Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 102


__ADS_3

Reyhan termangu saat tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipinya. Tangannya meraba dengan pelan pipi kirinya yang terasa memanas. Dan ia pastikan sudah memerah dan bertanda telapak tangan. Rasanya ingin sekali ia menangis tersedu. Bukan karena sakit dari sebuah tamparan keras itu. Melainkan rasa tak percaya pada yang baru saja menamparnya adalah perempuan yang telah melahirkan dan mempekenalkannya pada semesta. Membesarkan dan mendidiknya hingga tumbuh menjadi sesosok kebanggaan. Dan tamparan yang ia dapatkan adalah tamparan pertama kali seumur hidupnya.


Kali ini ia merasa menjadi manusia terjahat di hadapan Mama. Manusia dengan segala emosi yang tak terkontrol.


Tatapan benci dan kilatan amarah terpancar jelas dari sorot mata perempuan yang tak lagi muda itu. “Rasa sakit yang kamu terima dari tamparan itu masih belum seberapa dari rasa sakit yang diterima menantuku. Sakit mental dan fisik ia dapatkan secara bersamaan akibat ulahmu itu. Dan Mama harus kehilangan calon cucu yang selama ini sudah Mama idamkan.”


“Tapi, Ma...”


“Tidak perlu memberi banyak alasan, Reyhan!” potong Mama dengan cepat. “Mama dan Papa tidak pernah mengajarkanmu menyelesaikan masalah dengan amarah. Mama tidak pernah mendidikmu menjadi manusia keras dan penuh emosi. Tapi, sekarang baru Mama rasakan bahwa Mama telah gagal mendidikmu, Reyhan.” Mama mulai terisak.


Ia hanya menunduk. Tak mampu membantah apapun ucapan Mama.


Bunda menarik tubuh Mama dan mendekapnya. “Sudahlah, Mbak Mia. Jangan lagi memarahi Reyhan seperti itu. Kasihan ia. Lagipula, Reyhan juga tentu saja merasa kehilangan seperti kita. Bahkan, ia jauh lebih merasakan itu. Dengan Mbak Mia marah seperti itu akan menambah beban untuk Reyhan, Mbak.”


“Jangan membela manusia penuh amarah itu, Mbak Sandra. Ia jua harus menerima balasan atas kelakuannya.”


“Tanpa Mbak Mia memarahi Reyhan. Ia sudah merasakan bagaimana ganjarannya, Mbak. Sudahlah.”


“Percuma saja ia merasa kehilangan. Karena, itu semua ulahnya.”


Ia mendekati Mama yang masih terselimuti amarah. “Ma, maafkan Reyhan. Demi Tuhan Reyhan tidak sengaja. Dan Reyhan benar-benar menyesal.”


Mama tersenyum sinis. “Menyesal ? Kamu menyesal, Reyhan ? Percuma!” teriak Mama. “Penyesalanmu itu tiada berguna sama sekali, Reyhan. Itu tidak akan mengembalikan cucuku.”


Mama melepas dekapan Bunda. Dan berdiri membelakanginya. “Lebih baik kamu pergi saja dari sini, Reyhan. sebab, keberadaanmu pun tidak ada gunanya. Nadhira bahkan sudah enggan melihat wajahmu.”


“Tidak, Ma! Reyhan tidak akan pergi. Reyhan akan tetap disini menemani Aleeana.”


“Usahlah, Reyhan.”


“Reyhan ini suaminya Aleeana, Ma. dan Reyhan berhak berada disini untuk menemani istri Reyhan,” ucapnya dengan tegas.


“Suami ? Kamu bilang suami ? Suami macam apa yang dengan tega menyakiti dan berbuat kasar pada istrinya ?”


Ia tertunduk diam. Ucapan Mama begitu menusuk ulu hatinya.


Bunda yang melihatnya nampak kasihan. Meski sebetulnya Bunda jua merasa kecewa atas kejadian itu. Tapi, Bunda tak ingin menambah tekanan mental pada menantunya itu.


Bunda memegang lengannya lembut. “Nak, masuklah! Temani istrimu didalam.”


“Kenapa Mbak Sandra membiarkannya masuk ?”

__ADS_1


Ucapan Mama tak dihiraukannya lagi. ia melagkah cepat dan pasti. Membuka pintu ruangan yang ditempati istrinya.


Ia menatap wajah pucat yang masih terbaring lemah itu. Mata sayu dan kelopak mata indah yang masih terpejam. Hidung yang masih tertutupi selang oksigen untuk membantu pernapasan.


Tatapannya memudar. Air matanya jatuh berserakan. Penyesalan datang menghantam. Ia mulai terisak seraya menggenggam erat tangan kecil nan mulus itu.


“Maafkan aku, Al. Gara-gara aku, kita harus kehilangan calon anak kita. Maafkan aku, Sayang,” lirihnya.


Jemari Nadhira bergerak pelan. Ia melihat kelopak mata indah itu mulai terbuka.


“Sayang, kamu sudah sadar ?” tanyanya penuh antusias dan menyeka dengan kasar sisa air mata yang berlinang.


“Jangan menyentuhku!” ucap Nadhira dan menepis tangannya. “Keluar! Aku tidak ingin melihat wajahmu! Kamu sudah membunuh anakku!” teriak Nadhira histeris.


“Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku.”


“Pergi dari hadapanku, Reyhan! Pergi!”


“Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku ini suamimu dan aku akan menemanimu disini.”


“Lebih baik aku sendiri daripada ditemani pembunuh sepertimu!” tatapan Nadhira nyalang. Amarah berkobar dari matanya yang sayu.


Ia terdiam seketika saat kata pembunuh disematkan untuknya. Hatinya perih. Ia kembali menangis.


Bukan menjawab. Nadhira lebih memilih mengubah posisi dengan membelakanginya.


“Aku tahu aku salah. Salah besar. Tapi, demi Tuhan. Tidak pernah ada niatku membuatmu keguguran, Al.”


Ia masih terisak. Ditatapnya punggung istrinya yang terlihat bergetar. Ia tahu betul bahwa gadisnya itu juga tengah terisak.


“Untuk menebus kesalahanku. Kamu boleh melakukan apa saja padaku, Al. Bahkan, jika kamu menginginkan nyawaku sekalipun.”


“Keluarlah, Reyhan! Aku ingin sendiri.”


“Sudah ku katakan padamu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian disini.”


“Biarkan aku sendiri dan belajar mencerna dengan baik kejadian ini. Keluarlah! Jangan membuatku semakin membencimu.”


Kali ini ia tak bisa membantah apapun. Padahal, hati tengah memberontak untuk tetap diam didalam ruang yang atmosfernya berbeda. Tiada ketenangan. Namun, ucapan Nadhira membuatnya mau tidak mau harus keluar. Ia lebih memilih membuang cittanya agar Nadhira tak semakin membencinya.


Dengan langkah terpaksa ia melenggang keluar ruangan. Menemukan Bunda dan Mama yang tengah berbincang. Entah perbincangan apa yang tercipta diantara kedua surga itu.

__ADS_1


“Kenapa kamu keluar ? Nadhira mengusirmu ? Mama bilang juga apa,” ucap Mama dengan tatapan mengejek.


Ia tak peduli dengan ucapan dan cara Mama memandangnya. Ia mendaratkan tubuhnya dikursi panjang ruang tunggu. Menyandarkan tubuh dan mendongakkan kepalanya.


Dadanya terasa sesak dan sakit melihat perubahan sikap dari orang-orang terdekatnya. Hanya Bunda dan Bara yang bisa memahami posisinya.


“Kamu baik-baik saja, Nak ?” tanya Bunda lembut.


Mama yang mendengar pertanyaan Bunda lantas menatap ke arahnya seketika dengan raut wajah khawatir. Iya. Biar bagaimana pun, Reyhan adalah anak kandungnya. Mama tetap menyayangi dan mempedulikannya. Mama berubah sikap hanya karena kecewa.


Ia mengangguk. “Iya, Bunda. Reyhan baik-baik saja.


“Jika kamu sakit. Katakan saja, Nak! Atau pulanglah dulu. Istirahatkan badanmu. Besok kamu kembali lagi kesini. Biar Bunda dan Mama yang akan menjaga istrimu disini.”


“Tidak, Bunda. Reyhan tidak apa-apa.”


“Nak, jangan memaksakan diri.”


Ia hanya tersenyum tipis. “Dada Reyhan sedikit sakit, Bunda. Tapi, tidak apa-apa. Rasa sakit ini belum bisa melampaui rasa sakit yang Aleeana rasakan.”


“Kamu kenapa, Nak ?” Mama tak mampu lagi menyembunyikan rasa khawatir pada anak sulungnya itu.


Ia terharu melihat sikap Mama yang tiba-tiba berubah. “Tidak apa-apa, Ma,” balasnya dengan senyum tulus.


“Jantungmu sakit lagi ?”


Kepalanya mengangguk pelan. “Sedikit,” jawabnya.


“Kamu belum meminum obatmu ?”


Ia tertawa kecil. “Untuk apa, Ma ? Dengan begini Reyhan bisa merasakan sakit yang Aleeana rasakan, bukan ? Meski tak sesakit yang ia rasakan.”


“Maafkan ucapan Mama, ya, Nak.”


“Tak mengapa, Ma. Semua yang Mama ucapkan itu benar. Reyhan tidak becus menjadi suami. Alih-alih menjaga istri. Reyhan malahan menyakiti dan membunuh darah daging Reyhan.”


Mama merasa benar-benar bersalah atas ucapannya. “Minum dulu obatmu, Nak.”


“Tidak, Ma. Biarkan Reyhan merasakan sakit yang diterima Aleeana karena perbuatan Reyhan dengan cara ini.”


“Jika kamu sakit. Tidak ada yang akan menjaga istrimu nanti, Nak.”

__ADS_1


Ia tersenyum dan memeluk Mama. “Terimakasih sudah memperhatikan dan menyayangi Reyhan.”


__ADS_2