Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 110


__ADS_3

Ia menapakkan kedua kakinya tanpa alas. Menikmati pasir putih yang membentang sejauh mata memandang. Di hadapannya tersuguhkan biru laut dengan riuh ombak yang menari-nari tanpa henti dan tak kenal lelah. Tangannya senantiasa menggandeng mesra tangan Reyhan.


"Bagaimana ? Kamu menyukai tempat ini, Al ?"


"Iya. Aku sangat menyukainya. Terlebih ada suami yang menemaniku," balasnya dengan senyum merekah dan bersungguh-sungguh.


"Apakah kamu sedang merayuku ?"


"Tentu saja tidak. Aku berbicara yang sebenarnya. Lagipula, aku bukanlah orang yang pandai merayu. Tidak sepertimu."


"Tapi, aku hanya pandai merayu istriku. Bukan orang lain."


"Seperti saat ini, bukan ?"


Reyhan tergelak.


Ia menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Menatap Reyhan dengan tajam dan bibir yang ia manyunkan beberapa senti. "Jangan mentertawakanku seperti itu. Aku sedang tidak memainkan komedi yng lucu."


"Baiklah. Aku tidak akan mentertawakanmu lagi," balas Reyhan mengalah dengan mengangkat tangannya ke udara.


Ia tersenyum girang. "Jangan merusak suasana hatiku. Kita sedang berbulan madu sekarang."


"Baik, Nyonya Oktara."


Langkah mengayun dengan pelan. Menyusuri pantai yang membentang luas dengan hamparan pasir putihnya.


"Sayang ?"


Kepalanya ia dongakkan agar mampu menatap wajah dengan rahang tegas dan netra dengan manik hitam itu. Senyumnya terbit begitu indah menghiasi bibir mungil nan ranumnya.


"Maaf untuk setiap kesalahan yang selama ini aku lakukan. Perihal Elmeera ataupun kejadian lainnya. Sungguh. Aku tak berniat untuk melakukannya."


Ia menggeleng. "Iya. Aku tahu. Dan maafkan aku juga telah mendiamimu begitu lama dan belum bisa menjadi istri seutuhnya untukmu."


Ia rasakan tubuhnya ditarik dan tenggelam dalam dekapan erat nan hangat Reyhan. Ia memejamkan mata dan meresapi aroma mint yang menyeruak dari tubuh suaminya. Aroma yang selalu membuatnya tenang.


Tangannya melepaskan pelukan Reyhan pada tubuhnya. Menatap dengan lekat manik yang juga melempar tatap padanya. "Aku mencintaimu."


"Aku tahu dan aku merasakan itu," balas Reyhan dengan tawa kecilnya.


"Ah... Kakak memang tidak bisa romantis."


"Tak mengapa. Asal aku mencintaimu. Bagaimana ?"


Ia tersipu. Pipinya bersemu merah.


"Nikmati saja masa-masa bulan madu kita ini, Sayang. Dirumah kita akan disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Susah untuk memiliki waktu berdua seperti ini."


"Dan aku mempunyai harapan besar setelah ini."


Alis Reyhan tertaut. Penasaran dengan harapan yang dimaksud istrinya itu. "Jika boleh ku tahu. Harapan besar apa yang kamu ukirkan, Sayang ?"


"Sepulang berbulan madu. Semoga aku hamil lagi. Atas alasan apapun. Aku tak ingin menunda memiliki Reyhan kecil," ucapnya percaya diri.

__ADS_1


"Kamu memberikan isyarat padaku untuk berusaha lebih, Sayang ?" tanya Reyhan dengan memainkan alisnya naik turun.


Ia menatap suaminya bingung. "Apa maksud kakak bertanya seperti itu ?"


Reyhan menepuk keningnya pelan. "Astaga. Sudah lama menjadi istri kamu masih belum paham juga, Al ? Bagaimana bisa kamu sepolos itu ?"


"Tapi, aku benar-benar tidak paham apa yang kakak maksudkan."


"Baiklah. Lupakan saja dan jangan dibahas lagi," ucap Reyhan seraya membuang napas kasar.


"Kenzo!" teriaknya tiba-tiba dengan girang dan yang melambai-lambai. Membuat Reyhan seketika berbalik badan.


Ia berjalan mendekat tanpa berkata apapun pada Reyhan.


"Hei! Masih ingatkah pada tante ?" tanyanya dengan berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan anak lelaki bernama Kenzo itu.


"Iya, Tante cantik."


Tak peduli pada seseorang yang membersamai Kenzo. Ia memeluk tubuh kecil di hadapannya. Dan ia dapati pelukan balik dari tangan kecil Kenzo.


Kepalanya ia dongakkan. Menatap seseorang yang berdiri didekat Kenzo.


"Maaf. Aku sudah lancang memeluk Kenzo," ucapnya dengan tulus.


"Tak mengapa. Sepertinya Kenzo juga tak keberatan kamu memeluknya."


"Jika aku tidak salah. Apakah namamu Elmeera ?"


Perempuan itu tak menjawab. Ia menatap Reyhan yang tengah berdiri di belakang Nadhira dan mengangguk.


"Suamiku bilang kamu adalah adik perempuannya. Kenapa kamu hanya mengatakan bahwa kamu adalah temannya ?"


Elmeera membungkam.


"Tapi, tak mengapa. Saya ingin bermain dengan Kenzo. Sebentar saja. Apakah kamu mengizinkanku ?"


Lagi-lagi Elmeera menatap Reyhan.


"Aku berjanji akan menjaga Kenzo dengan baik."


"Tapi, disini juga ada orang tuanya Kenzo. Jadi, aku tak berani memberimu wewenang untuk itu."


"Dimana Mbak Shalu ?" celetuk Reyhan setelah mendengar ucapan Elmeera.


Elmeera menatap ke arah bangunan mewah. Sebuah restoran di pinggir pantai. "Disana. Bersama Mas Farkash," ucap Elmeera seraya menunjuk ke arah restoran.


Netranya mengikuti arah telunjuk Elmeera. Kemudian, menatap Reyhan dengan tatapan yang susah di artikan.


"Sayang..."


Dengan cepat ia memotong kalimat yang akan di lisankan oleh Reyhan. "Kakak ingin bertemu ? Tak mengapa," jawabnya dengan senyum manis.


Ada rasa tak percaya dalam diri Reyhan. "Benarkah, Sayang ?"

__ADS_1


Ia mengangguk pasti. "Tapi, sementara itu izinkan aku bermain dengan Kenzo."


"Kita izin pada Mbak Shalu dan Mas Farkash dulu, ya, Sayang. Jika diizinkan. Terserah kamu mau bermain berapa lama pun dengan Kenzo."


Ia kembali menganggukkan kepalanya dan menatap tubuh kecil di sampingnya. "Kenzo mau bermain bersama Tante, tidak ?"


Senyumnya mengembang saat ia dapati anggukan polos Kenzo. "Tapi, izin pada Papa dan Mama dulu, ya, Sayang."


"Iya, Tante cantik."


Kakinya mengikuti langkah Reyhan. Sedangkan tangannya selalu bergelayut manja pada lengan suaminya.


"Aku turut berdukacita atas musibah yang menimpamu," cicit Elmeera tiba-tiba setelah Reyhan bergabung dengan Shalu dan Farkash. Meninggalkannya bersama Kenzo dan Elmeera.


Ia menatap Elmeera dengan tatapan tidak mengerti.


"Maksudku, saat kamu keguguran."


"Darimana kamu tahu ? Apakah Kak Reyhan yang memberitahumu ?"


Elmeera memberanikan diri menatapnya dengan lekat. "Tidak! Bara yang sudah memberitahuku. Tapi, kala itu aku sedang melakukan pekerjaan di luar daerah. Jadi aku tak sempat mengunjungimu di Rumah Sakit. Aku baru kembali beberapa hari yang lalu."


"Tak mengapa. Lagipula, aku baik-baik saja."


"Ku dengar dari Bara. Kamu juga salah paham denganku."


Ia terdiam.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku dan Reyhan tidak memiliki hubungan spesial sejak dulu. Aku adalah temannya. Selain itu, Reyhan menganggapku sebagai adiknya. Ia hanya menginginkan kehadiran adik perempuan. Sebab, saat itu Latisha belum lahir."


"Kak Reyhan sudah menceritakan semuanya padaku."


"Baguslah."


"Kamu mencintai suamiku ?"


"Iya," jawab Elmeera tanpa ragu.


Ia menatap Elmeera tajam.


"Tapi, dulu. Dulu sekali. Sekarang aku hanya menganggapnya kakak lelakiku. Lagipula, minggu depan aku akan melaksanakan pertunangan."


Elmeera menghela napas panjang. "Jika kamu berkenan dan memiliki waktu senggang. Datanglah! Secara pribadi aku mengundangmu dan Reyhan."


Wajah yang tadinya tanpa ekspresi seketikan berubah cerah. Senyumnya terbit di bibir ranumnya. Ia mengangguk pasti. "Maaf sudah berburuk sangka padamu."


"Tak mengapa. Aku paham. Dan mulai saat ini. Jadilah temanku," ucap Elmeera.


"Tentu saja. Atau aku akan menganggapmu sebagai kakak perempuanku saja. Bagaimana ?"


"Baiklah."


"Jadi, mulai saat ini aku akan memanggilmu dengan sebutan kakak. Kak Elmeera."

__ADS_1


Keduanya tersenyum manis.


__ADS_2