
Drrrttt.. drrttt..
Nadhira tersentak karena getaran yang berasal dari benda pipih milik suaminya yang tergeletak disampingnya itu. Terlihat dilayar ponsel Reyhan ada panggilan masuk.
“Kak, ada telepon.” Seru Nadhira setengah berteriak agar suaranya terdengar oleh Reyhan.
“Angkat aja, Dik.” Jawab Reyhan dengan suara tak kalah kencangnya berbarengan dengan suara guyuran air dari dalam kamar mandi.
Nadhira menggeser tombol berwarna hijau yang tertera dilayar untuk menjawab panggilan yang masuk diponsel Abraham.
“Hallo. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam, Nadhira. Reyhan mana, Nak ?” terdengar suara Mama dari seberang telepon.
“Kak Reyhan sedang dikamar mandi, Tante. Apa..”
“Kok Tante, sih. Mama dong, Sayang.” Ucap Mama dengan nada keberatan.
“Eh.. iya, Ma.” kata Nadhira malu-malu dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
“Siapa, Dik ?” tanya Reyhan yang muncul dari balik kamar mandi dengan rambut basahnya dan bertelanjang dada berjalan mendekati Nadhira.
Melihat pemandangan didepannya dengan sigap Nadhira melepas ponsel yang digenggamnya dan menutup muka dengan kedua tangannya.
Reyhan mengambil posisi duduk disamping Nadhira dengan cengirannya yang tanpa dosa.
“Iya, Ma. Kenapa ?”
“Mama sama yang lain mau pulang, Kak. Mama tunggu di lobby, ya.”
“Baik, Ma. tunggu Reyhan sama Nadhira sebentar lagi kesana.”
“Iya, Kak.”
Sambungan telepon terputus. Reyhan melirik Nadhira yang masih dengan posisi semula. Menutup sepenuhnya wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Dik, mau sampai kapan kayak gitu terus ?” tanya Reyhan memposisikan diri menghadap Nadhira dan menopang dagu dengan satu tangannya sambil tersenyum.
“Sampai kakak pakai baju.” Jawab Nadhira dengan polosnya.
“Kenapa memangnya kalau nggak pakai baju ? Kan aku sekarang udah jadi suami kamu, Dik. Liat aku sini.” Ucap Reyhan menggoda istrinya.
Nadhira menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Makanya kakak pakai baju dulu.”
“Kalau aku nggak mau. Gimana ?”
“Ya aku juga nggak mau liat kakak.”
“Dosa lho, Dek kalo nggak nurut kata suami.”
“Huuuuhh.”
Nadhira mendengus kesal. Mau tidak mau dia menurunkan tangannya dan melihat ke arah suaminya dengan malu-malu.
Nadhira menatap suaminya yang masih bertelanjang dada duduk dihadapannya. Dengan dada bidang yang tak tertutupi pakaian dan rambut masih basah membuat Nadhira terpesona dengan ketampanan lelaki didepannya itu.
“Kenapa liatinnya gitu banget, Dik ? Ganteng ya? ” Kata Reyhan seraya mengerlingkan sebelah matanya.
“Mmm.. ngg...nggak. nggak apa-apa.” Jawab Nadhira gelagapan sembari meggaruk kepalanya.
“Baju kakak mana ? Biar aku ambilkan.” Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Tuh dikoper.” Reyhan menunjuk sebuah koper berukuran sedang yang ia letakkan disudut kamar hotel.
Nadhira beranjak dari tempat tidur untuk mengambilkan baju untuk Reyhan. Baru saja akan melangkahkan kaki. Tangannya lebih dulu ditarik oleh tangan kekar milik Reyhan. Karena tubuhnya yang terlampau kecil, Nadhira tak mampu menjaga keseimbangannya. Tubuhnya terjatuh tepat diatas pangkuan Reyhan yang masih duduk dipinggiran ranjang.
Nadhira mendongakkan kepala perlahan. Dan berhenti tepat ketika tatapannya beradu dengan sepasang mata yang tengah menatapnya juga.
Tatapan kedua insan yang baru saja terjalin dalam ikatan halal itu pun terkunci dalam beberapa saat. Sebelum getaran ponsel milik Reyhan menghentikan mereka.
Nadhira bergegas bangun dari pangkuan suaminya dan berjalan ke sudut ruangan dimana Reyhan meletakkan kopernya. Sedang Reyhan mendengus kesal lalu mengambil ponselnya.
“Kenapa lama sekali, Kak ?” terdengar suara Mama dengan nada kesal.
“Iya, Ma. Ini bentar lagi.”
Tanpa permisi Mama memutuskan sambungan telepon membuat Reyhan semakin kesal. Begitulah kebiasaan wanita yang pernah berjuang dengan mempertaruhkan nyawa untuknya itu.
"Kebiasaan deh nyonya besar." Kata Reyhan mendumel sendiri.
Reyhan menatap tangan mungil yang menyodorkan pakaian santainya.
“Ini kakak pakai baju dulu.”
Tanpa kata Reyhan mengambil pakaian yang diberikan istrinya.
“Terimakasih, Sayang.” Ucapnya dengan senyum manis yang dibalas Nadhira dengan senyum yang tak kalah manisnya.
Tak perlu waktu lama untuk Reyhan berganti pakaian dengan pakaian santai yang dipilihkan istrinya.
“Ayok ke lobi. Mama sama yang lain udah nungguin dari tadi.” Ucap Reyhan seraya merapikan rambutnya dengan jemari tangannya.
“Emang kita mau kemana sampai ditungguin segala, Kak ?”
“Bukan kita. Tapi mereka.”
Nadhira menatap Reyhan.
“Terus kita ?” tanya Nadhira bingung.
Reyhan menarik lengan Nadhira dengan lembut.
“Kita pulangnya besok, Sayang.”
Nadhira hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ayok ke lobby. Kita ditungguin dari tadi.”
Reyhan menggenggam tangan Nadhira. Menuntunnya untuk mengikuti langkahnya. Sedangkan Nadhira hanya mengekori suaminya.
___
“Kenapa lama sekali sih, Kak ?” Seru Mama pada Reyhan yang tengah berjalan mendekatinya dan yang lain.
“Iya, Ma. Maaf. Maaf.”
“Papa sama yang lainnya akan balik ke rumah sekarang. Kalian baik-baik disini, ya! Jaga istrimu baik-baik, Kak.” Kali ini Papa yang angkat bicara.
“Tentu saja, Pa. Besok kami juga akan pulang. Nadhira mulai masuk kuliahnya lusa. Dia ngambil cuti cuma empat hari aja.”
“Iya, Nak. Kami tunggu dirumah.”
Reyhan memeluk papanya lalu mencium tangannya dengan khidmat. Begitupun dengan Nadhira. Ia melakukan hal serupa seperti apa yang dilakukan suaminya.
“Baik-baik lah disini ya, Nadhira. Mama tunggu kepulangan kalian besok.” Kata Mama dan memeluk menantunya itu dengan sayang. Mencium kedua pipi Nadhira secara bergantian.
__ADS_1
“Iya, Ma.” Nadhira membalas pelukan Mama tak kalah eratnya. Kemudian mencium tangan ibu mertuanya penuh hormat. Dan tak lupa, senyum manis dipersembahkan untuk wanita yang berdiri dihadapannya, yang sekarang ia panggil Mama.
“Bunda ?” Ucap Nadhira lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia berjalan mendekati Bunda yang berdiri berdampingan dengan Ayah dan Bara.
“Iya, Dik ?” Jawab Bunda seraya menangkup pipi puteri bungsunya dengan kedua tangan tuanya. Menatap raut wajah Nadhira yang mulai terlihat murung.
Nadhira menghambur memeluk Sang Bunda. Menumpahkan butiran-butiran kristal yang tadinya menumpuk dipelupuk matanya.
Dengan penuh kasih sayang Bunda mengelus lembut punggung Nadhira yang bergetar hebat. Membelai kepala Nadhira yang selalu tertutup hijab.
“Jangan nangis dong, Dek.”
“Bunda, maafin adek.” Ucap Nadhira sesenggukan ditengah isakannya.
“Iya, Sayang. Adek nggak salah apa-apa kok sama Bunda. Dengar nasehat Bunda, Nak. Mulai sekarang adek udah nggak tinggal lagi sama Bunda. Jadi, adek nggak boleh manja lagi, ya ? Adek harus dengerin kata suami. Nggak boleh ngelawan. Adek harus jadi isteri yang baik.”
Nadhira hanya mengangguk dan kembali memeluk Bundanya.
“Udah dong adegan nangis-nangisnya. Adek nggak mau peluk Ayah nih ceritanya ?”
Nadhira melepas pelukannya pada Bunda. Melihat kearah ayahnya yang sudah merentangkan kedua tangan sebagai isyarat agar Nadhira memeluknya. Dan tak lama Nadhira melangkah memeluk ayahnya.
Ayah menghadiahi Nadhira ciuman bertubi-tubi dipuncak kepalanya. Seperti ciuman perpisahan dengan anak gadisnya yang sekarang beralih tanggung jawab pada suaminya.
Papa memegang kedua pundak Nadhira.
“Jaga diri baik-baik ya, Dek. Karena sekarang ayah nggak bisa jaga adek setiap saat. Nurut sama suami juga.”
“Iya, Yah. Terimakasih.”
“Reyhan ?” Panggil Ayah pada menantunya.
“Iya, Yah.”
Reyhan mendekati Ayah yang berdiri bersama Nadhira.
“Mulai sekarang, tanggung jawab Ayah pada puteri ayahnya ini sudah menjadi tanggung jawabmu.” Kata Ayah sambil melirik Nadhira disampingnya.
“Ayah minta jaga dia baik-baik. Bimbing dia. Kamu tau sifat kekanak-kanakkannya masih sangat melekat dalam dirinya. Jangan bosan-bosan untuk menasehatinya jika dia berbuat salah.” Sambung Ayah.
“Tentu saja, Ayah. Reyhan akan berusaha jadi suami yang baik untuk Nadhira.”
Nadhira melihat Bara yang sedari tadi hanya berdiam diri dengan senyum diwajahnya.
“Abang kenapa senyum-senyum gitu ?”
“Lucu aja liat adegan nangis-nangisan dari tadi. Kayak di film-film gitu lho, Dek.” Katanya cengengesan.
“Ishh. Apa-apaan sih, Bang ?”
“Hei, adik kecilku. Sini peluk Abang dulu, biar nggak kangen. Nanti kan udah nggak bisa meluk Abang sesuka hati adik lagi.”
Nadhira sedikit berlari ke arah Bara dan menubruk tubuh kekarnya sampai Reyndra merasa oleng.
“Ehh.. hati-hati dong. Nanti Abang jatuh.”
“Biar Abang tau kalo kecil-kecil begini juga aku kuat.”
“Uluh uluh yang sok kuat. Jadi nanti kuat juga dong bikinin Abang ponakan yang banyak. Hahaha.”
“Abang ih. Mulai deh.”
“Udah-udah. Ayok kita pulang.” Bunda melerai perdebatan kedua anaknya itu.
__ADS_1
Kedua keluarga yang sudah terjalin hubungan itu pun berlalu meninggalkan hotel untuk kembali ke rumah masing-masing. Meninggalkan Reyhan dan Nadhira berdua.
___TBC___