Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 144


__ADS_3

"Yakin sudah merasa baikan untuk pergi ke kantor?" tanya Reyhan dengan memperhatikan Farhan yang tengah mengenakan dasi.


"Iya, Kak. Farhan sudah tidak apa-apa," balas Farhan penuh keyakinan.


Reyhan bangkit dan berjalan mendekati adiknya. Ia menarik pelan pundak Farhan hingga adiknya itu berbalik menghadapnya. Tinjuan pelan ia daratkan pada perut Farhan yang beberapa hari lalu dilihatnya masih membiru.


"Akkhh." Farhan mengaduh kesakitan. Tangannya dengan refleks memegangi perutnya yang sakit. Padahal, tinjuan Reyhan sangatlah pelan. Tetapi, ia merasakan sakit yang luar biasa.


"Tinjuan sepelan itu saja membuatmu begitu kesakitan, Dik. Kakak tahu kamu masih sakit. Istirahat saja. Tunda dulu untuk ke kantor."


Farhan menggeleng. "Tidak. Farhan harus ke kantor. Farhan tidak ingin menumpuk pekerjaan lagi," balasnya dengan mengabaikan sakit yang masih terasa di area perutnya.


"Farhan ini pemula. Banyak hal yang harus Farhan pelajari agar tak membuat kesalahan lagi. Sehingga, tangan Papa tidak mendarat lagi pada tubuhku," lanjut Farhan tanpa sadar dengan ucapannya.


Reyhan tertegun. Laki-laki itu menatap lekat adiknya yang sedang bersiap-siap. "Apa yang kamu katakan tadi? Bisa kamu ulangi?"


Lidah Farhan seketika membeku. Ia tak tahu harus menjawab apa.


"Ulangi apa yang kamu katakan tadi, Farhan!" perintah Reyhan dengan melakukan penekanan di setiap kata yang ia lontarkan.


Farhan sengaja melirik jam dinding. "Farhan berangkat dulu, Kak. Farhan tidak mau datang terlambat."


"Kamu CEO disana. Kamu bisa datang kapan saja kamu mau."


"Justru itu, Kak. Farhan harus memberikan contoh yang baik untuk para karyawan. Farhan ingin mengikuti jejak Kakak. Sehingga, Farhan akan di segani oleh orang." Sejenak ia terdiam. "Seperti Papa, misalnya," lanjutnya dalam hati.


"Tetapi, kamu masih kurang sehat. Kakak tidak mau kamu pingsan lagi seperti beberapa hari yang lalu."


"Jangan khawatir. Farhan kuat," ucapnya meyakinkan dan tersenyum lebar. Tentu saja ia harus kuat. Biar bagaimanapun ia sudah diberikan amanat menggantikan Reyhan untuk mengemban amanat sebagai CEO. Selain itu, ia harus kuat untuk segera memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ia buat tanpa sengaja. Hal itu ia lakukan agar tak ada lagi kekerasan. Tak ada lagi luka lebam pada tubuhnya yang dicetak dengan sengaja oleh tangan Papa.


Farhan bergidik ngeri mengingat bagaimana Papa dengan brutal memukulnya tanpa ampun. Perlakuan seperti itu terbilang biasa bagi Farhan. Karena, lelaki itu sudah sering mendapatkannya. Dan selalu di sembunyikan. Sehingga, kerap kali perdebatan dengan Papa membuatnha berada posisi salah.


Jika emosi berasa di ambang batas. Saat itulah ia dengan keras juga akan membentak Papa. Namun, setelah itu ada rasa sesal yang mengekangnya kuat. Membuatnya harus merasakan nyeri seperti tusukan belati di kepalanya.


"Dik."


Panggilan Reyhan berhasil membawanya kembali ke alam sadar. Farhan tersenyum.

__ADS_1


"Maaf sudah menjebakmu pada posisi ini," ucap Reyhan penuh sesal.


"Ini keputusan yang Farhan pilih. Kenapa Kakak harus menyalahkan diri sendiri seperti itu?" tanya Farhan dengan santai.


"Jika kondisi Kakak tidak seperti ini. Kamu pasti akan terbebas dari keadaan berat yang sama sekali tidak kamu inginkan."


Farhan tertawa kecil. Ia duduk disamping Reyhan diatas tempat tidur besarnya. Tangannya mendarat di paha sang kakak. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar. "Farhan ini laki-laki, Kak. Farhan ingin menjadi petarung yang kuat dan pemenang yang hebat." Farhan menjeda kalimatnya. Ia menatap wajah pucat di sampingnya. "Seperti Reyhan Akbar Oktara," lanjutnya dengan pasti.


Kali ini giliran Reyhan yang tertawa kecil. "Petarung yang pada akhirnya tumbang karena penyakit mematikan yang mendarah daging dalam diri Kakak."


Percakapan dua lelaki kakak beradik itu terhenti tatkala pintu kamar Farhan terbuka perlahan. Menampilkan sesosok gadis kecil dengan rambut panjang tergerai. Lengkap dengan seragam sekolah dan tasnya.


"Hai!" sapa Reyhan dengan semangat. "Kemarilah!"


Berbeda dengan Farhan. Lelaki itu tertegun. Pandangannya buram. Ia tak bisa melihat dengan jelas siapa yang memasuki kamarnya jika saja suara cadel itu tak terdengar.


"Kata Mama, Tisha berangkat sekolah diantar Kak Farhan," ucap gadis kecil itu dengan polos seraya melangkah mendekat.


Saat itu pula Farhan berusaha mengembalikan kesadarannya sebelum hilang total. Ia menggelengkan kepala dengan mata terpejam. Hingga ia rasakan kembali bahwa penglihatannya sudah normal.


"Siap, Bos Kecil. Kak Farhan akan mengantarmu sampai di depan kelas," ucap Farhan.


Reyhan dan Farhan saling melempar tatap satu sama lain. Kemudian, tertawa bersama dengan keras. Dan secara bersamaan pula kedua laki-laki itu mencium pipi gadis kecil di hadapannya mereka.


"Adiknya kakak sekarang sudah besar, ya, Sayang?" Reyhan mengelus rambut panjang Latisha.


"Tentu saja. Jadi, Tisha tidak boleh manja seperti apa yang dikatakan Kak Nadhira."


"Siapa itu yang sebut-sebut nama kakak?"


Ketiga anak keturunan Oktara itu menatap bersamaan ke arah pintu. Menemukan Nadhira dengan nampan yang berisi sarapan untuk Reyhan dan Farhan. Iya. Pagi ini Reyhan ingin sekali sarapan dengan adik lelakinya itu. Sebab itulah, ia meminta istrinya untuk membawakan sarapan ke kamar Farhan.


"Adik tunggi dibawah, ya, sama Mama. Kak Reyhan dan Kak Farhan sarapan dulu. Nah, setelah itu barulah Kak Farhan mengantar adik ke sekolah."


Gadis kecil itu mengangguk polos dan melenggang keluar.


"Sarapan dulu. Aku sudah membuat nasi goreng spesial untuk kalian berdua."

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Kak."


Nadhira hanya membalas dengan senyum manisnya.


"Ingat, kalian jangan lupa minum obat setelah ini."


"Kenapa kita berdua begitu menyedihkan seperti ini, ya, Kak?"


Celetukan Farhan berhasil mengalihkan fokus dua manusia yang sedang membersamainya itu.


"Apa maksudmu, Farhan?" tanya Nadhira.


Farhan segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak. Lupakan saja."


Hening. Tiada satupun yang membuka suara setelah itu. Semuanya fokus pada makanan masing-masing.


"Kakak sudah meminta Kak Nadhira menyiapkan bekal juga untukmu. Nanti di kantor jangan lupa dimakan, ya."


"Farhan 'kan bisa makan diluar, Kak."


"Masakan kakak iparmu tidak kalah enak dari masakan-masakan yang ada di restoran di luaran sana."


"Hmmm. Baiklah. Farhan berangkat, ya."


Reyhan mengangguk. "Jangan sakit lagi."


Farhan hanya tersenyum tipis dan mengambil bekal yang sudah disiapkan Nadhira untuknya. "Lekas sembuh. Farhan menunggu untuk Kakak kembali ke kantor. Dan kita akan membantu Papa bersama-sama."


Senyum miris itu terbit di bibir Reyhan.


"Jangan psimis. Nothing's impossible."


Farhan melangkah meninggalkan sepasang suami istri itu didalam kamarnya.


"Sekarang ayo kembali ke kamar. Farhan sudah berangkat."


Reyhan mengangguk. Ia mengikuti langkah Nadhira dengan pelan meninggalkan kamar adiknya itu.

__ADS_1


"Terima kasih sudah perhatian pada Farhan," ucap Reyhan.


__ADS_2