
Pagi yang biasanya ia sambut dengan ceria kini tak lagi sama dengan pagi ini. Wajah cerahnya berubah mendung dan tak bergairah. Tatapannya yang berbinar tinggallah hanya sebatas tatapan nanar dan sendu.
"Ra, sarapan dulu, ya, Nak. Mama sudah belikan makanan untukmu." Mama dengan lembut menyentuh pundaknya.
Ia hanya tersenyum tipis dan menggeleng.
"Kamu jangan seperti ini, Sayang. Nanti kamu sakit. Mama tidak mau itu terjadi padamu."
"Nadhira tidak lapar sedikitpun, Ma."
"Ra, jika kamu sakit juga. Siapa yang akan menjaga Reyhan nantinya ?"
Ia terdiam.
"Sarapan dulu, ya, Nak. Tak mengapa hanya sedikit."
Ia mengambil alih sekotak makanan yang disodorkan Mama padanya. Membuka dan menyantapnya perlahan. Ia memaksakan makanan tersebut masuk ke mulut dan menelannya dengan susah payah. Makanan yang ia telan terasa hambar.
"Bagaimana bisa aku makan dengan tenang jika melihatmu terbaring lemah dan tak berdaya seperti itu, Sayang ?" jeritnya dalam hati. Air matanya tumpah ruah dari kelopak mata indahnya. Ia menggigit bibir menahan isakannya agar tak terdengar siapapun.
Mama yang melihatnya menahan tangis begitu iba. "Nadhira ?" Mama membawanya dalam pelukan. Tanpa malu ia menunpahkan segala pedih yang ia rasakan.
"Sampai kapan Kak Reyhan seperti ini, Ma ? Nadhira tak kuasa melihatnya."
Ia merasakan tangan lembut Mama mengelus puncak kepalanya. "Sabar, ya, Sayang."
Ia mendongakkan kepala menatap Mama.
"Kak Reyhan akan baik-baik saja 'kan, Ma ?"
"Tentu saja, Nak. Tapi, kamu jangan bersedih dan harus tetap kuat. Kamu juga tak boleh sakit."
"Bagaimana mungkin Nadhira tidak bersedih jika melihat suami Nadhira seperti ini, Ma ?"
"Berdo'alah yang terbaik untuk Reyhan, ya. Dia lelaki kuat. Pasti akan mampu melewati masa-masa sulitnya."
Makanan yang tak mampu dihabiskan itu ia berikan kembali pada Mama. "Maaf, Ma. Nadhira tak bisa menghabiskan makanan ini. Nafsu makan Nadhira entah dimana."
"Tak mengapa, Sayang. Asal jangan membiarkan perutmu tak terisi sama sekali."
Tatapannya kembali pada suaminya yang masih terbaring dengan mata terpejam sempurna serta wajah yang memutih. Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Reyhan.
"Bangun, Sayang. Aku sudah merindukan pelukanmu," bisiknya.
Ia menumpukan kepalanya di pinggir brankar yang ditempati Reyhan. Mencoba memejamkan matanya yang teramat perih dan lelah menangis.
"Nadhira ?"
Ia mengangkat kepalanya saat suara Mama melafalkan namanya.
"Jika kamu lelah. Istirahatlah, Nak. Sejak semalam kamu pasti belum istirahat sama sekali. Kasihan tubuhmu, Sayang."
"Tidak, Ma. Nadhira akan menunggu sampai Kak Reyhan bangun. Mama tidak perlu khawatir. Nadhira pasti akan baik-baik saja."
"Mama tinggal pulang sebentar, ya, Nak. Adikmu tak ada yang mengurusnya dirumah. Nanti biar Farhan yang Mama minta untuk menemanimu disini."
"Iya, Ma. Maafkan Nadhira sudah merepotkan Mama untuk menemani sejak semalam."
"Jangan bicara seperti itu, Nadhira. Reyhan juga anak Mama."
"Ma, bantu do'akan Kak Reyhan, ya," ucapnya lirih.
"Tanpa kamu meminta pun akan Mama lakukan."
Ia tersenyum manis. Mencium tangan Mama yang siap beranjak pulang.
Sepeninggal Mama. Ia kembali menumpukan kepalanya dan menjadikan kedua tanganya sebagai tumpuan. Matanya dengan segera ia cobakan lagi untuk terpejam. Dan kali ini berhasil. Ia mampu terlelap.
__ADS_1
Karena, terlalu lelap dalam tidurnya. Ia tak menyadari suaminya terbangun dan mengeluh kesakitan.
"Sssshhh!"
Reyhan bahkan tak tega hanya untuk membangunkannya. Ia merasa terlalu merepotkan istrinya itu. Dengan sekuat tenaga ia meremas selimut yang membungkus setengah badannya. Melampiaskan sakit yang menyergapnya.
Berulang kali Reyhan beristigfar dalam hati.
"Ya Allah, kenapa harus sesakit ini ?" keluh Reyhan dengan suara kecil.
Merasa tenggorokannya mengering. Reyhan dengan sisa tenaganya berusaha menggapai gelas air minum diatas meja samping brankarnya. Karena, kondisinya yang terlalu lemah. Gelas yang digapainya jatuh ke lantai dan menimbulkan suara bising yang sukses membuat Nadhira terlonjak dari tidurnya.
"Astaghfirullah!" ucapnya seraya mengelus dada.
"Maafkan aku, Al," ucap Reyhan lirih.
"Kenapa kakak tidak membangunkanku jika butuh sesuatu ?"
"Aku tak tega membangunkanmu."
Ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Sayang aku ingin memelukmu," Reyhan merentangkan sebelah tangannya.
Dengan cepat ia memeluk tubuh suaminya. Ia rasakan deru napas tak beraturan itu.
"Al ?"
"Hmmm."
"Aku...tidak... Akkhh!" Reyhan mengaduh dengan kuat.
"Sayang. Sayang. Kenapa ?" Ia begitu panik melihat suaminya.
"Dadaku, Al. Dadaku. Akhhh!"
Untuk kali pertama ia melihat Reyhan menjerit kesakitan tanpa malu. Hatinya ngilu melihat hal itu.
"Sakit, Al. Sakit."
"Genggam tanganku dengan kuat, Sayang. Lampiaskan segala sakitmu padaku. Ayo, Sayang."
Reyhan benar-benar menggenggam erat tanganya.
"Kakak kuat. Kakak pasti bisa melewati ini semua."
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang dokter dan beberapa perawat yang mengikutinya dari belakang.
"Ibu bisa tunggu diluar sebentar. Saya akan memeriksa kondisi Pak Reyhan sekarang."
"Jangan pergi! Jangan."
"Aku tidak akan pergi. Aku hanya menunggu diluar sementara dokter mengecek keadaan kakak."
Ia menatap Reyhan yang menggeleng kuat.
"Jangan kemana-mana, Al. Aakkhh."
"Dokter, izinkan saya menemani suami saya disini. Saya tidak tega meninggalkannya. Saya mohon, Dok."
"Baiklah, Bu."
Ia menatap kegiatan Dokter Dharma yang sedang memeriksa suaminya. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Reyhan. Ia rasakan sesekali Reyhan dengan sangat kuat menggenggam tangannya hingga memutih.
"Pak Reyhan, kondisi Bapak semakin hari semakin memburuk. Apakah Bapak tidak ingin menerima saran yang sudah saya sampaikan pada orang tua Bapak untuk melakukan operasi ?"
Reyhan sama sekali tak menggubris ucapan Dokter Dharma. Karena, ia tak pernah ingin membahas tentang operasi. Dengan siapapun itu. Bahkan dengan orang tuanya sekalipun.
__ADS_1
"Berikan saja obat pereda sakit untuk saya, Dok."
"Itu hanya bersifat sementara, Pak. Lagipula obat-obatan yang sudah saya berikan sejak dulu bahkan Bapak jarang untuk mengkonsumsinya. Jangan remehkan penyakit seserius ini, Pak."
"Maaf, Dokter Dharma. Jangan memaksa saya!" bentaknya keras.
"Kak, jangan seperti itu!"
"Biar saya yang bicarakan dengan suami saya, Dok."
"Baiklah, Bu. Saya permisi dulu. Semoga Ibu bisa membujuk Pak Reyhan untuk melakukan operasi. Karena, operasi adalah jalan satu-satunya untuk membantu beliau tidak merasakan sakit seperti ini lagi."
"Terimakasih banyak, Dokter Dharma."
"Untuk sementara berikan dulu obat yang sudah ada diresep ini."
Ia mengambil sebuah kertas putih dengan coretan tak jelas yang tentu saja susah untuk ia baca dari tangan Dokter Dharma.
"Nanti tolong Ibu Nadhira menemui saya di ruangan. Ada hal serius yang harus saya bicarakan dengan Ibu tentang kondisi Pak Reyhan."
"Baik, Dok. Saya akan segera ke ruangan Dokter."
Ia menatap mata yang tengah menatapnya.
"Kenapa, Sayang ? Hmmm ?"
"Jangan seperti Dokter Dharma ataupun Papa dan Mama. Tolong jangan memaksaku untuk melakukan operasi. Aku baik-baik saja, Al. Dan aku hanya butuh obat pereda sakit. Itu saja, Al. Percaya padaku."
"Iya, Sayang. Lekaslah sembuh dan jangan seperti ini lagi. Sehingga, siapapun tak akan ada yang meminta apalagi memaksa kakak untuk operasi."
"Aku kuat, Al. Sungguh. Hanya saja jantung sialan ini yang membuatku begini."
"Reyhan!" bentaknya dengan tatapan menyalang.
Reyhan yang mendengar bentakannya dan hanya menyebut namanya saja kaget. Ia menatap netra istrinya itu yang sudah terpancar kobaran emosi uang meluap-luap.
"Aku tidak suka kamu berkata seperti itu. Jaga bicaramu!"
"Sayang, kamu benar-benar membentakku ?" tanya Reyhan dengan suara kecil dan menyedihkan.
Ia hanya terdiam dan menunduk penuh sesal.
"Iya 'kan, Sayang ?"
Dengan kepala yang masih tertunduk. Ia meremas jemari-jemarinya. Menyesali ucapannya pada Reyhan.
"Jangan membentak laki-laki penyakitan yang tidak berguna ini, ya, Sayang. Karena, laki-laki ini hanya butuh belas kasihanmu. Butuh bantuanmu hingga tubuh ringkih ini tak bernyawa lagi. Sebentar lagi, Sayang."
"Kak, apa maksudmu ?"
"Sebentar lagi aku tidak akan merepotkanmu, Sayang. Sabar dulu, ya. Karena, aku akan pergi. Jadi, tiada lagi laki-laki tak berguna ini yang akan menyita waktumu, menghabiskan tenagamu."
Ia memeluk tubuh suaminya. "Tidak! Kakak tidak boleh berkata seperti itu."
Reyhan tertawa sumbang dalam pelukan istrinya. "Aku sudah cukup lelah, Sayang. Aku jua sudah malu pada Mama, Papa, dan Farhan karena terlalu sering membuat mereka khawatir dan membuang waktu untuk sekedar merawatku. Sekarang, kamu pun sama seperti mereka. Harus terjebak untuk mengurusi lelaki penyakitan ini."
"Sayang, aku istrimu. Jadi, aku akan mengurusimu dalam keadaan apapun. Aku mohon jangan berkata seperti itu lagi."
Pandangannya tiba-tiba berkunang. Ia melepas pelukannya dari tubuh Reyhan dan memijat pelipisnya.
"Kamu kenapa, Al ?"
"Tidak apa-apa, Kak."
"Kamu sakit, Sayang ? Hmmm ? Ini semua karena aku. Maafkan aku, ya."
"Kak, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku baik-baik saja."
__ADS_1
Ia hanya mendapati gelengan demi gelengan dari suaminya. Dengan cepat ia memeluk kembali tubuh lemah Reyhan dan berbisik.
"Kamu tak pernah merepotkanku. Aku istrimu dan aku mencintaimu, suamiku."