
Di kelopak mata indahnya sudah terbentuk genangan setelah mendengar lantunan shalawat dari bibir merah Reyhan. Sebentar lagi atau kapan saja siap menghantam tembok pertahanannya. Sehingga luruh menerjang dan mengaliri pipi indahnya.
Tangannya menggenggam erat tangan Reyhan yang berada di perutnya. Sesekali ia memdongak menatap wajah tegas Reyhan yang selalu menampakkan senyum merekah. Ia tenang dan merasa teduh melihatnya.
"Kenapa menatapku seperti itu, Aleea ?"
Ia menggelengkan kepalanya. Air mata yang awalnya masih tergenang koni tumpah tanpa di komandoi.
"Sayang ? Kenapa menangis ?" Reyhan menuntunnya bangun dan mendekapnya.
"Ada yang sakit, Sayang ? Atau kamu menginginkan sesuatu ?"
"Tidak. Aku hanya terharu mendengar lantunan shalawat kakak. Dan aku bahagia. Sekarang Tuhan telah mengijabah do'a kita."
Reyhan tersenyum. Tangannya pelan-pelan membelai rambut panjang istrinya yang tak tertutup hijab seperti biasanya.
"Aku ingin pulang."
"Lho, kita 'kan sedang dirumah, Sayang."
"Maksudku pulang ke rumah Mama. Aku sudah tak sabar ingin memberitahunya. Aku tidak sabar ingin melihat raut wajah bahagianya."
"Sore nanti kita pulang, ya, Sayang."
Ia mengangguk.
"Kamu tidak ngidam apapun sekarang, Al ?"
"Tidak. Tapi, aku ingin istirahat siang didalam pelukan kakak."
Reyhan terkekeh. "Istriku sudah mulai manja, ya, sekarang."
Reyhan membaringkan tubuhnya. Menelentangkan tangan sebagai isyarat untuk istrinya. "Kemarilah! Tidur dalam pelukanku."
Dengan cepat ia mengikuti titah suaminya.
"Sekarang tidurlah."
Ia memejamkan mata. Tidurnya diiringi dengan lantunan shalawat yang terus dilafakan Reyhan untuknya seraya mengelus lembut perutnya yang masih rata hingga jauh berlabuh ke alam mimpi.
_____
Pintu kamarnya terketuk pelan. Sayup-sayup ia mendengar suara Bunda memanggil namanya.
Dengan pelan ia bangkit agar tak mengganggu tidur suaminya. Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Bunda membuatkan kue pisang untukmu. Makanlah bersama Reyhan."
"Terimakasih banyak, Bunda. Adik akan memakannya nanti jika Kak Reyhan sudah bangun."
"Iya, Sayang. Jaga kesehatanmu dan juga calon cucu pertama Bunda, ya, Nak."
"Tentu, Bunda."
"Bunda ke kamar dulu."
Ia mengangguk dan kembali menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
__ADS_1
Ia duduk memandangi wajah tenang suaminya yang tengah terlelap dalam tidurnya. Jemarinya menjalar di sekitar wajah Reyhan. Senyumnya mengembang tatkala Reyhan melakukan pergerakan ringan akibat tingkahnya.
Perut yang tadinya penuh dengan makanan tiba-tiba berbunyi. Cacing-cacing yang tinggal meronta meminta jatah.
Ia menatap kue pisang yang belum tersentuh sedikitpun olehnya itu. Tatapannya beralih pada wajah Reyhan. Timbul keinginannya untuk makan bersama dengan suaminya itu.
"Kakak bangun." Ia mengguncang tubuh Reyhan hingga terbangun.
"Kenapa, Sayang ?" tanya Reyhan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku lapar," ucapnya malu-malu.
Reyhan terkekeh melihatnya. "Mau makan apa, Sayang ?"
"Itu," liriknya dengan ekor mata pada sepiring kue pisang buatan Bunda. "Bunda sudah membuatkan kue pisang."
"Makanlah, Al."
"Aku ingin makan bersamamu."
Reyhan bangkit dan duduk berhadapan dengan istrinya itu. Reyhan mengambil piring yang berisi kue itu dari atas meja.
"Buka mulutmu. Biar aku yang menyuapi istri cantikku ini."
Ia tersenyum dan mengikuti apa yang dikatakan Reyhan padanya.
_____
"Bunda, adik pulang dulu. Nanti adik berkunjung lagi kesini." Ia memeluk tubuh Bunda yang beranjak tua itu.
"Iya, Nak. Baik-baik disana, ya. Jaga kesehatan. Pola makan harus teratur. Ingat, sekarang sudah ada makhluk yang harus adik jaga disini." Bunda mengelus perut anak gadisnya itu dengan lembut.
Ia mencium tangan Bunda dan diikuti Reyhan.
"Bunda titip Nadhira, ya, Reyhan."
"Iya, Bunda."
Ia melangkahkan kakinya dengan pasti di samping Reyhan. Berjalan menuju mobil yang sudah terparkir rapi dan akan membawanya meninggalkan rumah yang ia tempati sejak kecil itu.
Sebentar ia menoleh ke belakang. Ke arah Bunda yang belum beranjak berdiri dari ambang pintu. Matanya berkaca-kaca.
Reyhan yang paham dengan istrinya itu segera merangkul tubuh kecilnya. "Kita akan sering-sering berkunjung kesini, Al. Jangan bersedih."
Ia mengangguk. Memasuki mobil setelah dibukakan pintu oleh Reyhan.
Tatapannya tak beralih pemandangan di luar jendela mobil. Menatap bangunan yang berdiri kokoh dan penuh dengan kenangan indah masa kecilnya.
"Sayang." Reyhan mengelus pundaknya pelan. "Kita berangkat sekarang, ya."
Ia menoleh dan tersenyum.
Perlahan mobil mewah Reyhan melaju dan meninggalkan halaman rumah besar itu. Menembus pelan jalanan kota yang masih ramai pengemudi.
Ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil. Tatapannya pun tak beralih dari luar jendela.
"Kak, aku mau itu," ucapnya tiba-tiba.
__ADS_1
Reyhan segera menepikan mobilnya. "Mau apa, Sayang ?"
"Aku mau rujak di seberang jalan sana."
"Tapi, Sayang. Jajanan di pinggir jalan seperti itu tidak baik untuk kesehatanmu. Terlebih sekarang kamu sedang hamil muda. Kamu harus mengonsumsi makanan sehat dan higienis."
"Ini bukan keinginanku, Kak. Tapi, keinginan anak kita." Ia tersenyum menggoda.
Reyhan kalah telak. "Rupanya sekarang kamu sudah menggunakan senjata yang tak bosa membuatku berbuat apa-apa selain menurutimu, Al."
Ia tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan senang dulu. Kali ini kamu menang. Lain kali tidak akan, ya." Reyhan mengacak jilbab panjang yang menutupi mahkota indahnya.
"Kakak! Sudah ku katakn jangan mengacak jilbabku. Aku tidak suka!" bentaknya karena kesal. Tatapannya tajam ke arah Reyhan.
"Baiklah. Aku minta maaf. Dan jangan menatapku seperti itu. Kamu seperti ingin menerkamku saja, Al," goda Reyhan.
Ia semakin merasa kesal. Ia membuang pandangannya ke luar jendela.
"Sayang, tunggu disini, ya. Aku akan turun membelikanmu rujak dulu."
"Usahlah. Aku sudah tak menginginkan itu lagi. Aku ingin pulang."
"Lho, kenapa secepat itu berubah, Sayang ?"
Ia enggan menjawab pertanyaan Reyhan.
"Sayang ? Kamu marah padaku ?"
Ia masih jua tak bergeming.
"Aleea ?"
"Aku mau pulang!" bentaknya. Tatapannya tajam. Air matanya luruh seketika.
Reyhan tak mampu lagi berbuat apapun selain mengikuti keinginan istrinya itu. "Baiklah. Kita pulang sekarang. Tapi, jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kamu menangis ?"
Ia hanya menggelengkan kepalanya dan menyeka air mata menggunakan punggung tangannya dengan kasar.
Reyhan menarik tubuhnya dengan pelan. Mendekapnya penuh hangat dan sayang. "Jangan menangis lagi, Sayang. Maafkan aku telah membuatmu kesal".
Ia mengangguk dan membalas pelukan Reyhan.
"Kita pulang sekarang, Sayang ?"
"Iya."
"Benar kamu sudah tak menginginkan rujak itu lagi ?" tanya Reyhan dengan tangan yang menunjuk ke arah gerobak rujak di seberang jalan.
"Iya. Nanti saja aku buat sendiri dirumah bersama Mama. Tapi, kakak carikan aku mangga muda terlebih dulu."
Alis Reyhan terangkat sebelah. "Memangnya dimana aku jarus mencari mangga muda untukmu, Al ? Lagipula, ini juga sudah menjelang malam."
"Dimana saja," jawabnya enteng.
"Tapi, aku benar-benar tidak tahu harus mencari dimana, Al."
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, Kak."
"Baiklah. Sekarang kita pulang saja dulu. Setelah itu akan ku carikan mangga muda untukmu," pasrah Reyhan agar tak terjadi perdebatan dan drama baru lagu.