
Reyhan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan dengan nuansa putih bersih itu. Tak lupa dengan aroma obat-obatan yang menyeruak dimana-mana. Terjebak didalam ruangan tersebut dalam seminggu lamanya membuat Reyhan merasakan bosan yang luar biasa. Membuatnya rindu pada udara segar dan bebas di luaran sana.
Tatapan Reyhan terpaku pada gadis berhijab yang tengah tertidur dengan posisi duduk di hadapannya. Dengkuran halus dengan napas teratur dalam lelapnya menandakan lelah yang ia rasakan.
Reyhan dengan lembut mengelus puncak kepala yang ia letakkan diatas kedua tangan yang terlipat rapi. “Sayang,” panggil Reyhan dengan lembut.
Tak butuh berulang kali Reyhan memanggilnya hingga ia terbangun dari tidur lelapnya. Ia mengerjapkan mata dan menatap Reyhan yang tengah tersenyum padanya.
“Sudah bangun ?” tanyanya masih dengan suara serak khas bangun tidur.
“Aku tidak pernah tidur, Al,” balas Reyhan tanpa menanggalkan senyum manisnya.
“Lalu ?”
“Aku hanya memperhatikan wajah cantik nan damai istriku saat terlelap.”
Pipinya seketika terasa panas. Jelas sudah tercetak warna merah merona di pipinya.
“Aleea ?”
Ia menatap lelaki yang baru saja memanggil namanya itu. “Kenapa ?”
“Aku bosan didalam ruangan. Bolehkah sebentar saja keluar ?”
“Tapi, kondisi kakak belum memungkinkan untuk keluar. Aku yakin pasti dokter tidak akan mengizinkan juga.”
“Sebentar saja, Al. Di taman Rumah Sakit,” pinta Reyhan dengan raut wajah memelas.
Ia membuang napas panjang. “Baiklah. Tapi, sebentar saja. Karena, aku tidak ingin hal buruk terjadi pada kakak.”
“Iya, Sayang. Akan ku pastikan semua baik-baik saja.”
“Aku percaya. Karena, aku tahu bahwa suamiku adalah lelaki kuat,” ucapnya dengan lembut dan memberikan pada Reyhan.
“Aku kuat karenamu.”
Senyumnya mengembang. Tangannya dengan erat menggenggam tangan Reyhan. “Lekas sembuh. Dan kita akan menghabiskan waktu berdua.”
Reyhan mengangguk. “Kita berbulan madu, Sayang.”
“Terserah suamiku saja,” balasnya.
Ia membantu Reyhan bangun dan duduk di kursi roda. Berdiri di belakang dan mendorong kursi roda milik Reyhan menyusuri koridor Rumah Sakit. Sesekali ia melempar lelucon hingga membuat suaminya tertawa lepas meski masih dalam kondisi lemah.
“Al, aku ingin duduk dibawah pohon besar itu,” ucap Reyhan seraya menunjuk ke arah pohon besar nan rindang di taman Rumah Sakit.
Ia mendorong pelan kursi roda Reyhan menuju arah jemari telunjuk suaminya itu.
“Ra!” panggil seseorang dengan tiba-tiba dan berhasil menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Mikayla tengah berjalan ke arahnya. Senyumnya lebar tatkala sahabatnya itu melambaikan tangan. Tak lama, seseorang muncul di belakang Mikayla dengan senyum malu-malu dan menggaruk alisnya.
“Abang ?” bisiknya namun masih bisa terdengar jelas di telinga Reyhan.
“Ada Abang, Sayang ? Dimana ?” tanya Reyhan dengan mendongakkan kepalanya.
“Sedang berjalan kesini. Bersama Mikayla,” jawabnya dengan nada suara menahan tawa.
Mata Reyhan membulat sempurna mendengar jawaban istrinya. “Hah ? Mikayla ?”
Ia hanya mengangguk. Padahal, jelas saja Reyhan tidak bisa melihat anggukannya itu.
Pada Bara yang sudah berada di dekatnya ia tersenyum jail. “Abang ?” panggilnya dengan nada mengejek dan mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
“Apa ?” Bara menatapnya dengan alis tertaut.
“Kak Reyhan kenapa ?” cicit Mikayla mengalihkan topik. Sebab, ia tahu betul sikap dan kelakuan jail sahabatnya.
Reyhan mendongakkan kepalanya dan hanya membalas dengan senyum tipis. Ia membelai lembut rambut suaminya yang tak tersisir dengan rapi itu.
Seolah tahu bagaimana perasaan Reyhan jika ditanyai dengan pertanyaan semacam itu. Ia selalu berusaha memberikan kekuatan dari perlakuannya.
“Kak Reyhan butuh udara segar. Aku ingin menemaninya sebentar di taman Rumah Sakit. Apakah kamu mau ikut ?” tanyanya pada Mikayla.
“Tidak. Aku akan langsung balik ke rumah. Papa dan Mama sudah menungguku.”
“Dan menunggu Abangku juga ?” godanya.
Mikayla menatap Bara yang sudah tertunduk malu.
“Baiklah. Aku kesana dulu. Abang hati-hatilah dijalan saat membawa anak gadis orang,” ucapnya dengan setengah bercanda kemudian berlalu meninggalkan dua sejoli yang akan segera menikah itu.
Ia mendorong kursi roda yang diduduki Reyhan. Membawanya menuju bawah pohon di taman Rumah Sakit yang dimaksud.
“Sayang,” panggil Reyhan pelan.
“Hmm.”
“Kemarilah! Duduk di hadapanku.”
Ia melangkah dan berjongkok di hadapan Reyhan. Menatap mata sayu dan wajah pucat suaminya. Hatinya terasa teriris melihat kondisi lelaki yang dulunya kuat dan selalu tegar itu. Tatapannya mulai mengabur. Pertanda ada genangan yang sudah terbentuk sempurna di kelopak mata indahnya.
“Kenapa bersedih seperti itu ?” tanya Reyhan dan menangkup wajah cantik istrinya dengan kedua tangan yang masih terasa bergetar.
Air mata yang awalnya hanya tergenang seketika luluh lantah menembus batas pertahanannya. Isakannya semakin kuat. Tangannya menyentuh tangan Reyhan yang bergetar.
“Aku nampak menyedihkan, ya, Al ?” Reyhan tertawa sumbang. Dengan sisa tenaga yang dimiliki ia menyeka air mata yang mengaliri pipi gadis dihadapannya itu.
“Dan kamu adalah kekuatanku.”
Tangisnya pecah seketika. Ia menenggelamkan wajahnya pada kaki Reyhan.
“Jangan menangis seperti itu, Aleea.”
“Lekas sembuh,” ucapnya disela isakannya.
Sekali lagi Reyhan tertawa sumbang. “Kamu lupa, ya, Al. Aku tidak akan pernah sembuh dari penyakit ini.”
Ia mendongakkan kepalanya. “Kenapa kakak berbicara seperti itu ?”
“Kamu lihat sendiri. Semakin hari kondisiku semakin memburuk. Bagaimana bisa aku berpikir untuk bisa sembuh ?”
“Kenapa tidak kakak ikuti saran Dokter Dharma untuk menjalani o..”
“Operasi ?” potong Reyhan cepat. “Jangan membuat lelucon lagi, Al.”
Reyhan menghela napas panjang. “Aku tidak ingin berharap apapun lagi tentang saran Dokter Dharma. Lagipula, itu tak menjamin untukku sembuh total. Bisa saja operasinya gagal dan aku meninggal.”
Ia menggeleng cepat. “Tidak. Kakak pasti akan sembuh.”
“Sudahlah, Al. Aku ingin menikmati sore ini bersamamu dengan tenang. Bukan dengan berpikir berat seperti itu.” Reyhan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi roda.
“Baiklah,” pasrahnya. Ia tak ingin lagi membantah dan menambah beban piiran untuk suaminya. Ia menyeka air matanya dan berdiri.
“Lekas membaik. Aku berjanji untuk selalu di sampingmu. Berjalan bersama mengarungi waktu dan keadaan.” Ia mendaratkan ciuman singkat pada bibir kering dan pucat Reyhan. Memeluk tubuh suaminya yang lemas.
__ADS_1
“Terimakasih sudah bersedia membersamai lelaki penyakitan nan ringkih ini, Al.”
Ia meletakkan jari telunjuknya pada bibir Reyhan. “Sssttt! Sudah ku katakan. Kakak adalah lelaki kuat.”
Reyhan tersenyum mendengar ucapannya. Reyhan tahu bahwa ucapan-ucapan yang lolos dari bibir mungil dan ranum itu hanya untuk menyemangatinya. Memberikan kekuatan agar tak merasa lemah dan psimis.
“Bantu aku untuk duduk di kursi panjang itu, Al,” pinta Reyhan seraya menunjuk kursi panjang yang tak jauh dari tempatnya.
Dengan cepat ia membantu Reyhan berdiri dan berpindah dari kursi roda menuju kursi panjang yang sudah tersedia di taman Rumah Sakit. Ia pun membantu Reyhan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kayu kursi tersebut.
“Sayang,” panggil Reyhan dengan suara kecil.
Ia mendekatkan wajahnya pada Reyhan. “Iya, suamiku,” jawabnya dengan senyum manis yang membingkai wajah cantiknya.
“Kamu cantik,” goda Reyhan.
“Aku tahu. Kakak sudah terlalu sering mengatakan itu padaku.”
“Tapi, bukan itu yang sebenarnya ingin ku katakan.”
Alinya tertaut. “Lalu ?”
“Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu.”
Senyumnya mengembang. “Aku juga mencintaimu.”
“Ada hal lain juga yang ingin aku katakan.”
“Katakan saja apa yang ingin kakak katakan. Telingaku dengan suka rela mendengarkan.”
Reyhan menghela napas panjang. Menggerakkan tubuhnya perlahan dan duduk dengan tegak. “Lihatlah kaki langit itu.”
Ia mengikuti arah telunjuk Reyhan.
“Jingganya membawaku kembali pada masa dimana aku sering mengajakmu menikmati senja di danau. Dan aku merindukan itu.”
Tatapannya berbinar. Bulan sabit seketika terbit dibibir ranumnya. “Berdirilah!” perintahnya setelah ia lebih dulu berdiri.
“Kamu sedang mengejekku, Al ? Kamu tahu aku tidak kuat untuk berdiri. Duduk terlalu lama saja aku tak kuat. Malah sekarang kamu memerintahku begitu saja,” ucap Reyhan berpura-pura marah dengan kedua tangan yang ia lipat didepan dada.
“Tidak, sayangku,” balasnya lembut. “Aku yang akan membantumu.”
“Jika aku terjatuh nanti. Bagaimana ?”
“Jangan khawatir. Kakak akan jatuh di pelukanku.”
“Kamu sedang merayuku ?”
Ia menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku berbicara serius.”
Reyhan tersenyum mendengar ucapan istrinya yang sarat dengan kesungguhan. “Baiklah.”
Ia menuntun Reyhan berdiri dengan pelan. Karena, tubuhnya yang terlampau kecil dibandingkan tubuh Reyhan. ia begitu berusaha dengan mengeluarkan semua tenaganya hingga Reyhan berdiri dengan sempurna meski kakinya masih nampak bergetar.
“Jangan khawatir. Kakak tidak akan terjatuh,” ucapnya seraya memeluk kuat dan menahan bobot badan Reyhan.
“Terimakasih, istriku.”
Ia hanya membalas dengan anggukan dan senyum manis. “Sekarang nikmatilah senja kali ini. Tak mengapa pada tempat berbeda.”
“Asal bersamamu,” sambung Reyhan dengan cepat.
__ADS_1
Keduanya tersenyum dan tenggelam pada pesona jingga di kaki langit.