Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 50


__ADS_3

“Hei! Bangunlah, suamiku.” Nadhira mengelus pipi Reyhan dengan lembut.


Reyhan menggeliatkan tubuhnya dan membuka mata perlahan. Mengerjap beberapa kali untuk menetralkan retinanya menangkap cahaya yang masuk. Ia mendapati di hadapannya perempuan cantik dengan senyum merekah tanpa hijab, tak seperti biasanya.


“Selamat pagi, suamiku,” sapanya dengan manis dan mencium pipi Reyhan bergantian.


“Selamat pagi, Sayang,” balas Reyhan dengan suara serak khas bangun tidur.


“Bagaimana kondisi kakak sekarang ? Sudah merasa lebih baik ?” tanya Nadhira dan merapikan rambut Reyhan yang sedikit berantakan dengan jemarinya.


“Alhamdulillah, Sayang. Berkatmu aku merasa lebih baik. Terimakasih, ya.”


Ia tersenyum.


“Bangunlah! Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kakak mandi.”


Reyhan merubah posisinya. Ia duduk berhadapan dengan Nadhira yang duduk dipinggir tempat tidur. Ia membelai lembut pipi istrinya yang sudah nampak lebih berisi dari sebelumnya. Menikmati setiap senti keindahan dan kecantikan yang Tuhan ciptakan dalam wujud istrinya.


“Sayang, kamu sudah agak gemukan, ya ? Atau hanya perasaanku saja ?”


“Benarkah ?” tanyanya dengan antusias.


“Iya, Sayang. Aku merasa seperti itu. Pipimu sudah mulai berisi.”


Matanya berbinar. “Mulai sekarang aku akan menambah porsi makanku lagi. aku ingin sedikit lebih gemuk supaya tak dikatakan mungil terus menerus oleh Abang.”


“Kamu memang benar-benar mungil, Al,” ledek Reyhan lagi.


“Sayaaang,” ucapnya dengan manja dan menenggelamkan wajahnya didada Reyhan.


Reyhan gemas melihat tingkah istrinya. Ia mencium puncak kepala Nadhira penuh sayang. “Kamu selalu membuatku gemas dengan tingkahmu, Sayang.”


Ia memeluk tubuh Reyhan semakin erat.


“Aku tahu kamu sangat suka memelukku. Tapi, bukankah tadi kamu memintaku untuk mandi, Al ? Jadi, izinkalah aku untuk membersihkan diri dulu sebentar.”


“Iya. Aku tahu. Tapi, aku ingin kita dalam posisi ini sebentar lagi. Dua menit lagi, Sayang.”


“Al ? Kamu baik-baik saja ‘kan ?”


Ia mengangguk.


“Kenapa kamu semakin manja saja sekarang ?”


“Memangnya aku tidak boleh bermanja-manja pada suamiku sendiri ?”


“Tentu saja boleh, istriku sayang.”


Ia semakin memeluk erat tubuh suaminya.


“Sayang, peluk-peluknya dilanjutkan lagi nanti, ya. Aku mau mandi.”


“Sebentar lagi.”


“Memangnya aku tidak bau ?”


“Tidak,” jawabnya singkat dan cepat.


Reyhan tertawa kecil dan mengelus rambut hitam nan panjang milik Nadhira yang tak terikat. “Sayang, terimakasih sudah berkenan melangkah bersamaku. Aku mencintaimu.”


“Aku juga mencintaimu, Reyhanku. Tetap kuat untukku, untuk Mama, untuk Papa dan yang lainnya. Aku percaya suamiku adalah lelaki yang tak mengenal kata menyerah.”


“Bagaimana kamu tahu aku tak kenal menyerah ?”


“Buktinya kakak tak pernah menyerah untuk mendapatkanku. Iya ‘kan ?”


“Kenapa kamu percaya diri sekali ?” bantah Reyhan.


“Jujur saja, Kak.”


“Huh! Baiklah. Untuk mendapatkanmu aku harus berjuang mencarimu. Dan aku bersyukur menjawab pencarianku dengan memberi temu. Oleh sebab itulah aku tak ingin lagi berpisah denganmu.”


“MaaSyaa Allah, suamiku. Sungguh perjuanganmu begitu besar, Sayang,” ucapnya setengah mengejek.


“Untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku tak akan berjuang setengah-setengah. Namun, harus berjuang maksimal. Jika pun tak sesuai harapan. Aku tak menyesal. Karena, usaha sudah ku lakukan.”


Ia melepaskan pelukannya ditubuh Reyhan dan tersenyum manis.

__ADS_1


“Sudah puaskah kamu memelukku, Al ?”


Ia mengangguk dan tertawa kecil.


“Apakah sekarang aku sudah boleh mandi ?”


“Tentu saja.”


“Baiklah. Aku mandi dulu, ya, Sayang.” Reyhan mencium pipi kanan istrinya dengan mesra.


Reyhan menyambar handuk yang sudah disediakan Nadhira untuknya. Bergegas menuju kamar mandi dengan langkah tak sempurna. Ia sedikit menjinjitkan kakinya saat berjalan karena luka yang berada tepat di telapak kakinya.


Ia bersenandung ria. Hari ini ia tidak akan pergi ke kantor atas perintah Nadhira yang tak bisa ditolak. Itu juga disebabkan karena kondisi Reyhan yang masih belum sepenuhnya kembali normal.


“Kak, aku ke bawah dulu, ya. Pakaian ganti kakak sudah aku siapkan di tempat biasa,” ucapnya setengah berteriak.


“Iya, Sayang,” balas Reyhan tak kalah kencangnya dari arah kamar mandi.


Sementara menunggu Reyhan menyelesaikan ritualnya membersihkan diri. Nadhira segera turun menuju lantai dasar dan berjalan ke arah dapur. Ia berniat untuk membuat sarapan pagi ini sendiri tanpa bantuan Mama.


Lain seperti sebelum-sebelumnya, ia yang selalu memasak ditemani dan diajari Mama. Kali ini Nadhira hanya melakukannya seorang diri. Ia tak ingin terus menerus bergantung pada ibu mertuanya atau pada asisten rumah tangga dirumah itu.


Ia mulai bergelut dengan alat-alat dan bahan di dapur. Mengupas dan mengiris bawang merah dengan air mata yang membanjiri pipinya.


“Huh! Aku selalu kalah dengan bawang merah ini,” ucapnya sebal.


Satu demi satu masakan untuk sarapan pagi ia selesaikan dengan baik. Meski rasa dari masakannya itu belum ia ketahui sama sekali.


“Ah... bagaimana pun rasanya. Kuharap Kak Reyhan dan yang lainnya menyukai masakanku. Dan jika kurang, aku akan terus berusaha dan belajar memasak untuk setiap hari,” ucapnya pada diri sendiri.


Ia membersihkan tangannya di wastafel dan menyediakan makanan yang sudah ia masak diatas meja makan.


“Lho, Kak. Bukannya Si Bibi masih pulang kampung, ya ?” tanya Farhan yang baru saja turun dari kamarnya.


“Iya. Memangnya kenapa, Farhan ? Kamu butuh sesuatu ?”


“Tidak, Kak. Jika Bibi belum balik. Lalu, siapa yang memasak untuk sarapan sebanyak ini ?”


Nadhira tersenyum malu-malu.


“Mmmm...” Ia masih ragu untuk menjawab.


“Mama ? Tidak mungkin. Mama jam segini pasti belum turun setahu Farhan.”


“Iya. Aku yang sudah memasak semua makanan ini.”


“Wah... Kak Nadhira ternyata pintar juga dalam memasak. Beruntung sekali kakak mendapatkan istri seperti Kak Nadhira.”


“Eh aku masih belajar lho, Dik.”


“Oh...” Farhan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal karena salah tingkah.


“Itu Papa dan Mama baru keluar kamar.” Ia menangkap sosok kedua mertuanya tengah melangkah menapakkan kaki di tangga satu per satu.


“Selamat pagi, Pa, Ma,” sapanya dengan ceria.


“Selamat pagi, Nadhira ,” balas Papa.


“Sepertinya ada yang berbeda dengan Nadhira pagi ini, ya, Pa ?”


Ia menatap mata bingung.


“Nadhira terlihat bahagia sekali.”


“Memangnya kemarin-kemarin Nadhira terlihat tidak bahagiakah, Ma ?” tanyanya polos.


“Maksud Mama tidak seperti itu, Sayang. Tapi, pagi ini jauh nampak bahagia dan ceria.”


Ia hanya terkekeh.


“Ayo sarapan dulu, Pa, Ma.”


“Tapi, Mama belum masak untuk sarapan.”


“Lihatlah! Nadhira sudah memasak,” ucapnya bangga seraya menunjukkan makanan yang sudah terjejer rapi di meja makan.


“Wah... menantu Mama sekarang sudah bisa masak sendiri, ya.”

__ADS_1


“Berkat Mama yang mengajari Nadhira.”


“Iya, Sayang.”


“Papa, Mama dan Farhan sarapan saja lebih dulu. Sebentar Nadhira menyusul. Nadhira akan memanggil Kak Reyhan dulu ke kamar.”


Ia melangkah menuju kamarnya menyusuli Reyhan. Dan sesampainya dikamar, ia menemukan suaminya tengah berkutat dengan laptop diatas tempat tidur.


“Kakak!” panggilnya murka dengan berkacak pinggang.


“Iya, Sayang. Kenapa ?” tanya Reyhan tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.


“Ini masih terlalu pagi untuk kakak mengurusi pekerjaan kantor. Lagipula, aku meminta kakak untuk tidak dulu pergi ke kantor agar tidak kerja. Dan istrihat saja dirumah. Tapi, sekarang kakak pagi-pagi begini sudah melirik kerjaan saja.”


“Sedikit lagi, Sayang,” jawab Reyhan dengan wajah datar dan tatapan yang masih fokus pada laptopnya.


“Maaf, Kak. Aku tidak mau tahu dan tidak menerima alasan. Dan selama tiga hari ke depan kakak tidak boleh mengerjakan pekerjaan apapun. Istirahat dab fokus dengan kesehatan kakak.”


“Hah ? Tiga hari ?” Reyhan kaget mendengar kalimat yang ditangkap dari bibir istrinya.


“Iya. Kenapa ? Tidak terima ?”


“Tiga hari itu lama, Al. Jika aku tak bekerja selama itu. Pekerjaanku tentu saja akan menumpuk nantinya.”


“Aku tidak mau tahu, ya, Kak,” tegasnya.


Reyhan tertunduk lesu.


“Sekarang matikan laptop kakak dan kita sarapan.”


“Kenapa Aleea menjelma jadi manusia galak seperti ini sekarang ?” batin Reyhan.


“Kak, kenapa masih diam saja ?” Nadhira membangunkan Reyhan dari pertanyaan batin yang masih membuatnya bingung.


“Iya. Iya. Aku akan mematikan laptopnya sekarang,” pasrah Reyhan.


“Sudah belum ?”


“Sudah, Al.”


Ia mengambil laptop yang biasa digunakan Reyhan untuk bekerja. “Biar aku sendiri yang akan menyimpannya.” Ia berlalu dari hadapan Reyhan dan menyimpan benda segiempat besar itu didalam lemarinya sendiri. Memcabut kunci yang biasanya tergantung bebas dipintu lemari dan menyimpannya lagi disaku gamisnya.


“Astaga, Aleea. Tidak perlu seperti itu juga, Sayang.”


“Terserah aku! Sekarang ayo kita turun untuk sarapan. Papa, Mama dan Farhan sudah menunggu disana.”


“Huh!” Reyhan membuang napas berat. Ia melangkah dan mengikuti saja ucapan istrinya itu tanpa berkomentar apapun. Ia tak ingin mendebat istrinya yang tiba-tiba berubah galak pagi-pagi seperti ini.


“Pagi, Pa, Ma,” sapa Reyhan lesu.


“Kenapa Farhan tidak diucapkan selamat pagi juga, Kak ?” protes Farhan pada kakaknya.


“Oh... kakak lupa. Karena, tak biasanya kakak menemukan pagi-pagi di ruang makan,” ejek Reyhan.


Farhan mendengus kesal.


“Selamat pagi, adik tampanku.”


Seisi ruang makan terkekeh kecil.


“Wah... tak biasanya Mama memasak sarapan sebanyak ini,” lanjut Reyhan ketika ia sudah berhasil mendaratkan tubuhnya dikursi ruang makan.


“Bukan Mama yang masak. Tapi, istrimu.”


Reyhan menatap Nadhira tak percaya.


“Kenapa ?” tanyanya bingung.


“Benarkah kamu yang memasak makanan ini, Sayang ?”


“Iya. Tapi, maaf jika makanannya tak seenak masakan Mama.”


“Tak mengapa, Ra. Lain kali kamu bisa memperbaikinya lagi.”


“Iya, Ma.”


Ia begitu menikmati sarapan pagi ini dengan bahagia. Ia merasa seperti tengah berada ditengah keluarganya sendiri. Bibirnya melengkung membentuk senyum manisnya.

__ADS_1


__ADS_2