
“Bangun, Al.”
Reyhan mengguncang tubuhnya pelan. Membangunkan dari tidur lelapnya. Ia menggeliat dan membuka matanya perlahan.
“Bangun, Sayang,” ucap Reyhan dengan lembut. Namun, hanya dibalasnya dengan ekpresi datar.
“Bersihkan tubuhmu. Ada Ayah dan Bunda menunggumu dibawah.”
Ia bangkit tanpa menimpali ucapan Reyhan. Menyambar handuk dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Sampai kapan sikapmu akan seperti itu padaku, Al ? Aku lelah di diamkan,” lirih Reyhan.
_____
Langkahnya pasti menuruni tangga satu per satu. Senyumnya mengembang. Ia bahagia mendengar bahwa Ayah dan Bunda datang menemuinya.
“Ayah! Bunda!” teriaknya setelah menginjakkan kaki di tangga terakhir.
Ia berlari kecil ke arah Ayah dan Bunda yang sudah duduk santai bersama Mama. Ada Reyhan disana. Namun, diacuhkannya dengan sengaja.
Secara bergantian ia menyalami kedua orang tuanya. “Abang tidak ikut, Bunda ?”
“Tidak. Abang sibuk bekerja. Katanya mau nabung uang banyak bekal nikah.”
Ia tertawa kecil mendengar celotehan Bunda. “Biarkan saja, Ma. Lagipula, Abang jua sudah cukup usia untuk menikah.”
“Tapi, mau menikah bagaimana, Dik ? Memperkenalkan satu perempuan setelah kepergian Prisil saja tidak pernah sekalipun. Iya ‘kan, Yah ?”
Ayah hanya mengangguk menimpali.
“Lho, memangnya Ayah dan Bunda tidak tahu ? Abang ‘kan sedang menjalin hubungan dengan Mikayla. Sahabat adik. Iya ‘kan, Kak ?” Pertanyaannya terlontar tak sengaja ke arah Reyhan.
Reyhan terbelalak dan menjawab dengan terbata-bata. “Oh... iya, Bunda.”
Seketika ia tertunduk saat ia sadari sikapnya. Ia malu. Rupanya memang benar ia tak terbiasa jauh dari suaminya.
Mama tersenyum geli melihat kelakuan anak menantunya itu.
“Abang tidak pernah menceritakan apapun pada Bunda.”
“Oh.” Ia hanya ber-oh ria.
__ADS_1
“Tunggu sebentar. Adik buatkan minuman untuk Ayah dan Bunda. Juga untuk Mama.”
Ia bergegas meninggalkan ruang keluarga menuju dapur.
“Ra jangan lupa minum untuk suamimu juga,” teriak Mama menggodanya.
Tanpa mempedulikan ucapan Mama yang ia tahu menggodanya. Langkah kakinya ia percepat seperti tengah berlari kecil.
"Ah... Kenapa bisa-bisanya aku sampai terlanjur bicara pada Kak Reyhan ?" cicitnya sendiri didapur dengan menghentakkan kakinya kesal.
Ia menggerutu terus menerus seorang diri. "Aku 'kan jadi malu." Ditutupnya wajahnya dengan kedua tangan.
"Ah... Terserah saja. Lagipula, aku tak sengaja berbicara padanya," ucapnya berpura-pura acuh.
Tangannya dengan cekatan membuat minuman untuk orang tuanya. Jua untuk suaminya. Membawanya dengan nampan besar memuji ruang tamu.
"Sekarang anak gadis Ayah dan Bunda sudah bisa kerja didapur ?" ucap Ayah dengan senyum menggoda.
"Mama yang sudah mengajarkan adik, Yah," balasnya bangga seraya melirik Mama dengan ekor matanya.
"Tidak diajarkan Reyhan ?" lanjut Bunda menimpali.
"Tidak!" jawabnya cepat.
"Sebentar Reyhan terima panggilan dulu dari kantor."
Semuanya mengangguk. Kecuali, ia yang masih bersikukuh dengan egonya yang bertahta rapi dalam diri.
Diam-diam ia mencuri pandang ke arah Reyhan yang tengah berdiri menerima telepon dengan posisi membelakangi ruang tamu. Melihat ekspresi tak biasa dari suaminya itu. Ia yakin ada sesuatu serius yang tengah terjadi.
Kembali ia membuang muka ke arah lain saat dilihatnya Reyhan membalik badan dan melangkah ke ruang tamu.
"Reyhan ke kantor sekarang. Ada yang harus Reyhan selesaikan dan tidak bisa ditunda lagi."
Ia sama sekali tak menoleh ke arah Reyhan. Berbicara sepatah kata pun tidak.
"Ayah. Bunda. Tak mengapa Reyhan tinggal ke ke kantor ?"
"Iya, Nak. Pergilah! Selesaikan pekerjaanmu."
Reyhan segera berlalu.
__ADS_1
"Jangan lupa minum obatmu!" teriaknya tiba-tiba sebelum tubuh Reyhan hilang dibalik tembok ruangan. Reyhan mengangguk dan tersenyum.
"Jangan pelihara gengsimu itu, Nadhira Aleeana Prayudha!" jelas Bunda seraya menyikut lengannya pelan.
"Apa maksud Bunda berkata seperti itu pada adik ?" tanyanya berpura-pura.
"Kamu hanya pembohong ulung. Jadi, jangan coba-coba untuk membohongi Bunda."
Ia terdiam.
"Bicara ya bicara saja pada suamimu. Tidak baik berlarut-larut dalam amarah. Tidak jua akan memperbaiki keadaan."
"Bunda ?" panggilnya lembut nan manja.
"Bunda tidak menerima pembelaan dalam bentuk apapun, Nak. Bunda ingin kamu meminta maaf pada suamimu atas sikap acuhmu itu. Kasihan juga Reyhan jika kamu diamkan terus menerus."
Otaknya berpikir cepat membenarkan apa yang diucapkan Bunda. Tapi, semua kembali pada ego yang masih berdiri kokoh.
"Mau berapa lama lagi kamu akan mendiami suami seperti itu ? Masih kuat pulakah mendiami suami terus menerus ?"
Bibirnya terkatup rapat.
"Untung apa kamu jika bersikap seperti itu ? Tidak ada, bukan ?"
Bunda menghela napas dan melanjutkan kalimatnya. "Sepulang Reyhan dari kantor. Kamu minta maaflah padanya. Buang jauh ego yang membelenggumu itu. Kamu bukan lagi remaja. Kamu adalah istri."
Ia menatap Bunda dengan tatapan sayu dan air mata yang kian menggenang.
"Minta maaf dengan ikhlas. Bukan karena paksaan Bunda atau siapapun. Kamu paham maksud Bunda 'kan, Sayang ?"
Kepalanya mengangguk pelan. Ia memeluk Bunda dengan erat dan sayang. Ada kenyamanan yang ia temukan disana. Seakan kembali menjadi Nadhira kecil.
"Jangan menangis. Nanti cantiknya hilang," goda Bunda. "Malu jua pada Ayah dan Mama."
Ia terkekeh dan menghapus jejak air matanya dengan cepat.
"Nadhira haus," ucapnya dan meneguk seketika jus yang ia buat sendiri hingga tandas.
Ayah, Bunda dan Mama tertawa melihat tingkah polosnya itu.
"Sudah jadi istri. Jangan merajuk lagi, ya."
__ADS_1
"Iya, Bunda."