Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 137


__ADS_3

"Nadhira. Reyhan. Ada apa ini?"


Suara berat Papa yang baru saja tiba dirumah selepas kerja menghentikan langkah sepasang suami istri itu. Keduanya bergantian menyalami dan mencium tangan Papa penuh hormat.


"Seperti biasa, Pa. Adegan drama anak sulung Papa yang malas minum obat," sindir Nadhira seraya melirik Reyhan dengan ekor matanya.


"Kenapa tidak kamu cubit saja suamimu itu, Ra? Kelakuan seperti anak kecil saja."


"Kenapa Papa begitu kompak dengan Nadhira?" tanya Reyhan heran.


"Karena, kami satu tujuan. Iya 'kan, Ra?"


"Tentu saja," jawab Nadhira bangga.


Reyhan menghela napas panjang. "Baiklah. Papa dan Aleeana lebih suka main keroyokan, ya. Reyhan mengaku kalah kali ini," balas Reyhan menyerah dan meninggalkan kedua manusia yang tak sealiran dengannya itu.


Gelak tawa Papa dan Nadhira seketika mengudara.


"Bujuk terus suami manjamu itu, Ra. Itulah akibatnya jika terlalu dimanjakan."


"Memangnya siapa yang memanjakan Reyhan, Pa?" teriak Reyhan dari balik tembok ruang tamu.


"Biarkan saja, Pa. Tidak usah di timpali. Lebih baik Papa ke kamar saja. Papa pasti lelah," ucap Nadhira penuh perhatian.


"Iya, Nak. Ingat pesan Papa, ya, Ra."


Gadis itu mengangguk pasti dengan senyum mengembang yang berhasil membuat matanya menyipit. "Tentu saja, Pa."


"Tetapi, Papa belum tahu bagaimana kondisi Kak Reyhan yang sebenarnya sekarang," lanjut Nadhira dalam hati. Ia menatap punggung Papa yang kian menjauh dengan ekspresi datar dan nanar. Otaknya kembali sibuk dengan pikiran-pikiran liar.


"Al." Panggilan dan tepukan pelan Reyhan pada pundaknya membuat gadis itu tersentak. Sontak ia mengelus dadanya. Kaget.

__ADS_1


"Kenapa menatap Papa seperti itu? Ada yang berubah dari Papa?" tanya Reyhan bingung dan melempar tatap menembus pembatas tangga dimana Papa masih melangkah dengan gagahnya.


"Oh, tidak." Ia melangkahkan kakinya tanpa menggubris Reyhan yang masih berdiri didekatnya. Tatapannya kosong.


"Mau kemana, Al?"


"Ke dapur. Mau masak untuk makan siang," jawabnya tanpa menoleh ke belakang.


Reyhan hanya menggelengkan kepalanya. "Apa lagi yang tengah terjadi dengan gadisku itu, Tuhan?


...***...


Gadis itu mengelus lembut perutnya. Ia bersila dengan manis di balkon kamar. Matanya menatap segaris jingga memudar yang membentang di ufuk Barat. Pertanda sebentar lagi malam menjemput.


Didalam otaknya masih berputar setiap kepingan kejadian yang membuat hatinya nyeri. Kejadian dimana ia tatapi secara langsung sang suami terbaring tak berdaya, mengerang kesakitan, dan atau sesekali berusaha mati-matian menahan derita hanya agar ia tak khawatir. Begitu pula dengan ucapan Dokter Dharma yang masih terngiang di telinganya.


Tuhan Maha Baik.


Pada senja yang akan siap berganti gelap. Dalam hati ia mengadu. "Ngilu hatiku melihat kesakitan yang menjerat lelaki pilihanku. Lelaki yang akan segera bergelar Papa. Bagaimana pula aku bisa membantu mengurangi sakitnya? Tuhan, aku tahu Kau takkan memberi cobaan diluar batas kemampuan hamba-Mu. Tetapi, jika boleh ku minta. Tolong, hilangkan sakit dalam tubuh suamiku."


Tetes demi tetes air mata jatuh menimbulkan bekas pada gamis biru tuanya. Sedih. Tentu saja. Kaget? Apalagi. Sebelumnya, yang ia tahu bahwa Reyhan baik-baik saja. Tiada kekurangan apapun. Tetapi, detik yang terus berdetak yang ia lalui bersama Reyhan menyuguhkan sebuah kenyataan yang membuat dirinya sesak.


Ia menyeruput teh manis yang dibuatkan Reyhan sejak tadi, yang hangatnya sudah sempurna berganti dingin. Tatapannya nanar dan lurus ke depan. Hatinya kian bergejolak.


"Sayang." Suara berat dari seseorang diatas tempat tidur membuatnya menoleh. Ia tersenyum manis. Dan beranjak meninggalkan sisa-sisa jingga di kaki langit. Pun teh manis yang belum habis setengahnya.


Sebelum duduk didekat Reyhan yang masih fokus berkutat dengan benda segi empat lipat di hadapannya, gadis itu lebih dulu mengusap pipinya yang masih basah. Takut-takut jika Reyhan tahu ia menangis.


"Ada apa?"


"Ambilkan berkas didalam map biru di ruang kerjaku. Bisa, tidak?"

__ADS_1


Ia mengangguk. Meskipun, ia tahu Reyhan tak melihatnya. "Itu saja, 'kan?"


"Iya, Sayang."


Nadhira kemudian mengayunkan langkahnya ke luar kamar. Melaksanakan apa yang dititahkan sang suami padanya.


Didalam ruang kerja Reyhan ia mencari berkas yang dimaksudkan. Setelah menemukannya, gadis itu kembali melangkah menuju pintu. Sebelum keluar ia sempatkan diri menelisik setiap jengkal ruangan dengan cat abu tua itu. Ia tersenyum tipis dan keluar.


"Ini 'kan maksud, Kakak?" ucapnya seraya menyerahkan map berwarna biru tua itu pada Reyhan.


Reyhan mengangguk dan mengulas senyum. "Terimakasih, ya, Sayang."


Gadis itu tak menanggapi. Ia duduk di samping Reyhan setelah menyerahkan sebuah map yang diambilnya dari ruang kerja sang suami. Mengalungkan tangannya pada lengan Reyhan. Pun kepalanya yang ia sandarkan pada sandaran ternyaman itu.


"Sebentar lagi waktunya minum obat, ya, Kak."


"Nanti malam saja sekalian, Al," balas Reyhan dengan tak acuh.


Nadhira masih bisa menghadapi dengan lembut. Mengingat ucapan Dokter Dharma yang berhasil menyeret Reyhan jatuh pasa rasa psimis membuat gadis dua puluh tahun itu bertekad untuk mengembalikan semangat suaminya. Ia tahu, bahwa pekerjaan yang saat ini di fokuskan lelaki itu hanya karena ingin mengalihkan perhatian saja. "Jika nanti malam, itu sama saja dengan meninggalkan satu kali jadwal minum obat, Sayang."


"Minum obat dengan rutin juga tidak akan mengubah semuanya, Al. Biarkan saja." Suara lelaki itu terdengar lantang. Namun, terselip rasa pasrah yang besar disana.


"Tuhan Maha Baik. Seiring do'a dan usaha yang kita lakukan. Pasti Tuhan menolong kita. Trust me, please, Reyhan Akbar Oktara."


Bibir Reyhan terkatup rapat. Lelaki itu enggan menanggapi. Enggan pula melakukan apa yang diucapkan istrinya. Baginya sekarang menjalani hidup dengan bahagia bersama sang istri tanpa mengingat apapun yang membuat fisiknya sakit. Lagipula, tingkat kesembuhan yang dimiliki kurang dari lima puluh persen.


Nadhira meletakkan tangan suaminya pada perut buncitnya. Disana jelas terasa gerakan-gerakan kecil yang dilakukan sang buah hati. "Si kecil pasti menginginkan hal yang sama denganku. Jika kakak tidak lagi memikirkanku. Maka, pikirkanlah anak kita. Dia membutuhkan sosok Papa yang kuat, yang tegar, yang akan menemani tumbuh kembangnya nanti. Hingga ia menjadi sesosok dewasa yang membanggakan."


Reyhan masih bergeming. Tatapannya lurus ke depan. Setiap kata yang terlontar halus nan lembut dari bibir ranum Nadhira menyentil hatinya. Tetapi, otaknya masih mengingat betul juga kalimat yang terucap dari Dokter Dharma. Ini seperti jebakan diri tatkala hati dan pikiran tak selaras.


Tangan kecil Nadhira melingkar di tubuh Reyhan. Memeluk erat dan menyalur hangat yang ia miliki. "Apapun yang terjadi didepan. Kita akan lalui bersama," ucapnya sebelum menenggelamkan wajah lesunya dalam dekapan Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2