Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 90


__ADS_3

“Jangan berbuat kasar padaku jika kamu tidak ingin istrimu bernasib sama seperti Elmeera.”


Kalimat yang terlontar bebas dari bibir perempuan yang dulu pernah dijodohkan dengannya itu terngiang-ngiang di telinga. Rasa takut menyelimuti Reyhan seketika.


“Tidak! Tidak mungkin Tasya akan berbuat nekat lagi seperti dulu. Aku yakin apa yang ia katakan tadi hanya ancaman belaka.” Ia berusaha menenangkan diri. Membuang sejauh mungkin pikiran buruk yang memenuhi memori otaknya.


Dengan ketakutan luar biasa. Ia berjalan mondar mandir didalam ruangan. Sesekali ia menatap bingkai berukuran sedang yang didalamnya terdapat foto pernikahannya bersama Nadhira.


Ia meneguk segelas air putih yang tersedia diatas meja kerjanya hingga tandas dan tak bersisa. Mencoba menetralisir pikiran negatif yang semakin mengekangnya kuat.


Tubuhnya mendarat pada sofa berwarna hitam itu dengan sempurna. Menyandarkan tubuh dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan.


Lama terdiam. Tiba-tiba otaknya memutar kembali memori lama tentang kejadian yang dilakukan tanpa belas kasihan sedikitpun oleh Tasya pada Elmeera.


Flashbak On


“Meer!” Tangan kekarnya melambai-lambai pada seorang perempuan dengan rambut diikat rapi di seberang jalan. Ia melihat dengan jelas senyum mengembang perempuan itu terlempar padanya.


“Kemarilah!”


Dengan senyum merekah perempuan itu menyeberang jalan yang lengang dari kendaraan. Ia mencoba menyeberang jalan dengan hati-hati. Namun, tanpa disadari sebuah mobil berwarna putih melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.


Reyhan yang melihat hal itu lantas berteriak sekeras yang ia bisa. “Awas, Elmeera!”


*Terlambat.


Tubuh perempuan yang dipanggil Elmeera itu sudah tertabrak dan terpental beberapa meter dari tempatnya. Membentur aspal dengan keras hingga darah segar mengaliri tubuhnya*.


Reyhan membekap mulutnya dengan kedua tangan. Tubuhnya ikut bergetar warna merah yang sudah menutupi sebagian tubuh Elmeera.


Sebentar netranya mengarah pada mobil putih yang menabrak tubuh Elmeera itu tengah berhenti. Tatapannya menelisik pengemudi mobil tersebut. Ia kaget bukan main. Seseorang tengah tersenyum penuh kemenangan.


“Tasya,” bisiknya dengan tangan yang mengepal kuat.


Dilihatnya bebarapa orang berlari ke arah Elmeera yang sudah terkapar di aspal. Membuatnya sadar lebih mendahulukan yang mana.


Dengan langkah lebar dan cepat ia berlari ke arah yang sama. Memaksa menembus sekumpulan orang yang sedang mengerumuni Elmeera.


“Meer! Bangun, Meer!” Ia berusaha membangunkan Elmeera yang sudah tak sadarkan diri. Menepuk pelan pipi perempuan itu yang sudah nampak tak jelas bekas darah yang mengucur bebas.


“Pak, bantu saya untuk membawanya ke Rumah Sakit,” pintanya memelas dengan mata berkaca-kaca.


Bersama beberapa orang ia menggotong tubuh yang lemah lunglai milik Elmeera menuju mobilnya yang terparkir rapi di seberang jalan. Membawanya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di Rumah Sakit terdekat. Sehingga, tubuh yang sudah bersimbah darah itu segera mendapatkan penanganan medis.


Mobil yang ia kendarai tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sebuah gedung besar dengan cat berawrna putih itu. Beberapa orang berpakaian serba putih yang ia tau pasti adalah para perawat Rumah Sakit segera membantunya membawa Elmeera menuju UGD.

__ADS_1


Dengan perasaan bercampur aduk ia menunggu di depan ruangan.


Flashback Off


Ia bergidik ngeri mengingat kejadian tragis yang menimpa Elmeera beberapa tahun lalu yang hampir saja merenggut nyawa perempuan yang sudah ia anggap adiknya itu. Kejadian tragis yang dilakukan dengan sengaja oleh Tasya.


Otaknya tiba-tiba berpikir bagaimana jika Tasya melakukan hal yang sama pada Nadhira. Rasa takut kembali mengungkung kuat.


Ia berlari meninggalkan ruangan yang masih berantakan karena pelampiasan amarahnya itu.


“Rianti!” panggilnya dengan keras.


Beberapa karyawan yang sedang fokus pada pekerjaan masing-masing mengalihkan fokus. Merasa terheran-heran dengan sikap pimpinannya yang tiba-tiba berteriak.


“Dimana Rianti ?” tanyanya pada seorang pegawai yang kebetulan lewat dari hadapannya.


“Maaf, Pak. Saya tidak tahu. Karena, saya baru saja kembali dari ruang rapat.”


“Sial!” umpatnya membuat pegawai di hadapannya itu menunduk takut.


“Maaf. Silahkan kembali ke ruanganmu.” Ia sadar bahwa ucapannya sangat tak pantas di perdengarkan di adapan karyawan.


Matanya menangkap seorang perempuan tergopoh-gopoh berlari ke arahnya. Rianti.


“Maaf, Pak Reyhan. Bapak mencari saya ?”


Untuk kali pertama ia memarahi Rianti dengan nada keras seperti itu. Kali ini ia benar-benar kalap akibat kelakuan tak mengenakkan Tasya di ruangannya.


“Saya minta maaf, Pak. Tadi saya dimintai tolong untuk mencarikan taksi oleh perempuan yang keluar dari ruangan Bapak. Tapi, dia meminta saya menemaninya untuk duduk di cafe seberang jalan.”


“Dan kamu mau begitu saja memenuhi permintaannya ? Bodoh!”


“Perempuan itu bilang bahwa Pak Reyhan yang memintanya untuk mengajak saya. Jadi, saya mau saja, Pak.”


“Dasar perempuan licik,” ucap Reyhan berbisik.


Rianti menatapnya tak percaya. “Jadi, Bapak tidak pernah berkata begitu ?”


“Tidak. Dan lain kali jangan mau diajak siapapun yang mengatasnamakan saya. Kecuali, saya sendiri yang memerintahkanmu.”


“Baik, Pak,” balas Rianti dengan menundukkan kepalanya.


“Saya akan pulang sekarang. Batalkan semua jadwal saya hari ini.”


“Tapi, Pak. Hari ini Bapak ada jadwal bertemu dengan Pak Dika untuk membahas kelanjutan kontrak minggu kemarin.”

__ADS_1


Ia menatap Rianti dengan tajam. “Sudah saya katakan. Batalkan semua jadwal hari ini. Saya tidak peduli dengan segala konsekuensi yang akan terjadi nantinya.” Ia melenggang begitu saja tanpa mempedulikan tatapan aneh para karyawannya.


Langkahnya lebar menuju basement tempat ia memarkirkan mobilnya. Namun, suara panggilan menghentikan langkahnya seketika.


“Reyhan!”


Ia menoleh dan mendapati Bara yang sedang berlari kecil ke arahnya. “Mau kemana ?” tanya Bara dengan menepuk pelan pundaknya.


“Mau pulang.”


“Ada apa ? Tumben sepagi ini elo sudah hengkang saja dari kantor. Apakah ada masalah di rumah ?”


“Tidak, Bar! Gue hanya rindu sama adik elo yang manja itu. Gue meninggalkannya dalam keadaan hati semrawut.”


“Apa maksud elo ?”


“Seperti biasa. Ia hanya merajuk karena keinginan tidak gue penuhi.”


Bara mengangguk paham.


“Gue bertemu Tasya di lobi. Apakah dia sudah menemui elo ?”


Ia mengangguk. “Perempuan jahannam itu datang lagi di kehidupan gue,” ucapnya dengan tangan mengepal dan tatapan lurus ke depan.


“Untuk apa dia menemui elo lagi ?”


“Dia ingin menawarkan kontrak dan harus gue terima. Tapi, gue bukan orang bodoh yang mau menerima begitu saja tawaran perempuan licik seperti Tasya.”


Ia menghela napas panjang. “Ia mengancam gue dengan melakukan hal yang sama pada Aleea seperti yang ia lakukan dulu dengan Elmeera.”


“Maksud elo apa, Han ?” tanya Bara dengan tatapan bingung.


“Elo masih ingat waktu Elmeera kecelakaan dulu ? Itu adalah perbuatan tak berprikemanusiaannya Tasya. Ia dengan sengaja menabrak Elmeera hingga terpental jauh.”


“Hah ? Yang benar saja ?”


Ia menganggukkan lagi kepalanya. “Bersama Mbak Shalu gue laporkan dia ke polisi. Namun, ia tidak terjerat hukuman apapun karena jabatan dan kekayaan ayahnya.” Ia tertawa miris dan melanjutkan ucapannya. “Elo pasti paham maksud gue bahwa hukum masih saja bisa di beli. Yang beruang, yang berkuasa. Sungguh ironi."


Bara hanya mengangguk.


"Ah... mengingat keadaan hukum dalam nyata seperti itu membuat amarah gue memuncak saja. Kata adil tak pernah gue temukan berperan dengan baik. Sial!"


Bara terkekeh mendengarnya. "Sudahlah. Adil dalam hukum yang sesungguhnya hanya akan elo temukan mimpi."


“Baiklah. Gue pulang dulu. Gue benar-benar takut dan khawatir pada Aleea.”

__ADS_1


“Iya. Elo hati-hati dijalan. Jangan khawatir. Gue akan membantu elo untuk menghadap Tasya.”


“Thank you, kakak ipar.”


__ADS_2