Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 61


__ADS_3

Sore harinya. Saat langit menampakkan wajah keemasannya. Gadis dengan hijab instan yang membungkus mahkotanya itu duduk diteras depan menanti kedatangan suaminya sepulang dari kantor. Dengan segelas teh hangat dan camilan beserta buku diary yang ia genggam bersama penanya. Ia menyisipkan kata demi kata yang bisa ia rangkai dengan seapik mungkin didalam buku yang selalu menemaninya itu.


Tatapannya lurus kedepan saat pintu gerbang terdengar terbuka. Ia tersenyum lebar ketika ia melihat sebuah mobil yang tak asing lagi dengan pelan melaju memasuki pekarangan rumah besar milik keluarga Oktara yang sekarang juga ia sudah menjadi bagiannya.


Dengan segera ia berdiri dan menuruni beberapa tangga teras untuk menyambut kedatangan suaminya dengan senyum hangat. Ia berdiri ditangga terakhir untuk menunggui Reyhan turun dari mobilnya.


"Assalamualaikum, Sayang," ucap Reyhan setelah turun dari mobil dengan membawa tas kerja serta jas hitam yang sudah tak ia kenakan lagi. Nampak juga penampilannya sedikit berantakan dengan lengan kemeja yang ia lipat hingga di siku.


"Wa'alaikumussalam, suamiku," jawabnya dan mencium tangan suaminya dengan hormat. Ia mengambil alih tas kerja serta jas dari tangan suaminya.


"Kenapa kamu diluar ?" tanya Reyhan seraya merangkul tubuh kecil Nadhira.


"Sedang menunggu suamiku pulang kerja," bisiknya pelan.


"Benarkah ?"


"Tentu saja. Dan aku akan melakukan itu setiap harinya."


"Terimakasih, ya, Al."


"Sekarang aku siapkan air hangat untuk kakak mandi, ya."


Reyhan mengangguk menyahutinya. Bersama-sama mereka menapaki tangga menuju kamarnya dilantai dua.


Ia meletakkan tas kerja dan jas suaminya dengan rapi. Memasuki kamar mandi menyiapkan air hangat untuk suaminya.


"Aku sudah selesai menyiapkan air hangat untuk kakak. Sekarang mandilah."


"Terimakasih, istriku."


"Kakak mau aku buatkan minuman apa ? Teh hangat ?"


"Apa saja, Sayang. Asal buatan istriku," ucap Reyhan dan mengedipkan sebelah matanya.


Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Cepatlah mandi. Aku akan menunggu kakak dibawah. Diteras depan."


"Siap, Nyonya Oktara."


Kali ini ia dibuat terkekeh oleh suaminya.


_____


"Sayang," sapa Reyhan pada istrinya yang sudah duduk manis diteras depan. Menikmati sayup-sayup warna keemasan langit yang sebentar lagi akan berubah menjadi hitam pekat.


"Hei! Duduklah. Aku sudah menyiapkan teh hangat untuk kakak. Juga cemilan sederhana buatan pertamaku. Tentu saja dibantu Mama." Ia tersenyum bangga ke arah suaminya yang masih berdiri disampingnya.


"Rupanya sudah banyak yang Mama ajari padamu, Al."

__ADS_1


"Iya, Kak. Dan aku menikmatinya. Berada didapur dan memasak ternyata tak separah yang pernah aku bayangkan dulu." Ia terkekeh.


Ia menutup buku diary yang dipegangnya. Meletakkan diatas meja.


"Kak ?" panggilnya seraya menatap serius Reyhan.


"Kenapa, Sayang ?"


"Pagi tadi Mama menanyaiku tentang kapan kita akan pergi berbulan madu. Mama pun sempat menyinggung perihal ia sudah tak sabar menimang cucu. Sepertinya Mama hanya memberikan isyarat padaku untuk segera hamil."


Reyhan menatapnya lekat. "Kita bisa pergi kapan saja untuk berbulan madu, Sayang. Tapi, bagaimana denganmu ? Studimu ? Aku hanya tidak ingin semuanya tertunda hanya karena kita pergi berbulan madu saja. Tapi, jika kamu ingin. Besok pagi kita bisa langsung berangkat."


"Aku juga berpikir begitu. Lagipula, ku lihat juga kakak masih sedang sibuk-sibuknya. Jadi, aku ingin kita pergi nanti saja jika kita sudah tidak lagi terbeban dengan kewajiban masing-masing. Tapi, bagaimana dengan keinginan Mama ?" Tatapannya berubah sendu.


"Sayang, perihal keinginan Mama kamu jangan terlalu pikirkan. Kita 'kan sedang berusaha. Seperti apapun Mama menginginkan itu. Tapi, Tuhan belum mengizinkan kita untuk mengemban amanah itu. Apa yang bisa kita lakukan, Sayang ? Memaksa pun kita tak punya daya."


Reyhan menggenggam erat tangan yang putih mulus itu. "Jangan terbebani dengan keinginan Mama juga, ya, Sayang. Aku yakin Mama pahan dan juga tak akan memaksa kita."


Ia mengangguk sebentar. Kemudian tertunduk lesu.


"Aleea ?"


Kepalanya ia angkat dengan tatapan ke arah Reyhan yang duduh di kursi seberang meja.


"Kita akan ikhtiarkan terus, ya. Semoga dengan cepat kita diberikan amanah oleh-Nya."


Reyhan mengelus punggung tangan istrinya.


"Minum dulu tehnya. Dan jangan lupa cicipi cemilan buatanku."


"Meskipun masih dibantu Mama, ya, Sayang." Reyhan tertawa kecil.


"Iya. Iya."


Keduanya menikmati suasana sore dengan samarnya warna jingga pada bentangan langit. Menikmati kembali pelukan senja bersama-sama.


"Aku selalu merindukan kakak saat senja," ucapnya tiba-tiba.


"Dan senja adalah penawar bagiku saat aku merindukanmu. Memang senja dan rasaku padamu tak mampu ku pisahkan," balas Reyhan.


Pasangan suami istri itu saling melempar senyum simpul. Menenggelamkan pandangan pada netra pasangannya.


"Oh rupanya kalian disini."


Suara Mama yang menggelegar menyadarkan keduanya dari pandang-pandangan. Secara bersamaan mereka mengalihkan pandangan pada wanita paruh baya itu.


"Ada apa, Ma ?" tanya Reyhan.

__ADS_1


"Papa mencarimu. Tidak tahu ada urusan apa."


"Astaga!" Reyhan menepuk dahinya. Ia melupakan sesuatu yang diperintahkan Papa padanya.


"Kenapa, Kak ?" tanyanya bingung.


Begitu pula dengan Mama. Ia menatap anak sulungnya itu dengan kening mengkerut.


"Al, aku lupa. Papa memintaku membawakan berkas keuangan kantor ke ruang kerjanya."


"Lalu, dimana berkas yang Papa maksud ?"


"Di tas kerjaku, Al. Harusnya sepulang dari kantor pusat aku langsung menyerahkannya pada Papa. Tapi, aku benar-benar lupa."


"Kamu ambil berkasnya sekarang. Dan biar Mama yang memberikannya ke Papa. Ini sudah kebiasaan yang tidak bisa kamu ubah, Han. Gila kerja tapi pelupa."


"Iya, Ma. Reyhan minta maaf."


Reyhan hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun, tangannya lebih dulu dicegat oleh Nadhira.


"Biar aku saja. Kakak tunggu disini bersama Mama."


"Benarkah ?"


Ia mengangguk.


"Berkasnya di map warna biru didalam tas kerjaku, Al."


"Iya," ucapnya seraya mengangguk paham. Ia beranjak dari teras depan dan melenggang memasuki rumah besar yang sekarang ia tempati. Berjalan menuju tangga yang menghubungkan antara lantai dasar rumah itu dan lantai dua dimana kamarnya berada.


Didalam kamar ia mengambil tas kerja suaminya dan mencari map yang dimaksud. Setelah berhasil menemukan apa yang dititahkan suaminya. Ia kembali meletakkan tas kerja Reyhan ditempat semula. Kemudian, kembali menemui suami dan Mama di teras depan rumah.


"Apakah ini map yang kakak maksud ?" tanyanya seraya meletakkan map tersebut diatas meja.


Reyhan memeriksa map yang dibawa oleh Nadhira dan tersenyum. "Iya, Sayang. Terimakasih, ya."


Ia hanya mengangguk menyahuti ucapan suaminya.


"Ma, Reyhan minta tolong untuk menyerahkan ini pada Papa." Reyhan menyerahkan map berwarna biru pada Mama.


"Baiklah. Mama masuk menemui Papa dulu. Kalian nikmatilah waktu berdua."


"Iya, Ma. Terimakasih," jawab Reyhan.


"Pengantin baru harus banyak-banyak menghabiskan waktu berdua, ya. Supaya adik bayi segera hadir." Mama mengedipkan matanya dan tersenyum jail. Kemudian, menjauh pergi tanpa peduli dengan reaksi anak dan menantunya.


Melihat kelakuan Mama. Reyhan dan Nadhira saling melempar tatap dan tertawa keras.

__ADS_1


__ADS_2