Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 83


__ADS_3

"Demikian presentasi dari saya selaku CEO Oktara's Properties. Dan saya ucapkan terimakasih atas kesempatan emas ini."


Reyhan menutup presentasinya dengan senyum merekah. Gemuruh tepuk tangan juga dihadiahi untuknya.


"Elo baik-baik saja, Han ?" tanya Bara saat ia sudah berhasil duduk dan bersandar di kursinya.


"Gue baik-baik saja," balasnya.


"Wajah elo pucat banget. Yakin baik-baik saja ?"


"Iya, Bar." Ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyeri didada kirinya dan juga menyerang lengannya.


Benda hitam yang melingkar di tangan kirinya ia lirik. "Harusnya aku sudah meminum obatku," bisiknya dalam hati.


Bara hanya menggelengkan kepalanya. Ia tentu paham bagaimana adik iparnya itu. Melihat wajah pucatnya saja Bara sudah paham apa yang sedang terjadi dengannya.


"Han!"


Ia menoleh sebentar. Kemudian, tertunduk dan memegang tangan kanan Bara dengan sangat erat dan kuat. Ia diam-diam meringis kesakitan.


"Susahnya elo jujur sama gue. Padahal, gue adalah orang tak bisa elo bohongi sama sekali," ucap Bara dengan tegas.


"Sebentar lagi rapat akan ditutup. Elo bisa tahan sedikit 'kan ?" tanya Bara.


Ia hanya mengangguk pelan. Sesekali ia menyeka keringat dingin yang mulai mengucur.


"Terimakasih Bapak dan Ibu yang terhormat. Pertemuan ini akan kita cukupkan sampai disini."


"Huh!" Ia menghela napas panjang.


"Kita kembali ke hotel sekarang. Dan balik ke rumah nanti jika elo sudah merasa baik-baik saja. Gue tidak ingin Nadhira khawatir dengan keadaan elo yang seperti ini. Dan gue rasa elo juga berkeinginan sama seperti gue."


_____


"Elo istirahat saja dulu."


"Iya, Bar. Anyway, thank you, ya. Sudah membantu gue."


"Sudahlah, Han. Sebelum elo menjadi adik ipar gue. Elo sudah lebih dulu menjadi sahabat gue. Jadi, hal-hal seperti ini sudah sangat wajar untuk gue lakukan buat elo. Jika butuh sesuatu jangan sungkan kasih tahu gue."


Ia mengangguk.


Matanya ia coba pejamkan setelah Bara keluar dari kamarnya. Namun, pikirannya terbang pada istrinya yang sudah beberapa hari ini ia tinggal.


"Oh aku benar-benar lupa mengabari Aleea. Ponselku juga sudah ku non-aktifkan sejak pagi tadi."


Tanpa peduli dengan rasa sakitnya. Ia bangkit dari tempat tidur dan mencari ponselnya didalam tas kerja. Mengaktifkan dan segera menghubungi istrinya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya.


"Wa'alaikumussalam," jawab dari seberang.


Yang ia dengar bukan suara khas milik istrinya. Namun, suara Bunda. Rasa khawatir kembali menyergapnya. Ia ingat saat pergi kemarin. Istrinya dalam keadaan kurang baik.


"Bunda, Aleea baik-baik saja, bukan ?"


"Iya, Nak Reyhan. Hanya saja dia masih merasakan mual dan pusing."


"Dimana Aleea sekarang, Bunda ? Boleh Reyhan bicara dengannya ?"

__ADS_1


"Sedang istirahat, Nak. Sebentar Bunda bangunkan, ya."


Beberapa detik Reyhan menunggu Bunda membangun istri kecilnya itu. Ia mendengar sekilas suara rengekan gadis yang sedang menanti kepulangannya.


"Hah ? Kak Reyhan menelponku, Bunda ?"


Reyhan terkekeh sendiri mendengar suara Nadhira di seberang telpon. Jika saat ini Nadhira sedang berada didekatnya. Ia pastikan akan mencubit pipi istrinya yang lucu dan menggemaskan itu.


"Sayaaaaang!"


Reyhan menutup telinganya mendengar suara teriakan istrinya. "Al, tidak usah berteriak seperti itu, Sayang."


"Kakak kapan pulang ? Aku rindu. Aku ingin tidur dipeluk kakak."


"Tunggu, ya, Sayang. Hari ini aku akan pulang untukmu."


""Cepat pulang, Sayang. Ada kejutan yang menantimu disini."


"Karena, istriku. Aku mampu menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat."


"Suamiku memang hebat."


Untuk pertama kali, Reyhan tersipu mendengar pujian. Sebelumnya, segala macam pujian apapun ia tak pernah merasa tersipu atau berbangga diri. Ia hanya merasa pencapaiannya belum seberapa dan perlu banyak belajar lagi.


"Semua ini aku lakukan untuk kamu, istri kecilku."


"Cepat pulang, Sayang. Ada kejutan yang menantimu disini."


"Kejutan apa, Sayang ?"


"Namanya saja kejutan. Tentu aku tidak akan memberitahu kakak dulu. Ini rahasia."


Tiada terdengar suara apapun dari seberang. Reyhan tiba-tiba merasa khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.


"Al, kamu masih disana, 'kan ?"


Reyhan menatap ponselnya yang dipikir sambungan telepon sudah terputus.


"Al, kamu kenapa ? Kamu baik-baik saja, bukan ?"


Rasa khawatir semakin mengungkung kuat. "Al, jawab aku, Sayang."


"Aleea!" panggil Reyhan setengah berteriak.


"Sayang," panggilnya dengan suara lemas.


"Kamu kemana, Sayang ? Aku memanggilmu berulang kali tapi tak jua ada jawabanmu. Kamu kenapa ?"


"Aku dikamar mandi. Perutku terasa mual dan kepalaku pusing."


"Astaga. Aku akan pulang sekarang."


Tanpa berpikir apapun. Reyhan berdiri dan merapikan barang-barang yang ia bawa ke hotel. Keluar dan mengetuk pintu kamar Bara yang ada di sebelah kamarnya.


"Bara!" panggilnya seraya mengetuk pintu kamar Bara.


"Kenapa, Han ? Bukannya elo sedang istirahat ?"


"Kita balik sekarang. Aleea sedang sakit. Gue takut terjadi sesuatu padanya."

__ADS_1


"Nadhira sakit ? Kenapa Bunda dan Ayah tak memberitahu gue ?"


"Entahlah, Bar. Gue tunggu di lobi sementara elo membereskan barang-barang."


Ia bergegas menyeret kopernya tanpa pamit. Yang ia pikirkan hanyalah keadaan istrinya semata.


_____


"Bugh!"


Karena, tergesa-gesa. Reyhan menabrak seseorang hingga terjatuh.


"Maaf saya tidak sengaja," ucapnya seraya menunduk dan melihat siapa yang sudah ditabraknya.


"Iya. Tidak apa-apa."


"Elmeera ?"


Yang dipanggil mengangkat wajahnya. "Reyhan ?"


Dengan cepat ia membantu Elmeera untuk berdiri. "Ada yang terluka, Meer ?"


Elmeera tertegun. Sudah lama ia tak mendengat panggilan itu.


"Elmeera! Kamu baik-baik saja ?" Ia menepuk pundak Elmeera dengan pelan. Membangunkan gadis itu dari lamunannya.


"Oh iya. Kenapa, Rey ?"


"Aku tanya apakah ada yang terluka ?"


Elmeera menggeleng dan tersenyum. "Tidak, Rey. Hanya jatuh seperti itu saja tidak mungkin aku terluka."


Rindu yang ia tanam pada gadis itu memuncak seketika. Tanpa malu ia menarik tubuh Elmeera dan mendekapnya.


"Aku merindukan adik perempuanku, Meer."


Elmeera tak mampu berkutik. Dekapan Reyhan begitu erat mengikat tubuhnya hingga ia tak mampu bergerak. Ada rasa nyaman dan kehangatan yang ia dapatkan kembali.


"Rey," panggil Elmeera dengan rasa takut. Ia melihat Bara menghentikan langkahnya dua meter di belakang Reyhan. Tatapan Bara begitu tajam dan menakutkan. Ia tatap tangan Bara sudah mengepal dan memutih.


"Biarkan seperti ini sebentar saja, Meer. Biarkan aku menumpahkan rasa rindu yang sudah lama ku tampung dalam diamku. Aku merindukanmu, Meer. Aku merindukanmu."


"Rey, lepaskan!" Elmeera sedikit memberontak ingin melepaskan diri dari pelukan Reyhan.


"Sebentar saja, Meer. Ku mohon," pintanya memelas.


"Reyhan!"


Teriakan Bara membuatnya tersentak kaget. Sontak ia melepas pelukannya pada tubuh Elmeera. Ia menatap netra Bara yang sudah menatapnya nyalang. Buku-buku jemari Bara juga ditangkapnya sudah memutih karena eratnya kepalan tangan.


"Bara," ucapnya berbisik.


"Gue tunggu di mobil," ucap Bara dengan dingin dan berlalu meninggalkannya bersama Elmeera yang masih berdiam diri tanpa suara.


"Elmeera, maafkan aku. Aku harus pergi. Sampaikan salamku pada Mbak Shalu. Aku juga merindukannya."


Ia mengelus rambut Elmeera dengan lembut.


"Sampai bertemu di lain waktu, adik perempuanku," ucapnya dan berlalu meninggalkan Elmeera. Menyusul Bara yang sudah lebih dulu menuju mobil.

__ADS_1


__ADS_2