Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 53


__ADS_3

“Finza!”


Nadhira berteriak memanggil seseorang yang sangat ia kenali tengah berjalan seorang diri di kejauhan. Tangannya ia lambaikan seraya meloncat-loncat kegirangan.


Finza. Salah satu sahabatnya yang sudah seminggu ini tak pernah ia jumpai dengan bertatap muka. Ia hanya berkabar melalui ponsel selulernya saja. Karena, mata kuliah yang ia tempuh sudah ia selesaikan lebih cepat dari teman sekelasnya. Termasuk kedua sahabatnya, Finza dan Kayla.


“Sayang, jangan berteriak dan loncat-loncat seperti itu. Nanti kamu jatuh,” tegur Reyhan sembari menghentikan tingkah kekanakkan istrinya.


“Iya. Maaf. Aku terlalu senang bisa bertatap muka dengan sahabatku lagi.”


Reyhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa bahwa istrinya benar-benar anak kecil.


Sekali lagi ia melambaikan tangan ke arah Finza. Tersenyum lebar setelah melihat sahabatnya yang satu sudah mendekat.


“Assalamu’alaikum, pengantin baru,” sapa Finza setelah berhadapan dengan Nadhira dan Reyhan.


“Wa’alaikumussalam,” jawab keduanya berbarengan.


“Ra, aku tidak salah lihat, bukan ?”


“Apa ?” tanyanya dengan tatapan bingung.


“Kamu terlihat lebih gemuk dari biasanya.”


“Benarkah ?”


“Kak Reyhan juga merasa begitu ‘kan ?” ucap Finza melempar tanya pada Reyhan.


“Iya, Finza. Aku juga sempat mengatakan hal itu padanya kemarin.”


“Wah... selamat sudah bisa terlepas dari predikat gadis kurus dan mungil dariku, ya, Ra.” Finza terkekeh sendiri mendengar ucapan yang ia tujukan pada sahabatnya itu.


Ia hanya tersenyum girang mendengar pujian atas badannya yang sudah gemuk. “Akhirnya, setelah sekian tahun aku menantikan kegemukanku. Sekarang aku sudah merasakannya,” ucapannya penuh syukur.


“Atau jangan-jangan kamu sedang mengandung, Ra,” ucap Finza.


Ia saling melempar tatap dengan Reyhan. “Apa benar aku hamil, Kak ?” tanyanya pada suaminya yang juga tak tahu apa-apa.


Reyhan masih terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Hingga suara Finza menyadarkannya.


“Semoga saja kamu memang benar-benar hamil, Nadhira.”


“Aamiin,” ucapnya senang. Ia mengelus perutnya yang masih rata.


“Kak ?” Ia memanggil suaminya yang masih dalam posisi diam dan senyum mengembang.


“Iya, Sayang.”


“Kakak kenapa ?”


“Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya sedang membayangkan jika kamu benar-benar hamil.”


“Berdo’a, ya. Semoga Allah segera menitipkan anugrah serta amanah untuk kita.”


Reyhan tersenyum lebar dan mengelus puncak kepala istrinya. “Aamiin. Sepulang nanti kita mampir di apotek, Al. Membeli tespack dan mencoba tes dirumah.”


Ia mengangguk girang.


“Ra, lihat Kayla tidak ?” Finza menyadarkan pasangan pengantin baru yang sedang berbahagia di hadapannya itu.

__ADS_1


“Tidak. Aku juga tadi hendak menanyakannya padamu.”


“Eh itu!” Ia menunjuk ke arah belakang Finza.


Baik Reyhan maupun Finza seketika mengalihkan pandangan menuju arah jari telunjuk Nadhira. Mereka tak menemukan Kayla sama sekali. Hanya seorang lelaki dengan gagah berjalan membelah kerumunan para mahasiswa. Beberapa diantara mereka tengah menatap kagum lelaki tersebut.


“Kak Faris ?” ucap Finza.


Iya. Lelaki itu adalah Faris. Ia melempar senyum ke arah ketiganya. Dan dibalas dengan senyum pula.


Berbeda dengan Nadhira dan Finza. Reyhan hanya menunjukkan wajah datarnya. Ia memang tidak terlalu menyukai Faris. Karena, ia merasa Faris menyimpan perasaan pada Nadhira.


“Hai! Apa kabar kalian ?” tanya Faris.


“Baik, Kak. Alhamdulillah,” jawab Finza.


“Ra, bukankah kamu datang kesini untuk menyerahkan laporan saja ?” Reyhan lebih dulu mengalihkan fokus istrinya agar tak ikut bercengkrama ria dengan Finza dan Faris.


“Iya, Kak.”


“Iya sudah. Sekarang serahkan laporanmu dan kita pulang. Sebelum itu kita akan ke apotek.”


“Tapi, aku masih sedang ingin bersama Finza dan Kayla. Lagipula Kayla juga belum datang.”


“Kamu masih bisa mengundang Finza dan Kayla ke rumah. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama disana.”


“Kak ?” ucapnya dan bergelayut manja dilengan kekar Reyhan.


“Aku juga butuh istirahat, Aleea. Kamu tahu keadaan masih belum pulih total.”


Ia bungkam. Tak tahu lagi berkata apa.


“Jangan menunduk seperti itu, Al. Bisa-bisa kamu menabrak sesuatu atau seseorang,” tegur Reyhan oadanya. Namun, ia hanya melangkah tanpa mengindahkan ucapan suaminya.


“Aku akan menyusul Nadhira dulu, Finza. Maaf belum bisa mengizinkan Nadhira untuk lebih berlama-lama denganmu.”


“Tak mengapa, Kak. Finza paham. Semoga hasilnya nanti sesuai dengan harapan, ya, Kak Reyhan.”


“Aamiin. Terimakasih banyak, Finza. Permisi.”


Reyhan mengejar Nadhira yang sudah jauh dari hadapannya.


“Sayang. Sayang tunggu.”


Ia hanya menoleh sebentar kemudian melanjutkan lagi langkahnya.


Reyhan menarik tangannya dengan paksa. “Sayang, dadaku sakit,” keluh Reyhan setengah berbisik.


Seketika langkahnya terhenti dan menatap suaminya. “Kakak baik-baik saja ?”


“Dadaku sedikit sakit, Al. Jalannya yang pelan, ya.”


Dibawah tangga yang sedikit sepi. Ia menatap iba suaminya. Ia mendekat dan memegang dada Reyhan yang sedang sakit. “Lekas sembuh. Jangan terlalu menyiksa suamiku, ya.”


“Sayang ?”


“Kakak tunggu sebentar saja dikursi itu,” ucapnya seraya menunjuk sebuah kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. “Aku hanya menyerahkan laporan ini dilantai dua dan akan segera kembali.”


“Aku ingin menemanimu.”

__ADS_1


“Kali ini dengarkan aku, ya, Kak.”


Reyhan hanya mengangguk dan mengikuti begitu saja ajakan Nadhira yang membawanya ke kursi. “Tunggulah disini.”


Ia segera berlari menuju lantai dua untuk menyerahkan laporan yang ia pegang sedari tadi.


“Aleea, jangan lari!”


Reyhan lagi-lagi menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. “Aleea. Aleea.”


Sementara ditinggalkan Nadhira. Ia sebentar melihat ke arah Finza yang masih berbincang dengan Faris. Tatapannya bertabrakan tatapan elang milik Faris.


“Kak Reyhan ?” sapa seseorang.


“Kayla, ya ?”


“Iya, Kak. Sedang apa disini ?”


“Aku sedang menunggu Nadhira. Dia dilantai dua untuk menyerahkan laporannya.”


“Oh begitu ?”


“Nadhira juga mungkin tengah menanti kedatanganmu. Disana ada Finza juga.” Reyhan menunjuk ke arah Finza dan diikuti oleh tatapan Kayla.


“Sebentar Kayla menemui Finza dulu, ya, Kak. Tak mengapa jika Kayla tinggal sendiri ?”


“Iya. Tidak apa-apa,” balasnya dengan senyum.


“Kay!” Nadhira dengan suaranya yang menggelegar memanggil Kayla dari atas tangga. Ia kembali berlari menuruni tangga satu per satu.


“Al, aku bilang jangan lari-lari. Seperti anak kecil saja.”


“Itu sudah menjadi kebiasaan Nadhira sejak dulu, Kak. Jadi, aku hanya memaklumi saja. menegurnya pun sudah tak ada guna. Sia-sia semata.”


“Berhenti lari-lari seperti itu. Bagaimana jika kamu benar-benar sedang hamil seperti yang dikatakan Finza ?”


Ia terdiam dan hanya mengelus perutnya.


“Hah ? Kamu hamil, Ra ?” tanya Kayla.


“Aku belum tahu. Karena, aku belum memeriksa ke Rumah Sakit ataupun menggunakan tespack. Tapi, harapanku dan Kak Reyhan ya semoga saja aku benar hamil.”


“Ya ampun, Ra. Aku juga do’akan semoga kamu benar-benar hamil. Supaya aku dengan cepat menggendong keponakan.”


“Aamiin.”


“Kay, maaf aku harus langsung pulang sekarang. Kak Reyhan masih belum sembuh total. Dia harus istirahat.”


“Iya, Ra. Tidak apa-apa. Aku temuin Finza dulu, ya.”


Ia hanya mengangguk.


“Kita pulang, Sayang,” ucapnya dan menggandeng tangan Reyhan.


“Sebelum pulang kita ke apotek dulu mencari testpack. Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui apakah kamu benar-benar hamil atau tidak.”


“Besok pagi-pagi aku akan menggunakan testpack. Semoga hasilnya sesuai harapan kita.”


“Aamiin.”

__ADS_1


__ADS_2