
Nadhira menghentak-hentakkan kakinya saat berjalan memasuki rumah yang dulunya menjadi tempat ia pulang. Tempat yang dulu menjadi tempat teduhnya.
Ia tak peduli pada ucapan seorang asisten rumah tangga yang tengah sibuk membersihkan ruang tamu.
“Non, Tuan dan Nyonya ada di ruang keluarga,” ucap wanita paruh baya yang biasa di panggil Bi Inah itu dengan intonasi sedikit meninggi. Meskipun demikian, sama sekali tak di pedulikan Nadhira.
Ia berjalan cepat dengan wajah cemberutnya. Melewati pula Ayah dan Bunda yang tengah bercengkrama ria menikmati hari yang teramat terik.
“Lho, Dik!” panggil Ayah dengan suara lantang.
Ia menoleh. Hanya sebentar. Kemudian, melanjutkan lagi langkahnya menuju lantai dua dimana kamarnya dulu.
Ayah dan Bunda saling melempar pandangan bingung melihat kelakuan anak gadisnya yang baru menyandang status sebagai seorang istri itu.
Tak lama Ayah dan Bunda temukan anak menantunya datang dengan tergesa-gesa.
“Assalamu’alaikum, Ayah, Bunda,” ucap Reyhan dan mencium tangan mertuanya bergantian.
“Apa yang terjadi dengan istrimu ? Apakah kalian sedang ada masalah ?” tanya Bunda.
“Tidak, Bunda. Reyhan rasa hanya masalah sederhana yang di permasalahkan Nadhira hingga membuatnya merajuk seperti itu,” terang Reyhan santai.
“Bagaimana ceritanya ?”
“Reyhan hanya melarangnya untuk membeli jajanan di pinggir jalan. Sebab, Reyhan pikir itu sangatlah tidak baik untuk kesehatannya. Sementara, ia juga belum sepenuhnya pulih setelah masuk Rumah Sakit seminggu yang lalu. Itu saja, Bunda.”
“Maafkan Nadhira, ya, Nak. Dia memang seperti itu. Akan merajuk jika keinginannya tidak dipenuhi. Dia masih seperti anak kecil. Tapi, kamu juga tidak boleh memanjakannya. Kamu harus bersikap tegas untuk mengajarinya menjadi lebih dewasa,” jelas Bunda.
“Iya, Bunda. Reyhan paham.”
“Tunggu disini dulu sama Ayah, ya, Nak. Biar Bunda yang menyusulnya ke kamar.”
“Baik, Bunda. Terimakasih.”
“Nadhira memang seperti itu, Han. Dan yang bisa membujuknya hanya Bunda,” ucap Ayah setelah ditinggal Bunda.
“Tidak apa-apa, Yah. Reyhan akan berusaha untuk terus belajar memahaminya.”
“Tegurlah ia jika memang salah. Jangan sekali-sekali membiarkan melakukan kesalahan yang sama lagi.”
“Baik, Yah.”
*****
“Dik! Buka pintunya, Nak. Bunda mau bicara sebentar.”
Hening.
“Bunda masuk, ya, Nak.”
Tanpa menunggu persetujuan Nadhira, Bunda membuka pintu kamar dan melenggang masuk. Bunda mendapatinya tengah tertidur dengan posisi tubuh yang sepenuhnya tertutupi selimut.
“Bunda tahu adik tidak tidur.”
Ia membuka selimut yang meutupi tubuhnya. Duduk bersila dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
“Ada apa, Nak ? Cerita pada Bunda,” bujuk Bunda.
“Kak Reyhan jahat, Bun. Adik hanya ingin membeli jajanan di pinggir jalan saja tidak di perbolehkan,” adunya.
“Apa alasan Reyhan tidak memperbolehkanmu ? Hmmm ?”
“Katanya, supaya adik tidak sakit. Sebab, makanan di pinggir jalan tidak baik untuk adik,” jawabnya polos.
“Jadi, itu sebabnya adik cemberut seperti ini ?”
Ia mengangguk.
“Dik, dengarkan Bunda. Sekarang adik bukan lagi anak kecil. Adik sekarang sudah menjadi seorang istri. Tidak baik bersikap seperti itu pada suami.”
Bibirnya mengatup.
“Lagipula, Bunda pikir Reyhan ada benarnya, Nak. Dia hanya tidak ingin melihat istrinya sakit.”
“Tapi, hanya sekali ini saja, Bunda.”
“Nak, mulai sekarang kamu harus belajar untuk lebih mendengarkan dan patuh terhadap ucapan suami. Bukan hanya mengikuti keinginanmu saja. sebab, surgamu ada padanya.”
Ia kembali terdiam,
“Sekarang minta maaf sama Reyhan, ya, Nak.”
Ia mengangkat wajahnya dan menatap Bunda dengan tatapan sedih.
“Ayo ikut Bunda ke bawah. Disana sudah ada Reyhan yang menunggumu bersama Ayah. Kasihan suamimu, Sayang.”
“Lho, anak gadis gadis Ayah kenapa cemberut seperti itu ?” ucap Ayah menggodanya.
Reyhan tersenyum. Ia merasa lega setelah melihat istrinya berhasil dibujuk oleh Bunda.
Selain itu, Reyhan pun merasa gemas melihat Nadhira yang masih merajuk. Ingin sekali ia mencubit pipi istrinya itu.
“Mau sampai kapan berdiri seperti itu ? Duduklah!” perintah Ayah.
“Duduk, Sayang.” Bunda menuntun Nadhira untuk duduk disampingnya.
“Bunda ?” panggilnya dan memeluk Bunda. Ia terisak dalam hangat pelukan Sang Bunda.
“Lho, Dik. Kenapa menangis, Sayang ?” Bunda membelai lembut pundak anak sulungnya.
Reyhan nampak khawatir melihat istrinya. Ia berjalan mendekati sofa yang di duduki Nadhira yang masih terisak. Bahkan semakin kuat. Ia kemudian di hadapan istrinya.
“Sayang ?” ucap Reyhan selembut yang ia bisa seraya menggenggam tangan Nadhira.
“Maafkan aku, ya, Sayang, ya. Bukan maksud aku tidak memperbolehkanmu. Hanya saja aku ingin melakukan yang terbaik untuk kamu, untuk kesehatan kamu. Sungguh.”
Ia menatap suaminya dengan isakan yang mengiringi.
“Lain kali aku akan mengizinkamu. Asal jangan seperti ini lagi. Ya, Sayang, ya ?”
Ayah dan Bunda tersenyum bangga melihat Reyhan memperlakukan anak gadisnya.
__ADS_1
“Maafkan aku, Kak. Kata Bunda, ucapan kakak memang benar. Dan mulai sekarang aku tidak akan meminta hal itu lagi,” ucapnya bersama isak tangisnya.
Reyhan berdiri dan duduk kembali di samping istrinya. Tersenyum manis melihat sikap Nadhira yang begitu manja. Mengalahkan sikap Raina, adik sulungnya.
“Iya, Sayang. Tidak apa-apa. Jangan menangis lagi, ya.”
Ia mengangguk dan menghapus air matanya.
“Ada apa ini ?” tanya Bara yang baru saja tiba dengan tatapan bingung.
“Lho, adik kenapa menangis ?” lanjut Bara.
“Kebiasaan, Bang. Merajuk,” jawab Ayah bercanda yang berhasil mengundang tawa istrinya.
“Sudah menikah masih saja merajuk begitu. Dasar gadis manja,” ledek Bara.
“Abang! Berhenti meledekku,” kesalnya dan melempar bantal yang ada disampingnya ke arah Bara.
“Al, jangan begitu. Tidak boleh, Sayang,” kata Reyhan menasihati istrinya.
“Tapi, Abang selalu membuatku kesal, Sayang,” adunya dengang suara begitu manja.
“Bukannya tadi pagi adik bilang rindu dengan kejailan Abang ?”
“Tuh ‘kan, Sayang.”
Seisi ruangan tertawa bersamaan menyaksikan tingkah Nadhira yang manja seperti anak kecil yang mengadu pada orang tuanya. Kecuali Reyhan. Ia hanya gemas melihat istrinya.
Nadhira tersipu malu. Ia berdiri hendak beranjak meninggalkan ruang keluarga karena sudah terlanjur malu. Namun, dengan cepat tangannya dicekal oleh Reyhan.
“Mau kemana ?”
“Aku tidak mau disini. Nanti aku ditertawakan lagi,” ucapnya sebal.
“Duduklah. ‘Kan disini ada aku, Sayang.”
“Sudah menjadi istri, jangan seperti anak kecil terus. Malu sama suami,” ledek Bara lagi.
“Sayaaang,” panggilnya manja dan menenggelamkan wajahnya di tubuh Reyhan.
“Iya. Iya. Sudah, ya, Sayang. Abang hanya bercanda saja,” Reyhan menenangkan dan menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir di pipi Nadhira.
“Bunda, Abang lapar,” keluh Bara.
“Bilang saja hanya adik yang manja. Padahal, Abang lah yang jauh lebih manja. Lihat saja! Lapar saja harus mengadu pada Bunda. Huh!” cibirnya.
“Terserah. Suka-suka Abang dong. Sekarang, Abang sudah tidak mempunyai saingan lagi di rumah ini.”
“Sudah. Sudah. Berdebat terus kalian ini jika sudah bertemu,” lerai Ayah.
“Ayo ke ruang makan. Kita makan siang bersama-sama,” ajak Bunda.
“Sekarang makannya di perbanyak, ya, Sayang,” kata Reyhan yang dibalas anggukan oleh Nadhira.
“Aku mencintaimu,” bisik Reyhan tepat di telinganya.
__ADS_1
Ia menatap suaminya dengan tersipu dan pipi yang merona. Kemudian, menggandeng tangan suaminya mesra berjalan ke ruang makan.