
Selepas melaksanakan kewajibannya menunaikan shalat wajib dua rakaat bersama Reyhan. Ia duduk didepan meja belajarnya. Menyelesaikan tugas-tugas akhir yang sempat terlupakan. Sedangkan, Reyhan ia biarkan kembali tidur karena kondisinya yang masih lemah.
Dengan cekatan tangan lentiknya menari diatas laptop berukutan empat belas inc itu. Dan sesekali menari bersama bolpoin diatas kertas putih tak bernoda. Tanpa sengaja tatapannya menangkap sebuah botol kecil yang sudah sangat lazim dilihatnya. Kemudian, beralih ke arah tempat tidur dan menatap sedih lelaki yang tengah terbaring disana.
Ia melepas segala alat tulis yang di pegangnya. Berjalan mendekati Reyhan dan duduk di pinggiran ranjang. Ia mengelus lembut wajah suaminya. Menyisir dengan jemari rambut yang belum di sisir rapi itu.
Sebelah tangannya ia letakkan diatas perutnya yang masih merata. "Do'akan Papa agar segera pulih, ya, Nak. Biar nanti Papa bisa memenuhi apa yang kamu mau," ucapnya berbicara dengan jabang bayi didalam perutnya.
Reyhan menggeliat. Barangkali merasa terganggu dengan tangannya yang berhenti mengelus lembut rambut Reyhan.
"Selamat pagi, Papa," ucapnya dengan manis dan mencium kening Reyhan.
"Selamat pagi, Sayang," balas Reyhan seraya bangkit dengan susah payah hingga bisa bersandar pada sandaran tempat tidur.
"Kemarilah," pinta Reyhan dengan tangan yang direntangkan lebar-lebar.
"Wah... Sepertinya pagi-pagi begini Papa sudah merindukanmu dan Mama, Nak," candanya. Ia mendekat dan memeluk tubuh suaminya.
Tapi, hanya sebentar.
Ia mendorong tubuh Reyhan dan melepas pelukannya. Menutup mulut dan hidung dengan kedua tangan. Ia merasakan mual.
"Kenapa, Al ?" tanya Reyhan bingung.
"Kakak bau," ucapnya polos.
Reyhan terkekeh. "Lho, Sayang. Kamu bicara apa ? Wajar saja jika aku masih bau. Aku 'kan belum mandi, Al."
"Tidak," ucapnya dan menggeleng cepat. "Maksudku, kakak seperti bau besi yang sudah berkarat." Ia tertunduk malu dan menggigit jari telunjuknya.
Mendengar ucapannya membuat Reyhan hampir saja tertawa keras jika saja tak mengingat bahwa dengan tertawa sama saja dengan membuatnya kesal dan marah-marah. Dengan sekuat tenaga Reyhan menahan tawa. "Lalu, aku harus bagaimana, Al ?"
Ia mengedikkan bahu dan meninggalkan suaminya begitu saja. Kembali duduk dan berjibaku dengan alat tulis dan laptop diatas meja.
"Sayang," panggil Reyhan.
Sebentar ia menoleh. "Kenapa ?"
__ADS_1
"Kamu aneh jika sedang hamil."
Ia sama sekali tak mempedulikan ucapan Reyhan. Tatapannya hanya terpaku pada layar laptop yang menampilkan sederetan tulisan. "Tugas-tugas ini begitu membuatku pusing dan stress saja," kesalnya dan melempar asal bolpoin yang di genggamnya.
"Al, jangan seperti itu!" tegas Reyhan dari tempat tidur dengan tatapan serius. "Jika lelah dan pusing, istirahatlah. Jangan melampiaskan pada hal lain atau barang-barang milikmu. Aku tidak suka."
Tatapannya sendu. Air mata mulai tergenang. "Kenapa kakak memarahiku seperti itu ?"
"Aku tidak marah padamu. Aku hanya sekedar mengingatkan biar tidak menjadi kebiasaan."
Entah. Hamil keduanya ini persis sama seperti hamil pertamanya. Sikap aneh dan selalu merajuk. Menginginkan sesuatu selalu di dahului dengan drama tangis.
Dan sekaranga genangan di kelopak matanya telah berubah menjadi derai air mata yang mengalir deras. Membasahi pipi yang tampak bersemu saat malu dan dirayu Reyhan.
Reyhan bangkit dan mendekatinya perlahan. Duduk bersimpuh di hadapannya. Seperti adegan-adegan romantis dalam sinetron.
Namun, belum sempat Reyhan menggenggam erat tangannya. Ia sudah terlebih dulu berlari ke arah kamar mandi. Memuntahkan segala apa yang menjadi isi perutnya. Benar-benar berada didekat Reyhan membuatnya merasakan mual yang sangat parah.
"Sayang, kamu baik-baik saja ?"
Ia mengangkat tangannya ke udara. Memberi isyarat agar Reyhan tak mendekatinya. "Ku mohon jangan dulu mendekatiku, Kak. Aku tak kuasa dengan aroma tubuhmu itu," ucapnya dan menyeka sisa air yang ia gunakan membersihkan mulutnya.
Paham dengan perubahan raut wajah suaminya. Ia berusaha tersenyum manis. "Aku baik-baik saja, Sayang. Hal seperti ini biasa dialami perempuan hamil. Kakak tenang saja."
"Sayang? Maafkan aku membuatmu tidak nyaman seperti itu."
Ia mengangguk dan tersenyum. "Aku ingin keluar. Bolehkah kakak memberikan sedikit jalan untukku ?"
Dengan cepat Reyhan menyingkir dan berpegangan pada tembok kamar. Ia menatap kasihan Reyhan. Ingin sekali ia membantu lelaki yang berstatus suaminya itu. Namun, apalah daya. Kehamilannya membuat ia mau tak mau hanya menjadi penonton.
"Kakak istirahat saja dulu. Aku akan turun membuatkan sarapan untuk kakak. Dan kembali lagi kesini," ucapnya dengan lirih.
Reyhan mengangguk. Melangkah pelan ke arah tempat tidur. Dan ia hanya terpaku. Berdiri menyaksikan usaha keras suaminya mencapai ranjang.
Ia menggigit bibir bawahnya. Tak kuasa melihat keadaan Reyhan yang kian hari kian menurun. Bahkan, tubuh yang dulunya tegap dan atletis kini tampak mengurus. Wajahnya yang tegas tampak sayu.
"Huh!"
__ADS_1
Telinganya menangkap dengan suara Reyhan membuang napasnya dengan kasar. Ia menatap suaminya yang tengah berusaha lagi untuk membaringkan tubuh.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Reyhan. Ia merasa sedih dan tentu saja merasa tak berguna. Merasa belum mampu menjadi istri yang baik untuk suaminya.
"Jangan menatapku seperti itu, Al. Aku baik-baik saja," ucap Reyhan dan membangunkannya dari lamunan yang sempat ia ciptakan sendiri.
"Mau sarapan apa ? Biar aku buatkan nantinya."
"Apa saja. Asal buatan istri cantikku," jawab Reyhan dan mengedipkan sebelah matanya.
"Masih pagi sudah merayuku saja." Ia tertawa kecil. Dan diikuti juga oleh Reyhan.
"Aku turun dulu. Istirahatlah."
Ia menyambar jilbab instannya. Berlalu dari kamar dan menuruni tangga satu per satu.
"Ra!" panggil Mama saat kakinya menginjak tangga terakhir.
Ia menoleh. "Iya, Ma."
"Mau kemana ?" Mama berjalan semakin mendekat.
"Ke dapur. Nadhira ingin membuatkan sarapan untuk Kak Reyhan."
"Jangan banyak beraktivitas, ya, Nak. Kandunganmu masih rentan," nasihat Mama.
"Iya, Ma. Ini Nadhira hanya membuat sarapan saja. Tidak beraktivitas berat," ucapnya dan tertawa kecil.
"Kita masak sama-sama, ya, Ra. Rasanya sudah lama tidak melakukan hal itu semenjak insiden keguguran itu." Mama berbicara dengan hati-hati. Takut saja jika ucapannya menyinggung perasaan menantunya itu.
"Boleh, Ma. Ayo!" balasnya dengan girang tanpa diiringi rasa sedih meski diingatkan Mama tentang insiden kehilangan bayinya.
Ia menggandeng tangan Mama dengan manja. Membawanya ke dapur. Memeriksa stok sayur yang bisa ia sulap menjadi makanan lezat bersama Mama.
"Sup sayur buatan Mama sepertinya terasa lezat dimakan hangat pagi-pagi seperti ini."
"Baik. Mari kita buat sup sayurnya. Biar cucu Mama juga sehat didalam sana," ucap Mama dengan mata yang melirik perut menantunya.
__ADS_1
"Siap, Komandan," balasnya dengan gaya prajurit tengah hormat pada atasannya.