Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 142


__ADS_3

Setelah menutup pintu kamar. Farhan melangkah menuju kaca besar didalam kamarnya. Melihat pantulan diri yang tampak gagah dan tampan seperti yang diucapkan Mama. Ia menatap sisi lain dari seorang Farhan. Ia tersenyum.


Sepersekian detik setelahnya, senyum itu luntur tatkala matanya menangkap pantulan wajah yang memucat. Ia bingung. Tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Akhir-akhir ini ia lebih sering merasa lemah, kurang berkonsentrasi. Bahkan, kepala terasa nyeri bagai ditikam ribuan pisau tajam. Parahnya lagi, mual yang teramat ia rasakan. Dan memuntahkan cairan bening.


"Apa yang tengah terjadi denganku?" bisiknya dalam hati.


Pandangannya beralih ke arah pintu yang terbuka dengan pelan. Menampilkan sesosok lelaki bertubuh kurus, wajah memucat seperti dirinya. Ia segera berlari mendekati lelali itu. Lalu, memegang lengannya. Membantu berjalan hingga terduduk diatas tempat tidur.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang pimpinan perusahaan?" tanya Reyhan.


"Jawabannya masih tetap sama seperti jawaban-jawaban kemarin. Karena, kakak selalu menanyakan hal yang sama padaku."


Reyhan terkekeh. "Semoga kamu betah, ya, Dik."


Farhan tersenyum.


"Jika kamu betah dan senang bekerja di perusahaan. Kakak akan dengan tenang melepas dan pergi meninggalkan semuanya."


Farhan menatap tajam Reyhan. Dan saat itu pula Reyhan tersadar dengan perubahan pada adiknya.


"Kamu kenapa, Dik?" tanya Reyhan khawatir. Punggung tangannya menyentuh kening Farhan. Panas. Farhan demam. Setetes peluh jatuh.


"Kamu demam, Dik. Kakak kompres, ya."


Farhan menggeleng cepat. "Tidak perlu, Kak. Farhan baik-baik saja."


"Tidak. Tidak. Kita harus ke Rumah Sakit sekarang. Wajahmu benar-benar pucat, Dik. Badanmu juga panas. Kakak tidak mau terjadi apa-apa denganmu." Reyhan bangkit perlahan.


Tangan ringkih itu ditarik Farhan pelan. Menghentikan seketika gerakan langkah kakaknya. Ia tersenyum dan menggeleng. "I'm ok. Trust me, please," ucapnya dengan gaya yang persis seperti yang sering Reyhan lakukan.


Reyhan menatap sendu tangan Farhan yang masih menempel pada pergelangannya itu. Kemudian, beralih pada wajah pucat adiknya. "Kamu sakit, Farhan," lirihnya dengan suara pelan.


Masih sama. Farhan lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Ini hanya demam biasa, Kak. Nanti juga akan sembuh. Farhan hanya butuh istirahat. Farhan capek dengan tumpukan pekerjaan di kantor. Barangkali, Farhan belum terbiasa. Dan Farhan tidak sekuat kakak," tutur lelaki dua puluh tahun itu.


"Ini baru permulaan, Dik. Kakak yakin kamu pasti bisa memegang kendali perusahaan di usia muda. Kakak akan membantumu."


"Jika Farhan tidak mampu, bagaimana?"


Reyhan tersenyum mendengar pertanyaan adiknya. "Jangan psimis! Kamu pasti bisa."


Lelaki dua puluh tahun itu terdiam. Ia hanya menatap kakaknya bingung. Konsentrasimya benar-benar hancur.

__ADS_1


"Dik, kenapa?"


Farhan masih bergeming. Telinganya berdenging. Penglihatannya tampak mengabur. Ia menggeleng cepat.


Reyhan yang melihat adiknya itu bertingkah aneh lantas duduk kembali di samping Farhan. Pundak kekar di hadapannya itu dipegangnya kuat. Peluh Farhan menetes dan mengenai punggung tangannya dengan tonjolan urat-urat yang jelas terlihat.


Farhan menutup kedua telinganya yang masih berdenging. Keoalanya nyeri serasa tertusuk belati.


"Farhan! Hei! Kamu kenapa?" Kekhawatiran Reyhan memuncak. Pertanyaan yang ia lontarkan bahkan tak mendapat jawaban sama sekali. Yang dapat ia tangkap hanya tingkah aneh dan wajah kesakitan adiknya.


"Farhan jawab kakak!" bentaknya dengan suara lemah seraya menarik tubuh Farhan hingga menghadapnya.


"Farhan tidak apa-apa, Kak," dusta Farhan. Ia tidak ingin membuat siapapun khawatir padanya. Terlebih kakaknya. Ia tak ingin membuat Reyhan banyak pikiran, khawatir dan membuat kakaknya itu anfal lagi. Sudah cukup kesakitan-kesakitan yang dialami di hari kemarin. Ia bahkan tak tega mendengar rintih-rintih memilukan sang kakak.


"Farhan hanya butuh istirahat," lanjutnya dan membaringkan tubuhnya sembarangan. Mencoba memejamkan mata. Dan berharap bisa meredam sakit di kepalanya.


"Baiklah. Tetapi, perbaiki posisi tidurmu. Kemarikan jasmu, biar kakak letakkan kembali di lemari."


Farhan memposisikan tubuhnya dengan posisi nyaman. Melepas jas yang masih melekat pada tubuhnya sesuai perintah sang kakak. "Biarkan saja disini, Kak." Ia kembali memejamkan mata dan terlelap jauh ke alam mimpi.


Reyhan menatap wajah pucat adiknya. Kening lelaki yang terbaring itu sedikit mengkerut. "Kamu sakit, Dik," bisiknya lirih.


"Sa...kit," rintih lelaki itu masih dengan mata terpejam.


"Ma... Pa... Sa...kit."


Rintihan itu berulang kali tertangkap telinganya. Hingga rintihan terakhir membuat dadanya terasa terhimpit. Dadanya sesak. Pasokan udara habis.


"Jangan, Pa. Jangan pukuli Farhan lagi. Sakit, Pa."


Reyhan menggeram dalam hati. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jemarinya meutih sempurna.


"Sudah, Pa. Sakit. Kakak tolong Farhan, Kak. Sakit," rintih Farhan lagi.


Tangan ringkih Reyhan mengguncang pelan tubuh Farhan. "Bangun, Dik! Kamu kenapa?" Berulang kali ia melakukan hal yang sama. Hingga tubuh Farhan yang sudah bersimbah peluh itu terbangun.


"Minum dulu." Ia menyodorkan segelas air putih pada adiknya. Dengan tangan bergetar mengambil gelas tersebut dan meminumnya hingga tersisa setengah.


Farhan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Tatapannya nanar dan lurus ke depan. Bayangan-bayangan yang dulu mencekam kembali berputar di otaknya.


*Farhan kecil. Anak laki-laki berumur sembilan tahun itu meraung keras. Tangisnya pecah tatkala tangan kekar Papa mendarat pada tubuhnya. Tak hanya itu. Suara bentakan memekakkan telinganya.

__ADS_1


"Dasar anak nakal!"


Papa mendorong keras tubuh kecil itu hingga kepalanya membentur tembok dengan keras. Anak itu meringis kesakitan seraya memegangi kepalanya. Darah segar mengalir. Ada luka yang tercipta.


Anak kecil itu menatap jemarinya yang sudah berwarna. "Darah," cicitnya.


Mendengar hal itu. Papa sontak menatapnya anak kecil yang baru saja di dorongnya. Papa duduk di hadapan Farhan kecil. "Kepalamu berdarah, Nak," ucap Papa khawatir. Ia membawa anak kecil itu ke dalam gendongannya dan melarikannya ke Rumah Sakit.


"Maafkan Papa, ya, Nak. Papa khilaf."


Farhan kecil hanya mengangguk dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Pa. Inilah akibatnya karena Farhan nakal dan merusak laptop Papa," ucapnya anak kecil itu dengan tatapan lembut. Tatapan yang berhasil membuat Papa terjerembab pada lubang penyesalan*.


"Farhan!" panggil Reyhan dengan keras.


Farhan sedikit tersentak. Tatapannya masih kosong ke arah Reyhan.


"Ada apa? Cerita pada Kakak," bujuk Reyhan.


Alih-alih menjawab pertanyaan Reyhan. Farhan bahkan melompat dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Perutnya bergejolak. Ia berusaha mengeluarkan apa saja yang bisa keluar dari perutnya. Alhasil, ia hanya mampu memuntahkan cairan bening. Kepalanya semakin berdenyut.


Reyhan berjalan mendekat. "Kamu kenapa sih, Dik?" tanya Farhan dengan suara sedikit meninggi. Meskipun tetap saja. Suaranya masih terdengar lemah.


"Sepertinya Farhan masuk angin, Kak," jawab Farhan dengan enteng.


Kali ini Reyhan menatapnya tajam. Ia menarik tubuh adiknya dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. "Buka kemejamu!"


"Ada apa, Kak?" tanya Farhan bingung.


"Kakak bilang buka kemejamu!" bentak Reyhan dengan keras.


"Sssh." Reyhan memegangi dada kirinya yang kembali terasa sakit.


Farhan khawatir bukan main. Padahal, sekarang ia pun sedang berusaha mati-matian menahan rasa skit di kepalanya. "Kak, dada kakak sakit lagi. Ayo istirahat."


"Buka kemejamu!" perintah Reyhan lagi.


Mau tidak mau Farhan membuka kemejanya perlahan. Ia ragu. Ia takut.


Setelah semua kancing kemeja Farhan terbuka. Reyhan menariknya kuat. Matanya membulat sempurna. Dadanya benar-benar sesak menyaksikan tubuh atletis adiknya.


"Kak?"

__ADS_1


__ADS_2