Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 46


__ADS_3

Mata sembab gadis berjilbab itu menatap iba wajah pucat suaminya yang tengah terbaring di tempat tidur. Tangannya selalu setia menggenggam tangan kekar yang sesekali balik menggenggamnya sangat kuat, yang ia yakini sebagai satu cara suaminya menahan sakit.


“Sayang, lekas membaik. Jangan biarkan aku khawatir dan setakut ini lagi.” Air mata tak bosan-bosan mendarat di pipinya. Ia tertunduk menahan isakan.


“Al ?” panggil Reyhan dengan lemah.


Ia dengan cepat mengangkat kepalanya. “Iya, Sayang. Kenapa ? Dada kakak sakit lagi ? Hmmm ?” Ia melempar tanya tanpa jeda seraya memegang dada suaminya.


Reyhan menggeleng dan tersenyum. “Tidak, Al. Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir.”


“Hanya perempuan bodoh yang tidak khawatir melihat suaminya sakit.” Nadhira tertawa kecut.


“Al ?”


“Jangan mencoba untuk berbohong lagi padaku!” ucapnya dengan menekan setiap kata yang terlontar dari bibirnya.


“Siapa yang membohongimu, Al ?”


“Kakak masih merasa tidak pernah membohongiku hingga saat ini ?” Tatapannya tajam ke arah Reyhan.


“Aku tidak pernah membohongimu.”


“Aku sudah tahu semuanya. Berhenti berpura-pura untuk baik-baik saja di depanku. Mama yang sudah berbaik hati menceritakannya padaku.”


Flashback On


Nadhira berjalan perlahan seraya memapah tubuh suaminya yang kemah dibantu oleh sopir kepercayaan Mama.


“Astaga, Reyhan!” teriak Mama histeris setelah melihat keadaan anak sulungnya.


“Kenapa bisa seperti ini, Nadhira ?”


“Ma, Reyhan baik-baik saja,” jawab Reyhan.


“Al, temani aku ke kamar, ya. Aku hanya butuh istirahat sekarang,” lanjut Reyhan pada istrinya.


Nadhira menemani Reyhan hingga ke kamar. Ia menuntun tubuh Reyhan untuk berbaring di tempat tidur. Membuka jas hitam yang membalut tubuh kekar Reyhan yang kini melemah.


Ia hendak beranjak dari duduknya disamping Reyhan untuk meletakkan jas hitam yang sudah dipegangnya ke dalam lemari. Namun, sebelum ia berdiri dengan sempurna. Tangannya lebih dulu ditarik pelan oleh Reyhan. Ia menoleh.


“Al ?” Reyhan menggeleng. “Jangan pergi.”


“Aku tidak pergi. Aku hanya ingin meletakkan jas kakak di lemari.”


“Nanti saja. Duduklah di sampingku. Temani aku.”


Ia kembali mendaratkan tubuhnya di tempat tidur. Duduk disamping suaminya. Tangannya digenggam teramat erat. Seolah enggan untuk melepaskan kembali.


Reyhan menggeliat. Tangannya mencengkram kuat selimut tebal yang menutupi tubuhnya sampai dada. Ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang teramat.


“Sayang ? Sakit, ya ?” Nadhira meletakkan tangannya diatas dada bidang suaminya. Ia rasakan napas Reyhan yang tak beraturan.


Reyhan mengangguk.


“Kakak yang kuat, ya. Ada aku yang akan menemani kakak. Istirahatlah.”


“Kamu jangan pernah meninggalkanku.”


Ia tersenyum dan mengangguk. “Istirahat, ya, Sayang.”


Reyhan mencoba memejamkan mata. Tangannya tak terlepas sama sekali menggenggam tangan Nadhira.


Tiba-tiba air mata mengalir dari kedua mata Reyhan yang tertutup. Melihat suaminya menangis. Nadhira kembali panik.


“Kak ? Kakak kenapa ?” Ia mengguncang pelan tubuh Reyhan.


Tubuh Reyhan bergetar kuat. Isakannya semakin keras terdengar.


“Hei, buka matamu, Sayang.” Nadhira sebisa mungkin bersikap tenang.


“Buka matamu dan lihat aku!” Nadhira sedikit meninggikan suaranya. Namun, Reyhan belum jua membuka matanya. Ia masih terisak dengan kuat.

__ADS_1


“Sayang ? Lihat aku. Berbagi denganku. Aku istrimu.” Nadhira kembali melunak. Ia tak kuat menatap derai air mata yang tak jua kunjung berhenti. Ia menghapus jejak-jejak tetesan buliran bening di pipi suaminya.


Di tatapi wajah pucat Reyhan hingga kedua mata itu terbuka.


“Aku ingin istirahat. Tapi, di pangkuanmu. Izinkan aku, Al,” pinta Reyhan memelas.


Nadhira berpindah posisi. Ia duduk tepat disamping kepala Reyhan.


“Ayo, Sayang. Tidurlah di pangkuanku.”


Perlahan Reyhan memindahkan kepalanya ke pangkuan Nadhira. Menatap lekat-lekat wajah istrinya dari jarak dekat. Kemudian, mencium tangan Nadhira yang masih digenggamnya erat.


“Istirahat, ya. Aku akan menemani kakak disini.”


Ia dengan lembut membelai rambut Reyhan yang sudah tak rapi lagi. Menatap kelopak mata yang sedang mencoba terpejam.


“Jangan seperti ini. Kamu kuat, Kak. Aku yakin itu,” bisiknya dalam hati. Air mata kembali tergenang.


Saat ia rasa Reyhan sudah benar-benar tertidur. Nadhira dengan pelan melepas genggaman Reyhan dan memindahkan kepala Reyhan pada bantal di tempat tidur.


“Tidur yang nyenyak, suamiku.” Ia mengelus pipi Reyhan dan mencium keningnya.


Ia bergegas keluar kamar dan mencari keberadaan Mama.


“Ma, Nadhira ingin menanyakan sesuatu pada Mama,” ucapnya tanpa berbasa-basi ketika sudah ia temukan Mama sedang duduk termenung di ruang tamu dengan wajah yang muram.


“Biarkan Mama yang bertanya lebih dulu padamu,” ucap Mama dingin.


Nadhira mengangguk menyahuti.


“Kenapa Reyhan bisa seperti itu ? Apa yang sudah ia kerjakan sebelumnya saat bersamamu ?”


“Kenapa Mama bertanya seolah-olah aku yang menyebabkan keadaan Kak Reyhan seperti itu ?” ucapnya bertanya-tanya dalam hati.


“Apa kamu tidak mendengar ucapan Mama, Nadhira ?”


“Nadhira dengar, Ma. Jadi, ceritanya seperti ini. Saat Kak Reyhan sedang mengadakan rapat. Nadhira ditinggal sendiri didalam ruangan. Karena, sangat tidak mungkin jika Nadhira harus ikut bersama Kak Reyhan.”


Nadhira menarik napas dalam-dalam. “Tiba-tiba seorang perempuan yang Nadhira tidak kenal masuk. Memerintah Nadhira seperti pegawai dikantor. Tidak lama Kak Reyhan kembali ke ruangan dan itu tepat ketika perempuan itu sedang membentak Nadhira dengan keras.”


“Kak Reyhan marah pada perempuan itu. Ia menyebut nama perempuan itu bernama Tasya. Kak Reyhan marah besar atas sikap Tasya pada Nadhira. Ia meminta Tasya untuk meminta maaf. Namun, Tasya tidak mau dan memilih pergi. Saat itu jua Kak Reyhan mengeluhkan dadanya terasa sakit,” tutur Nadhira.


“Tasya ?” ucap Mama mengulang nama yang disebutkan Nadhira.


“Iya. Begitu yang Nadhira dengar saat Kak Reyhan memanggilnya perempuan itu.”


“Untuk apa lagi perempuan tak punya sopan santun itu menemui Reyhan. Benar-benar tidak tahu malu.”


“Memangnya siapa perempuan itu, Ma ? Sepertinya dia sudah terbiasa pada Kak Reyhan.”


“Sudahlah, Nadhira. Lupakan saja. Kamu mau tanya apa pada Mama ?”


“Ada apa dengan Kak Reyhan ? Nadhira tidak yakin Kak Reyhan tidak baik-baik saja. Sebab, menjelang pernikahan Nadhira pernah menemukannya seperti itu.”


Mama membungkam.


“Ma, ceritalah pada Nadhira,” ucapnya memelas


.


Mama belum jua ingin membuka suara.


“Ma, Nadhira ini istrinya Kak Reyhan. Tidak bolehkah Nadhira tahu keadaan suami Nadhira yang sebenarnya ?”


“Maafkan Mama, Nadhira. Bukan maksud Mama untuk tak menceritakan yang sebenarnya padamu. Hanya saja Reyhan selalu melarang Mama. Reyhan selalu berkata untuk segera memberitahumu.”


“Sekarang ceritalah pada Nadhira, Ma,” pintanya.


“Reyhan memang tidak baik-baik saja. Ia mengalami kelemahan jantung sejak dulu.”


Bibir Nadhira terkatup rapat. Lidahnya kelu tak mampu berucap. Air matanya luruh tak tertahan.

__ADS_1


“Maafkan Mama, ya, Nak,” ucap Mama seraya memeluk Nadhira.


Isakannya semakin kuat.


“Sudah, ya, Sayang. Jangan menangis lagi. Kamu harus lebih kuat untuk menguatkan Reyhan. Yakinlah semua akan baik-baik saja.”


“Kenapa Mama tidak menceritakan itu sejak awal pada Nadhira ?”


“Maafkan Mama, ya, Nak. Mama melakukan itu atas permintaan Reyhan.”


Flashback Off


Air mata itu semakin deras mengalir dari kelopak mata indahnya yang sudah nampak sangat sembab. “Kakak anggap apa aku sejauh ini ?”


“Sayang, maafkan aku. Aku belum siap menceritakan yang sebenarnya padamu. Aku takut.”


Reyhan menjeda kalimatnya. “Aku takut ketika kamu tahu, kamu akan memilih untuk pergi meninggalkan lelaki penyakitan sepertiku. Aku tidak mau itu terjadi, Al.”


Nadhira tertawa sumbang. “Aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang Reyhan berpikir seperti itu ?”


“Sayang ?”


“Bagiku cinta tak berbicara tentang meninggalkan. Tapi, berbicara bagaimana caranya saling menguatkan didalam kerapuhan.”


Reyhan terdiam mendengar ucapan istrinya. Ia yakin Nadhira sangat kecewa atas sikapnya.


“Aku bahkan lebih tidak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang suami tidak mau terbuka pada istrinya ?” Nadhira kembali tertawa sumbang. Ia menyeka air matanya yang tak jua mereda.


“Al, dengarkan aku dulu,” pinta Reyhan meraih tangan istrinya.


“Istirahatkah! Aku akan turun menemui Mama dan memasakkan makan siang untuk kakak.”


Nadhira melepaskan pegangan Reyhan di tangannya. Kemudian, beranjak menuju kamar mandi.


Reyhan dengan sedih menatap punggung istrinya yang menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Telinga Reyhan menangkap suara isakan yang ia pastikan isakan Nadhira. Hatinya teriris dan perih mendengar isakan yang begitu menyedihkan.


Reyhan berusaha bangkit dan dengan sekuat tenaga ia berjalan hingga didepan pintu kamar mandi. Telinganya semakin jelas menangkap isakan itu. Ia meringis.


Reyhan mengetuk pintu kamar mandi dengan pelan. “Sayang, kamu baik-baik saja ‘kan ?”Ia tak mendengar jawaban apapun. Hanya suara guyuran air yang sempurna tertangkap telinga.


Hingga pintu terbuka lebar dan menampilkan wajah Nadhira yang sendu dan basah. Begitu jua dengan rambutnya yang berantakan dan sudah tak tertutupi hijab lagi.


“Kenapa kakak berdiri disini ? Ayo istirahat,” ucapnya dengan suara serak.


Reyhan menarik pelan tubuh Nadhira dan memeluknya erat. Hal itu sukses membuat Nadhira kebingungan.


“Sayang, maafkan aku, ya.”


Nadhira masih enggan menanggapi ucapan Reyhan.


“Setelah ini jangan tinggalkan aku, ya, Al.”


Bibir Nadhira masih terkatup.


“Al, jangan diam seperti ini. Jawab aku, Al,” ucapnya dan mengguncang tubuh Nadhira yang masih dalam pelukannya.


“Atau jangan-jangan kamu sudah berniat meninggalkan aku ?” ungkapnya dengan khawatir.


Nadhira mendorong tubuh Reyhan hingga membentur tembok.


“Aww...” Reyhan mengaduh. Namun, sama sekali tak dihiraukan oleh Nadhira. Ia menatap tajam mata Reyhan. “Tidak bisakah kakak berpikir yang baik-baik tentangku ? Aku tak semudah itu meninggalkan suamiku hanya karena tahu kekurangannya. Dan dalam keadaan apapun aku akan terus mendampinginya,” ucap Nadhira dengan wajah merah padam karena amarah yang kian memuncak mendengar ucapan Reyhan.


“Sayang, iya. Iya. Aku minta maaf,” sesal Reyhan.


“Sudahlah. Aku akan turun.”


Tanpa mengindahkan apapun lagi, ia menyambar hijab instannya dan pergi meninggalkan Reyhan.


“Al, tunggu dulu. Kasihanilah suami penyakitanmu ini,” Reyhan berkata lirih dan mampu membuat langkah Nadhira terhenti.

__ADS_1


Nadhira hanya menoleh sebentar ke belakang. Kemudian, melangkah kembali.


Reyhan mengusap wajahnya kasar dan hanya mampu menatap punggung istrinya yang kian menjauh. Dan hilang ditelan pintu yang tertutup rapat.


__ADS_2