
"Kak? Jadi hari ini Kakak mau ke kantor lagi?" tanya Nadhira tanpa menatap Reyhan yang sedang memakai kemejanya. Ia sibuk merapikan tempat tidur.
"Iya, Sayang. Lagipula, kamu bisa lihat sendiri keadaan sudan beranjak membaik."
Iya. Keadaan Reyhan tampak semakin membaik. Wajahnya tak terlalu terlihat pucat. Meskipun, sesekali ia merasakan sedikit nyeri di bagian dadanya.
"Tapi, Kakak harus tetap jaga kesehatan, ya. Jangan memporsir diri untuk bekerja. Dan jangan lupa minum obat."
"Iya, Sayang. Kamu tenang saja."
Reyhan melangkah mendekati Nadhira yang masih sibuk dengan kegiatannya. Ia memeluk tubuh Nadhira dari belakang yang sukses membuat istrinya terlonjak.
"Kakak senang sekali mengagetkanku," ucap Nadhira. Tetapi, tangannya dengan lembut mengelus punggung tangan suaminya.
"Kamu baik-baik, ya, di rumah. Jangan sering-sering menyendiri di kamar. Sesekali keluarlah. Kamu temani Mama atau bermain bersama Latisha."
Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan. Ia memutar tubuh dan sekarang sudah berhadapan langsung dengan suaminya. Tatapan keduanya bertabrakan.
"Boleh aku mengajak Mikayla dan Finza kesini?"
"Tentu saja boleh. Biar istri cantikku tidak kesepian."
Nadhira tersenyum lebar. Ia mengambil alih dasi dari tangan Reyhan dan memasangkannya. Itu sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi ketika Reyhan akan pergi ke kantor.
"Seperti biasa aku sudah siapkan bekal untukmu dan Farhan."
"Terima kasih, ya, Al. Kamu sudah mengurusiku dan sekarang perhatianmu pun harus kamu berikan pada adikku."
Nadhira hanya membalas dengan senyum manisnya. Sudah terlalu sering ia mendengar kalimat itu dari Reyhan.
"Kak, aku lihat Farhan akhir-akhir ini wajahnya pucat. Atau mungkin Farhan belum pulih total karena kemarin semoat jatuh sakit, ya?"
"Aku sudah katakan itu pada Farhan. Tapi, Farhan bilang hanya kecapekan dan butuh istirahat. Dan itu karena memang dia belum terbiasa dengan pekerjaan kantor yang cukup menguras tenaga dan pikirannya."
__ADS_1
"Aku harap begitu, ya, Kak. Aku hanya khawatir jika dia benar-benar tidak baik-baik saja. Kakak tahu sendiri bagaimana sifat adikmu itu. Susah sekali terbuka."
Reyhan tertawa kecil melihat sikap istrinya. Perhatian dan penuh kasih sayang. Tidak hanya padanya, juga pada Farhan dan Latisha, adiknya.
Reyhan mengelus lembut puncak kepala istrinya yang tidak tertutup hijab. "Terimakasih sudah jadi istru yang baik, ya, Sayang. Aku beruntung mempunyai istri seperti kamu. Baik, sabar dan perhatian."
Lagi-lagi Nadhira hanya membalas dengan senyum manisnya.
...***...
Kini Reyhan dan Farhan sudah berada di kantor. Tepatnya di ruangan Reyhan. Ia tidak mau bekerja pada ruang terpisah dengan adiknya. Selain memudahkan untuk berkomunikasi. Ia juga bisa mengontrol kerja Farhan.
"Kak, hari ini ada pertemuan dengan kolega dari Banjarnegara. Farhan akan siapkan berkas-berkas yang diperlukan sekarang," ucap Farhan memecahkan keheningan didalam ruangan.
"Kamu saja yang mengikuti pertemuannya, Dik. Kakak kesini hanya untuk membantumu. Bukan mengambil alih pekerjaanmu," balas Reyhan dengan santai.
Farhan menatap kakaknya yang tengah duduk manis di sofa. "Farhan takut tidak bisa bekerja maksimal. Lagipula, ini adalah kolega penting, Kak. Farhan tidak mau menghancurkan kerjasama."
"Belum mulai berperang saja kamu sudah menyerah. Bagaimana kamu bisa membantu di perusahaan Papa yang lebih besar nantinya? Tentu saja disana kamu akan bertemu dengan kolega-kolega yang pengaruhnya sangat besar untuk keberlangsungan perusahaan."
"Atau kamu hanya takut kena marah Papa lagi?"
Farhan mengangkat kepalanya dan menatap Reyhan. Kakaknya itu selalu sukses membuatnya bungkam.
"Tidak. Farhan sudah terbiasa di marahi Papa. Apalagi di..." Farhan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Di pukul kan maksudmu?"
Farhan kembali terdiam.
Reyhan melangkah mendekati Farhan yang duduk di kursi CEO yang biasa ia duduki. Berdiri tepat di hadapan adiknya. "Kamu tahu bagaimana caranya agar Papa tak lagi menyalahkanmu?"
Farhan menggeleng.
__ADS_1
"Kamu hanya perlu membuktikan kemampuanmu pada Papa. Buktikan bahwa kamu jauh lebih bisa daripada Kakak. Kakak yakin kamu mampu melakukan itu. I trust you."
"Farhan tidak akan bisa melampaui kemampuan hebatmu, Kak. Farhan sakit. Farhan tidak bisa berpikir keras," lirih Farhan dalam hati. Air mata kini sudah bergumul di kelopak matanya.
Seiring dengan air mata yang menggenang. Nyeri di kepala Farhan juga datang mendera. Kepalanya terasa tertusuk ribuan anak panah secara bersamaan. Telinganya berdengung. Tatapannya kian memburam.
Farhan memegangi kepalanya dengan kuat. Ia menggigit bibir bawah untuk menahan agar suara erangannya tak terdengar oleh Reyhan.
"Farhan, kamu kenapa?" tanya Reyhan dengan rasa khawatir yang luar biasa. Ia memutari meja kerja untuk lebih mendekat pada posisi Farhan.
Farhan hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara. Rasa sakit itu kian menyerang kepalanya. Tak tahan, ia membenturkan kepalanya diatas meja kerja.
Melihat hal itu membuat Farhan kaget. "Hei! Apa yang kamu lakukan?" bentak Reyhan seraya berusaha menghentikan aksi Farhan.
"Ke..pa..la Far...han..." Farhan terbata-bata.
"Sa...kit..."
Reyhan menarik kepala adiknya. Ia mendekap Farhan dengan erat. Hatinya terasa pilu mendengar rintihan demi rintihan yang keluar dari bibirnya adik lelakinya itu. Untuk kali pertama, ia melihat kondisi Farhan begitu menyedihkan. Dan untuk kali pertama juga ia melihat Farhan tanpa malu menumpahkan air mata di hadapannya.
Tiba-tiba Farhan bangkit dan berlari menuju kamar mandi yang berada di ruangan. Perutnya terasa bergejolak dengan hebat. Ia memuntahkan cairan-cairan bening.
Melihat hal itu membuat kekhawatiran Reyhan benar-benar memuncak. Ia berlari ke arah kamar mandi dan memijat tengkuk Farhan. "Kita ke Rumah Sakit saja, ya, Dik. Kakak takut nanti sakitmu tambah parah."
Farhan hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengangkat kepala dan menatap pantulan wajahnya yang sudah memucat seperti tembok ruangan. Ia menyeka bibirnya yang masih basah dengan tisu yang sudah tersedia di kamar mandi.
"Farhan tidak perlu ke Rumah Sakit, Kak. Ini pasti gara-gara Farhan telat makan. Jadi, lambung Farhan bermasalah seperti ini." Farhan berusaha menyunggingkan senyum untuk menyembunyikan rasa sakit yang belum juga mereda. Ia tidak ingin Reyhan tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya. Ia tidak ingin membuat khawatir dan anfal kakaknya lagi. Sudah cukup baginya melihat kesakitan-kesakitan yang sering dialami Reyhan selama ini.
"Tapi, wajahmu pun sudah tampak pucat, Dik."
Farhan menggenggam erat tangan Reyhan. "I'm okay," ucapnya meyakinkan Reyhan.
Reyhan membuang napas berat. "Sekarang kita pulang saja, ya. Kamu pasti butuh istirahat."
__ADS_1
Kali ini Farhan tidak menolak. Apa yang dikatakan Reyhan benar. Ia butuh istirahat di rumah. Dan tentu minum obat dengan cara sembunyi-sembunyi didalam kamar.