
“Kak, nggak masuk dulu ?” Nadhira keluar dari mobil setelah dibukakan pintu oleh Reyhan.
“Lain kali aja, Al. Aku langsung balik ke kantor. Salam sama calon mertua ya, Al.” Reyhan berucap dengan nada sedikit menggoda.
Nadhira melebarkan mata tak percaya.
“Ini beneran Kak Reyhan apa bukannya, ya ? Kok sekarang suka ngegoda begini sih ?” Bisik Nadhira dalam hati.
“Hei, kenapa melamun ?” Reyhan menjentikkan jarinya didepan wajah Nadhira.
“Mmm nggak, Kak. Nggak apa-apa. Iya nanti di salamin.” Nadhira tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
“Ya udah aku balik dulu, ya, Al.”
“Hati-hati, Kak.”
Nadhira menatap punggung Reyhan yang kian menjauh dari hadapannya. Dan...
“Kak!” Nadhira berteriak dan berlari mengejar Reyhan yang terlihat sedikit menunduk memegang dadanya.
“Kakak kenapa ?” tanya Nadhira dengan penuh rasa khawatir.
Reyhan memandang Nadhira yang sudah berdiri disampingnya. Dia melihat wajah Nadhira terlihat begitu cemas padanya. Reyhan mencoba sedikit menyunggingkan senyum ditengah sakit yang menderanya. Ia tidak ingin Nadhira tau bagaimana kondisinya yang sesungguhnya.
“Nggak apa-apa, Al. Aku baik-baik aja. Ya udah aku balik sekarang, ya ?”
“Yakin kakak nggak apa-apa ?” Nadhira bertanya masih dengan rasa khawatir yang menyelimutinya. Ia tau bahwa Reyhan tidak dalam keadaan baik-baik saja.
“Iya. Tentu.” Reyhan tersenyum dan berlalu meninggalkan Nadhira.
Nadhira kembali menatap kepergian Reyhan sampai mobil Reyhan menghilang dari pandangannya. Lantas berbalik untuk masuk ke dalam rumah meski ia merasa cemas dengan kondisi Reyhan.
___
Setelah keluar dari pekarangan rumah Nadhira, Reyhan menjalankan mobilnya dengan sangat pelan. Ia masih merasakan nyeri dibagian dadanya. Reyhan mendesah pelan.
Reyhan menghentikan mobilnya di komplek perumahan mewah yang tak jauh dari rumah Nadhira. Ia mencari sesuatu yang sekiranya bisa meredakan sedikit saja rasa sakit yang ia rasakan. Obat yang tak pernah ditinggalkan kemana saja ia pergi. Ia takut jika sewaktu-waktu sakitnya akan kambuh. Seperti saat ini.
Namun, sepertinya sia-sia. Apa yang dicari tak kunjung ditemukan. Reyhan semakin merasakan nyeri yang teramat sangat didadanya.
“Astagfirullah.” Reyhan menyandarkan kepalanya disandaran kursi dalam mobilnya sembari terus beristigfar.
Reyhan meraih ponsel yang ia letakkan di atas dasbord mobilnya. Mencari sebuah kontak lalu menghubunginya.
“Farhan, jemput kakak di komplek perumahan deket rumah Om Yudha. Cepet!”
Reyhan menelpon adiknya, Farhan untuk menjemputnya. Ia tau sangat tidak mungkin jika ia harus mengendarai sendiri mobilnya dalam keadaan sakit. Karena itu akan merugikan dirinya sendiri dan pengendara lainnya.
“Kak! Kakak kenapa ?” tanya Farhan di seberang telpon dengan nada yang sangat khawatir.
“Cepetan, Farhan!” Reyhan tak menggubris pertanyaan adiknya. Dia hanya ingin segera dijemput karena ia sudah tak tahan dengan sakit yang menyerangnya.
Reyhan terus beristigfar tanpa henti seraya memegang kuat dadanya.
Hanya butuh waktu kurang dari 20 menit, Farhan sudah berada di komplek perumahan yang dimaksud Reyhan. Farhan mengetuk kaca mobil yang langsung dibuka oleh kakaknya.
“Kak, kenapa ?” Farhan bertanya khawatir.
“Dada kakak, Farhan. Dada kakak sakit banget.” Reyham menjawab dengan bersusah payah. Keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhnya.
“Ya udah kita ke rumah sakit sekarang.” Reyhan mengangguk tanpa sedikit pun ada penolakan.
__ADS_1
Farhan melajukan mobil kakaknya menuju rumah sakit.
Dirumah sakit Reyhan diperiksa oleh dokter yang biasa menanganinya. Sedang Farhan menunggu diruang tunggu dengan harap-harap cemas atas kondisi kakaknya.
Pria paruh baya dengan snellinya keluar diikuti seorang perawat dari ruangan tempat dimana Farhan di periksa.
“Dok, gimana keadaan kakak saya ?”
“Pak Reyhan kondisinya sangat drop. Mungkin terlalu memporsir diri untuk beraktifitas. Jadi harus dirawat inap dalam beberapa hari.”
“Terimakasih, Dok.”
Sepeninggal Dokter, Farhan memasuki kamar Reyhan. Lalu duduk di sebuah kursi samping brankar. Farhan melihat wajah pucat kakaknya dengan mata yang masih terpejam.
Reyhan perlahan membuka mata dan melihat adiknya sedang menatapnya begitu intens. Reyhan menyunggingkan senyuman tipis pada adiknya.
“Kak...”
“Kakak nggak apa-apa, Farhan.” Reyhan memotong pembicaraan Farhan.
“Farhan telpon mama dulu ya, Kak ?”
Reyhan hanya membalas dengan anggukannya yang lemah.
Farhan mencoba menelpon Sang Mama. Namun, hasilnya nihil. Panggilannya tak kunjung dijawab. Akhirnya, Farhan memutuskan untuk menelpon Papanya.
“Assalamu’alaikum, Pa.”
“Wa’alaikumussalam, Far.” Jawab Papa di seberang telpon.
“Mmmm.. Pa.” Farhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa ragu-ragu memberitahu papanya tentang keadaan Reyhan.
“Eee.. kakak masuk rumah sakit.” Farhan mengepal tangannya geram.
“Astagfirullah. Papa kesana sekarang. Jangan tinggalin kakak sebelum Papa dateng. Kamu udah telpon Mama ?”
“Udah. Tapi Mama nggak ada jawab.”
“Ya sudah. Papa jalan sekarang. Kamu coba kontak Mama lagi ya.”
“Iya. Hati-hati.”
Farhan kembali mendekati Reyhan yang sedang fokus dengan ponselnya.
“Kak, Mama nggak ada jawab telpon Farhan. Tapi, nanti Papa yang kesini.”
“Kenapa telpon Papa, Farhan ? Papa nanti ada meeting diluar.”
“Tapi, Farhan nggak tau hubungin siapa tadi. Makanya telpon Papa.”
“Ya udah. Nanti kalo pulang ke rumah. Tolong balik lagi kesini bawakan berkas-berkas yang ada dimeja kerja kakak ya, Farhan.” Reyhan berkata tanpa menoleh adiknya. Ia masih fokus dengan ponsel ditangannya.
“Apa-apaan sih, Kak ? Lagi sakit gini masih aja mikirin kerjaan. Fokus aja dulu sama kesehatan kakak. Kerjaan bisa belakangan.” Farhan menatap heran kakaknya.
“Tapi ini tuh penting, Far. Kamu nggak akan ngerti masalah kantor.” Reyhan sedikit meninggikan suaranya.
“Oh bener juga sih apa yang kakak bilang. Farhan nggak ngerti apa-apa masalah kantor. Tapi kakak lebih nggak ngerti lagi gimana khawatirnya keluarga sama keadaan kakak.”
Farhan tersenyum sinis pada Reyhan. Ia merasa begitu kesal dengan sikap Reyhan. Bisa-bisanya dalam keadaan sakit pun dia masih memikirkan pekerjaan daripada kesehatannya sendiri. Pantas saja dia lebih membanggakan papanya daripada Farhan.
“Farhan...” Reyhan melembutkan lagi nada suaranya. Ia sadar bahwa kini Farhan merasa tersinggung dengan ucapannya. Namun, sebelum Reyhan melanjutkan bicaranya Farhan lebih dulu memotong.
__ADS_1
“Sudahlah, Kak. Kita memang dua orang yang berbeda, bukan ? Farhan yang belum bisa apa-apa sedangkan kakak yang selalu membanggakan Papa dan Mama.”
“Far, denger dulu.”
“Nggak ada yang harus Farhan dengerin lagi, Kak. Farhan lebih percaya fakta daripada harus berusaha percaya dengan bujukan-bujukan kakak. Itu nggak akan merubah kenyataan bahwa kita hanya dua orang yang berbeda dalam segala hal.” Farhan berkata lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia teringat dengan perlakuan papanya yang sering membedakan antara dirinya dan Reyhan.
Flashback On
Farhan melangkahkan kakinya melewati pintu besar memasuki rumahnya. Ia pulang sudah larut malam dengan tampang yang acak-acakan.
“Darimana saja, Farhan ?” Tiba-tiba suara papa mengagetkannya. Farhan menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang ke arah papanya yang sedang duduk di sofa.
“Dari rumah temen, Pa.”
“Kamu tau ini udah jam berapa ?”
“Maaf, Pa.” Hanya itu kalimat yang bisa Farhan ucapkan. Karena baginya percuma saja menjelaskan panjang lebar jika pada akhirnya segala penjelasannya hanya terbuang sia-sia.
“Kamu ya, selalu saja begini. Apa kamu tidak bisa seperti kakakmu yang disiplin, rajin. Bukan kayak gini yang pulang kuliah langsung kelayapan sampai tengah malem.”
Farhan hanya terdiam. Ia paling tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan siapapun. Ia mengepalkan tangannya menahan amarah hingga jari-jarinya memutih.
“Kamu denger Papa ngomong atau nggak ?” Bentak Papa.
Farhan menatap papanya dengan tatapan tajam. Terlihat jelas kilatan amarah di bola matanya.
“Kenapa ? Kamu tidak suka ?” tanya Papa dengan senyum mengejek.
“Pa, sejauh ini Farhan diam saja jika papa banding-bandingkan dengan kakak. Tapi, maaf, Pa. Farhan sudah capek. Farhan bukan anak kecil lagi. Bukan juga kakak yang bisa mengikuti semua keinginan papa sampai harus mengorbankan cita-citanya. Asal Papa tau, Farhan punya jalan sendiri yang harus Farhan jalani. Farhan bukan boneka yang bisa Papa mainkan sesuka hati papa. Farhan berhak mengatur sendiri jalan hidup Farhan. Satu lagi, Farhan juga akan membuat Papa bangga dengan cara Farhan sendiri.”
Farhan benar-benar kalut. Ia tak sadar jika sudah membentak papanya.
Mendengar ada keributan, Mama dan Reyhan berlari ke ruang tengah dimana ada Farhan dan Papa.
“Ada apa sih, Pa ?” Mama memegang bahu suaminya yang terlihat menegang.
“Kenapa, Far ?” Reyhan menatap Farhan yang masih dengan amarahnya.
“Anak kesayangan Papa sudah datang. Farhan ke kamar dulu. Farhan mau istirahat. Selamat malam semuanya.” Farhan melenggang pergi meninggalkan orang tua dan kakaknya.
Reyhan mengerti arah pembicaraan Farhan. Ia pastikan bahwa baru saja papanya sudah membandingkannya dengan adiknya. Abraham mendesah pelan.
Flashback Off
“Far, dengerin kakak ngomong. Sebentar aja.” Reyhan berbicara dengan sedikit memelas.
“Kak, cukup! Farhan pergi dulu. Sebentar lagi papa sampai.” Farhan benar-benar merasa tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia melangkahkan kaki menuju pintu dengan air mata yang meluncur bebas dipipinya.
“Far! Tunggu du... awwww.” Reyhan mengaduh kesakitan. Ia merasakan lagi sakit didadanya. Ponsel yang dipegang jatuh dari tangannya.
Farhan menoleh ke belakang dan melihat kakaknya terlihat kesakitan. Farhan bergegas balik kearah Reyhan.
“Kak, kenapa, kak ?” Farhan begitu khawatir melihat Reyhan. Masih dengan air mata yang membasahi pipinya. Farhan menggenggam erat tangan kakaknya. Sedikit memberikan tempat untuk Reyhan menyalurkan rasa sakitnya.
“Aggghhh.”
“Tunggu Farhan panggil dokter dulu.”
Farhan bergegas memanggil dokter dan tak lama dokter muncul lalu memeriksa keadaan Reyhan.
___TBC___
__ADS_1