Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 35


__ADS_3

“Hei, Pengantin Baru!”


Kedatangan Nadhira disambut dengan teriakan antusias Kayla. Hari ini, Nadhira kembali melaksanakan aktifitasnya sebagai seorang mahasiswi setelah seminggu tidak menginjakkan kaki di kampusnya.


“Bagaimana, Ra ? Sudah merasa sehat kah ?”


“Alhamdulillah, Kay. Seperti yang kamu lihat.”


Nadhira melempar pandangan ke segala arah mencari keberadaan seseorang.


“Finza dimana ?” tanyanya setelah pencariannya tak berujung temu.


“Sepertinya belum datang. Sejak tadi juga aku sudah mencarinya.”


Kriiing...


Dering ponsel Nadhira menghentikan percakapan dua gadis berjilbab itu.


“Sebentar, ya, Kay. Aku angkat telepon dulu. Dari suami,” kata Nadhira dengan senyum sumringah.


“Oh mentang-mentang sudah menikah mulai pamer-pamer, ya sekarang.”


Nadhira hanya terkekeh dan menyingkir sedikit dari posisi Kayla untuk menjawab panggilan telepon suaminya.


“Selamat siang juga, Suami.”


“...”


“Belum, Kak. Tinggal satu Mata Kuliah lagi.”


“...”


“Iya, Kak.”


“...”


“Titip salam buat Abang, aku rindu di jailin dia,” ungkapnya sambil terkekeh.


Selepas menerima telepon, Nadhira kembali menghampiri Nadhira yang kini sudah menunggunya bersama Finza dan seorang lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya. Namun, anehnya ia merasa familiar dengan lelaki tersebut.


“Sudah selesai, Ra ?”


“Sudah, Kay.”


“Kenalin, Ra. Ini Kak Faris. Temanku di Forum Diskusi Kampus.” Finza mulai memperkenalkan lelaki yang berdiri tepat di sampingnya itu.


“Hai! Saya Faris. Mahasiswa Fakultas Hukum,” tutur Faris memperkenalkan diri.”


“Nadhira,” balasnya dengan menangkupkan kedua tangan didepan dada.


“Saya merasa tidak asing denganmu. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu ?”


“Barangkali begitu, Kak Faris. Sebab, saya juga merasa begitu familiar dengan wajah kakak.”


Ia berusaha mengingat-ingat kejadian yang pernah mempertemukannya dengan Faris. Begitu juga dengan Faris.


“Apakah kalian sudah saling mengenal satu sama lain ?” tanya Finza.


“Sepertinya pernah bertemu saja. Tapi, aku lupa.”


“Oh... saya ingat, Nadhira. Saya pernah menabrakmu di koridor dekat tangga. Iya ‘kan ?” tutur Faris dan bertanya memastikan.


“Oh iya. Benar, Kak. Maaf waktu itu saya sedang terburu-buru.”


“Tidak apa-apa. Saya juga yang salah memainkan ponsel sambil jalan.”


Faris melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Maaf. Saya harus pergi. Sebentar lagi saya ada pertemuan dengan mahasiswa-mahasiswa dari beberapa kampus. Saya duluan, ya.”


“Hati-hati, Kak,” kata Finza.


“Di lain kesempatan kita bisa bertemu dan berbincang banyak. Semoga Tuhan mengizinkan,” ungkap Faris dengan lembut dan sopan.


“Tentu,” jawab Finza dan Kayla hampir bersamaan. Sedangkan, Nadhira hanya tersenyum.


“Za, kamu perhatikan Kak Faris nggak tadi ?” cicit Kayla sepeninggal Faris.


“Ada apa dengan Kak Faris ?”


“Tatapannya ke Nadhira kok beda, ya ?”


“Maksud kamu gimana, Kay ?”


“Iya beda aja. Sepertinya dia menyukai Nadhira.”


“Kamu kebiasaan suka memvonis orang seperti itu, Kay. Nggak baik. Itu namanya suudzon,” balas Nadhira.


“Ingat dosa, Mikayla Prisilia Radjasa,” sambung Finza.


“Baiklah,” pasrah Kayla.

__ADS_1


Ketiga gadis berhijab itu berjalan beriringan memasuki kelas dengan candaan yang masih berlangsung.


*****


“Kamu tidak ada rencana pergi berbulan madu dengan Nadhira, Han ?” tanya Papa.


Saat ini, Reyhan tengah duduk berdua bersama Sang Papa setelah beberapa jam melaksanakan rapat dengan beberapa koleganya.


“Nadhira ‘kan sudah mulai kuliah lagi, Pa. Lagipula, bulan madu juga bisa dimana saja dan kapan saja.”


“Tapi, setidaknya kalian butuh liburan berdua saja. Apalagi kemarin Nadhira sempat jatuh sakit.”


“Iya, Pa. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini. Reyhan ingin Nadhira fokus menyelesaikan studinya yang tinggal sebentar lagi.”


“Baiklah. Terserah kamu saja.”


Reyhan tersenyum.


“Kesehatanmu tetap dijaga juga, Nak.”


“Tentu saja, Pa. Jangan khawatir.”


“Sekarang tanggung jawabmu sudah bertambah. Ada istri yang harus kamu jaga juga.”


“Pa, Reyhan belum menceritakan tentang keadaan yang sebenarnya pada Nadhira. Reyhan takut dia kaget. Dan yang lebih Reyhan takutkan lagi, Nadhira akan pergi meninggalkan Reyhan setelah dia tau,” tutur Reyhan lirih.


Papa menatap kasihan anak sulungnya itu.


“Nak, ceritakan saja pada Nadhira. Jika dia benar-benar mencintaimu, Papa yakin dia tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Justru dia akan merangkulmu dan selalu berada di sampingmu.”


“Reyhan benar-benar takut, Pa. Ssshhh.”


“Kamu kenapa, Nak ? Jantungmu kumat lagi ? Kita ke Rumah Sakit, ya.”


“Tidak perlu, Pa. Hanya nyeri sedikit.”


“Jangan banyak pikiran, Han. karena, itu juga akan mempengaruhi kesehatanmu.”


“Iya, Pa.”


“Tapi, kamu benar tidak apa-apa ?”


Reyhan mengangguk pasti.


“Papa mau jemput Mama dulu.”


“Jangan lupa ceritakan, Nadhira.”


“Akan Reyhan ceritakan nantinya. Itu sudah pasti, Pa. Dan cepat atau lambat Nadhira juga pasti akan tau. Papa lihat sendiri belakangan ini kesehatan Reyhan semakin tidak stabil saja.”


“Itu tugas tambahanmu. Lebih menjaga kesehatan dan tidak memaksa diri untuk bekerja.”


“Iya, Pa.”


Selepas ditinggal Papa. Reyhan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesaran di ruangannya.


Ia menatap sebuah bingkai ukuran sedang yang ia letakkan disudut meja kerjanya. Bingkai yang berisi foto pernikahannya minggu lalu dengan Nadhira. Perempuan masa lalunya yang kini sudah berada disampingnya untuk berjalan meniti masa depan.


Senyumnya terbit begitu indah.


“Ah... aku jadi merindukanmu, Gadis Kecil,” ungkapnya dengan senyum yang masih mengembang.


Ponsel yang ia letakkan sembarangan diatas meja diraihnya. Mencari nama kontak seseorang yang hendak di hubungi.


“Selamat siang, Istri,” ungkapnya setelah telepon tersambung.


“...”


“Kelasnya sudah selesai, Sayang ?”


“...”


“Baik, Sayang. Nanti kabari aku, ya. Biar aku yang jemput.”


Tok. Tok. Tok.


Terdengar pintu ruangannya diketuk ditengah percakapannya dengan Nadhira. Dan ia temukan sosok Bara muncul dari balik pintu.


“Sayang, ada Abang baru datang. Aku tutup teleponnya, ya.”


“...”


“Baiklah, Istriku.”


“Hei, Kakak Ipar!” sapa Reyhan setelah memutuskan sambungan telepon dengan Nadhira.


“Bahagia banget kayaknya pengantin baru,” goda Bara.


“Alhamdulillah, Bar,” balasnya tertawa kecil.

__ADS_1


“Oh iya. Nadhira titip salam. Dia rindu di jailin elo katanya.”


“Ah... anak manja itu. Rumah menjadi sepi semenjak kalian menikah.”


Reyhan hanya tertawa menanggapi celotehan kakak iparnya.


“Tumben kesini nggak ngasih tau dulu.”


“Temenin gue keluar.”


“Kemana ?”


“Ketemu client. Gue males sendiri.”


“Nggak lama ‘kan ? Gue ada janji nanti sama Nadhira.”


“Nggak kok. Tapi, elo sehat ?”


“Tentu,” jawab Reyhan penuh percaya diri.


*****


“Bagaimana adik gue ? Sering nyusahin elo sama keluarga nggak ?” tanya Bara membuka percakapan ditengah perjalanan menuju tempat yang dimaksudkan.


Reyhan sebentar menoleh sebelum kembali fokus ke depan.


“Tidak. Tidak sama sekali. Kalaupun demikian, itu satu hal yang wajar. Nadhira itu sudah jadi istri gue.”


“Dia gadis manja. Jadi, elo harus banyak-banyak bersabar buat ngadepin sikapnya.”


“Iya gue paham. Dan gue akan melakukan yang terbaik yang gue bisa untuk Nadhira. Elo tenang aja. Jangan khawatir.”


“Thanks, Han.”


Reyhan melempar senyum sebelum fokus menyetir mobil yang tengah melaju membelah macetnya jalan kota. Dan tak butuh waktu lama ia sudah memarkirkan mobil Bara didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Gedung yang tak kalah dengan perusahaan Papa yang sedang dikelolanya.


Ia dan kakak iparnya berjalan memasuki gedung tersebut. Menemui seseorang yang sudah menunggu disana.


“Selamat siang, Nyonya Anggaraksa,” sapa Bara setengah bercanda.


“Hei! Selamat siang, Tuan Prayudha,” balas gadis yang di panggil Nyonya oleh Bara.


“Elmeera ?” ucap Reyhan tiba-tiba.


“Hei, Reyhan! Aku tidak salah ‘kan ?”


Reyhan tertawa kecil. Elmeera merupakan salah satu teman seperjuangannya menempuh pendidikan diluar negeri.


“Lho, kalian sudah saling kenal ?” tanya Bara sedikit kaget.


“Teman gue bikin jengkel dosen nih, Bar,” jawab Elmeera diiringi tawanya.


Reyhan ikut tertawa. Ia teringat beberapa kejadian lucu yang pernah terjadi berhubungan dengan Elmeera.


“Jadi bagaimana, Nyonya Anggaraksa ?”


“Nggak perlu formal-formal banget, Bar. Kayak sama siapa aja ?”


“Terserah elo!”


Pembahasan Reyhan dan kedua temannya itu mengalir diiringi candaan yang memaksa mereka harus melepas tawa. Hingga mereka lupa telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya.


Reyhan menyesap sisa kopi hitamnya pelan. Melirik jam tangan yang setia melingkari pergelangannya.


“Astaga gue lupa ada janji,” cicit Reyhan tiba-tiba. Ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponsel yang lupa ia aktifkan nadanya.


Nampak beberapa panggilan tak terjawab dan pesan dilayar ponselnya. ia menscroll ponsel dan melihat pesan tersebut. Dari Nadhira.


“Gue ada janji sama Nadhira, Bar.”


“Elo balik duluan aja nggak apa-apa kok. Pakai mobil gue aja.”


“Terus elo bagaimana ?”


“Nanti gue minta jemput sopir Papa.”


“Nadhira siapa ?” tanya Elmeera dengan raut wajah beda dari biasanya.


“Istri gue.”


Sontak mulut Elmeera membentuk huruf O. Ia kaget.


“Elo udah nikah, Han ?”


“Minggu kemarin,” jawab Reyhan santai.


“Eh gue balik, ya.”


Reyhan berlalu meninggalkan Elmeera yang diselimuti berbagai macam tanya diotaknya dan Bara.

__ADS_1


__ADS_2