Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 108


__ADS_3

Tangannya begitu cekatan membereskan pakaian yang digunakan selama di Rumah Sakit. Tatapannya nampak berbinar tanda bahagia yang ia rasakan. Jua bibirnya tiada henti bersenandung ria.


Reyhan yang duduk manis dan bersandar diatas brankar juga turut berbahagia melihat istri kecilnya itu. Telah ditemukan kembali Nadhira yang ceria. Tanpa disadari Reyhan tersenyum sendiri.


“Alhamdulillah. Akhirnya selesai juga,” ucapnya setelah membereskan segala keperluan selama di Rumah Sakit. Ia mendaratkan tubuhnya pada sofa empuk didekat pintu.


“Sayang,” panggilnya setengah berteriak.


“Kenapa ?”


“Alhamdulillah. Akhirnya kakak bisa pulang juga.” Ia memainkan alisnya menggoda suaminya.


“Kemarilah!” Reyhan melambaikan tangan ke arahnya.


Tak perlu berpikir panjang. Ia bangkit dan berlari ke arah Reyhan yang masih duduk diatas brankar. Dan mendaratkan tubuhnya memeluk tubuh Reyhan yang sudah mulai membaik. Kecupan mesra ia persembahkan pula pada kening suaminya.


“Aku mencintaimu,” bisiknya dengan suara manja.


“Aku juga sangat mencintaimu.”


Ia rasakan pelukan erat nan hangat dari Reyhan. Sebuah kenyamanan yang tak akan pernah ia dapatkan dimanapun dan dari siapapun.


“Biarlah seperti ini. Aku ingin menikmati hangat peluk suamiku yang sudah lama tak ku rasakan,” ucapnya dengan mata terpejam. Menikmati deru napas Reyhan yang teratur.


“Jangan pernah lagi mendiamiku seperti kemarin. Aku benar-benar tak kuasa, Al. Lebih baik kamu memarahi dan mencaciku sesuka hatimu.”


“Maaf,” cicitnya dengan suara kecil.


Keduanya terdiam. Menikmati setiap detik dalam dekap kehangatan masing-masing.


“Ekhem!”


Suara deheman Mama mengagetkannya. Ia dengan segera melepas pelukannya pada tubuh Reyhan.


“Mama,” panggilnya malu-malu dan pipi bersemu merah.


“Peluk-pelukannya di lanjutkan nanti dirumah saja, ya, Nak.”


Ia tertunduk malu dan memilin ujung jilbabnya.


“Ma, jangan berbicara seperti itu. Lihatlah menantu Mama. Pipinya bersemu merah,” goda Reyhan.


Mama terkekeh mendengar ucapan anaknya. “Iya. Iya.”


“Nanti dirumah Mama temani Nadhira masak, ya,” cicitnya polos dengan mata berbinar.


“Boleh.”


_____


“Mama!” teriaknya.


Seisi rumah berlarian ke arahnya yang sedang berada di dapur seorang diri.


“Ada apa, Sayang ?” tanya Reyhan dengan nada khawatir. Tak lupa dengan Mama dan Papa.


Ia berlari dan memeluk Reyhan dengan erat. Tangisnya pecah begitu saja.


“Bicara, Sayang. Ada apa ? Kenapa pula menangis seperti itu ?”


“Aku takut,” ucapnya terbata-bata disela isakannya.

__ADS_1


“Iya, Sayang. Kamu takut kenapa ? Ceritalah!” tanya Reyhan dan membujuknya dengan lembut.


“Dibawah sana ada kecoak.”


Reyhan menatap Mama dan Papa secara bergantian. Kemudian, tertawa keras.


“Jadi, kamu berteriak histeris dan menangis seperti ini hanya karena kecoak, Al ? Astaga! Ku pikir kenapa.”


“Tapi, aku takut pada kecoak!” bentaknya keras dengan derai air mata yang masih deras.


“Setakut kehilanganku ?” goda Reyhan seraya mengedipkan sebelah mata.


“Tidak! Aku lebih takut pada kecoak daripada kehilanganmu.”


Mata Reyhan sempurna terbelalak. “Hah ? Yang benar saja, Al ?”


Ia tak peduli dengan reaksi suaminya. Begitupun dengan Papa dan Mama. Ia beranjak begitu saja meninggalkan dapur menuju kamarnya.


“Lho, kenapa marah ?” teriak Reyhan.


_____


Ia membanting tubuhnya pada tempat tidur king size didalam kamarnya dengan Reyhan. Menarik selimut dengan kasar hingga menutupi seluruh tubuhnya. Menangis sejadi-jadinya layaknya anak kecil.


“Sayang,” panggil Reyhan yang entah sejak kapan memasuki kamar.


Seketika ia berpura-pura tidur. Meski kadang sesekali isaknya terdengar jelas.


“Aku tahu kamu tidak tidur. Jangan mencoba membohongiku. Karena, kamu buruk dalam berbohong. Bangunlah!”


Ia tak bergeming.


“Baiklah. Jika tidak mau. Aku pergi sendiri saja.”


“Yakin kamu tidak mau bangun dan ikut denganku.”


“Aku akan pergi ke rumah Bunda sekarang,” lanjut Reyhan dengan berbisik.


Selimut tebal yang digunakan menutupi seluruh tubuhnya ia sibak dengan kasar hingga tangannya mengenai wajah Reyhan yang begitu dekat dengan wajahnya. “Maaf. Aku tak sengaja,” ucapnya cepat sebelum Reyhan memarahinya.


“Tidak! Aku tidak akan memaafkanmu. Wajahku begitu sakit akibat pukulanmu.”


“Tapi, aku benar-benar tak sengaja, Kak,” ucapnya lagi penuh sesal.


“Memangnya dengan kata maafmu itu bisa menghilangkan rasa sakitnya ? Tidak sama sekali!” gertak Reyhan berpura-pura marah. Dengan sekuat tenaga Reyhan menahan gelak tawanya melihat tingkah polos gadis di hadapannya itu.


“Lalu, aku harus bagaimana ?” Ia menyeka air matanya yang masih lolos melewati pipinya.


Reyhan tersenyum jail. “Elus saja dengan lembut wajahku dan cium.”


“Kakak sedang mempermainkanku ?” Ia berkacak pinggang.


“Jika kamu tidak mau pun juga tak mengapa. Aku tidak akan memaafkanmu dan meninggalkanmu ke rumah Bunda. Bagaimana ?”


“Huh! Baiklah,” pasrahnya dengan membuang napas kasar.


Ia membelai lembut wajah Reyhan. “Lekas membaik,” ucapnya lembut dan mendaratkan ciuman dalam waktu beberapa detik lamanya.


Reyhan tersenyum jail dan penuh kemenangan. “Nah, sekarang sakit sudah tidak terasa, Al.”


“Iya, Reyhan Akbar Oktara. Aku tahu kau begitu licik sekarang.”

__ADS_1


Gelak tawa Reyhan pecah dan mengudara. “Pada istri tak mengapa, Sayang. Lagipula, selama kamu mendiamiku. Kamu tak pernah menciumku. Iya, ‘kan ?”


Kepalanya mengangguk cepat. “Tapi, aku selalu mencintaimu.”


“Aku merasakan itu,” balas Reyhan dan mengedipkan sebelah matanya.


Ia mengubah posisi duduk dengan bersila dan menghadap Reyhan. menangkup wajahnya dengan kedua tangan. “Kita jadi ke rumah Bunda, Sayang ?” tanyanya dengan nada manja dan merayu.


“Hmmm! Aku pikir-pikir dulu, ya, Al,” ucap Reyhan berpura-pura agar ia kesal.


“Yah! Kakak curang.”


“Iya, Sayangku. Kita akan ke rumah Bunda. Tadi Bunda menelponku.”


“Bunda bilang apa ?”


“Kata Bunda ada yang mau di bicarakan. Urusan keluarga.”


Dengan cepat ia menyambar ucapan Reyhan. “Oh aku tahu.”


Alis Reyhan terangkat sebelah dibuatnya. "Memangnya ada apa, Al ? Sepertinya serius sekali."


"Kakak lupa ?"


Semakin Reyhan di buat penasaran olehnya. "Ada apa, Al ? Bicaralah langsung pada intinya."


"Abang mau menikah. Dan itulah alasan kenapa Bunda memintaku datang ke rumah. Aku yakin Bunda akan membahas tentang Abang."


"Abang menikah dengan Mikayla, Sayang ?"


Ia mengangguk dan tersenyum girang.


"Akhirnya, Abang menyusul jua, ya."


"Sayang," panggilnya dan menggoyangkan lengan Reyhan.


"Aku tahu. Pasti ada maumu."


"Sebelum ke rumah Bunda. Beli es krim dulu. Boleh ?"


Reyhan mencubit hidungnya pelan. "Untukmu akan ku berikan apapun yang kamu minta."


Ia tersenyum. "Benarkah ?"


"Tentu saja. Aku ingin membahagiakan istri kecil nan cantikku ini."


Ia merentangkan kedua tangannya. Memberi isyarat agar Reyhan memeluknya.


Tanpa berpikir panjang dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Reyhan mendekat dan memeluknya erat. "Hobimu yang memelukku sudah kambuh lagi, Al ?"


"Iya. Dalam pelukmu aku temukan kehangatan dan kenyamanan secara bersamaan," jawabnya dengan tulus.


"Terimakasih, sayang. Sudah berbaik hati memaafkan segala khilafku selama ini."


"Aku mencintaimu, Reyhan Akbar Oktara."


"Aku juga sangat mencintaimu, Aleeanaku."


Reyhan melepas pelukannya. "Sayang, setelah pekerjaan kantorku rampung. Kita akan berbulan madu. Bagaimana ?"


"Tentu saja aku tidak menolak. Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan suami tampanku ini."

__ADS_1


Reyhan terkekeh dibuatnya.


__ADS_2