Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 51


__ADS_3

“Sayang.”


Reyhan memeluk tubuh istrinya dari belakang yang sedang duduk memolesi wajahnya dengan alat make up sederhana didepan meja riasnya.


“Kak, pelukannya dilepaskan dulu. Aku tidak bisa menyelesaikan dandananku jika kakak memelukku seperti ini.”


Dengan terpaksa Reyhan melepas pelukannya dan duduk di pinggir tempat tidur. “Jadi, kamu harus pergi ke kampus sekarang, Al ?”tanya Reyhan dengan raut wajah yang sendu.


“Iya, Kak. Aku harus menyerahkan laporan yang sudah ku buat hari ini juga. Aku ingin segera menyelesaikan studiku agar aku bisa fokus mengurusi rumah dan suamiku. Jua anak-anakku kelak. Aku ingin menjadi istri seutuhnya.”


Reyhan tersenyum bangga.


Namun, sedetik kemudian senyumnya luntur dan kembali berubah sendu dan lesu. “Jika kamu ke kampus. Aku akan sendirian disini, Al.”


“Nanti ku panggilkan Latisha untuk menemani kakak. Lama tak bermain dengannya, bukan ?”


“Hah ?” Reyhan menatap Nadhira tak percaya.


“Kenapa ?” tanya gadis mungil itu dengan polos.


“Jangan mencandaiku seperti, Al.”


“Aku juga sedang tidak mencandaimu, Kak.”


Ia menatap suaminya yang masih setia duduk dipinggir tempat tidur dengan tatapan tanpa dosanya.


“Kakak masih ingat saat kakak meninggalkanku ke kamar Farhan kala itu ? Bukankah kakak memanggil Latisha untuk menemaniku sementara kakak tinggal ?”


“Iya. Aku ingat, Al. Kenapa ?”


“Aku hanya ingin memanggil Latisha untuk menemani kakak. Sama seperti aku waktu itu.”


Reyhan menatapnya kesal. “Kamu ingin membalas dendam pada suamimu, Aleea ?”


Alisnya terangkat sebelah.


“Al, aku bukan perempuan sepertimu ataupun Latisha. Aku laki-laki. Tidak mungkin bukan aku ikut bermain boneka bersama Latisha ? Memangnya aku paham ? Tidak ‘kan ?”


Ia menatap bingung suaminya. “Bukankah kakak sudah terbiasa menemani Latisha bermain ?”


“Iya sangat terbiasa,” jawab Reyhan ketus.


“Lalu, kenapa sekarang malah menolak ?”


“Maksudku, terbiasa mengganggunya bermain dan mencubit pipinya yang gembul itu. Aku gemas melihatnya.”


“Lalu, aku harus bagaimana sekarang ?”


Reyhan terdiam.


Setelah merasa rapi dengan gamis merah muda yang membungkus tubuhnya dan dipadukan dengan jilbab hijau tosca. Ia berjalan mendekati Reyhan yang masih setia menatapnya dengan tatapan sendu.


“Sayang, aku pergi hanya sebentar saja. Setelah urusanku selesai, akan ku pastikan untuk langsung pulang. Tidak mungkin aku berlama-lama meninggalkan suamiku sendirian. Lagipula, aku sudah tidak bisa jauh dari suamiku yang mulai manja ini.” Ia menyisir rambut Reyhan dengan jemarinya.


“Sementara kamu pergi. Aku harus apa, Al ? Laptopku bahkan sudah kamu simpan di lemarimu.”


“Kakak istirahat saja. Tubuh dan otak kakak butuh jeda dari segala bentuk pekerjaan.”

__ADS_1


Reyhan hanya menunduk.


Ia menangkup wajah suaminya dan membawanya dalam pelukan hangat.


“Sayang, bagaimana bisa aku pergi dan melaksanakan tugasku jika kakak berat untuk mengizinkanku ?”


“Al, memangnya kamu tidak bisa menunda menyerahkan laporannya ? Besok mungkin.”


“Tidak bisa, suamiku.”


“Sayaaang,” panggil Reyhan dengan manja dan mengeratkan pelukannya.


“Kenapa kakak tiba-tiba manja seperti ini ?”


“Entahlah, Al. Aku tidak ingin saja jauh-jauh darimu.”


“Pagi ini izinkan aku ke kampus. Menyelesaikan tugas-tugasku sebagai mahasiswa. Hingga nantinya aku juga akan dengan cepat menyelesaikan studiku.”


Reyhan melepas pelukannya dengan sangat terpaksa. Entah apa yang terlintas di pikirannya kali ini. Tiba-tiba saja ia tersenyum jail menatap wajah cantik istrinya.


Melihat tingkah suaminya yang menurutnya sedikit aneh dan tak biasa. Nadhira mengerutkan keningnya.


“Bagaimana jika aku ikut saja denganmu ke kampus, Al ? Aku ingin menemani istriku berjuang.”


“Hah ? Yang benar saja, Kak ?”


“Iya memang benar, Aleea. Aku akan menemanimu ke kampus. Boleh, ya, Sayang,” pintanya memelas.


“Tidak! Kakak tidak boleh ikut. Kakak harus istirahat. Lagipula, aku tak akan mengizinkan menyetir mobil setir untuk sementara waktu.”


“Lalu ?”


“Aku akan meminta Pak Amin untuk mengantarkan kita,” ucap Reyhan tersenyum lebar.


“Huh! Baiklah,” ucapnya pasrah.


Reyhan tertawa penuh kemenangan. Ia beranjak dari tempat tidur dan segera berganti pakaian.


“Gunakan pakaian biasa saja. Aku tidak mau jika harus melihat para mahasiswi melirikmu seperti melihat mangsa. Apalagi mendengar mereka memujimu di hadapanku, Reyhan Akbar Oktara.” Ia menatap suaminya tajam dan tangan disilangkan didepan dada.


Reyhan terkekeh mendengar ocehan istrinya itu. “Iya, Sayang.”


Reyhan membongkar isi lemarinya mencari pakaian yang akan ia gunakan. Setelah merasa ada yang cocok. Ia masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian.


Ia merasa kesal melihat lemari yang sudah dibuat berantakan oleh Reyhan. “Mencari baju satu baju lemari berantakan seperti ini dibuatnya,” dumelnya sendiri seraya membereskan lemari tempat pakaian Reyhan.


“Sayang, ayo berangkat,” ajak Reyhan setelah keluar dari kamar mandi.


Ia menatap tubuh suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Jangan gunakan itu! Kakak terlihat tampan.”


Dengan sangat terpaksa Reyhan mencari pakaian yang lain. Dan menggantinya lagi.


“Ini ?”


“Tidak!”


Reyhan melakukan hal yang sama hingga berulang kali.

__ADS_1


“Al, aku harus berpakaian seperti apa lagi agar aku tak terlihat tampan ?” kesal Reyhan pada istrinya yang bertingkah aneh.


Ia mengetukkan jari telunjuk di dagunya. Mencoba memikirkan pakaian yang tepat untuk digunakan suaminya.


“Mau kamu minta aku menggunakan kaos oblong saja aku masih terlihat tampan, Sayang. Jadi, kamu harus terima jika banyak perempuan-perempuan diluar sana yang melirikku dan tentu saja akan memuji ketamapanan suamimu ini.” Reyhan berbicara dengan penuh percaya diri.


Dengan cepat ia mencubit perut Reyhan.


“Awww... sakit, Al.”


“Gunakan saja ini!” Ia memberikan Reyhan sebuah kaos oblong berwarna putih dan celana jins berwarna hitam dengan wajah masamnya.


Reyhan mengambil alih pakaian yang sudah disodorkan Nadhira untuknya. Ia tersenyum gemas melihat sikap dan cara istrinya yang begitu polos dan seperti anak kecil.


“Kenapa kaka tersenyum seperti itu padaku ?” tanyanya dengan tatapan tak suka.


“Kamu cantik, Sayang.”


Ia tersenyum kecut dan berjalan kembali ke meja riasnya. "Kau pikir aku akan tersanjung dengan rayuanmu itu, Reyhan Akbar Oktara ? Tidak akan," ucapnya sendiri.


Sedangkan Reyhan hanya tertawa kecil melihatnya. Kemudian, dengan segera berganti pakaian.


“Ini sudah ‘kan, Al ?”


“Sudahlah begitu saja. Aku bahkan tidak tahu harus meminta kakak mengenakan pakaian seperti apa agar tak lagi terlihat tampan,” ucapnya polos.


Sudah tak tahan lagi menahan tawa. Reyhan dengan keras mengeluarkan tawanya hingga membuat Nadhira murka.


“Kakaaaak!” teriaknya seraya memukul dada Reyhan.


Tak lama ia sadar bahwa kemarin Reyhan mengeluh dadanya sakit. “Dada kakak tidak sakit ?” Ia memeriksa dada Reyhan dengan khawatir. “Maaf. Aku terlalu kesal,” ucapnya dengan penuh penyesalan.


“Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu tenang saja.”


“Maaf.” Ia memeluk tubuh Reyhan dengan mesra.


“Kamu mau memelukku lama, Al ? Lalu, kapan kamu akan berangkat ke kampus ?”


“Oh iya. Aku lupa. Sekarang kita berangkat, suamiku sayang,” ucapnya manja.


Reyhan dengan penuh kasih sayang menciumi kening dan berganti dengan mencium puncak kepala istrinya. “Dasar manja.”


Dengan manja Reyhan memeluk tubuh Nadhira menruni tangga sat per satu. Di ruang tamu keduanya bertemu dengan Mama yang masih menemani Latisha yang sedang merajuk.


“Mau kemana pagi-pagi sudah rapi begitu ?”


“Nadhira mau ke kampus, Ma. Tapi, Kak Reyhan memelas minta menemani Nadhira. Padahal dia harus istirahat.”


“Ma, Reyhan hanya ingin menemani istri Reyhan saja. Boleh ‘kan, Ma ?”


“Tentu saja boleh. Asal jangan...”


“Asal jangan sampai memperburuk keadaanmu saja,” ucap Reyhan memotong sekaligus melanjutkan ucapan Mama yang sudah sangat sering ia dengar.


Mama hanya terkekeh melihatnya.


“Kami berangkat dulu, Ma,” pamit Reyhan dan mencium tangan Mama penuh hormat. Begitu juga dengan Nadhira. Ia melakukan hal yang sama dengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2