Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 127


__ADS_3

"Kamu yakin tidak mau cerita pada Abang, Ra?" tanya Bara memecah keheningan yang tercipta di tengah perjalanan pulang dari rumah Mikayla.


Gadis dengan jilbab yang sedikit berantakan itu menatap Bara dengan sendu. Pilu yang tadinya sempat terlupa kini kembali menari-nari dan mentertawakannya dengan riang. Nyeri dalam hati kembali menyerang. Mengundang air mata yang membentuk genangan.


"Jika kamu tidak mau, Abang tidak akan memaksamu. Tapi, jangan membohongi Abang dengan mengatakan kamu baik-baik saja. Karena, Abang tak akan mempercayai hal itu."


Ia tertunduk. Air mata mengucur deras membasahi pipinya. Titik-titik yang jatuh pun berhasil membasahi ujung jilbab yang di kenakannya. Entah sudah berapa banyak jumlah air mata yang telah ia keluarkan hari ini saja. Namun, menghentikannya keluar pun ia tak punya kuasa.


"Dimana Reyhan sekarang?"


Wajahnya terangkat perlahan dan menatap Bara. "Terakhir aku menemuinya di kantor. Dan sekarang aku tak tahu dia dimana. Ponselku sengaja kumatikan."


"Kenapa?"


"Dia tak henti-hentinya menghubungiku. Sedangkan aku masih enggan meski hanya sekedar mendengar suaranya saja."


"Baiklah."


Ia melempar tatapannya ke arah jalan raya yang seperti biasa tampak macet. Jelas tercetak kepulan asap yang di sumbangkan knalpot-knalpot kendaraan yang berlalu lalang.


"Kamu ingin Abang mengantarmu kemana? Ke kantor Reyhan atau ke rumah?"


"Ke rumah Bunda," jawabnya dengan cepat.


Bara melempar tatapan bingung padanya. "Apakah kamu sudah izin pada Reyhan?"


Ia mengangguk.


Getaran ponsel Bara yang diletakkan pada dasbord mobil tak membuatnya mengalihkan perhatian dari jalanan. Berbeda dengan Bara, perhatian seketika tersita.


"Reyhan."


Suara berat milik Bara yang menyebut nama lelaki berstatus suaminya itu membuat ia memejamkan mata. Tangannya menggenggam erat dadanya yang mulai terasa sesak.


"Angkat saja," ucapnya dengan memaksakan suaranya keluar.


Bara menscroll layar ponselnya, menerima panggilan dari adik iparnya. Sedangkan, gadis berjilbab merah muda itu kembali menatap jalanan dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.


"Elo dimana?"


Telinganya menangkap dengan jelas suara Reyhan dari seberang telepon.


"Lagi dijalan. Kenapa? Elo cari Nadhira?" tanya Bara tampak biasa saja.

__ADS_1


"I... iya," jawab Reyhan terbata-bata. Dan tentu saja terdengar sedikit ketakutan dari suaranya.


"Elo jangan khawatir. Nadhira sama gue. Perjalanan menuju rumah."


"Huh! Baiklah. Gue balik ke rumah Bunda sekarang. Gue tunggu disana. Tolong jaga Aleeana dengan baik."


"Iya."


Sambungan terputus.


"Kenapa Abang memberitahu lelaki itu bahwa Abang sedang bersama adik?" ucapnya dengan tatapan tajam.


"Lho, memangnya kenapa? Reyhan suami kamu. Dia berhak tahu kamu berada dimana."


"Tapi, adik tidak ingin bertemu dengannya!" teriaknya dengan amarah yang memuncak.


"Kenapa? Kenapa tidak ingin bertemu dengan suamimu?"


"Dia sudah membuatku sakit hati dan kecewa. Aku melihatnya tengah memeluk perempuan lain di ruangannya." Isakannya semakin kuat.


"Hah? Kamu yang benar saja, Ra?"


"Untuk apa pula aku membohongi Abang? Untuk apa aku menjelekkan suamiku di depan Abang?"


"Sudahlah, Ra. Barangkali kamu hanya salah paham. Kamu belum tanya kejelasannya juga, bukan?"


Ia bungkam. Bergeming di tempatnya.


"Kamu kenal perempuan itu?"


"Elmeera. Perempuan yang dikatakan sahabat dan dianggap adiknya sendiri."


Bara membungkam. Tangannya menggenggam erat stang mobil. Otaknya kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat ia menemukan Reyhan memeluk Elmeera di bandara. Amarahmya semakin memuncak.


"Kita pulang. Di rumah nanti kamu bisa selesaikan masalahmu dengan Reyhan."


"Tapi, aku tidak ingin bertemu dengan lelaki itu, Bang," ucapnya tetap dengan pendiriannya.


"Ra, masalah itu harus di selesaikan. Bukan kamu tinggalkan seperti ini."


"Abang, aku hanya butuh waktu untuk menerima hal itu. Bagaimana bisa aku dengan cepat melupakan adegan dimana suamiku berpelukan dengan perempuan lain?"


"Terserah kamu saja. Tapi, aku tetap akan membawamu pulang ke rumah. Bukan ke rumah Reyhan. Jika tak ingin bertemu dengannya, kamu bisa langsung ke kamar."

__ADS_1


Ia diam. Tatapannya kembali tertuju pada hiruk pikuk jalanan kota.


"Aku lapar, Bang. Bisakah kita berhenti sebentar di minimarket untuk membeli makanan?"


Bara terbelalak. Jelas saja di rumah Mikayla ia melihat adiknya itu makan dengan begitu lahapnya. "Hah? Kamu lapar? Bukankah tadi di rumah Mikayla kamu makannya banyak, Ra?"


"Bukan adikmu ini yang lapar, Bang. Tapi, keponakan Abang yang sudah meminta jatah. Aku harus bagaimana selain memenuhi keinginannya?"


"Oh, benarkah?" tanya Bara dengan wajah berbinar. Entah kenapa akhir-akhir ini Bara selalu merasa antusias saat Nadhira menyebut anaknya.


Nadhira mengangguk pelan. Gadis itu menyeka sisa air mata yang masih menggenang di kelopak matanya dengan ujung jilbab merah muda yang di kenakan untuk menutupi mahkota indahnya.


"Sekarang Abang cari minimarket. Abang akan membelikan apa saja yang keponakan Abang inginkan," ucap Bara dengan riang.


"Wah... Abang baik sekali. Adik makin sayang sama Abang."


"Ini bukan demi kamu, ya, Ra. Tapi, untuk malaikat-malaikat Abang," ucap Bara dan merasa gemas sendiri.


"Lho, kok Abang gemas sendiri, ya, Dik. Bahkan, Abang lebih tidak sabar menanti kehadiran anakmu itu," lanjut Bara.


"Makanya Abang segeralah menikah. Biar Abang cepat juga punya anak."


Bara terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. "Iya 'kan sebentar lagi, Ra. Menikah juga butuh persiapan mental. Bukan asal menikah saja. Apalagi perempuan yang akan Abang nikahi itu masih sama seperti kamu. Sifatnya yang kekanakkan buat Abang harus elus dada berulang kali."


"Tapi, Mikayla perempuan yang baik, penuh perhatian. Dia juga sabar, Bang."


Bara mengangguk. Ia menepikan mobilnya tepat didepan sebuah minimarket. "Mau ikut atau tunggu Abang di mobil?"


Nadhira mengetuk-ngetukkan jari telunjuk pada keningnya. Berusaha menimbang pertanyaan Bara.


"Bagaimana?"


"Adik ikut saja, Bang. Biar nanti bisa pilih-pilih makanan yang tepat dan yang disukai keponakan Abang."


Kedua kakak beradik itu berjalan beriringan memasuki minimarket. Layaknya sepasang suami istri. Beberapa pengunjung lain melempar tatap pada mereka. Barangkali, orang-orang berpikir dua manusia itu memang sepasang suami istri sungguhan. Terlebih Bara tidak pernah melepas genggamannya pada tangan kecil Nadhira. Sesekali Bara membisikkan sesuatu yang sontak membuat gadis berperut buncit itu tertawa lebar. Kedua persis seperti pasangan yang bahagia. Serasi.


Seorang nenek berjalan mendekati mereka dengan senyum mengembang. Menampakkan giginya yang beberapa sudah tanggal. "Istri kamu cantik sekali, Nak," ucap Si Nenek tanpa basa basi.


Keduanya saling melempar tatap bingung. Namun, sedetik kemudian raut wajah bingung itu berubah menjadi senyuman yang menghiasi wajah keduanya.


"Maaf, Nek. Ini bukan istri saya. Tapi, adik saya."


"Wah... Nenek kira istrimu, Nak. Kalian tampak begitu serasi saat bergandengan tangan seperti ini."

__ADS_1


Nadhira tertawa kecil mendengar pujian perempuan tua di hadapannya itu.


__ADS_2