Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 19


__ADS_3

Nadhira POV


Hari sakral itu kini telah datang. Hari dimana aku akan melepas masa mudaku. Hari dimana kehidupan baru menjemputku.


Aku duduk didepan cermin dengan ukuran jumbo disebuah kamar hotel yang memang sudah disiapkan khusus untuk aku dirias dan berganti pakaian.


Aku menatap pantulan diriku yang kini telah disulap bak puteri raja dinegeri dongeng oleh seorang perias profesional yang sudah disewa oleh keluarga calon suamiku. Dengan polesan make up natural namun terlihat elegan dan balutan gaun pengantin beserta hijab berwarna putih yang ku pilih sebagai gaun khusus akad nikahku berhasil menarik ujung bibirku membentuk satu senyuman.


Aku terkaget dengan suara pintu yang tiba-tiba terbuka. Sontak kuputar saja kepalaku ke arah pintu. Kulihat sesosok wanita berkebaya berwarna merah muda dengan jilbab warna senada berjalan mendekatiku. Wanita yang rela mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan ke dunia ini. Dia adalah Bundaku. Sandra namanya.


Bunda melangkah pasti semakin mendekat padaku yang masih duduk didepan cermin.


“MasyaAllah. Anak Bunda kok cantik banget sih.”


Pujian Bunda ternyata berefek pada pipiku yang terasa memanas dan aku pastikan sudah memerah bagai kepiting rebus.


Padahal ini bukanlah pujian pertama yang dilontarkan Bunda padaku.


“Ih... Bunda bisa aja deh.” Ucapku dengan wajah tertunduk malu.


Bunda menangkup wajahku dengan kedua tangan tuanya. Membawanya ke posisi mendongak agar aku bisa menatap wajah teduhnya.


“Dek, sebentar lagi adek akan menjadi seorang istri. Tanggung jawab Ayah, Bunda dan Abang tentu akan diambil alih oleh suami adek nantinya. Maafin Bunda yang belum mampu menjadi ibu yang baik. Maafin Bunda yang belum sepenuhnya mampu membuat adek bahagia.” Bunda berkata begitu lirih. Air matanya meluncur melewati pipinya tanpa dikomandoi.


Aku berdiri dan menghapus sisa-sisa air mata dipipi Bunda yang mulai nampak keriput karena faktor usia. Lalu memeluknya erat.


“Bunda, jangan ngomong gitu. Adek bahagia dan sangat bersyukur bisa memiliki orang tua seperti Ayah dan Bunda. Memiliki kakak seperti Abang. Kalian adalah orang-orang yang selalu menyayangi adek tanpa pamrih. Terimakasih, Bun.”


Air mata yang kucoba tahan agar tak tumpah merusak pertahanannya. Ia mendarat bebas dari pipiku yang sudah terpoles make up.


“Jangan nangis dong, Dek. Nanti make upnya luntur. Cantiknya juga hilang.” Bunda mencoba untuk menghiburku. Lalu ia menghapus air mataku.


“Jadilah istri yang baik ya, Dek. Istri yang taat perintah suami. Dan jadi istri shalehah.”


“Tentu, Bunda. Bantu adek jadi istri yang baik, ya ?”


Bunda hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Aku kembali memeluk Bunda dengan sangat erat. Seakan-akan inilah pelukan terakhirku untuknya. Bunda pun membalas pelukanku tak kalah eratnya.


“Udah selesai kah adegan tangis-tangisannya ?”


Kulihat seorang lelaki bertubuh tegap berwajah tampan dengan senyum yang tersungging dibibirnya berdiri diambang pintu yang masih terbuka lebar. Dengan setelah jas abu tua dan sepatu pantopel semakin menambah aura ketampanannya. Memanglah kakak semata wayangku itu ketampanannya tak diragukan lagi.


”Wah, Abang tampan sekali. Tapi sayang, masih jomblo. Hahaha.”


“Oh... mentang-mentang udah mau nikah. Ledekin aja terus.”


“Makanya cari calon istri dong, Bang. Biar Bunda ada temen juga nanti dirumah. Kan nanti adek ikut sama suaminya.” Ucap Bunda.


“Iya. Iya. Bunda tenang aja. Nanti Abang carikan. Bunda mau berapa ? Dua ? Tiga ? Atau sekalian selusin ?”


“Idiiihhh. Gayanya coba. Satu aja belum. Malah nanya Bunda mau berapa.”


“Santai lah, Dek. Nanti juga pasti banyak tamu undangan wanita yang dateng. Tinggal Abang pilih salah satunya.”


“Abang kira kayak pilih baju aja gitu ?”


Bunda hanya senyam-senyum melihat kelakuan anaknya.


“Oh iya, kan nanti ada Talita. Sama dia aja, Bang. Hahaha.”


Tatapan Bang Bara seketika berubah padaku. Ia hanya memberikan senyuman tipis yang sedikit dipaksakan.


“Bang ?”


“Acaranya sebentar lagi mau mulai. Penghulunya udah dari tadi datang. Ayo cepatlah.” Ucap Bang Bara dingin sekali. Lalu berjalan meninggalkanku bersama Bunda.


“Abang kenapa, Dek ?”


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


Bunda menggandeng tanganku mengikuti Abang yang sudah berjalan mendahului kami. Aku merasakan tanganku mulai berkeringat. Aku gerogi.


“Jangan gerogi, Dek. Bismillah aja.” Bisik Bunda tepat ditelinga kananku.


___


Author POV


Nadhira yang ditemani Bunda berjalan memasuki ruangan yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan yang datang dari berbagai kalangan. Termasuk dua sahabat Nadhira. Finza dan Kayla.


Perhatian seisi ruangan tertuju pada wanita yang mengenakan kebaya putih dan jilbab senada yang membungkus kepalanya. Siapa lagi kalau bukan mempelai wanita. Nadhira.


Tak terkecuali Reyhan. matanya terbelalak. Seakan terhipnotis dengan kecantikan yang dimiliki calon istrinya itu. Meski hanya dengan balutan kebaya sederhana dan riasan simple pada wajahnya.


Ayah yang menangkap gelagat putera sulungnya lantas menyenggol lengannya.


“Jangan dilihatin terus, Kak. Belum halal.” Godanya.


Reyhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menunduk malu.


“Apakah ijab qabulnya bisa kita mulai sekarang ?” tanya seorang lelaki tua berpeci hitam yang disebut Pak Penghulu itu.


“Bismillah. Iya, Pak.” Ucap Reyhan dengan mantap.


Nadhira yang duduk dibarisan kaum hawa dan diapit oleh kedua sahabatnya, Finza dan Kayla menatap calon suaminya yang kini sudah menjabat tangan ayahnya.


Nadhira merasakan tegang yang luar biasa. Tangannya sedari tadi terasa dingin dan terus saja menggenggam tangan sahabatnya. Terasa seperti mimpi, hanya tinggal menghitung menit statusnya akan berubah.


“Ananda Reyhan Akbar Oktara binti Fahmi Oktara saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan puteri saya Nadhira Aleeana Prayudah binti Ahmad Prayudha dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang tunai sebesar 26. 051. 996 dibayar tunai.”


Nadhira memejamkan mata. Jantungnya berdetak diluar batas normalnya.


“Saya terima nikah dan kawinnya Nadhira Aleeana Prayudha binti Ahmad Prayudha dengan mas kawin tersebut tunai.”


Dalam sekali tarikan nafas Reyhan berhasil mengucapkan ijab qabul dengan lantang.


“Sah.” Kata kedua saksi bersamaan yang duduk disebelah kiri dan kanan meja tempat Reyhan melafalkan ijab qabul.


“Alhamdulillah!”


Ucapan hamdalah yang keluar dari mulut para tamu undangan yang hadir mengudara di seluruh penjuru ruangan.


Reyhan menghembuskan nafas lega. Sedangkan Nadhira masih belum membuka mata. Namun air mata setetes demi setetes luruh dari pelupuk matanya.


Bunda yang menyaksikan hal itu tidak bisa lagi membendung air mata harunya. Ia menggenggam erat tangan Bara yang duduk disampingnya. Sedang Bara hanya tersenyum.


Perlahan Nadhira membuka mata. Kini ia telah resmi menyandang status sebagai seorang istri diusianya yang terbilang masih muda. 20 tahun.


Semua perhatian para tamu beralih pada Nadhira yang berdiri didampingi oleh Finza dan Kayla. Nadhira berjalan dengan pandangan tertunduk kearah Reyhan yang sudah berdiri ditempat dimana ia mengikrarkan ijab qabul.


Nadhira dan Reyhan kini berdiri berhadap-hadapan. Reyhan menatap Nadhira lekat. Berbeda dengan Nadhira yang masih menundukkan kepalanya.


“Al, tidak kah kau mau melihat lelaki yang sekarang sudah sah menjadi suamimu ini ?” Tanya Reyhan berbisik.


Nadhira menegakkan kepalanya sedikit demi sedikit. Sepasang bola mata milik Nadhira beradu dengan bola mata milik Reyhan.


Reyhan meraih tangan kiri Nadhira dan memasangkan cincin pernikahan dijari manisnya. Begitupun sebaliknya.


Nadhira mencium tangan Reyhan dengan perasaan malu-malu. Lalu dibalas oleh Reyhan dengan mencium kening Nadhira cukup lama.


Seperti ada sesuatu yang berbeda mengalir disekujur tubuh Nadhira saat bibir Reyhan mendarat sempurna dikeningnya.


“Tunggu dulu. Ini fotonya belum diambil.” Ucap Bara yang sedang memegang kamera berniat mengusili adiknya.


Nadhira hanya tertunduk malu. Reyhan meraih kepala Nadhira lalu mencium puncak kepalanya yang tertutup jilbab begitu khidmat. Disaat yang bersamaan, teriakan para tamu menggema mengisi ballroom hotel.


___


Acara akad nikah telah usai dan akan dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan.

__ADS_1


Nadhira dan Reyhan masuk kedalam kamar yang mereka gunakan untuk berganti pakaian.


Tak butuh waktu lama. Baik Nadhira maupun Reyhan keluar dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Nadhira yang menggunakan gaun panjang berwarna biru muda dengan kombinasi warna merah muda. Sedangkan Reyhan menggunakan setelan jas dan kemeja warna senada dengan gaun yang digunakan Nadhira.


Nadhira menggandeng tangan Reyhan dan berjalan beriringan menuju singgasananya dengan senyum yang selalu terpatri dibibir.


Ribuan pasang mata yang hadir tertuju pada pasangan raja dan ratu sehari yang tengah diselimuti rasa bahagia.


Nadhira dan Reyhan mulai bersalam-salaman dengan tamu undangan yang hadir. Ucapan demi ucapan selamat diterima. Banyak pula yang mendo’akan agar mereka segera dititipkan amanah berupa anak dan di AAMIINkan oleh pasangan pengantin baru itu.


“Selamat ya, Ra. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah. Selalu dalam lindungan Allah.” Ucap Kayla memberi selamat pada Nadhira lalu bercipika-cipiki. Begitu pun dengan Finza. Ia melakukan hal yang sama seperti Kayla.


“Makasih banget ya, Kay, Za udah nyempatin dateng. Kalian cepet nyusul ya. "


Finza dan Kayla hanya tertawa rinagn yang diikuti oleh Nadhira. Melihat pemandangan itu, Reyhan hanya bisa tersenyum. Baru kali ini ia melihat tawa gadisnya dalam jarak sedekat ini.


“Cantik.” Bisiknya dalam hati.


“Kak, kenalin. Ini sahabatku. Ini Kayla dan ini Finza.” Nadhira memperkenalkan kedua sahabatnya satu per satu pada suaminya.


“Reyhan,” Ucap Reyhan sembari menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kayla dan Finza.


Selain Reyhan, ada sepasang mata lain yang juga dengan intens menyaksikan interaksi Nadhira dan kedua sahabatnya. Oh tidak. Mata itu hanya berfokus pada salah satu diantara mereka. seorang wanita bertubuh tinggi dengan mengenakan gamis berwarna putih tulang membungkus tubuhnya. Wanita itu adalah Kayla. Dan sepasang mata itu milik Bara.


Acara resepsi hampir selesai. Satu per satu para tamu berlalu meninggalkan tempat acara.


Nadhira menumpukan tubuhnya dikursi pelaminan yang terasa pegal karena sedari tadi hanya berdiri dan menyalami pada tamu.


Melihat hal itu, Reyhan mengikuti apa yang dilakukan oleh wanita disampingnya yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.


“Capek, Dek ?” tanya Reyhan sembari menggenggam lembut tangan Nadhira.


“Sedikit.” Jawab Nadhira singkat dan tak lupa dengan senyum manisnya.


Nadhira menatap manik mata hitam milik suaminya yang juga tengah menatapnya. Menelisik setiap jengkal lekukan wajah tegas milik Reyhan dengan jarak dekat. Seketika, tatapan mereka terkunci beberapa saat.


“Weeesss selamat ya, Bro. Akhirnya resmi juga jadi adik ipar gue.” Ucap Bara yang tiba-tiba datang.


Reyhan dan Nadhira sontak mengalihkan tatapan mereka pada Bara.


“Terimakasih, kakak ipar. Hahaha.” Reyhan menjabat tangan Bara lalu menepuk bahunya pelan.


“Lo cepetan nyusul, ya.” Lanjutnya.


“Gampang.” Kata Bara dengan mengacungkan jempolnya.


“Lo jaga adik gue baik-baik. Jangan bikin dia sakit hati. Kalo sampai kayak gitu. Gue jamin, tulang-tulang lo gue patahin semua.” Ancam Bara dengan nada bercanda.


“Tenang saja , kakak ipar. Gue bakal jaga dengan baik istri gue. Bikin dia bahagia adalah kewajiban gue. Mana mungkin gue tega nyakitin istri gue sendiri. Apalagi gue udah mati-matian buat merjuangin dia.”


Reyhan merangkul lengan Nadhira dan membuatnya tersipu malu.


“Bikin ponakan yang banyak buat gue, Han. Biar bisa gue pinjem jadi temen main dirumah.” Goda Bara.


“Abang.” Nadhira menatap tajam kakaknya yang hanya dibalas dengan cengiran.


“Selamat ya, Dek. Jadi istri yang baik, yang nurut sama suami. Jangan manja-manja lagi.” Bara membawa tubuh adik semata wayangnya kedalam pelukannya. Nadhira yang merasa terharu tak kuasa membendung air matanya. Menangislah ia.


“Aiiihh.. jangan nangis dong, Dek. Udah jadi istri masih aja cengeng. Nggak mau apa dilihatin suami. Hmmm .” Bara menghapus air mata yang membanjiri pipi adiknya.


“Maafin aku ya, Bang. Selalu repotin Abang.” Kata Nadhira lirih ditengah isakannya.


“Huustt. Jangan bilang gitu ih. Itu kan udah jadi tugas Abang sebagai kakak. Apapun Abang akan lakukan supaya adek seneng.” Bara kembali memeluk tubuh Nadhira yang bergetar karena menangis.


“Udah dong peluk-peluknya. Kakak dikacangin nih.” Reyhan menarik tubuh istrinya pelan.


Nadhira hanya tersenyum.


___TBC___

__ADS_1


__ADS_2