Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 146


__ADS_3

Senyum Reyhan mengembang. Ia keluar dari ruang kerja Papa dengan langkah gontainya. Memutar kenop pintu dengan kesenangan yang tidak tergambar.


Aku harus sembuh. Demi Farhan, pikirnya.


"Tidak perlu mengorbankan kesehatan Kakak demi Farhan."


Langkah Reyhan tercekat. Ia memutar tubuh dan menemukan lelaki dua puluh tahun berdiri dengan bersandar pada dinding kokoh dan tangan terlipat di depan dada. Dilihatnya senyum tipis terukir cantik pada wajah yang tak kalah pucat dengan wajahnya itu.


"Maksud kamu apa, Dik?" tanya Reyhan berpura-pura.


Farhan melangkah mendekat. "Farhan sudah mendengar percakapan Kakak dan Papa. Harusnya Kakak tidak perlu melakukan itu. Farhan sudah terbiasa. Yang terpenting itu adalah kesehatan Kakak. Kakak harus sembuh."


Reyhan terdiam. Ia limbung. Keseimbangan goyah.


"Kak, are you okay?"


Reyhan mengangguk.


"Farhan bantu ke kamar, ya."


Kali ini Reyhan tak menolak tatkala tangan Reyhan sudah memegangi lengannya. Mengalungkan tangannya pada leher Farhan.


"Dik, wajahmu pucat. Kamu sakit lagi?" Reyhan menatap wajah adiknya yang akhir-akhir ini tampak memucat dengan lekat.


Farhan terdiam sejenak. Kemudian, kembali melempar senyum pada Reyhan. "I'm okay."


"Jika kamu memang sakit. Katakan saja, Dik. Kakak tidak mau sakitmu berlanjut dan semakin parah."


"Farhan sakit, Kak," cicit Farhan dalam hati.


Flashback On


Setelah menyelesaikan pekerjaannya memeriksa berkas-berkas yang tertumpuk diatas meja. Farhan merasakan kembali sakit di kepalanya. Lebih sakit dari sebelumnya. Telinganya berdenging. Tatapan kian memburam.


Ia bangkit dengan susah payah. Tubuhnya limbung.


"Pak Farhan kenapa?" tanya Tio yang baru saja memasuki ruangan yang dulu ditempati Reyhan.


"Farhan juga tidak tahu, Kak. Kepala Farhan sakit banget."


Iya. Farhan lebih suka memanggil Tio dengan panggilan kakak. Sebenarnya, Farhan juga sering melarang Tio untuk memanggilnya dengan embel-embel kata "Pak". Tetapi, Tio selalu menolak. Alhasil, mereka saling memanggil sesuai keinginan mereka masing-masing.


"Apa perlu saya temani ke Rumah Sakit, Pak?" tanya Tio seraya membantu bos barunya itu berbaring di sofa ruangan.


"Tidak perlu, Kak. Nanti juga sembuh. Farhan hanya butuh istirahat."


"Baiklah. Pak Farhan istirahat saja dulu. Saya akan kembali ke meja saya."


Farhan mengangguk. Ia melirik ponselnya yang berdering. Menampilkan sebuah nama yang sukses membuatnya menarik ujung bibir. Ia tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Za. Kenapa?"


"Mas Farhan sakit lagi? Kok suara lemas seperti itu?"


"Tidak apa-apa, Za. Kepalaku hanya sedikit sakit."


"Kenapa sekarang Mas Farhan sering sekali sakit kepala. Finza tidak yakin Mas baik-baik saja. Lebih baik Mas periksa saja ke Rumah Sakit. Finza takut terjadi sesuatu sama Mas."


"Aku tidak apa-apa, Finza. Kamu tenang saja."


"Finza tidak mau tahu. Pokoknya Mas Farhan harus ke Rumah Sakit. Nanti Finza temani."


Farhan tersenyum.


...***...


Farhan masih tertegun. Tatapannya kosong pada tembok putih Rumah Sakit sejak ia keluar dari ruang pemeriksaan.


"Kamu mengalami gegar otak. Dan ada gumpalan di otakmu. Jika itu pecah, tentu akan membahayakan kondisimu, Farhan." Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinganya.


"Are you okay, Be?"


Pertanyaan gadis berjilbab di samping membangunkan Farhan dari pikirannya yang jauh. Ia hanya menatap sayu wajah khawatir Finza. Ia melempar senyum tipis yang membingkai wajah pucatnya. "I'm okay, Be," balas Farhan meyakinkan.


"Tapi, Finza tidak yakin," balas gadis itu jujur. "Wajah Mas Farhan benar-benar pucat. Tidak seperti biasanya."


Farhan kembali tersenyum. Kali ini lebih lebar dan manis. "Percayalah pada calon suami tampanmu ini, Za."


Refleks tangan Finza memukul pelan perut Farhan.


"Aww."


"Kenapa? Sakit, ya? Padahal, Finza mukulnya pelan banget, Mas."


"Tidak. Tidak apa-apa."


Flashback Off


"Farhan." Reyhan menyentuh pundak adiknya yang masih terdiam.


Farhan menoleh. "Kakak fokus saja dengan kesehatan kakak. Tidak perlu melakukan apapun untuk membantu Farhan. Apalagi kembali ke kantor."


"Tidak apa-apa. Kakak tidak ingin lagi adik kakak disakiti, di pukuli seperti sebelumnya."


"Farhan sudah terbiasa dari dulu, Kak."


Jawaban itu membuat Reyhan tertampar keras. Ia semakin merasa tak berguna sebagai seorang kakak.


"Kakak mau tanya sesuatu. Tapi, kamu harus jujur."

__ADS_1


Farhan mengangguk.


"Papa sering memukulimu 'kan?"


Farhan bergeming.


"Jawab kakak!" bentak Reyhan. Kerasnya suara yang ia keluarkan membuat dadanya nyeri. Sesak. Pasokan udara benar-benar telah habis. Reyhan tertunduk.


"Kakak kenapa?" Farhan panik. Sejenak ia berpikir tentang pertanyaannya. Pertanyaan macam apa yang ia lontarkan tadi? Jelas saja ia tahu kondisi Reyhan.


"Jawab pertanyaan Kakak," lirih Reyhan.


Farhan mengangguk ragu. "Iya."


"Kenapa kamu tidak pernah cerita?"


"Maafkan Farhan, Kak. Farhan hanya tidak ingin menambah masalah saja. Farhan juga tidak ingin Mama dan Kakak khawatir."


Reyhan menghela napas panjang. "Papa sudah sangat keterlaluan."


"Jangan cerita ke Mama, ya, Kak. Farhan mohon."


"Tidak! Mama harus tahu bagaimana kelakuan Papa selama ini. Kakak juga tidak bisa membiarkan Papa terus menerus berlaku kasar padamu."


"Farhan mohon, Kak. Anggap saja itu permintaan terakhir Farhan sama Kakak."


Deg.


Detak jantung Reyhan terasa berhenti. Waktu juga seakan berhenti. Reyhan menatap wajah adiknya dengan tatapan yang sukar di gambarkan. Kalimat terakhir Farhan persis sama dengan kalimat yang ia lontarkan pada Papa.


"What do you mean? Explain to me, please." Suara Reyhan terdengar lirih. Demi apapun. Lelaki itu benar-benar takut mendengar ucapan adik lelakinya. Ia takut terjadi sesuatu pada Farhan.


Farhan terkekeh. "Its just a joke, Kak. Kenapa harus setegang itu sih?"


Tatapan Reyhan lurus dan menembus netra coklat milik Farhan. Menemukan sesuatu yang tersirat pada sorot mata itu. Sendu. Itulah satu kata yang menggambarkan tatapan Farhan. Padahal, lelaki itu tengah terkekeh mentertawakannya.


"Kamu bohong!" ucap Reyhan dengan tegas.


Tawa Farhan terhenti. Ia kembali tertunduk. "Farhan baik-baik saja, Kak," ucapnya berbisik. Namun, masih bisa terdengar jelas oleh Reyhan. Karena, jarak diantara keduanya hanya terhitung sentimeter.


"Kakak menemukan siratan kepedihan dari sorot matamu. Itu menggambarkan kamu memang tidak baik-baik saja. Ada yang beban berat yang tengah kamu pikul tanpa mau berbagi. Iya 'kan?"


Farhan menggeleng pelan. Ia belum siap bercerita apapun pada kakaknya. Takut saja jika ia menceritakan yang sebenarnya akan berpotensi membuat kakaknya anfal dan hal-hal buruk lainnya terjadi. Tidak. Ia tidak menginginkan hal itu.


"Ada apa ini? Kenapa pada tegang sih?"


Suara gadis berjilbab itu mengalihkan tatapan dua lelaki di pinggiran tempat tidur. Keduanya menatap Nadhira dengan tatapan yang tak bisa gadis itu artikan. Wajah mereka pun datar tanpa ekspresi.


"Ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2