Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 64


__ADS_3

Reyhan's POV


Mataku menyelinap liar menikmati keindahan karya tangan Tuhan dihadapanku saat ini. Dengkuran halus yang ia ciptakan tanpa sengaja menjadi pengiring internal sepertiga malam yang ku lalui tanpa sujud shalat malam dan munajat suci pada Sang Khalik. Karena, kondisiku yang terlalu lemah dan tak berdaya.


Tanganku yang terbebas dan tak dijadikan bantal namun terjerat selang infus dengan pelan mengelus pipi lembutnya. Menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.


"Cantikmu sama sekali tak berubah sejak pertama aku melihatmu, Aleea."


Senyumku terbit saat mengingat kejadian-kejadian pada pertemuan silam. Ah... Perempuan ini selalu saja membuatku merasa tak biasa. Jantung yang membuatku menjadi orang terlemah ini pun mampu berdetak tak normal dibuatnya.


"Hei, istri kecilku! Tetaplah kuat berada disamping suamimu yang tak sempurna ini, ya. Menjadi penawar saat lelah mengungkung. Menjadi tongkat saat jalanku mulai tertatih." Aku berbicara seakan Aleea tengah asyik mendengarku.


Menatapnya dalam tidur damainya membuat rasa bersalahku telah membuatnya menangis terlalu sering memuncak dengan hebat dan kuat. Air mata yang entah seberapa lama tertahan kini tumpah begitu saja tanpa ampun.


"Maafkan aku, Sayang. Sikap dan perlakuanku selama ini sudah terlalu banyak membuatmu menangis."


Tatapanku beralih ke arah sofa. Ku lihat Mama masih setia dengan posisinya yang tertidur pulas. Dalam hati pun aku menjerit melihat hal itu. Harusnya Mama bisa tertidur dengan nyaman dirumah jika saja keadaanku baik-baik saja.


"Sudah bangun, Rey ?" Suara Papa yang baru saja memasuki ruangan mengalihkan perhatianku.


Aku meletakkan jemari telunjukku dibibir memberi isyarat pada Papa untuk berbicara dengan suara kecil. "Sssstt!"


Papa yang memahami maksudku hanya mengangguk paham dan mendekat ke arahku. "Bagaimana ?"


Alisku terangkat sebelah.


"Kondisimu maksud Papa."


"Seperti yang Papa lihat. Reyhan masih terlihat lemah dan menyedihkan," jawabku dengan senyum tipis yang ku paksakan.


"Ada yang ingin Papa bicarakan denganmu. Tentang kondisimu yang sama sekali tak ada perkembangan membaik."


"Pa, jangan sekarang. Reyhan tak ingin jika Aleea mendengarnya."


Aku dan Papa bersamaan menatap gadis yang tertidur pulas dalam pelukanku itu.


"Papa tidak bisa menunggu lagi untuk tidak memberitahumu. Maaf kali ini Papa harus lebih tegas dan tidak bisa menuruti permintaanmu."


"Pa ?" Aku menatap wajah tegas Papa dengan raut wajah memelas.


"Kondisimu semakin memburuk," ucap Papa tanpa mempedulikan permintaanku.

__ADS_1


"Baru saja Papa berbicara panjang lebar tentang kondisimu dengan Dokter Dharma. Rupanya tak ada perkembangan baik yang Papa terima. Tak sesuai dengan janji yang pernah kamu katakan pada Papa."


Aku hanya terdiam dan tertunduk. Lidahku kelu tak mampu berucap apapun.


"Kamu harus melakukan operasi jika tak mau terus menerus merasakan sakit dan mendekam dalam ruangan yang membosankan ini." Papa melempar tatapannya ke seluruh penjuru ruangan.


"Papa sudah lupa dengan apa yang sudah Reyhan katakan dulu. Reyhan tidak mau jika harus menjalani operasi, Pa."


"Ini semua demi kebaikanmu, Reyhan!" Dengan sekeras mungkin Papa membentakku untuk pertama kali.


Kerasnya suara Papa sukses membangunkan Mama dari tidurnya. Sedangkan istriku, hanya menggeliat kecil dan semakin memeluk erat tubuhku. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidangku.


"Ada apa, Pa ?" tanya Mama seraya mendekat ke arahku.


Tiada pun diantara aku dan Papa yang menjawab pertanyaan Mama.


"Pa, jangan terlalu kencang berbicara. Nanti Aleea terbangun. Reyhan mohon, Pa."


"Kamu pikirkan saja, Reyhan. Apa kamu masih ingin merepotkan gadis itu dengan kondisimu yang kian hari kian memburuk saja ?" Papa menatap Aleea dengan ekor matanya.


"Tapi, untuk operasi Reyhan tidak mau, Pa. Papa tolonglah jangan memaksa Reyhan untuk hal itu."


Aku melihat Mama sudah menggenggam tangan Papa. "Pa, ada apa ini sebenarnya? Tidak bisakah di bicarakn dengan baik-baik saja tanpa amarah seperti itu ? Lagipula Papa lihat pula keadaan Reyhan sekarang."


Mama menatapku dengan tatapan penuh tanya yang ku balas hanya dengan gelengan. Jikapun ku jawab. Maka ku pastikan Mama akan memintaku melakukan hal yang sama seperti Papa.


"Reyhan hanya butuh istirahat lebih, Pa."


"Tidak! Kamu tidak hanya butuh istirahat. Tapi, kamu butuh operasi."


Aku mendengar begitu banyak tekanan pada kata demi kata yang dilontarkan Papa pada kalimat terakhirnya. Tentu saja membuatku murka dan tak bisa mengontrol amarahku yang memuncak karena tak suka dipaksa.


"Reyhan tidak mau operasi, Pa! Titik!" jawabku dengan keras dan lantang. Wajahku memanas dan pasti sudah merah padam.


"Reyhan!" Untuk pertama kali pula aku mendengar Mama membentakku begitu keras.


"Baiklah terserah kamu saja," ucap Papa dan tersenyum kecut.


Penyesalan datang menghantamku tanpa permisi. Mencabik-cabik dadaku tanpa ampun. Perih. "Pa, maafkan Reyhan. Sungguh tiada pun maksud Reyhan membentak Papa." Aku meraih tangan Papa dan menggenggamnya erat. Tangis pun juga tak mampu aku tahan.


"Papa ?" panggilku lirih.

__ADS_1


"Urus saja anak Mama ini. Papa akan pulang dan istirahat sebentar. Nanti Papa datang lagi sebelum berangkat ke kantor." Papa melepaskan genggamanku dengan paksa.


"Pa, tolong maafkan Reyhan." Entah seberapa sakit hati dan kecewa yang ku torehkan dihati Papa kali ini.


Aku merasakan tubuh Aleea menggeliat sempurna. "Kak ?" panggilnya dengan suara serak. Ia menatapku dengan lekat dan belum tersadar sepenuhnya Mama dan Papa berada dibelakangnya.


"Kenapa menangis ?"


Aku menggeleng. "Tidurlah lagi. Ini belum waktunya untuk bangun."


Sungguh. Aku benar-benar tak fokus saat ini. Aku menatap Papa yang sudah siap untuk beranjak.


"Papa ?" panggilku tanpa lagi mempedulikan Aleea yang sudah terbangun. Pelukan hangatnya sudah kurasa tak lagi merengkuh tubuhku.


"Terserah kamu saja, Reyhan. Bukankah kamu tak mau dipaksa ?"


"Sudahlah, Pa. Reyhan tak ingin o..." Aku menggantung ucapanku. Rasa takutku karena diketahui Aleea mengungkung sombong dalam diri.


Papa yang mungkin saja sudah bosan membujukku tanpa berbicara apapun berlalu dari hadapanku.


"Papa!" Dengan sekuat tenaga aku bangkit dari tidurku. Berusaha mengejar Papa sebelum benar-benar pergi dari ruanganku.


Tangan kecil Aleea berusaha melarangku. Namun, rasa bersalahku pada Papa membuatku tak mempedulikan apapun dan siapapun.


"Papa! Tunggu dulu!" Panggilan dengan segala rintihan tak jua dipedulikan Papa. Ia berlalu dan hilang dibalik pintu kamar yang teetutup rapat. Bersamaan dengan itu, tubuh lemahku luruh dilantai yang dingin.


"Pa, maafkan Reyhan, Pa." Tangisku kini pecah tak tertahan. Aku bukanlah lagi Reyhan seperti yang orang lain lihat. Tegar dan kuat. Kini semua bukan lagi seperti itu. Aku hanyalah Reyhan yang menyedihkan dan tak berdaya. Menangis seperti anak kecil yang sedang ditinggal orang tuanya.


"Nak, sudahlah." Mama memeluk tubuhku. Begitu jua kurasakan ada sepasang tangan yang ikut melakukan hal yang sama seperti Mama. Wajahnya tenggelam dalam lekuk tengkukku.


"Jangan seperti ini," bisiknya tepat ditelingaku.


"Papa tidak membenci Reyhan 'kan, Ma ?"


"Tentu saja tidak, Nak. Papa hanya ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya."


Air mataku mengalir dengan deras. "Ma, Papa pergi tanpa mempedulikan panggilan Reyhan, Ma. Papa pasti kecewa pada Reyhan. Iya 'kan, Ma ?"


"Sudahlah, Reyhan. Kamu fokus pada kesehatanmu saja. Nanti Mama bicarakan pada Papa. Iya, Nak, ya."


Sakit. Itu yang tengah kurasa. Bukan lagi sakit karena jantung sialan ini. Tapi, karena perlakuanku pada Papa.

__ADS_1


Aku menggigit bibirku menahan sakit yang mulai menyapa. Mencengkeram dengan sekuat mungkin dadaku. Deru napasku pun sudah tak beraturan lagi.


"Sayang ?" Itulah suara terakhir yang aku dengar diiringi isakannya yang memilukan.


__ADS_2