
Gadis dengan perut buncit itu menengok ke kiri dan ke kanan. Memastikan kendaraan yang berlalu lalang mulai lengang. Hingga ia bisa menyeberang jalan dengan aman menuju sebuah rumah dengan gaya klasik.
Setelah ia lihat tidak ada lagi kendaraan yang lewat. Nadhira dengan segera menyeberang. Berdiri didepan gerbang yang menjulang tinggi.
Seorang lelaki berpakaian security keluar dan menyapanya dengan hangat, sopan. "Eh... Mbak Nadhira. Mau cari Non Mikayla, ya."
"Iya, Pak. Mikayla ada di rumah?"
"Ada, Mbak. Silahkan masuk. Kebetulan Non Mikayla baru saja pulang."
Gadis itu bersama luka hatinya memasuki halaman rumah Mikayla. Langkahnya terhenti tatkala netranya menangkap sebuah mobil hitam pekat yang tak asing baginya terparkir tapi di halaman rumah bergaya klasik itu.
"Abang?" cicitnya. Ia kembali melangkah dengan ragu-ragu. Tetapi, ia sudah terlanjur berada di rumah sahabatnya itu.
Seraya berusaha meneguhkan hatinya ia melangkah, mengetuk pintu besar di hadapannya.
"Assalamu'alaikum," ucapnya.
Tak lama terdengar suara derap kaki melangkah semakin mendekat. Dan pintu terbuka dengan lebar. Seiring hal itu, senyum lebar pun tercipta diantara kedua gadis berjilbab yang saling menatap itu.
"Wa'alaikumussalam." Mikayla tanpa permisi menarik tubuh kecil dengan perut membuncit itu ke dalam dekapannya. Menjebak Nadhira dalam pelukan eratnya.
"Astaga, Kay! Aku tidak bisa bernapas kamu buat."
Mikayla melepas pelukannya. "Maaf. Aku terlalu merindukanmu, manusia kecil."
"Abangku disini?" tanya Nadhira tanpa berbasa-basi dengan tatapan menyelidik tentunya.
Mikayla tersenyum lebar dan malu-malu. "Tadi aku tak sengaja bertemu dengan Abang di kedai kopi dekat kampus. Lantas menawarkan diri mengantarku pulang dan..."
Ia memotong kalimat sahabatnya itu dengan cepat. "Dan tidak menerima penolakan."
Kedua gadis berjilbab itu tertawa lebar.
"Ayo masuk dulu. Tapi, kamu datang sendiri? Kak Reyhan dimana?"
Ia gelagapan. "Mmm... Kak Reyhan? Kak Reyhan masih di kantor, Kay," jawabnya.
Melihat tingkah Nadhira yang aneh. Mikayla merasa curiga pada sahabatnya itu. "Kalian baik-baik 'kan, Ra?"
"Tentu saja," balasnya dengan lesu.
"Oh, baiklah. Ayo masuk."
__ADS_1
Mikayla menggandeng tangan gadis yang sudah menjadi sahabatnya semenjak menduduki bangku kuliah itu menuju ke dalam. Menemui Bara yang sudah duduk manis di ruang tamu.
"Abang!" teriaknya tanpa malu. Iya. Nadhira tak akan merasa malu-malu di rumah itu. Sebab, sebelum menikah ia sudah terbiasa ke rumah Mikayla. Pada kedua orang tua Mikayla pun sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri. Begitu pula dengan Mikayla dan Finza.
"Eh... sekarang sudah berani berkunjung ke rumah calon istri, ya?" godanya dan mendaratkan tubuh di samping Bara.
"Kenapa sih, Dik? Datang-datang langsung menggoda Abang saja." Bara mengedarkan pandangannya. "Reyhan dimana?"
Gadis itu mengedikkan bahu. "Mungkin masih di kantor. Kan Kak Reyhan sedang sibuk-sibuknya mengurus perusahaan. Dua pekan kemarin di tinggal karena harus istirahat total."
"Jawabanmu meragukan seperti itu. Kenapa? Ada masalah?"
Nadhira menggeleng dengan cepat. "Tidak! Aku dan Kak Reyhan baik-baik saja."
"Sudahlah, adik kecilku. Kamu bukanlah pembohong hebat. Dan apakah kamu lupa sedang berhadapan dengan siapa? Barata Bahari Prayudha, Sayang," ucap Bara dengan bangga seraya tangannya mengelus lembut puncak kepala Nadhira yang tertutup hijab.
Mikayla hanya tertawa kecil melihat tingkah dua manusia kakak beradik di hadapannya itu. Disana ia temukan betapa seorang Bara adalah lelaki dengan penuh kasih sayang. "Aku tinggal sebentar ke belakang, ya."
"Tinggallah saja disini, Kay."
"Aku buatkan minuman dulu untuk sahabatku dan bayinya. Kalian bicaralah jika memang ada yang ingin dibicarakan."
Ia mengangguk. Kembali menatap Bara.
"Katakanlah! Abang tahu kamu sedang tidak baik-baik saja."
Air mata luluh lantak membasahi pipinya yang sudah mulai tampak menggemuk. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Bara. Pesis seperti yang sering ia lakukan pada Reyhan.
Bara mengelus lembut pundak Nadhira. Membiarkan adik satu-satunya itu melampiaskan tangisnya. Menjadikannya sebagai sandaran untuk menenangkan hati yang ia tahu dalam keadaan buruk itu.
"Menangislah hingga kamu tenang. Lampiaskan segala perasaanmu, Dik."
Tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia semakin tersedu dalam dekapan Bara. Kelembutan belaian Bara membuatnya sedikit menenang. Terlebih gerakan demi gerakan yang ditimbulkan makhluk kecil didalam perutnya membuat gadis berjilban itu mau tidak mau harus tersenyum dan menghentikan tangisnya dalam sekejap.
"Kenapa?" tanya Bara bingung melihat adiknya yang tiba-tiba bersikap aneh itu.
"Keponakan Abang gerak-gerak terus. Barangkali ia mulai lapar lagi. Padahal, tadi sebelum kesini aku sudah memberikan asupan yang banyak," ucapnya dengan senyum lebar.
"Gerak-gerak? Benarkah?" tanya Bara dengan tatapan berbinar.
Nadhira mengangguk menimpali pertanyaan kakaknya itu. Ingin sekali ia tertawa keras melihat ekspresi Bara.
"Bolehkah Abang merasakan gerakan keponakan Abang, Dik?"
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Makhluk kecil didalam ini pasti juga ingin berkenalan dengan om tampannya," balas Nadhira menggoda.
"Oh tentu saja. Ku harap malaikat-malaikat didalam perutmu ini berjenis kelamin laki-laki dan nanti akan setampan Abang, Dik."
"Malaikat-malaikat? Berarti lebih dari satu, Bang."
"Ku harap begitu. Ada dua malaikat tampan didalamnya."
Nadhira terkekeh. Ia membiarkan Bara mengelus lembut perutnya seraya mengajak calon bayi dalam perutnya berbicara. Bara tampak lucu di matanya.
"Hai, para manusia kecil didalam sana! Kenalan dengan Om tampanmu ini, ya." Bara merasakan gerakan pada perut adiknya itu. Ia merasa gemas sendiri.
"Wah... Mereka gerak-gerak, Ra. Abang yakin mereka pasti senang berkenalan dengan lelaki tampan seperti Abang."
Malas menanggapi Bara. Nadhira hanya tertawa saja.
"Besar nanti mainnya sama Om, ya. Om akan membawa kalian ke tempat-tempat yang susah terjamah tangan liar manusia. Dan kita akan melakukan perjalanan yang mengasyikkan."
"Lho, ini kenapa Abang duduknya dibawah?" tanya Mikayla yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi jus strawberry kesukaan Nadhira dan beberapa camilan buatan Maminya.
"Entahlah, Abang."
"Ah... Mikayla datang, mereka malah diam," ucap Bara dan menunduk lesu.
Mikayla yang belum paham maksud lelaki yang sebentar lagi akan meminangnya itu lantas bertanya. "Mereka? Mereka siapa yang Abang maksud?"
"Mereka yang ada didalam perut Nadhira."
Tatapan Mikayla jelas saja ikut berbinar. Mendengar kata mereka membuat gadis yang seumuran dengan Nadhira berpikir bahwa sahabatnya tengah mengandung anak kembar. "Anak kamu kembar, Ra?"
"Entahlah," jawab Nadhira mengedikkan bahu.
"Tapi, Abang bilang mereka. Berarti lebih dari satu."
"Tahu sendiri Abang asal bicara saja. Aku dan Kak Reyhan bahkan belum tahu jenis kelamin anak kami. Karena, kami ingin nantinya itu sebagai kejutan saat melahirkan."
"Ih... Abang," kesal Mikayla.
"Itu hanya harapan Abang, Sayang," balas Bara dengan lembut. Terdengar jelas kalimat yang diucapkan di bumbui dengan kasih sayangnya.
"Tuhan, aku ingin pulang saja," cicit Nadhira.
Baik Mikayla maupun Bara tertawa melihat tingkah lucu gadis dengan perut buncit itu.
__ADS_1