Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 101


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Nadhira, Mbak Mia ?" tanya Bunda yang baru saja datang ditemani Bara. Karena, Ayah sedang melakukan perjalanan pekerjaan keluar daerah.


"Masih di periksa dokter didalam, Mbak."


Reyhan yang melihat kedatangan Bunda dan Bara hanya menatap sebentar kemudian kembali tertunduk. Menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Ia rasakan Bara duduk di sampingnya. Namun, sedikitpun ia tiada berniat untuk menegur. Pikiran melayang entah kemana.


"Kenapa bisa terjadi seperti ini ?" tanya Bara membuka pembicaraan.


Belum sempat ia menjawab pertanyaan Bara. Pintu ruang UGD terbuka lebar menampilkan perempuan dengan perut sedikit buncit bersneli diikuti dua perawat yang membantu Reyhan membawa Nadhira. Ia beranjak dari duduknya dan mendekati perempuan bername tag Julia itu.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok ? Bagaimana pula dengan kandungannya ?"


"Istri Bapak mengalami pendarahan dan kandungannya..." Dokter Julia menggantung ucapannya.


"Kandungan istri saya baik-baik saja 'kan, Dok ?"


"Maaf, Pak. Karena, benturan yang keras di perut Ibu Nadhira membuatnya keguguran," ucap Dokter Julia menjelaskan dan berlalu.


Reyhan seketika membungkam. Lidahnya kelu tak mampu berucap.


"Ini semua gara-gara kamu, Reyhan!" bentak Mama dengan keras.


Reyhan sama sekali tak bergeming. Tubuhnya yang berdiri didepan pintu ruangan didorong Mama hingga terbentur di tembok.


"Elo tidak apa-apa, Han ?" tanya Bara yang masih tersisa diluar ruangan.


"Ini semua salah gue, Bar," lirihnya.


"Jangan seperti ini. Elo harus tenang dulu." Bara mencoba menenangkan. Meski dalam hati jelas saja ia begitu menyalahkan sahabatnya itu.


____


Matanya perlahan terbuka. Aroma obat-obatan yang sudah menjadi ciri khas bangunan putih itu menyeruak ke indera penciumannya. Tatapannya menyapu ke segala perjuru ruangan. Ia menemukan Mama dan Bunda tengah berdiri disampingnya dengan tatapan menyedihkan.


"Mama. Bunda."


"Alhamdulillah kamu akhirnya siuman juga, Nak," ucap Mama dengan lembut. Lain halnya dengan Bunda. Ia hanya membungkam dengan bibir digigitnya. Mencoba menahan agar ia tak menangis.


Tatapan mengarah pada pintu yang berdecit pelan. Terbuka dan memunculkan Reyhan dengan wajah lesu dan mata yang masih basah. Otaknya seketika bekerja cepat mengingat kejadian yang membuatnya harus terbaring di brankar Rumah Sakit. Sontak tangannya memegang perutnya yang sudah rata seperti semula.

__ADS_1


"Mama. Bunda. Kandunganku baik-baik saja, 'kan ?"


Mama tak menjawab apapun. Begitupun dengan Bunda.


"Abang!" panggilnya keras pada Bara yang berada dua langkah di belakang Reyhan.


Bara mendekatinya perlahan tanpa rasa ragu dan senyum tipisnya. "Dik, kamu mau mendengarkan Abang tidak ?"


"Jawab aku! Bagaimana dengan kandunganku ?" Tatapannya nyalang. Cara berbicaranya pun berubah drastis.


"Abang akan memberitahumu. Tapi, tetap tenang dan jaga emosimu. Bagaimana ?"


Dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya pelan.


Bara mengelus rambutnya yang tertutup jilbab instannya. "Dik ? Kamu percaya tidak ? Bahwa, ada harapan yang tak sepenuhnya bisa terwujud nyata. Ada yang sudah kamu genggam tapi bisa menghilang begitu saja."


Ia mengangguk.


"Kamu percaya tentang kehilangan juga 'kan, Dik ?"


"Apa maksud Abang bertanya seperti itu ? Bicara saja pada intinya."


Ia menggeleng kuat. "Jangan bercanda seperti itu, Bang."


"Mama. Bunda. Abang sedang bercanda 'kan ?"


Kedua ibunya itu hanya mampu menangis.


"Tidak!" teriaknya. Tatapannya tajam ke arah Reyhan yang sudah membeku dengan linangan air mata.


"Ini semua gara-gara kamu, Reyhan! Kamu sudah membunuh anakku!" Ia melempar Reyhan dengan bantal yang ada di brankar. Ia menangis histeris. Berteriak sekeras yang ia bisa.


Bara dengan cepat menarik tubuhnya ke dalam dekapan. Meski ia memberontak dengan kuat.


"Kamu sudah membunuh anakku, Reyhan," ucapnya kirih dalam dekap kasih sayang kakaknya.


Reyhan dengan langkah gontai mendekatinya. Memohon maaf. "Maafkan aku, Al. Maafkan aku," sesal Reyhan.


"Aku tidak akan memaafkanmu, Reyhan! Tidak akan!"

__ADS_1


"Al, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku mohon maafkan aku."


"Abang bawa pergi lelaki itu. Aku tidak melihat wajahnya."


"Iya, Dik. Iya," balas Bara dengan lembut tanpa melepaskan dekapannya.


"Han, mending elo keluar dulu. Nadhira butuh waktu untuk menerima kejadian yang menimpanya dengan ikhlas."


"Tapi, Bar..."


"Gue paham perasaan elo. Tapi, elo juga harus paham bagaimana Nadhira begitu terpukul mendengar kenyataan ini."


Reyhan benar-benar pasrah. Istrinya sudah tak ingin lagi melihat wajahnya. Jua Mama. Mama sama sekali tak bergeming atau membelanya.


Dengan langkah terpaksa Reyhan keluar ruangan bersama rasa sesal yang menyergapnya. Ia menyesali tak mampu mengontrol dengan baik amarah yang membekap dirinya.


Masih didalam ruang UGD. Ia terisak dalam dekap hangat sang kakak. Menangisi kepergian bayi yang belum sempat ditimangnya.


"Kenapa Tuhan mengambil bayiku ? Kenapa ?" lirihnya dalam isakan kuat.


Bara dengan sabar menasihatinya. "Tuhan lebih menyayangi baikmu, Dik. Cobalah untuk ikhlas."


"Abang ?" panggilnya. Deru napas mulai tak beraturan. Asma yang ia derita kembali menyerangnya.


"Nadhira ?" Bara menepuk pipinya pelan. "Kamu kenapa ?"


Mama dan Bunda panik melihat anak gadisnya itu.


"Nak, kamu kenapa, Sayang ?" Bunda nampak semakin khawatir pada anak bungsunya itu.


Napasnya semakin tak teratur. Dadanya terasa terhimpit beban berat.


"Bunda, sepertinya asmanya kambuh lagi," ucap Bara.


"Iya, Bang. Sebentar Bunda panggilkan Dokter dulu."


"Iya, Bunda."


Bunda beranjak keluar.

__ADS_1


__ADS_2