Disini ada aku. Genggam erat tanganku. Salurkan rasa sakit yang kakak rasakan padaku,” ucapnya seraya membawa Reyhan ke dalam pelukannya.


“Aku tidak kuat lagi. Sakit, Al. Sakit,”rintih Reyhan.


Nadhira membelai lembut rambut suaminya yang sedikit basah. “Kakak kuat. Kakak pasti bisa.”

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Kak ?” tanya Nadhira dalam hati.


__ADS_2