
Setelah menyelesaikan kegiatannya dengan berkutat seorang diri di dapur. Gadis dua puluh tahun dengan perut membuncit itu segera beranjak dan kembali ke kamar. Membersihkan diri di kamar mandi. Dan bersiap-siap untuk menemui suaminya di kantor.
Didepan meja rias ia menyapukan sedikit bedak pada wajahnya, mengoleskan lipstick tak terlalu tebal di bibir mungil, ranum nan merekahnya. Setelah merasa puas dengan penampilannya. Ia segera menyambar tas selempang yang sudah disiapkan sejak tadi, yang ia letakkan diatas tempat tidur.
Senyumnya mengembang tatkala kakinya mulai berpijak pada tangga demi tangga rumah besar yang ditempatinya itu. Ia bersenandung ria, bahagia. Karena, sebentar lagi ia akan menghabiskan waktu makan siang bersama lelaki yang begitu dicintainya. Tak hanya itu, ini adalah kali pertama ia mengunjungi Reyhan ke kantor selama usia kehamilannya. Sebab, Reyhan sangat membatasi aktivitasnya.
Semenjak Reyhan tahu ia tengah mengandung buah hati dari pernikahannya. Reyhan begitu posesif padanya. Semua hal yang dilakukan harus dibatasi dan tentu saja harus atas izin dari Reyhan. Sesekali kadang ia merasa geram dengan sifat Reyhan yang seperti itu. Namun, disisi lain. Ia merasa begitu disayangi oleh suaminya.
"Ma, Nadhira izin ke kantor menemui Kak Reyhan, ya. Sekalian Nadhira membawakan bekal makan siang untukny," ucapnya dan duduk di sebelah Mama yang tengah serius melakukan rutinitasnya di ruang tamu. Apalagi kalau bukan menyulam.
"Pergi sama siapa, Nak?" tanya Mama tanpa menoleh sedikitpun ke arah anak menantunya itu.
"Sendiri, Ma. Nanti Nadhira pesan taksi."
"Jangan! Biar Pak Amin yang akan mengantarmu ke kantor. Mama tidak ingin terjadi apa-apa denganmu jika pergi menggunakan taksi seorang diri."
"Baiklah, Ma. Terimakasih."
...***...
Nadhira membuang pandangannya ke arah jalanan kota yang begitu padat. Tampak jelas di matanya kepulan asap yang berasal dari knalpot-knalpot kendaraan yang berlalu lalang. Deru suara mesin mobil. Bunyi-bunyi klakson yang terus beradu tak membuat sepi perjalanannya menuju kantor dimana Reyhan bekerja.
Tangannya tak henti memegang erat rantang yang terisi penuh dengan makanan kesukaan suaminya. Makanan yang dibuatnya sendiri penuh cinta. Spesial hanya untuk lelaki yang begitu memiliki peran besar dalam hidupnya itu.
"Pak Amin," panggilnya penuh hormat. Biarpun Pak Amin hanya seorang sopir pribadi keluarga suaminya. Namun, ia selalu berlaku hormat dan sopan pada Pak Amin. Baginya, Pak Amin tetaplah orang tua yang harus ia perlakukan sebagaimana ia memperlakukan kedua orang tuanya.
"Iya, Neng?" jawab Pak Amin dan melirik dari kaca spion mobil.
"Nadhira ingin membeli kue di tempat biasa. Kita berhenti sebentar disana, Pak. Tak mengapa, ya?"
"Tentu saja, Neng. Bapak akan membawa kemana saja Neng Nadhira inginkan," balas Pak Amin dengan menambah bumbu candaan pada kalimatnya.
__ADS_1
Nadhira terkekeh mendengar ucapan bapak-bapak yang umurnya tak jauh dari umur Ayah. "Pak Amin bisa saja kalau menggoda Nadhira, ya."
Hanya butuh beberapa menit hingga mobil yang membawa Nadhira tiba didepan sebuah toko kue. Terlihat ramai dari luar.
"Bapak tunggu Nadhira disini sebentar, ya. Tenang. Nadhira tidak akan lama kok."
"Mau lama juga tak mengapa, Neng. Bapak akan setia menunggu." Pak Amin memang begitu. Penuh canda. Ia memang seorang bapak yang humoris.
Lagi-lagi Nadhira hanya tertawa menanggapi candaan bapak paruh baya itu. Ia kemudian beranjak dari mobil menuju toko kue. Pandangannya menyapu setiap jengkal toko.
Seperti biasa, ia selalu menemui salah satu karyawan disana. Lelaki lima belas tahun yang rela melepas statusnya sebagai seorang pelajar menjadi karyawan. Bukan karena malas belajar. Tetapi, tuntutan ekonomi keluarga yang jauh dari kata cukup memaksanya untuk melakukan pekerjaan itu.
"Brownies cokelat."
Dua kata itu tak hanya terlontar dari bibir Nadhira. Tetapi, juga dari bibir seorang perempuan yang berdiri tepat di sebelah kanannya. Perempuan yang beberapa senti lebih tinggi darinya.
Keduanya saling menatap.
Tak ada yang menyahuti ucapan Ilham. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya perempuan di samping Nadhira.
"Saya juga tidak tahu, Mbak. Tapi, Mbak begitu familiar."
Sebelum ucapan Nadhira di tanggapi. Ilham sudah lebih dulu menyerahkan brownies cokelat kepada perempuan itu.
"Saya duluan, ya, Mbak."
Ia menatap perempuan itu berlalu dengan langkah yang anggun keluar toko. Keningnya sedikit mengkerut. Mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan perempuan di sebelahnya tadi.
"Brownies coklat seperti biasa," ucap Ilham dan menyodorkan brownies cokelat pesanan Nadhira. Suara Ilham yang begitu tiba-tiba membuatnya sedikit terlonjak.
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Ilham. Kembaliannya kamu simpan saja, ya. Semoga bermanfaat untukmu."
"Kakak begitu baik padaku. Terimakasih banyak, Kak. Semoga apa yang kakak lakukan menjadi ladang ibadah."
Ia tersenyum manis. Satu kebahagiaan tersendiri untuknya melihat wajah Ilham penuh syukur. "Saya permisi dulu, ya, Ilham."
"Hati-hati dijalan, Kak."
Bersama langkah pelan nan pastinya menuju pontu keluar toko kue yang dikunjungi. Nadhira masih setia memutar otaknya. Ia berpikir keras untuk mengingat perempuan yang berdiri memesan brownies cokelat bersamaan dengannya itu.
Sibuk dengan pikirannya sendiri. Nadhira hampir saja menabrak balita yang tengah berlari riang dikejar orang tuanya, dengan tawa yang begitu keras. Ia tersenyum. Kemudian, otaknya seketika mengingat Kenzo. Anak lelaki yang ia temui di danau.
"Elmeera," ucapnya berbisik. "Iya. Aku tidak salah lagi. Perempuan itu memang benar Elmeera." Ia seketika mengingat perempuan itu setelah otaknya menyuguhkan kepingan kejadian bersama Kenzo di danau kala itu.
Nadhira memperlebar langkahnya agar lebih cepat sampai dimana mobil terparkir rap, dimana Pak Amin menunggunya.
"Maaf, Pak Amin. Nadhira membuat Bapak menunggu terlalu lama," ucapnya penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Neng. Tidak perlu meminta maaf seperti itu pada Bapak. Karena, itu sudah menjadi tugas Bapak."
Setelah merasa nyaman dengan posisi duduknya didalam mobil. Perlahan Nadhira rasakan mobil yang ditumpangi itu melaju, kembali membelah jalanan kota yang masih tampak padat. Polusi yang bercampur udara menjadi satu-satunya hal bisa di konsumsi.
Pandangannya terlempar jauh ke arah jalan raya. Menikmati hiruk pikuk kota dengan terik matahari yang begitu menyengat. Seolah sang baskara tepat berada diatas ubun-ubun.
Otak gadis berjilbab merah muda itu lagi-lagi berputar tanpa permisi. Memutar memori yang tersimpan rapi tentang Elmeera dan segala yang ia tahu tentang perempuan yang bersahabat dengan suaminya itu.
Hal yang begitu mengganggu pemikirannya adalah insiden di toko kue tadi. Secara kebetulan ia dan Elmeera membeli kue yang sama. Dan kue itu adalah kue kesukaan Reyhan.
"Apa iya Elmeera juga membeli kue untuk Kak Reyhan?" cicitnya dalam hati.
Sedetik kemudian Nadhira sadar. Ia tak boleh berpikir negatif tentang apapun dan siapapun.
__ADS_1
"Astagfirullah," ucapnya beristigfar. Mengelus dada dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.